
Mike terus melangkahkan kakinya keluar kamar. Tidak perduli lagi teriakan Deasy yang memanggil-manggil namanya. Saat itu dia yang sedang menginap di rumah papanya, hanya ingin pertengkarannya tidak terdengar oleh telinga orang tuanya itu. Dia tidak ingin papanya tau bahwa menantunya yang sekarang ini, ternyata tidak jauh beda dengan istrinya yang dulu. Mike benar-benar merasa dongkol.
" Ya Tuhaaan....kenapa susah sekali sih memberitahu Deasy. Padahal aku sudah mengajaknya bicara baik-baik. Kenapa sifatnya yang aku lihat lembut dulu itu, tiba-tiba jadi berubah kasar dan sangat mengerikan seperti itu. Kemana sifatnya yang dulu begitu aku kagumi, dan berhasil membuatku jatuh cinta padanya?"
" Hai nak, mana istrimu? kenapa dia tidak ikut turun untuk makan pagi?" Tanya papanya saat bertemu beliau di bawah, dan kebetulan sedang menuju ruang makan juga, sama seperti dirinya.
" Ooohhh...dia sedang berias di dalam kamar pah, mungkin sebentar lagi turun."
" Kau ini..Lihatlah kakakmu William, dia selalu sabar menunggu Dhea, dan turun bersama-sama."
" Hehhhh...itu Dhea pah, tapi istriku sangat menyebalkan, susah sekali diatur dan sulit sekali diberitahu." Kata Mike dalam hati.
" Mike kenapa kau diam? apa kalimat papa menyinggungmu?"
" Ohhh sama sekali tidak pah. Aku hanya iri saja melihat William dan Dhea, mereka sangat kompak sekali." Kata Mike mengalihkan pembicaraan.
" Lho kau juga kan bisa begitu? Pernikahan kalian masih baru, dan kebiasaan itu bisa dibangun mulai sekarang. Buatlah komitmen bersama istrimu. Itu nanti yang terus akan kalian lakukan disepanjang pernikahan."
" Iya pah." Jawab Mike singkat, lalu berjalan di sebelah papanya menuju meja makan.
Sementara itu Deasy terlihat berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, hatinya merasa sebal sekali dengan sikap suaminya.
" Hehhhh...sialan!!! ini semua gara-gara kau Dhe!! Aku benci sekali denganmu. Kenapa Mike bukannya membelaku, tapi justru terus-terusan menganggap bahwa kau tidak bersalah?"
" Kenapa sih? kenapa semua orang selalu membanggakanmu? apa sih hebatnya kau?"
" Gara-gara kau Mike marah padaku."
" Kenapa kau harus hadir di antara aku dan suamiku? kenapa???""
Deasy yang sudah tertutup hatinya, benar-benar sudah berpikir di luar batas normal manusia. Seperti yang Mike bilang, Dhea itu datang lebih dulu menjadi bagian keluarga Anderson, dan tidak sepantasnya Deasy menyalahkan Dhea.
" Aku tidak bisa membiarkan semua ini!!! Selama ini aku hanya menyindirnya saja, sekarang aku harus jujur padanya!!" Kata Deasy sembari mengambil handphonennya, dan menggulirkan tombol pencarian, lalu berhenti pada nama Dhea.
" Aku harus menelfonnya sekarang!!"
Dhea yang kala itu kebetulan sedang terjaga dari tidur siangnya dan baru keluar dari toilet, melihat handphonennya yang berkedip-kedip karena memang sengaja disilent. Dhea segera meraih benda segiempat yang berada di atas meja riasnya.
" Deasy??? hemmmm...ada apa lagi dia menelfonku? ahhh aku harus segera mengangkatnya, siapa tau penting."
Dhea yang selalu lupa bahwa Deasy tidak pernah memiliki kepentingan khusus padanya, kecuali hanya ingin memperoloknya, sehingga saat inipun Dhea berpikir bahwa Deasy menelfonnya karena sedang ada sesuatu yang ingin disampaikannya.
" Hallo, selamat siang Deasy?" sapa Dhea saat baru saja mengangkat telfonnya.
" Pagi Dhe." Jawabnya sinis.
" Ohhh iya maaf aku lupa jika di sana masih pagi."
" Hahhh...kau itu bukan hanya lupa waktu, tapi juga lupa bagaimana caranya menjaga perasaanku."
" Heiii...apa yang sedang kau bicarakan Deasy? kenapa kau menyebutkan tentang perasaan segala?"
" Apa sih Deasy maksudmu? kenapa baru saja menelfon kau sudah marah-marah? sedangkan aku tidak tau sebabnya."
" Kaulah penyebabnya Dhe."
" Aku?"
" Ya kau!!" kenapa sih semua orang yang ada di rumah ini menyukaimu, bahkan suamikupun menyukaimu."
" Deasy!!! aku tidak tau makaud pembicaraanmu. Kenapa kau bawa-bawa Mike segala??"
" Jangan pura-pura bodoh Dhe. Kau dan Mike pernah memiliki hubungan khusus kan?
" Hubungan khusus apa? aku semakin bingung dengan kalimatmu."
" Jangan berlagak bodoh ya. Kau dengan suamiku pernah berpacaran kan? jangan bohong padaku."
" Hahaha...kau ini salah paham Deas. Aku tidak pernah berpacaran dengan suamimu. Suamimulah dulu yang pernah menyukaiku, tapi aku tidak."
" Hahaha...dari cara bicaramu itu terkesan kau sombong sekali ya. Ternyata rasa percaya dirimu sangat tinggi, karena merasa hebat sudah disukai oleh dua kakak beradik dari kalangan hight class."
" Deasy...Deasy...aku mengatakan hal yang sebenarnya. Jika kau memang ingin tau semua kebenarannya, kau tanya sendiri saja pada suamimu, dan jangan terus-terusan menyalahkanku."
" Dengar ya Dhe, aku itu tidak menyukaimu, bahkan sangat membencimu!!!"
" Kenapa bisa begitu? kita tidak pernah memiliki masalah pribadi, dan kau hanya mendengar cerita masa lalu suamimu saja, tidak melihatnya secara langsung, lalu kenapa kebencianmu hingga seperah itu? seperti kita sudah kenal lama saja."
" Hahhh...karena kehadiranmu itu bisa berpotensi merusak rumah tangga kami!! kau bisa saja menarik simpati suamiku kembali, makanya aku sangat menjagajarak denganmu."
" Hahaha...pikiranmu sempit sekali? jika aku ingin berbuat seperti itu, kenapa harus menunggu sekarang disaat Mike sudah menikah denganmu, dan bukan dulu saat dia masih sendiri?"
" Manusia kan bisa berubah kapan saja Dhe."
" Terserah kau Dheas, yang penting aku bukan wanita seperti yang kau sebutkan tadi, aku sudah sangat bersyukur memiliki suami seperti William. Dan tidak ada laki-laki yang bisa menggantikan posisinya. Kau paham kan maksudku???"
" Hahaha...Dhea...Dhea...itu kan sekarang, belum tentu besok. Bisa saja kau nanti bosan pada suamimu, lalu kemudian merayu suamiku. Iya kan????"
" Hemmmmm....pikiranmu saja seperti itu, berarti sifatmu tidak jauh-jauh dari apa yang kau pikirkan."
" Apa maksudmu???"
" Masak kau tidak paham maksudku?? kau kan cukup pandai, apa aku harus menjelaskan secara detail arti dari kalimatku?"
" Wooowww...mulutmu cukup tajam juga ya Dhe."
" Deasy, selama ini aku selalu diam dengan perlakuanmu padaku. Tapi aku bukan wanita bodoh. Aku itu hanya tidak ingin bermusuhan dengamu. Namun sepertinya kau memang tidak ada niat berbaikan denganku, jadi percuma saja jika aku tidak melawanmu, karena kau memang susah untuk diajak berbicara baik-baik."
Deasy semakin meradang mendengar kata-kata Dhea. Dadanya semakin bergemuruh. Dia lupa bahwa Mike, juga papa mertuanya sedang menunggunya di bawah untuk makan pagi. Dia terus meluapkan amarahnya pada Dhea.