
" Ya aku ada di rumah Dan."
" Oke aku tunggu sekarang ya, sekalian kau makan malam di rumahku saja." Kemudian William segera menutup telfonnya.
" Siapa sayang?" Tanya Dhea saat William baru saja menerima telfon dari seseorang.
" Daniel, dia ingin kemari."
" Ohh..." Jawab Dhea singkat.
" Ayo turun sayang sambil menunggu dia di bawah, kita ajak dia makan sekalian. Kasihan dia kan belum punya istri, jadi tidak ada yang memperhatikan jadwal makannya." Canda William sambil berjalan keluar dari kamarnya diikuti oleh Dhea.
" Makanya suruh cari istri dong, biar dia tidak main perempuan terus."
" Hahaha....dia itu mana mau terikat oleh aturan, apalagi oleh aturan seorang istri."
" Hehhh...kalau tidak mau diatur, hidup saja di luar angkasa!!" Gerutu Dhea.
" Heiii...kok kamu yang ngomel-ngomel!!" Kata William sambil mencubit pipi istrinya.
" Ada ya orang macam dia yang tidak mau diatur-atur, dia pikir kita hidup di jaman purba yang belum ada aturan!!"
" Biarkan saja sayang, lebih baik kita doakan agar dia bisa cepat sadar dan insyaf ya."
" Amiin."
Kemudian mereka segera turun ke ruang makan. Disana terlihat beberapa asisten rumah tangga yang sedang menyiapkan makanan. Nyonya christy sibuk memberi arahan kepada bawahannya untuk mengatur segala perlengkapan makan malan tuan dan nyonyanya.
" Selamat malam Nyonya Christy!" sapa Dhea.
" Selamat malam sayang!"
" Silahkan tuan." Kata Christy sambil menarik kursi untuk kedua majikannya itu.
" Terimakasih Christy.:" Kata William.
" Nyonya mari makan bersamaku!" Ajak Dhea.
" Aku sudah makan sayang, kau temanilah suamimu saja, aku ke dalam ya, semoga kau suka dengan masakan di rumah ini."
" Terimakasih nyonya."
Kemudian Christy segera meninggalkan ruang makan, membiarkan nyonya dan tuannya menikmati makan malam mereka berdua, sedangkan dia kembali ke pekerjaannya.
" Sayang kita tunggu Daniel sebentar ya? tidak apa-apa kan? sebentar lagi dia datang."
" Oh iya tidak masalah sayang."
Tak lama orang yang ditunggunya datang. Daniel begitu bersemangat menuju ruang makan dimana William telah menantinya disana. Meja makan yang di atasnya telah penuh dengan berbagai menu yang sangat lengkap, dan memang disiapkan khusus oleh pegawai William untuk menyambut nyonya baru mereka, membuat Daniel begitu berhasrat menatap hidangan itu.
" Wooowww....kau pasti sangat senang menyambutku datang Will, sehingga menyiapkan ini semua untukku!!" Seru Daniel sambil matanya tidak beralih dari meja makan tersebut.
" Enak saja, percaya diri sekali kau! itu semua disiapkan pegawaiku untuk menyambut kedatangan istriku."
" Aku pikir karena kau begitu gembira aku datang ke rumahmu." Jawab Daniel.
" Kau ini tidak berubah sama sekali, kau tidak melihat ada istriku di sampingku, bahkan kau belum menegurnya sama sekali!!" Gerutu William.
" Ohhh iya aku lupa teman maaf." Katanya seraya mendekat ke arah Dhea.
" Hei kau mau apa mendekati istriku?" Tegur William sambil menarik tangan Daniel.
" Aku mau bersalaman dengannya, bukankah dia belum terlalu mengenalku? kita kan cuma bertemu sekali, itupun cuma sebentar saat kau memaksa dia pulang dari tempat kerjanya itu."
" Tidak perlu bersalaman, dia itu sudah jadi istriku, nanti kau menggodanya lagi!!"
" Hahaha...iya aku tau dia itu istrimu, siapa juga yang mengatakan dia tukang kebunmu? Lalu mana berani aku menggodanya? sedangkan aku tau kau sampai jungkir balik untuk mendapatkannya, iya kan?"
Dhea hanya tersenyum mendengar Kata-kata Daniel. Daniel memang selalu bicara ceplas-ceplos dan tidak pernah ambil pusing.
" Kau tuh, mulutmu itu memang perlu dipasang rem agar tidak kebablasan kalau berbicara."
" Hahaha....pakai cakram sekalian Will, agar lebih pakem!!"
William hanya bersungut-sungut saja mendengar candaan Daniel.
" Sini duduk di sebelahku!" kata William sambil menarik kursi untuk Daniel.
" Tuh Will, istrimu saja begitu ramah padaku, bahkan tau kalau aku sudah lapar."
" Jelas dia tau, lihatlah air liurmu saja sudah menetes di bajumu."
" Ahhh...masak!!" kata Daniel sambil mengusap bibir dengan jemarinya.
Dhea dan William hanya tertawa bersamaan melihat reaksi temannya itu.
" Sayang sudah cukup segini?" Tanya Dhea yang baru saja mengambilkan makanan ke dalam piring William.
" Cukup sayang, terimakasih ya."
Dhea hanya mengangguk sambil tersenyum mendapat ucapan terimakasih suaminya.
" Dhe, kau tidak ingin mengambilkan untukku juga??" kata Daniel sambil menyodorkan piring kosongnya.
" Heiii...enak saja!!! ambil sendiri!! makanya menikah dulu agar ada yang mengambilkan makananmu." Kata William sambil memukul bahu Daniel, yang dipukul hanya meringis.
" Ahhhh...kau ini pelit sekali, dulu apa-apa kau selalu berbagi denganku, nah sekarang kau bahkan tidak mau berbagi padaku."
" Kau pikir aku mau berbagi istri denganmu!!!"
" Hahaha..aku hanya bercanda teman." Kata Daniel sembari mengambil makanan yang ada di depannya.
" Sayang, kau tidak usah hiraukan dia ya. Dia punya penyakit gila turunan, jadinya yah seperti sekarang ini."
" Hahaha...memang benar Dhe, tapi kalau dia tidak punya teman segila aku, mungkin saat ini dia sedang menangis meratapi nasibnya, karena menikahi wanita yang sebenarnya bukan hamil dengannya."
" Ahhhhh...kau bahas hal menyebalkan itu lagi, hanya mengingatkan luka masa lalu saja." Bisik William William sambil menginjak kaki Daniel.
" Upppsss maaf teman keceplosan."
" Tidak apa-apa sayang, jika tidak begitu mungkin kau belum merasa jera kan?"
" Belum tentu Dhe, jika dia tidak mengenalmu mungkin saat ini dia masih sibuk mengejar-ngejar gadis cantik bersamaku hahaha."
" Ahhhh...sudah tutup mulutmu! habiskan makanan itu!" kata William mengalihkan topik pembicaraan, karena dia merasa malu sendiri mengingat masa lalunya itu, sedangkan Dhea hanya tersenyum-senyum saja walaupun hatinya sedikit jengkel mengingat masa lalu suaminya itu.
" Bagaimana pegawai wanita itu? kau sudah memberikan surat pemberhentiannya kan?"
" Belum Will, dia kan harus membereskan pekerjaannya dulu."
" Pekerjaan apa lagi? jangan menunda-nundanya! aku tidak suka dia tetap berada di sana, karena bisa merusak pekerjaanmu. Atau jangan-jangan kau sengaja mengundur-ngundur waktu ya???"
" Ohhh tidak-tidak Will, iya besok aku suruh bagian personalia untuk membuatkan surat resignnya."
" Ya, semakin cepat semakin baik. Aku pikir kau sudah merumahkannya, ternyata dia masih ada di situ."
" Iya, maaf bos."
" Jangan lupa kau berikan hak-haknya seperti yang aku katakan waktu itu."
" Iya Will, aku belum lupa."
" Siapa sayang yang akan kau berhentikan?" tanya Dhea penasaran, karena mendengar obrolan suaminya yang hendak mengeluarkan seorang pegawai dari kantornya.
" Dia itu salah satu pegawai yang menurutku bisa mengancam profesionalisme kerja laki-laki di sampingku ini sayang." Kata William sambil melirik Daniel.
" Ahhh..sebenarnya dia bukan ancaman buatku Dhe, suamimu ini yang sedikit berlebihan mengkhawatirkanku."
" Bagaimana tidak khawatir? kau bahkan mesra-mesraan di ruanganku. Awas jika cairanmu tercecer di lantaiku ya?"
" Hahaha....memangnya aku berani berbuat apa di sana? kau pikir aku akan melakukannya di atas sofa itu? tidak asyik kan jika kami nanti terjatuh di lantai? atau kau ingin membuatkan kamar khusus di dalam ruangan itu agar aku bisa semakin betah berlama-lama di sana?"
" Enak saja, aku bahkan sedang berencana merenovasi seluruh ruanganmu, agar di sekelilingnya diberi kaca, jadi semua orang bisa melihat aktifitasmu di dalam sana."
" Hei sekalian saja kau buat atap di atasnya kaca juga, jadi aku seperti berada di dalam akuarium, kau buat gelembung oksigen juga ya jangan lupa!! puasss???" Kata Daniel sambil bersungut-sungut.
" Hahaha temanmu ini lucu sekali sayang, sepertinya nenek moyang dia seorang komedian."
" Hahaha...bukan sayang, tapi dia itu reinkarnasi Donal Bebek, lucu dan bodoh hahaha!!"
Daniel hanya bersungut-sungut saja digoda terus oleh William.
" Ahhhh terserah kau saja Will, yang penting perutku kenyang." Kata Daniel sambil tidak berhenti mengunyah makanan.