
" Kita langsung ke rumahmu papamu? ke rumah pribadimu? ke apartemenmu? Atau ke hotelmu?"
" Jika ke apartemenmu, apartemen yang di daerah mana? Jika ke hotelmu, hotel yang di sebelah mana?" tanya Daniel pada William yang duduk di sampingnya sambil terus berkonsentrasi pada jalanan di depannya.
" Hahaha...kau paham sekali aset-asetku Dan?"
" Bagaimana tidak paham? Asetmu kan aku yang mengurusnya."
" Tapi ingat...!! Jangan pernah memanfaatkannya untuk menarik perhatian wanita ya."
" Hahaha...aku itu bukan pria pembohong Will. Aku lebih suka apa adanya, dan mereka tertarik dengan apa yang kumiliki sendiri, tanpa harus berpura-pura kaya di depan mereka."
" Ya bagus, perlu sebuah kejujuran untuk menjalin sebuah hubungan, agar tidak ada yang merasa dibohongi."
" Langsung ke rumah papaku saja, pasti Mike dan istrinya sudah menunggu kami di sana." Sambil melirik istrinya yang duduk di kursi belakang. Terlihat Dhea sudah tidak duduk tegak lagi, tapi tubuhnya sudah terkulai di kursi.
" Kasihan istriku, selama di pesawat tadi tidak dapat beristirahat dengan tenang, dan sekarang dia tertidur pulas."
" Kenapa? bukankah dia sudah terbiasa bolak-balik dari London ke Indonesia?"
" Ya benar, tapi gara-gara insiden pesawat yang jatuh waktu itu, membuat dia sedikit trauma, sehingga takut untuk naik pesawat."
" Hahaha....bisa sedalam itu ya."
" Bagaimana tidak, karena dia pikir aku jadi salah satu korbannya hingga dia shock."
" Ahhhh...kenapa pikirannya terlalu pendek? bukankah masih banyak pria yang lebih tampan darimu? akupun mau untuk menggantikanmu."
" Huuuu....sialan kau, tapi istriku belum tentu mau padamu, kecuali dia sedang khilaf."
" Yahhhh...siapa tau dia khilaf hahaha...!!!"
" Huuusss...jangan keras-keras tertawamu, nanti istriku bangun." Sambil memukul bahu Daniel.
" Hahhhh...seperti bayi saja, berisik sedikit terbangun."
" Ahhhh...kau ini banyak protes."
" Tapi kan kau juga nanti harus membangunkannya, bukankah kalian harus beribadah dulu."
" Kau tau jadwal ibadahku?"
" Aku ini hanya sedikit brutal Will, tapi bukan bodoh."
" Kau ini sepertinya sangat memanjakan istrimu ya."
" Memangnya salah ya? Dia kan istriku, bebas dong aku mau memanjakannya atau tidak. Ada masalah?"
" Ohhhh...tidak, terserah itu memang istrimu, siapa bilang istrinya tetanggamu. Aku hanya ingin mengingatkanmu saja, jangan terlalu memanjakan wanita, bisa-bisa dia nanti menginjak kepalamu."
" Hahaha....kenapa aku harus takut itu. Menyayangi istri itu wajib, tapi mendidik istri itu juga wajib. Aku memanjakannya, tapi juga tetap tidak melalaikan kewajibanku untuk terus mengingatkannya, jika dia bersalah. Dan untungnya istriku memiliki dasar agama yang baik, sehingga diapun tau bagaimana menghormati dan menempatkanku sebagai kepala rumah tangganya."
" Jika kau tidak ingin susah, terus saja begini, dan jika kau meninggal nanti, tidak ada satupun keluargamu yang mendoakanmu, kau hanya dikuburkan begitu saja, lalu ditinggal pergi."
" Hahaha...aku kan masih memiliki saudara dan juga orang tua."
" Kau yakin mereka akan ingat untuk mendoakanmu? Kecuali kedua orang tuamu?"
" Ahhhh....kenapa sejauh itu memikirkannya? Enjoy saja teman, hidup ini terlalu indah untuk dibebani dengan aturan-aturan yang memusingkan."
" Yaaa...terserah kau sajalah. Kau belum tau rasanya berkeluarga, memiliki orang yang benar-benar mencintai kita, dan selalu berada di samping kita saat kondisi apapun."
" Heiii...bagaimana perusahaanmu di sana? apakah ada kemajuan yang significant. Tanya Daniel mengalihkan topik pembicaraan.
" Jika urusan dunia, kau tidak perlu menanyakan, bagaimana Allah sudah melimpahiku dengan banyak harta. Bahkan aku merasa apapun yang kuolah langsung berubah menjadi pundi-pundi uang, tanpa aku harus repot mengurusinya lagi."
" Yahhh...hidupmu memang sangat beruntung, bahkan lautan pasir bisa berubah menjadi lautan berlian jika di tanganmu."
" Yahhhh...aku sangat bersyukur Dan. Saat ini aku hanya ingin konsentrasi untuk terus memperbaiki ibadahku, memperdalam ilmu agamaku, dan memperbanyak membagi rejeki dengan orang yang membutuhkan. Mau apa lagi sekarang? Aku hanya tinggal menikmati kehidupanku bersama istriku. Dan tentunya jika semua sudah kumiliki, tidak ada lagi yang kucari, selain mempersiapkan diri menuju ke sana."
" Ahhhh...obrolanmu semakin menyeramkan saja Will."
" Menyeramkan??? Masih menyeramkan wajahmu tuh..."
" Sialan kau..."
Daniel terus melajukan kendaraannya, membelah jalanan yang semakin terang dipenuhi oleh lampu-lampu yang bertebaran. Gelap mulai menyelimuti kota. Sang mentari beringsut tenggelam di ufuk barat, berganti dengan sang malam yang mulai datang.
Kota London masih sama seperti saat terakhir kali William meninggalkan kota kelahirannya itu. Gedung-gedung tua yang masih terawat rapi, dan tetap ditinggali, terlihat menambah keanggunan kota itu. Kedatangannya kali ini kebetulan bersamaan dengan musim semi, dilihatnya temperatur suhu di handphonennya 15°c. Cuaca tersebut buat masyarakat Indonesia masih lumayan menggigil, namun bagi masyarakat London yang terbiasa dengan cuaca dingin, menganggap suhu tersebut masih lumayan hangat.
William merapatkan baju hangatnya. Untungnya dia dan istrinya sudah mempersiapkan diri untuk menangkal cuaca di tempat kelahirannya itu.
" Hehhhh...dingin sekali cuacanya." Gumam William.
" Hahaha...kulitmu berarti sudah menyesuaikan iklim di Indonesia. Bukankah sekarang masuk musim semi? dan dibandingkan sebelumnya, musim semi ini suhunya lebih hangat bukan?"
" Ya aku tau, karena sudah hampir satu tahun aku tinggal di Indonesia, jadi baru adaptasi lagi di sini." Sambil menengok, melihat istrinya yang sedang meringkuk kedinginan di jog belakang.
" Kasihan kau sayang, sabar ya sebentar lagi kita tiba di rumah papa, nanti kubuatkan secangkir teh panas buatmu." Gumam William.
" Hemmmm......kau tidak ingin memeluknya, dan pindah di kursi belakang Will?"
" Boleh jika kau tidak keberatan."
" Ahhhh....buat apa keberatan? pindah saja ke belakang, tapi setelah itu aku keluar dan carilah supir yang mau mengantarkan kalian berdua. Kau pikir aku tidak iri melihat kalian haaa??? aku itu laki-laki normal Will, butuh disayang juga, butuh perhatian juga."
" Hahaha...bodoh kau...!!!" sambil memukul bahu Daniel, lalu mereka tertawa bersama.
" Ssssstttttt.....nanti istriku bangun...!!!" Spontan mereka menutup mulutnya di sisa tawa yang masih terdengar ditahan.