Something different

Something different
Persiapan menyambut William



Hari senin siang saat berada di kantor, William menelfon Daniel.


" Hai teman."


" Hai Dan kau bisa ke kantorku sekarang?"


" Ok siap bos aku akan meluncur sekarang." Jawab Daniel tanpa basa basi, kemudian menutup telfonnya.


" Hehhh...tumben itu orang langsung mengiyakan, biasanya banyak pertanyaan." Gumam William.


Tak lama kemudian Daniel sudah tiba di kantor William.


" Selamat siang Will." Sapa Daniel saat baru membuka pintu ruangan William.


" Selamat siang Dan, kemarilah."


Daniel kemudian duduk di samping William.


" Ada apa kau menyuruhku kemari? Apakah kau ingin mengajakku makan siang lagi? Pasti dengan senang hati aku akan menemanimu."


" Bukan itu Dan."


" Lalu?"


" Besok malam aku kan akan pergi ke Indonesia."


" Ke Indonesia, benarkah???" Potong Daniel terkejut.


" Ahhh kau ini dengar dulu kata kataku."


" Hahaha ok siap, bagaimana?"


" Aku mungkin hari minggu baru pulang ke sini. Aku ingin kau menghandle semua pekerjaanku, bekerjasamalah dengan sekretarisku, jika kurang paham bertanyalah padanya. Tapi inga!! Kau jangan coba-coba merayunya ya, aku paling pantang menjalin hubungan dengan karyawanku sendiri, karena itu bisa merusak reputasi kerjanya."


" Tapi jika dia yang merayuku bagaimana bos?" Tanya Daniel menggoda William.


" Jika dia yang merayumu, kalian berdua yang kupecat nanti, ingat itu ya???" Kata William mewanti wanti.


" Hahaha oke-oke bos, jangan khawatir."


" Lalu kenapa kau tiba-tiba saja pergi ke Indonesia?"


" Aku ingin menemui orang tua Dhea, Dan."


" Benarkah? Maksudmu kau ingin melamar Dhea?"


" Kalau seandainya saja dia mau, pasti aku sudah melakukannya."


" Lalu?"


" Sementara ini aku ingin berkenalan dulu dengan orang tuanya, lagipula aku juga sudah merindukan kekasihku itu Dan."


" Ckckck...luar biasa pengorbanan sahabatku ini, hingga rela melewati lembah, menyebrangi lautan dan menaiki gunung demi untuk menemui kekasihnya."


" Kau ini terlalu sering menonton kartoon Ninja Hatori ya sehingga ingat liriknya."


" Hahaha...kau tau saja Will."


" Lalu jika kau sudah kenal mereka, bagaimana kelanjutannya?"


" Aku juga belum tau. Tapi aku sudah bisa menebak, mereka pasti akan membahas tentang keyakinanku."


" Lalu bagaimana kau akan menjawabnya?"


" Itu bisa kupikirkan nanti Dan."


" Kau ini, seharusnya kau sudah bisa membuat keputusan dan memilih antara agamamu atau asmaramu, karena aku lihat kau sangat mencintai Dhea. Jangan mengulur-ngulur waktu jika kalian tidak bisa menyatukan pendapat, karena nanti kalian akan semakin tersiksa."


" Hemmm...entah bagaimana nanti saja."


" Kau ini Will, ingin bahagia tapi tidak mau berkorban." Gerutu Daniel.


" Hehhh...kau ini mengomel saja seperti nenek-nenek, kau antar aku saja sekarang!!" Ajak William.


" Kau mau kemana?"


" Temani aku untuk membeli oleh-oleh untuk calon mertuanku Daniel!!"


" Haaahhh...oleh-oleh?"


" Penting ya?" Tanya Daniel lagi.


" Ckckck...Daniel...Daniel...kau mulai sekarang harus belajar untuk mengambil hati seseorang, apalagi hati calon mertuamu. Jika aku datang ke sana pertamakali tanpa membawa apapun, mereka mengira calon menantunya ini orang yang pelit."


" Ohhhh begitu ya, masuk akal juga, tapi sayangnya aku belum memiliki calon mertua."


" Hahaha kekasihpun kau belum punya, apalagi calon mertua. Ayo pergi saja!! Siapa tau nanti di mall kau mendapatkan calon mertua!!" Ajak William.


" Calon mertua dulu tapi yang punya anak gadis untuk jadi kekasihmu teman." Jawab William.


" Hahaha....benar sekali sungguh ide yang bagus!!!" Jawab Daniel sambil tertawa.


Kemudian William dan Daniel pergi bersama sama menuju mall, dimana William kemarin membeli oleh-oleh bersama Dhea.


" Kau sepertinya ceria sekali mentang-mentang akan bertemu Dhea lagi."


" Hehehe kau tau saja."


" Tapi ingat, kau jangan sampai berlebihan melepas rindu bersama kekasihmu, itu kan bukan di negaramu, pasti berbeda budayanya dengan kita."


" Ya aku tau itu, dan orang tua Dhea pasti tidak jauh sifatnya dari anaknya. Mereka pasti sangat menjunjung tinggi etika Dan."


" Ya, jadi kau berhati hatilah di sana nanti."


" Pasti itu Dan."


Sementara itu Dhea terlihat sedang membersihkan kamar yang hendak digunakan William nanti."


" Dhe, kau bilang William itu seorang pengusaha besar di sana."


" Iya bu benar."


" Berarti dia kaya raya?"


" Bisa dibilang begitu bu. Ada apa bu?"


" Apakah dia mau tidur di tempat seperti ini?"


" Aku sudah mengatakan padanya bu, dan dia tidak keberatan."


" Dhe..."


" Iya bu."


" Kau benar mencintai William?"


" Iya bu aku mencintainya."


" Lalu bagaimana dengan agamanya?"


" Bu, aku dulu sudah berbagai cara menghindarinya, namun ternyata kami tetap saja bersama. Aku akan menjalani ini dulu bu, jika memang kita tidak bisa bersatu, aku akan tetap mengikhlaskannya."


" Nak, ibu percaya padamu. Kau pasti tau pilihan yang terbaik buatmu."


" Iya bu, insyaalloh aku tidak akan pernah mengecewakan ibu dan ayah."


" Iya nak." Jawab ibunya.


" Ya sudah lanjutkan pekerjaanmu, jangan sampai William nanti tidak nyaman di sini. Memuliakan tamu itu harus, karena itu sangat dianjurkan dalam agama kita."


" Iya bu, aku pasti akan menjamunya dengan baik di sini nanti."


" ya sudah ibu keluar dulu ya."


" Iya bu, silahkan."


Saat ibu Dhea keluar, handphone Dhea berdering. Ternyata William yang menelfonnya.


" Hallo Will."


" Hallo Dhe. Ini aku sedang di mall, kau ingin kubelikan apa untukmu? Biar kubawakan nanti."


" Tidak usah Will, kau tidak usah repot-repot, memang kau sedang membeli apa di mall?"


" Aku sedang mencari oleh-oleh untuk orang tuamu nanti."


" Kenapa kau harus bersusah payah mencari oleh-oleh segala? Yang kubawa kemarinpun masih ada Will."


" Itu kan kamu yang membawanya, masak aku harus berlenggang tangan datang ke rumah orang tuamu."


" Ya sudah terserah kamu asal tidak merepotkan."


" Tentu tidak sayang. Kau sedang apa Dhe?"


" Aku sedang menyiapkan kamar tidur untukmu nanti, karena aku ingin membuatmu senyaman mungkin saat berada di sini."


" Dhea..Dhea....asalkan aku itu berada di sampingmu, pasti aku sudah merasa nyaman."


" Hehhhh kau ini, yang penting kau bisa jaga tingkah lakumu saat di sini, jangan sembarangan memegang tanganku seperti biasanya ya. Dan satu lagi, orang tuaku sangat menjunjung tinggi sopan santun, jadi kau harus perhatikan itu."


" Iya sayang aku tau. Nanti aku akan searching di google tentang kebiasaan masyarakatmu di sana oke?"


" Hehhh kau ini berlebihan sekali." Gumam Dhea.