Something different

Something different
Kesedihan Dhea



Pagi ini Dhea baru terbangun dari tidurnya, setelah sholat subuh tadi dia merebahkan tubuhnya kembali, walaupun sebenarnya matanya sama sekali tidak bisa terpejam. Entah mengapa tiba-tiba hatinya begitu kosong. Dia melirik jam dindingnya, pukul 8 lebih, biasanya William sudah menelfonnya dari tadi, walaupun hanya sekedar menanyakan sudah makan atau belum? Sudah mandi atau belum? Sedang mengerjakan apa? Padahal Memang terkesan basa basi dan tidak penting, namun pria itu bukan hanya sekedar bicara kosong saja, buktinya selama menjadi kekasih William Dhea tidak pernah merasa kekurangan sedikitpun. Apapun yang dikeluhkan Dhea, William segera melakukan tindakan. Namun semenjak tadi handphonennya belum sekalipun berdering.


Dhea duduk di depan jendela kamarnya sembari memperhatikan pemandangan di luar apartemennya. William yang sengaja menempatkannya di lantai ini, dimana posisinya sama seperti tempat tinggal Dhea yang lama. William sangat tau apapun yang terbaik dan digemari oleh kekasihnya itu.


Wajah Dhea terlihat sembab. Sebenarnya saat William meninggalkan apartemennya dia hanya pura-pura tidur, bahkan semalaman dia tidak bisa terlelap sedikitpun. Perlahan pintu kamarnya diketuk, Dhea begitu terkejut dan segera berlari membukakan pintu kamarnya, berharap bahwa itu William yang datang dan berubah pikiran. Ternyata dia harus kecewa, dilihatnya salah seorang pegawai di restoran itu sedang berada di depan pintunya, sambil membawa sebuah kotak besar.


" Maaf nona, ini untuk anda."


" Apa ini?" Tanya Dhea singkat. Wajahnya kembali muram, karena harapannya kembali musnah.


" Ini tuan William yang memesankan untuk anda. Dia mengatakan agar anda tidak boleh lupa makan, karena anda harus bisa menjaga kesehatan sendiri sekarang."


Dhea hanya bengong mendengar kata-kata pegawai itu sambil menerima kotak yang berisi makanan tersebut, bahkan dia lupa mengucapkan terimakasih pada pegawai yang telah mengantarkannya.


Dhea langsung membuka isi kotak itu. Namun bukannya segera memakannya Dhea justru langsung menangis dan tidak menyentuh makanan itu sedikitpun. Dhea duduk sambil menekuk kedua kakinya. Dia terus terisak sambil menelungkupkan wajahnya itu di atas kedua lututnya.


" William...kenapa kamu harus melakukan ini semua? Bagaimana aku bisa melupakanmu jika kau tidak habis-habisnya memperdulikanku!!" Dhea tak kuasa membendung air matanya yang semakin lama semakin deras.


Dhea segera berlari ke kamar dan mengambil handphonennya, dia ingin menelfon kekasihnya itu. Entah kenapa hatinya tiba-tiba sangat rindu.


" William... pleas angkat telfonmu." Bisik Dhea.


Namun berkali-kali Dhea menelfon lelaki itu, yang terdengar hanya suara operator saja menandakan bahwa handphone William sedang tidak aktif.


" Aaaaaarrrgggghhh......" Teriak Dhea sambil melempar handphone di atas kasurnya, kemudian kembali menangis di atas pembaringannya itu. Dia bahkan lupa pernah memperolok William tidak bisa menerima kenyataan, namun saat ini ketika dia sendiri dihadapkan dengan masalah yang sama, ternyata membuatnya tidak pernah bisa membendung air matanya.


" William...apakah kau memang benar-benar ingin melupakanku?" Gumam Dhea.


Tidak biasanya William mematikan handhponennya. Dan Dhea yakin William sengaja melakukan itu agar Dhea tidak bisa menghubunginya lagi.


Tiba-tiba handphonennya berbunyi.


" Williammm.....??? Pasti itu William. Dhea seperti orang yang lupa segalanya, setiap saat yang diharapkan hanyalah kehadiran sosok kekasihnya itu.


Dan ternyata Dhea lagi-lagi kecewa, yang menelfon adalah ibunya. Dhea buru-buru menghapus air matanya, agar tidak diketahui bahwa dia sedang menangis.


" Assalamualaikum nak."


" Wa'alaikum salam bu." Jawab Dhea pelan.


" Kok suaramu sedikit sengau nak? Kau sedang sakit?"


" Hanya flu sedikit bu." Kata Dhea berbohong.


" Tidak bu, Dhea baik-baik saja." Jawabnya lagi.


" Kau sendirian?" Tanya ibunya lagi.


" Iya bu Dhea sendirian. Ibu tidak usah mengkhawatirkanku lagi. William tidak akan datang lagi ke sini, aku sudah putus dengannya. Jadi ibu tenang saja ya!" Jawab Dhea.


" Maksudmu nak?"


" Bu, Dhea paham sekali kenapa setelah ibu dan ayah tau Dhea menjalin hubungan dengan William, ibu dan ayah jadi gencar menelfon Dhea. Dhea tau pasti ayah dan ibu takut Dhea khilaf dan lupa diri kan karena cinta Dhea pada William? Dhea itu dibesarkan oleh ayah dan ibu lebih dari 20 tahun. Apa yang ayah dan ibu tanamkan dan ajarkan pada Dhea tidak akan mungkin Dhea kalahkan dengan laki-laki yang baru Dhea kenal setahun terakhir ini bu. Dhea memang sakit dan sedih sekali, tapi itu hanya sesaat saja. Dhea yakin sebentar juga akan bisa melupakan dia." Kata Dhea panjang lebar.


Ada sedikit rasa tidak terima dengan perlakuan orang tuanya yang sepertinya tidak percaya padanya, namun dia tidak bisa menyalahkan ibu dan ayahnya.


" Nak maafkan kami, bukan maksud kami merampas kebahagiaanmu. Kami hanya ingin menyelamatkanmu saja dari laknat Alloh nak!"


" Tidak bu, bukan ibu dan ayah yang minta maaf. Tapi Dhealah yang seharusnya minta maaf pada kalian berdua. Dhea yang salah, Dhea yang terlalu bodoh mau menjalin hubungan dengan orang yang jelas-jelas terlarang buat Dhea."


" Nak sabar ya? Ingat masa depanmu itu ada di tanganmu sendiri. Ayah dan ibu tidak bisa memberimu apa-apa."


" Iya bu, Dhea sudah berterimakasih sekali pada ayah dan ibu. Kasih sayang, perhatian dan doa kalian yang selalu membuat Dhea kuat. Percaya pada Dhea bu, Dhea akan membuat ibu dan ayah bangga."


" Iya nak ibu percaya kamu. Sudah ya jangan berlarut larut meratapi kesedihanmu, masa depanmu masih panjang. Ingat jangan sampai studimu terganggu karena masalah ini ya?"


" Iya Dhea pasti ingat itu."


Setelah berbicara panjang lebar, lalu Dhea segera mengakhiri pembicaraan dengan ibunya, dan kemudian menutup telfonnya.


Sementara itu William terlihat sedang duduk di depan balkon kamarnya, pikirannya melayang jauh seolah ingin menembus dimensi ruang waktu, membayangkan kejadian saat bersama dengan Dhea. Selama berhubungan dengan gadis itu yang dia rasakan hanyalah kebahagiaan, tidak ada sedikitpun kesedihan. Namun sekarang setelah keputusan yang dia ambil semalam, membuatnya seolah kehilangan semangat, wajahnya terlihat suram. Ditambah lagi sejak pulang dari apartemen Dhea, William belum bisa memejamkan mata sedikitpun. Dia hanya membolak balikan handphonen di tangannya. Sebuah simcard baru terlihat ada di tangannya.


Setelah memesan makanan untuk kekasihnya itu, William lalu mematikan handphonennya. Dia ingin membiasakan diri untuk tidak lagi memikirkan gadis tersebut. Biasanya setiap pagi saat baru saja bangun tidur, dia selalu menelfon kekasihnya itu. Namun sekarang kebiasaan tersebut harus dihilangkannya. Ada keragu-raguan dalam hatinya untuk mengganti sim cardnya, dia takut Dhea tidak bisa menghubunginya lagi jika dia butuh apa-apa. Dia terus saja berpikir sambil tetap membolak balikan handphone di tangannya.


" Hehhhhh...tidak, aku tidak boleh kalah dalam situasi ini. Semua aku lakukan demi Dhea. Jika aku tidak memulainya sekarang, kapan lagi? Aku yakin aku bisa!" Gumam William.


Kemudian William segera membuka handphonennya, mengganti simcardnya dengan yang baru, lalu segera mematah matahkan simcardnya yang lama, dan melemparkannya jauh-jauh.


Setelah itu William segera menghidupkan handphonennya kembali. Digulirkannya tombol pencarian, dan sebuah nama ditekannya.


" My love ", sebuah inisial nama yang tidak pernah absen ditelfonnya. Diusapnya nama itu dengan jemarinya, William sempat menutup matanya seolah sedang menguatkan dirinya agar tidak ada lagi keragu raguan. Dan...." Klik " akhirnya nomor handphonenya Dhea hilang dari memori telfon itu.


" Selamat tinggal sayang...Aku akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu. Tunggu aku satu tahun lagi, jika tuhan menginjinkan semoga hidayah itu menghampiriku." Bisik William. Sambil meletakkan kembali handphone di mejanya.