Something different

Something different
Bertemu ibu Dhea.



Dhea menghentikan kendaraan di halaman rumahnya. Rumah yang sangat asri dan tidak terlalu besar serta dipenuhi tanaman yang setiap hari selalu dirawat oleh ibunya.


" Ini rumah orang tuamu Dhe?"


" Ya, tidak terlalu besar bukan? Jauh sekali dibanding dengan milikmu di sana."


" Tapi aku suka, rumahmu sangat sejuk."


" Ya, ibuku sangat suka tanaman, makanya halaman kami dipenuhi oleh tanaman kesukaan beliau."


" Ooohhh...pantas." Jawab William singkat.


" Ayo masuk." Ajak Dhea.


William segera mengikuti Dhea dari belakang. Karena tingginya badan William, maka dia harus sedikit menunduk, agar kepalanya tidak terantuk pintu yang ada di rumah Dhea. Memang model rumah orang tua Dhea tidak terlalu tinggi seperti model rumah-rumah sekarang, namun orang tuanya sangat rajin merawat rumah tersebut, jadi walaupun bangunannya adalah bangunan lama, namun masih terlihat kokoh dan bagus.


" Assalamualaikum!" Salam Dhea saat masuk ke dalam.


" Wa'alaikum salam." Ibu Dhea menjawab dari dalam, kemudian keluar dari kamarnya.


" Sudah datang kamu nak?"


" Iya bu. Ini bu yang namanya William." Kata Dhea. Ibu Dhea memperhatikan laki-laki tinggi besar yang berdiri di depannya itu.


" Will ini ibuku, berjabatlah tangan dengannya dan jangan lupa kau cium tangannya ya?" Kata Dhea mengajari.


William menuruti perintah Dhea, dia menjabat tangan ibu Dhea, kemudian menciumnya.


" William." Katanya sambil memperkenalkan diri.


Ibu Dhea hanya tersenyum, kemudian mempersilahkan William duduk.


" Apa kata ibumu Dhe?"


" Kau dipersilahkan duduk Will." Jawab Dhea.


Lalu Williampun mengangguk dan kemudian segera duduk.


" Dhe, ibu bagaimana cara berbicara dengannya? Ibu kan tidak bisa bahasa Inggris?"


" Bicara saja bu, biar Dhea yang mengartikannya." Jawab Dhea.


Ibu Dhea kemudian berbasa basi dengan William mulai dari menanyai kabarnya, pekerjaannya, hingga perjalanannya ke Indonesia. Dhea bertindak sebagai penerjemah. Setelah itu William dipersilahkan untuk makan siang.


" Will, ayo makan dulu, kau harus mencicipi masakan ibuku, tadi aku yang membantunya demi untuk menyambut kedatanganmu."


" Benarkah Dhe?"


" Ya...Ayo!! Aku tidak mau selama di sini kau mengeluh kelaparan." Jawab Dhea sambil tersenyum.


Kemudian mereka makan bertiga di ruang makan.


" Bagaimana Will, enak?"


" Ya Dhe, lebih enak masakan ibumu dibanding masakanmu."


" Kau ini membandingkan dengan senior, tentu saja aku kalah." Gerutu Dhea.


" Dhe, William bilang apa?" Tanya ibunya.


" Dia bilang masakan ibu jauh lebih enak dibanding masakanku."


" Oh ibu pikir dia ngomongin ibu."


" Kalau dia berani ngomongin ibu, aku akan deportasi dia ke negaranya kembali bu."


" Hahaha kau ini galak sekali Dhe, katanya kau mencintainya dia." Goda ibunya.


" Cinta sih cinta bu, tapi harus yang masuk akal dong, mentang-mentang sedang jatuh cinta lalu bisa begitu saja lupa pada orang tuaku begitu bu?"


" Alhamdulillah kau tidak lupa diri nak."


" Insyaalloh bu, selama aku belum memiliki suami, baktiku tetap pada ayah dan ibu, kecuali setelah aku memiliki suami bu."


" Syukurlah nak, memang seharusnya begitu. Ibu sebelumnya sangat khawatir saat tau ayahmu memperbolehkan William ke sini, sebenarnya ibu tidak setuju, tapi ayahmu meyakinkan ibu bahwa kau pasti bisa menentukan mana yang terbaik buatmu nanti."


" Bu, ibu jangan khawatir ya, aku masih Dhea yang dulu, aku tidak akan mempertaruhkan harga diriku, apalagi agamaku untuk cinta. Percayalah bu, jika William tidak mau mengalah lebih baik aku meninggalkannya."


" Ya nak, ibu tidak ingin merebut kebahagiaanmu, tetapi ibu juga tidak ingin kau murtad nak."


" Insyaalloh bu, doakan Dhea selalu ya bu?"


" Iya nak pasti itu."


" Ya tidak Will?" Kata Dhea sambil menengok ke arah William.


" Iya Dhe!" Jawab William sambil tersenyum.


" Iya apanya Will?"


" Tidak tau hehehe." Jawab William polos.


" Tidak Dhe!"


" Hahaha lalu kenapa kau tersenyum?"


" Ya aku kan tidak mau ibumu melihat wajahku tidak ceria selama di sini Dhe, nanti dipikirnya aku tidak berah lagi tinggal di rumahmu."


" Aku pikir kau tau apa yang sedang kubicarakan dengan ibuku."


" Memangnya kau sedang membicarakan apa Dhe?"


" Kami sedang membicarakanmu Will."


" Kau mengataiku ya tadi?"


" Iya, ibuku berkata hidungmu mancung sekali, Lalu aku bilang itu palsu karena kau baru saja pulang dari operasi plastik Will."


" Hahaha kau pikir ini tempelan Dhe? Kau ini aneh-aneh saja." Kata William sambil tertawa.


" Dhe, beritahu William ibu mau sholat dulu, jika dia ingin istirahat, biarkan dia ke kamarnya ." Kata ibu Dhea sembari berdiri meninggalkan meja makan.


" Iya bu." Jawab Dhea.


Kemudian ibu Dhea berjalan ke belakang mengambil air wudhu.


" Will, kata ibu jika kau ingin istirahat masuklah ke kamarmu yang tadi aku beritahu, aku mau ibadah dulu ya."


" Nanti saja Dhe, aku ingin duduk di depan dulu, tidak baik selesai makan langsung tiduran. Setelah beribadah temani aku di depan ya."


" Iya Will, ya sudah sana duluan!! Nanti aku menyusul." Kata Dhea.


Kemudian William berjalan ke depan, sedangkan Dhea langsung ke belakang.


Selesai sholat Dhea segera menemani William yang duduk di teras rumahnya.


" Heii....kok melamun?"


" Tanya Dhea, saat memergoki William sedang bengong.


" Tidak Dhe, aku sedang menikmati suasana di rumahmu ini."


" Kau nyaman di sini Will?"


" Sangat nyaman Dhe, apalagi ibumu sangat ramah."


" Ya, tapi kan kau belum bertemu ayahku Will."


" Aku yakin ayahmupun pasti sama ramahnya dengan ibumu."


" Kau tau darimana?"


" Menebak saja, karena aku lihat hubunganmu dengan ibumu sangat akrab, pasti dengan ayahmupun demikian."


" Ya tapi kau jangan sembarangan, orang tuaku itu sangat disiplin, jadi kau harus memperhatikan itu ya."


" Iya Dhea tenang saja."


" Dhe, kau dulu dibesarkan di rumah ini ya?"


" Iya Will, rumah ini dibangun saat aku masih kecil, dan dari dulu bentuknya seperti ini. Mungkin orang tuaku hanya mengecatnya ulang dan mengganti yang rusak-rusak saja."


Terlihat tetangga Dhea lewat di depan mereka dan menyapa Dhea dengan ramah. Dhea membalas sapaan tetangganya.


" Itu tetanggamu Dhe?"


" Iya Will, kami akrab dengan tetangga-tetangga kami, makanya aku sangat betah tinggal di sini. Tapi aku yakin setelah mereka melihatmu, pasti berita tentangmu akan cepat menyebar di wilayah ini Will."


" Memangnya kenapa Dhe?"


" Di sini itu tidak seperti di tempatmu Will, ada berita sedikit langsung cepat sampainya dari mulut ke mulut."


" Kenapa bisa begitu Dhe?"


" Ya memang seperti itu Will, makanya jangan bertingkah aneh-aneh di sini, tampangmu saja menurut mereka sudah aneh, apalagi jika kau bertingkah macam-macam."


" Hahaha...seperti selebritis nanti aku Dhe, jadi pusat perhatian di sini." Jawab William.


" Kau sekarang sudah tau kan kondisi keluargaku? Kau masih bersikeras tetap ingin menjalin hubungan denganku?"


" Hahaha....kau pikir setelah aku tau lalu aku akan mundur begitu?"


" Siapa tau kau nanti malu memiliki kekasih sepertiku."


" Aku itu memilikimu merupakan kebanggaan Dhe, dan bukan hal yang memalukan, jadi stop membicarakan masalah kondisi ekonomi. Kau sendiri dulu yang pernah bilang, bahwa apapun yang ada di dunia ini hanya sementara, hartakupun yang kumiliki di sana juga hanya sementara Dhe. Kau lupa itu?"


" Hemmm...kau mulai pintar Will?"


" Dari dulu aku memang pintar sayang."


Kata William sambil tersenyum