
Setiap hari William selalu mengantar jemput Dhea ke kampus. Hubungan mereka semakin lama semakin membaik, walaupun tidak ada komitmen apa apa di antara mereka, namun perlakuan William yang begitu perhatian dengan Dhea membuatnya Dhea tidak lagi bersikap kasar pada William.
Di suatu pagi William menelfon Dhea, dan hendak mengantarnya ke kampus seperti biasa.
" Hallo Dhe kau sudah siap? Aku sudah menunggumu di bawah ya?"
" Ok tunggu sebentar ya Will ", jawab Dhea sambil memeriksa tampilannya di cermin. Setelah dirasa rapi dia lalu memakai sepatunya, kemudian segera turun menghampiri William di bawah.
" Ayo Will!" Ajak Dhea pada William yang sedang duduk di sofa yang ada di apartemen tersebut.
William kemudian beranjak dari tempat duduknya menuju kendaraannya di depan.
" Dhe, pulangnya nanti aku tidak bisa menjemputmu ya?" Kata William saat sudah di dalam mobil.
" Kenapa Will?"
" Aku ada urusan pekerjaan di luar kota, mungkin sedikit lama."
" Berapa hari ?"
" Aku tidak bisa memastikannya, bisa 1 minggu, 2 minggu, mungkin bisa juga 1 bulanan ".
" Hehhh lama sekali ", gumam Dhea.
" Kau bicara apa?" Tanya William.
" Eh ehm tidak, aku tidak bicara apa apa."
Dhea sedikit terkejut, kenapa tiba tiba dia bicara seperti itu? Seharusnya dia senang untuk sementara waktu bisa bebas tanpa ada William yang setiap hari mengawasinya.
" Hahaha kenapa wajahmu memerah sayang? Sepertinya tadi aku mendengar nada bicara sesorang sedikit sedih!"
" Apakah kau takut nanti akan merindukanku?"
" Eh bukan begitu maksudku. Lalu siapa yang akan mengantar jemputku jika kau pergi?"
" Tenanglah sayang, aku tidak akan membiarkan wanitaku berlari lari lagi mengejar angkutan umum lagi. Aku sudah menyuruh orangku untuk menjemput dan mengantarkan kemanapun kau pergi, namanya Hendrik nanti kau kuberi nomor hpnya ya."
" Ohhh ", kata Dhea singkat.
" Aku pasti akan sering menelfonmu sayang, jangan khawatir."
" Kau tidak akan mencari teman wanita lagi disana untuk menemanimu kan?" tanya Dhea tiba tiba sambil tertunduk malu.
" Oooh sayangku, tenanglah! Aku tidak akan mengisi hatiku dengan wanita lain lagi, percayalah aku hanya akan setia denganmu saja."
" Kau yakin?"
" Hmmm apakah wanita cantik di sampingku ini mulai jatuh cinta padaku?" Kata William sambil melirik Dhea dan tersenyum menyelidik.
" Hehhh jangan terlalu percaya diri dulu, aku hanya takut kau melupakanku dan lari dari tanggung jawabmu, itu saja", kata Dhea beralasan.
" Segera telfon aku jika kau hamil oke?"
Tak lama kemudiam mobil telah berhenti di depan kampus Dhea.
" Dhe nanti pulangnya kau tunggu di sini saja ya? Aku sudah beritahu Hendrik, ini nomor hpnya." Seraya menyerahkan kartu nama pada Dhea.
Dhea menerimanya, lalu menyimpannya di dalam tasnya.
" Dan ini kartu kredit untukmu. Jika kau ingin beli apa apa pakailah ini. Jangan takut, aku tidak akan meminta gantinya. Karena aku tidak mau selama aku pergi kau kesulitan uang."
" Tidak Will, bukankah aku bisa menelfon pegawaimu jika aku butuh apa apa? Orang tuaku juga tidak pernah terlambat mentransferku."
" Jangan menolakku Dhe, bawalah ini. Paswordnya nanti kusmskan padamu ya".
Akhirnya Dhea menerima kartu itu.
" Sayang aku pasti akan sangat merindukanmu. Hati hati ya jangan pernah dekat dekat dengan laki laki lain, karena itu bisa membuatku cemburu!" Kata William sambil menatap Dhea mesra, wajahnya terlihat sedih.
" Mana mungkin Tuan William, sedangkan aku tau jika di lubang semutpun orang orangmu selalu bisa mengawasiku". Kata Dhea sembari turun.
" Hahaha kau benar sayang."
" Dhe, I Love You." Kata William saat Dhea hendak menutup pintu.
" Kenapa kau tidak segera berangkat Will?"
Tanya Dhea karena William belum juga menjalankan mobilnya.
" Aku tidak akan pergi sebelum kau menjawab kata kataku."
" Kata kata yang mana?" Jawab Dhea pura pura tidak tau.
" Ahhh kau wanita yang menyebalkan katanya ", sembari tersenyum manis, lalu perlahan dia meninggalkan Dhea.
" Love you to William ", kata Dhea pelan sambil terus memperhatikan kendaraan William yang semakin hilang.
Dhea langsung berjalan ke arah kelasnya. Ada perasaan berbunga bunga di hatinya, dan dia belum menyadari bahwa itu cinta.
" Hai Bram."
"Hai Dhe."
" Sepertinya wajahmu ceria sekali hari ini?"
" Benarkah? Ah mungkin hanya perasaanmu saja Bram."
" Apakah kau mulai jatuh cinta dengannya Dhea?"
" Kau bicara apa Bram? Aku biasa saja ", sembari menghindari tatapan mata Bram, kemudian duduk di kursi kosong yang berada tidak jauh darinya.
" Selamat William kau telah mendapatkannya ", bathin Bram sambil menarik nafas panjang.
Sepulang dari kampus Dhea langsung menelfon Nyonya Christy.
" Selamat siang nyonya Christy bagaimana kabarmu hari ini?" Tanya Dhea di telfon.
" Hai sayang aku baik baik saja".
" Bagaimana denganmu?"
" Aku baik nyonya ".
" Kau sepertinya ceria sekali, apakah kau sedang jatuh cinta sayang?"
" Ahhh nyonya christy aku jadi malu."
" Ceritakanlah sayang jangan sungkan sungkan."
" Aku tidak tau nyonya, tapi pria itu tadi pagi bilang cinta padaku."
" Benarkah sayang?"
" Iya nyonya."
" Dan sepertinya kaupun mulai menyukainya?"
" Ah nyonya kau jangan menggodaku."
" Hahaha sayang percayalah, semua akan baik baik saja dan kau pasti bahagia."
"Benarkah nyonya? Anda tau darimana?"
" Ya sayang, firasatku mengatakan demikian. Laki laki itu sepertinya sangat tulus mencintaimu."
" Hehhh...entahlah nyonya aku tidak mau berharap banyak, hanya mencoba menjalani yan Tuhan rencanakan untukku."
" Ya sayang ikutilah kata hatimu."
" Terimakasih nyonya, anda sudah mau mendengarkan ceritaku."
" Aku akan selalu mendengarnya sayang, jangan sungkan sungkan menelfonku ya."
" Iya nyonya."
Kemudian Dhea menutup telfonnya.