
Kelahiran seorang anak yang memiliki kekurangan, tidak dipungkiri tetap menjadi sumber perhatian orang-orang sekitar, walaupun sebenarnya menimbulkan rasa iba juga.
Tidak sedikit yang membicarakan kondisi buah hati Deasy dan Mike, terlebih saat para pegawainya baru saja tau dan menyambut kedatangan mereka di depan pintu. Niat baik mereka justru menjadi sumber kemarahan Deasy. Deasy merasa bahwa, pasti para pegawainya akan membicarakan bayinya itu di belakang dia.
Melihat sikap Deasy yang aneh tersebut, justru para pegawainya semakin penasaran, kenapa majikan perempuannya pulang bukannya gembira setelah melahirkan, tetapi justru sebaliknya. Dan pertanyaan mereka terjawab setelah melihat bayi yang ada dalam gendongan baby sitter, yang berjalan di belakang.
Mereka tidak berani mengeluarkan kalimat sedikitpun, karena takut sang majikan tersinggung. Mereka hanya saling menatap satu sama lain, seolah sedang mengisyaratkan sebuah kata yang tidak bisa terucapkan.
" Selamat datang pewaris keluarga Anderson....!!" Papa Mike yang keluar dari dalam ruangan langsung menyambut kedatangan mereka.
Deasy hanya tersenyum sekilas, sambil menyambut pelukan papanya. Wajahnya tidak menampakkan kegembiraan sama sekali. Bahkan kemudian dia langsung masuk ke kamar, dan mengurung diri di dalam kamar.
" Maafkan istriku ya pah." Kata Mike sembari mendekati papanya.
" Tidak apa-apa Mike. Papa tau apa yang dia rasakan. Pasti hatinya sangat sedih dan sangat kecewa."
" Iya pah. Bahkan yang lebih parah, dia tidak mau dekat-dekat dengan anaknya."
" Benarkah Mike???"
" Ya pah. Aku bingung, kenapa sikapnya itu bisa di luar akal sehat, sedangkan apapun kondisinya, dia tetap anak kami."
" Sudahlah Mike, biarkan saja. Mungkin itu adalah reaksi awal karena shock dengan keadaan bayinya. Mungkin setelah terbiasa dia pasti akan menyayangi anaknya juga."
" Yahhh...mudah-mudahan pah."
" Mana anakmu? papa ingin melihatnya."
" Dia sudah ada di dalam kamar bayi pah, ayo aku antarkan!!" Sambil berjalan menuju kamar anaknya, yang memang telah disiapkan sejak lama.
Mereka berdua menaiki tangga, kamar anaknya yang memang sengaja bersebelahan dengan kamar miliknya, agar sang istri mudah memantau sang buah hati. Namun kenyataan yang diharapkan tidak sesuai kenyataan. Jika bukan dipaksa oleh Mike, mungkin Deasy tidak mau memberikan asi pada anaknya itu, dan tidak ingin tidur bersebelahan dengan kamar sang anak.
Mike membuka pintu kamar anaknya yang cukup besar. Ranjang babby sitter diletakkan bersebelahan dengan ranjang bayi. Warna putih yang mendominasi kamar tersebut, membuat ruangan terlihat bersih dan rapi.
" Masuk pah!!"
Mempersilahkan papanya masuk. Papa Mike langsung berjalan menuju box bayi. Sebenarnya hatinya sedikit bergetar, mambayangkan rupa cucunya yang menurut Mike tidak memiliki indra penglihatan itu. Namun tetap dikuatkannya. Dia tidak ingin Mike melihat perasaan sebenarnya yang ada di dalam hati kecilnya. Dia ingin Mike tetap melihat dia dengan sikap sewajarnya.
Benar saja, saat sudah berada di box bayi, bibir papa Mike seakan tercekat. Indra penglihatan milik anak Mije terlihat berbeda, tidak seperti bayi pada umumnya. Rongga mata anak Mike terlihat kosong, ukurannyapun jauh lebih kecil dibanding mata pada umumnya. Papa Mike sangat sedih melihat kondisi cucunya itu, ingin sekali dia menangis, namun berusaha dikuatkannya.
" Mike, papa yakin setelah besar nanti, pasti dia memiliki wajah yang tampan. Lihatlah struktur tulang wajahnya, sudah menampakkan kharisma yang luar biasa."
" Hahaha...papa ini. Bayi kan wajahnya hampir sama, dan belum bisa kita prediksikan bentuk wajahnya sekarang."
" Tapi jika mewarisi wajah kalian berdua, papa yakin dia akan menjadi pria yang digila-gilai wanita, seperti papa dulu hahaha."
" Pah, walaupun dia itu memiliki wajah yang tampan bak seorang pangeran, tapi papa lupa, dia itu tidak memiliki penglihatan, apa ada seorang wanita yang mau memperebutkan dia, kecuali memang wanita itu benar-benar tulus mencintainya." Kata Mike dalam hati, sembari menatap putranya.
Papa Mike menyadari bahwa candaannya itu membuat hati putranya bersedih, maka buru-buru papa Mike mengalihkan pembicaraan.
" Nak, kau sudah menelfon kakakmu??"
" Belum pah. Nanti aku akan menelfonnya."
" Yahhh...pasti dia senang sekali, apalagi Dhea. Dia setiap menelfon papa selalu menanyakan perihal kehamilan istrimu kapan melahirkan. Katanya dia sudah tidak sabar ingin menggendong anakmu."
" Apakah itu artinya mereka akan pulang kesini?"
" Mungkin. Tapi papa tidak bisa memastikan."
Papa Mike terus memperhatikan bayi mungil yang ada di hadapannya.
" Mike, jangan berlarut-larut menyesali keadaan anakmu, walaupun dia tidak seperti bayi pada umumnya, papa yakin dia pasti memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh anak lain."
" Ya pah....entah kenapa Tuhan menghukumku seperti ini."
" Nak bisa jadi ini adalah sebuah teguran bisa juga hanya sebuah ujian. Bersabarlah ya."
Mike dan papanya terus mengobrol berdua di dalam kamar bayi. Sedangkan Deasy terus mengurung diri di dalam kamar sambil bermalas-malasan. Papa Mike sengaja tidak mau mengganggu menantunya itu, karena dia tau, pasti menantunya tersebut sedang bersedih dengan keadaan anak yang baru dilahirkannya.
Deasy memang sangat sedih dengan semua kenyataan itu, dan rasa sedih serta rasa kecewanya semakin bertumpuk, saat mengingat dia akan menerima cemoohan dari saudara iparnya, yaitu Dhea.
Saat itu juga, di depan papanya, Mike menelfon William mengabarkan bahwa istrinya sudah melahirkan. Dan seperti yang papa Mike duga, Dhea sangat gembira mendengar berita itu, dan langsung mengajak William untuk memesan tiket menuju ke London. Bukan William namanya, jika tidak langsung mengiyakan permintaan sang istri yang disayanginya.
Mike sengaja tidak menceritakan kondisi sebenarnya sang buah hati, pada William dan Dhea. Biar kedua kakaknya itu melihat sendiri bahwa keponakannya itu tidak seperti yang mereka bayangkan selama ini.