
William masuk ke dalam kamar kembali, dilihat istrinya itu sedang terlelap, sebuah guling dan bantal besar mengganjal separuh tubuhnya yang sebelah kanan, agar posisinya tetap bertahan seperti itu sesuai dengan anjuran Dokter Sherli. Didekatinya tubuh Dhea, dan disibakkan rambut yang menutupi sebagian wajah istrinya. Ditatapnya wajah yang begitu tenang itu. Ada rasa iba dalam hatinya, melihat penderitaan istrinya. Dia tidak ikut merasakannya, tapi dia sangat tau bagaimana tersiksanya istrinya itu dengan yang dialaminya sekarang. Hanya untuk tidur saja harus diatur, jika kita ingin tidur ya bebas tidur saja, ingin tengkurap, terlentang, nungging, tidak ada yang melarang. Tapi ini bahkan posisinya saja harus sering miring ke sebelah kiri, dan Dheapun merasa itu harus, bahkan ketika bangun tidur dan posisi dia sudah berubah, dia akan selalu menyesalinya. Akhirnya William selalu berusaha selalu terjaga untuk membenahi posisi tidur istrinya itu, karena dia tidak mau mood baik istrinya berubah karena hal tersebut, sehingga berpengaruh pada tensi darahnya. Jangankan pada kehamilan istrinya yang sedang bermasalah seperti ini, yang tidak bermasalahpun Williampun sudah bisa menebak, pasti setiap perempuan sangat tidak nyaman selama 9 bulan lamanya membawa beban berat di perutnya itu. Sungguh pengorbanan seorang wanita yang luar biasa, wajar saja jika Allah memberikan tempat terindah bagi setiap wanita, jika dia meninggal dalam keadaan melahirkan dan berjihad menyelamatkan nyawa yang dia bawa.
William segera ikut merebahkan tubuhnya, di samping Dhea. Posisinya sekarang bergantian, awalnya William yang tidur di posisi sebelah kanan, sekarang Dhealah yang berada di sebelah kanan, karena dia tidak mau tidur dengan selalu dibelakangi istrinya, mengingat istrinya itu harus selalu miring ke kiri. Hehhhhh...hal yang sangat rumit sekali. Namun memang seperti itu, sebuah rumah tangga memang harus kita sendiri yang mengaturnya. Bagaimana keromantisan tetap bisa terjaga dalam situasi apapun, seperti yang dialami oleh William dan Dhea saat ini. Bahkan William jadi semakin jarang berkunjung ke tempat kerjanya, walaupun biasanya hanya sebentar-sebentar, namun konsentrasinya sekarang lebih difokuskan pada istrinya dulu.
Mereka baru terbangun saat sore hari, bahkan adzan ashar sudah terlewati, karena tadipun saat terlelap waktunya sudah sedikit telat dari biasanya, karena kebetulan Dokter Sherli terlambat datang. Merekapun bangun karena mendengar pintu kamar diketuk dari luar. Williamlah yang mendengarnya duluan. Diliriknya jam dindingnya, sudah pukul 4 sore.
" Hemmmm...siapa yang mengetuk pintu kamarku? biasanya pegawai di rumah ini tidak ada yang berani membangunkan kecuali urgent." Kata William dalam hati.
William lalu segera beranjak dari tempat tidurnya, mematut dirinya sebentar di cermin dan membenahi pakaiannya, lalu segera membuka pintu kamar. Dilihatnya salah seorang asisten rumah tangga sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
" Maaf sekali tuan, terpaksa saya membangunkan tidur tuan." Katanya.
" Tidak apa-apa bik, ini juga sudah sore kok, untung bibi membangunkannya, aku juga belum sholat ashar, makasih ya."
" Iya tuan sama-sama."
" Oh ya ada apa bik?"
" Itu tuan, orang tua nyonya datang. Sebenarnya sudah dari satu jam yang lalu mereka datang, hanya saja saya belum berani membangunkan tuan."
" Lalu mereka sekarang dimana bik?"
" Ohhh sedang duduk-duduk santai di taman samping tuan."
" Apakah sudah dibuatkan minuman?"
" Sudah tuan, tadi bibi berikan makanan kecil juga."
" Terimakasih ya bik, ya sudah kembali saja di dapur, nanti saya akan menemui mereka."
" Baik tuan." Katanya sambil membalikkan badan meninggalkan kamar tuannya.
William segera masuk kembali ke dalam kamarnya, tubuh istrinya masih saja belum berpindah dari posisinya semula, sepertinya tidurnya pulas sekali, karena tadi malam dia memang sulit untuk tidur sehingga dibayar lunas siang ini. Namun dia tetap harus membangunkannya. William kemudian menggoyang-goyangkan tubuh Dhea pelan, seperti kebiasaannya saat membangunkan istrinya itu.
" Sayang ayo bangun sudah sore...!!!" Tubuh Dhea masih saja belum bergerak sedikitpun. Williampun mengulanginya lagi hingga tiga kali baru Dhea terbangun, namun dengan kondisi matanya yang masih terpejam, hanya gumamannya yang terdengar lirih keluar dari bibirnya.
" Sayang bangun yuk, sudah sore." Ulang William lagi.
" Hemmmmm." Dhea hanya menggumam sekali.
" Heiiii...sayang, ayo bangun, lihatlah ini sudah pukul 4 sore, kau belum sholat ashar kan?"
" Hoaaammmm......hehhhhhh...." Dhea menguap.
" Hussss..menguapnya jangan lebar-lebar nanti kemasukan lalat." Kata William sambil tersenyum melihat istrinya itu.
" Ahhhhh...tidurku nyenyak sekali sayang." Kata Dhea sambil matanya masih separuh terpejam.
" Ya aku tau, buktinya sedari tadi posisimu belum berubah dan masih bertahan seperti itu."
" Ayo bangun, sholat ashar dulu, ada ayah dan ibu di luar."
" Ayah dan ibu?"
" Iya sayang, kau sholat duluan, biar aku menemui mereka dulu, kasihan mereka sudah di sini dari tadi."
" Ya Allah benarkah?" kata Dhea sambil beranjak bangun dibantu dengan suaminya.
" Iya sayang, pegawai kita tidak ada yang berani membangunkan tadi."
" Ayo buruan!!"
" Ya sudah kau kesana dulu, kau sudah sholat?"
" Belum juga sayang, tapi gantian saja, kasihan mereka, ingin menemui anaknya saja harus menunggu lama, seperti akan menemui presiden!!"
William segera keluar kamar menemui mertuanya. Dilihatnya ayah dan ibu Dhea sedang mengobrol berdua di taman samping rumahnya. Di hadapannya terdapat 2 cangkir minuman, juga beberapa camilan yang ada di dalam sebuah toples kecil di hadapan mereka.
" Ayah, ibu!!" panggil William saat sudah ada di dekat mereka, yang dipanggilpun menengok.
" Nak William?" kata ibunya sambil menyambut uluran tangan William.
" Kau sudah bangun?"
" Iya bu, baru saja."
" Katanya ibu dan ayah sudah datang dari tadi ya? kenapa tidak langsung meminta asisten rumah tangga membangunkan kami, dan tidak perlu menunggu selama ini."
" Tidak nak, ibu tidak ingin mengganggu istirahat kalian. Ibu juga bisa sambil duduk santai di sini kok. Iya kan yah?"
" Iya nak William, jangan sungkan begitu."
" Bukan begitu, hanya saja kami ini kan seorang anak, sudah selayaknya kami harus menyambut kedatangan kalian, dan bukan kalian yang menunggu kami bangun."
" Hahaha...kau ini seperti dengan siapa saja." Kata ayah Dhea sambil menepuk-nepuk pundak menantunya.
" Dhea masih tidur nak?"
" Sudah bangun bu, tapi masih sholat ashar. Semalam dia tidak bisa tidur, jadinya siang ini kami membayarnya lunas bu hahaha."
" Ya...asal tidak kebablasan hingga magrib ya."
" Lalu bagaimana keadaannya nak?"
" Masih sama seperti yang saya ceritakan di telfon pada ibu tadi. Tensi terakhir saat dicek masih tinggi. Dan kami diberi waktu 1 minggu bu."
" Dhea tau itu nak?" tanya ayah Dhea.
" Tau yah, karena dia juga mendengar sendiri perkataan dokter."
" Lalu bagaimana reaksinya?"
" Yaaaa...dia sangat shock, dan mungkin itu bisa semakin menambah beban pikirannya."
" Dia itu memang mirip ibunya nak William, punya masalah kecil saja berpikirnya sangat dalam."
" Tapi ini bukan masalah kecil yah, ini masalah besar!" Sambung ibu Dhea.
" Tuhhh...benar kan nak William, sudah mulai stres ibumu itu."
" Semua masalah itu datangnya dari Allah, kita serahkan semuanya padanya, yang penting kita sudah berusaha maksimal, apapun hasilnya terima dengan lapang dada, jangan terlalu dipikirkan karena bisa menambah penyakit, bu."
" Iya benar yang ayah katakan, tapi itu kan manusiawi. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada kita itu, ibaratnya seperti momok yang terus menerus menghantui." Bela ibu Dhea. William hanya tersenyum mendengar kalimat kedua mertuanya.
" Ayah benar, ibu juga tidak salah. Kita itu hanya manusia biasa yang masih punya rasa takut, dan rasa khawatir. Dan sudah selayaknya kita tidak bisa saling menyalahkan, suportlah yang saat ini paling penting untuk bisa meyakinkan Dhea." Kata William menengahi.
" Ya nak kami datang kemari memang bertujuan seperti itu. Dhea butuh orang-orang di sampingnya untuk menguatkannya.
" Ya ayah, aku tau yang Dhea rasakan. Dia pasti merasa terbebani dengan masalah ini. Terlebih dia takut mengecawakan orang-orang yang mengharapkan anak yang dikandungnya itu."
" Hehhhh....ibu sangat tau rasanya nak William. Dulupun saat mengandung Dhea, ibu begitu berhati-hati menjaganya dan tanpa kenal lelah menjalani berbagai prosedur pengobatan agar tidak terulang lagi. Sangat menjemukan, tapi tetap harus dilakukan demi menyelamatkannya."
" Benar nak William, dan setelah itu ibumu tidak mau hamil lagi, takut terulang dan kehilangan bayinya kembali."
" Hehhh...perjuangan yang sangat luar biasa. Terimakasih ya bu sudah melahirkan seorang bayi yang luar biasa dan tumbuh menjadi seorang remaja yang membuat saya jatuh cinta. Dan karena dia hidup saya menjadi sempurna."
" Allahlah yang telah menjodohkan kalian berdua, tanpa campur tanganNya, semua ini tidak akan terjadi."