
Selama tiga hari Dhea dirawat di rumah sakit, di sana pula dia mengalami kejang beberapa kali, hingga membuat orang tua dan suami yang menunggunya panik. Sebenarnya dokter belum memperbolahkannya pulang, namun Dhea merasa sangat tidak nyaman berada di rumah sakit itu, sehingga menyebabkan pikirannya semakin stres. Dia merasa seperti berada di dalam penjara. Yang dilihat sekelilingnya hanya dinding yang dicat warna putih, tidak bisa kemana-kemana, kalaupun duduk sebentar di luar, pemandangannya hanya perawat yang mondar-mandir membawa berbagai macam keperluan medis, belum lagi saat bolak-balik terdengar suara petugas dari microphone yang meneriakan code blue memanggil petugas, karena adanya salah satu pasien yang meninggal ataupun butuh penanganan yang serius, dan itu sangat menyiksa dirinya. Dia memang paling benci berada di rumah sakit.
" Sayang, aku pulang saja. Jika terus-terusan berada di sini, bukannya sembuh malah keadaanku jadi semakin memburuk." Kata Dhea wajahnya terlihat memelas dan sedikit pucat. Karena merasa tidak betah berada di rumah sakit itu, dia sangat sulit untuk tidur nyenyak, akhirnya selera makannya malah menjadi hilang.
" Tapi sayang, kau dengar sendiri kan kata Dokter Sherli, kau perlu perawatan yang maksimal. Dan jika di rumah kan tidak ada yang bisa memantaumu 24 jam." Kata William. Hatinya sangat bimbang melihat kondisi istrinya itu. Di satu sisi dia ingin istrinya bisa diberikan pengobatan dengan baik di rumah sakit ini, namun di sisi lain saat tau istrinya sangat tersiksa berada di rumah sakit, dia jadi bingung sendiri.
" Jika di sini aku bisa semakin stres sayang. Pikiranku tidak bisa tenang. Setiap hari aku merasa tegang, mendengar ada saja pasien yang meninggal, belum lagi yang kritis, aku takut sayang." Jawab Dhea, tetap memohon pada suaminya dengan seribu satu alasan. Willliam menarik nafas panjang.
" Ya sudah, nanti aku coba berbicara dengan Dokter Sherli bagaimana jalan keluar terbaiknya. Bila perlu aku akan meminta satu dokter jaga, dan juga perawat khusu untuk stay di rumah mengawasimu." Akhirnya William tidak bisa berkutik dengan jurus maut istrinya itu. Dia memang tidak bisa menolak jika orang yang disayanginya itu sedang merajuk.
" Terserah kau sayang, yang penting aku ingin istirahat di rumah." Kata Dhea pasrah. Dia tidak perduli apa yang akan dilakukan oleh suaminya, dia bahkan tidak mau ambil pusing jika ada 10 dokter yang disewa untuk mengawasinya di rumah, yang penting dia bisa keluar dari rumah sakit itu, dan tidak melihat pemandangan yang menurutnya seperti berada di dalam neraka. Apa enaknya berada di rumah sakit? tidak ada satupun orang yang mau tinggal dan dirawat di rumah sakit walaupun itu gratis.
Siang ini saat Dokter Sherli sedang memeriksa Dhea, dan lagi-lagi bukan wajah sumringah yang ditampakkannya, namun sebuah kerutan di dahi yang muncul, menandakan si empunyanya sedang berpikir sedikit keras. William bisa membaca situasi itu, mengingat beberapa hari di sini, istrinya terus-terusan mengalami kejang. Dokter Sherli menarik nafas panjang. Setelah selesai, kemudian diapun keluar. William mengikutinya dari belakang. Kedua orang tua Dhea tetap tidak meninggalkan anaknya tersebut, dan selalu menemani William menjaganya. Walaupun sebenarnya tidak perlu butuh banyak orang untuk mengawasi Dhea, karena Dheapun tidak butuh perlakuan khusus dari mereka, namun sebagai orang tua mereka tetap tidak tega melihat penderitaan anaknya itu.
" Dokter, bagaimana?" Tanya William setelah berada di depan kamar. Dia sengaja membicarakannya di luar agar Dhea tidak mendengarnya.
" Hehhhh...belum ada perubahan tuan. Anda lihat sendiri kan, bengkak-bengkak di bagian anggota tubuhnya mulai banyak?"
" Iya dokter, saya tau itu. Tapi Dhea malah meminta pulang, dia sudah tidak betah berada di sini berlama-lama, dan merasa semakin stres."
" Tapi kondisinya tidak memungkinkan tuan, dan hari ini saya berencana melakukan lab lagi."
" Tapi saya tidak tega melihat dia tersiksa begini dok, setiap hari dia merasa ketakutan berada di sini. Belum lagi saat mendengar suara ambulance yang meraung-raung setiap hari. Apa itu tidak semakin memperparah keadaannya juga mengganggu psikologisnya?"
" Lalu anda tidak khawatir jika dia berada di rumah dan tidak mendapatkan pengawasan yang maksimal? saya tau anda itu sangat menyayangi istri anda, tapi jika anda mengabulkan permintaannya, anda sama saja sedang membunuhnya pelan-pelan!!! kita ini di sini sama-sama sedang berjuang untuk menyelamatkan istri anda tuan, dan ini usaha terakhir saya untuk membantunya, dan jika memang tidak bisa, kita harus segera mengorbankan anak anda!!!" Dokter Sherli mulai sedikit emosi.
" Dokter saya tau, tapi anda tidak merasakan apa yang saya rasakan. Bagaimana tersiksanya perasaan saya melihat orang yang saya sayangi sangat menderita!" William tidak kalah emosi.
" Saya akan menyediakan dokter dan perawat yang siap menjaganya 24 jam, berapapun biayanya akan saya keluarkan. Saya akan melakukan apa saja untuk istri saya, yang penting dia tidak menderita, dan merasa nyaman dengan pengobatan yang dia jalani. Saya harap anda bisa membantu saya untuk mencarikan dokter itu."
" Hehhhh.....terserah anda tuan. Tapi aku tidak berani menjaminnya, karena kondisi istri anda yang sepertinya semakin memburuk."
Dokter Sherli hanya bisa menarik nafas panjang, karena keputusan William tidak bisa diganggu gugat, rasa sayangnya pada Dhea mengalahkan akal sehatnya.
" Ya sudah jika itu mau anda, nanti aku akan bantu mencarikan dokter pribadi yang menjaganya. Tapi aku minta, jika sewaktu-waktu aku menyarankan sesuatu tolong turuti kataku. Ini semua demi kebaikan istri anda."
" Maksud dokter?"
" Seperti yang bisa kita lihat sekarang, apapun yang kita lakukan terhadap istri anda tidak sedikitpun mengurangi penyakitnya. Waktu yang saya berikan hanya tinggal beberapa hari saja. Dan jika waktu yang telah saya tentukan tiba, saya harap anda bisa siap." William hanya menunduk saja mendengar ucapan Dokter Sherli, tanpa mengeluarkan satu katapun. Percuma dia mengucapkan kata-kata, karena itupun tidak merubah keadaan. Yang dibutuhkan sekarang mempersiapkan mentalnya dan juga mental istrinya.
" Ya sudah saya permisi dulu tuan. Nanti setelah istirahat siang, saya akan mengambil sampel darah istri anda, setelah semua urusan selesai, sore hari istri anda baru saya ijinkan pulang."
" Ya dokter terimakasih."
" Untuk masalah dokter pribadi yang akan stay di rumah anda, akan saya kabari selanjutnya. Mudah-mudahan bisa cepat saya dapatkan."
" Terimakasih atas bantuan anda dokter, maaf telah merepotkan."
" Tidak apa-apa tuan. Semoga di rumah nanti, ada sebuah keajaiban yang bisa merubah kondisi istri anda."
" Amiin...." William menjawabnya dengan singkat.
Kemudian Dokter Sherli segera meninggalkan William, menuju ke ruangannya kembali untuk mempersiapkan segala peralatan yang digunakan untuk cek lab Dhea nanti.
William kembali ke dalam kamar, dan langsung mendekati Dhea yang masih terbaring di atas ranjang.
" Sayang, tadi aku sudah berbicara dengan Dokter Sherli. Nanti kita cek lab dulu, dan setelah selesai semuanya, baru sorenya kita bisa pulang. Tidak apa-apa kan?"
" Tidak apa-apa sayang, yang penting hari ini aku bisa pulang dan tidak perlu menginap lagi." Jawab Dhea.
Dia merasa mendapat angin segar, dan semangatnya tumbuh kembali. Tinggal di rumah sakit selama tiga hari serasa tiga tahun, dan menurutnya waktu begitu lama berputar. Walaupun tidak ada yang bisa menjamin, saat di rumah nanti kondisinya bisa stabil, namun minimal dia tidak merasa berada seperti di dalam penjara, di dalam ruangan yang sebenarnya berukuran lumayan luas itu. Dia rindu duduk santai di taman samping rumahnya, rindu bermalas-malasan sambil bersenda gurau di dalam kamar bersama suaminya, rindu bertegur sapa dengan para pegawai di rumahnya, dan bukan orang-orang yang bagi Dhea terlihat seram dengan seragam putih-putihnya dan peralatan medis yang selalu dibawanya kesana kemari.