
Siang ini William menelfon Paula, dia ingin mengajak Paula menemui papanya. William menelfon dari dalam kantornya.
" Hallo sayang ", jawab Paula manja, nada bicaranya memang selalu menggoda laki laki yang mendengarnya.
" Paula...siang ini aku akan mengajakmu menemui papaku, dia akan bicara denganmu ". kata William tanpa basa basi.
" Benarkah sayang ? ok my sweety apakah kau akan menjemputku ?"
" Tidak, kaulah yang ke kantorku, aku ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Aku tunggu jam 11 ya ".
" Ok sayang, aku akan bersiap siap dulu ya ".
Kemudian William menutup telfonnya. William sebenarnya sedang tidak ada pekerjaan apa apa, tapi dia begitu malas untuk menjemput Paula. Jangankan menjemputnya, mendengar suaranya barusan di telfonpun William sudah muak.
Sementara itu Paula terlihat girang saat tau William akan mengajaknya ke rumah orang tuanya.
" Hahaha pertanda yang sangat baik, William akan mengajakku ke rumah orang tuanya. Aku yakin mereka ingin membicarakan tentang rencana pernikahan kami. Hahaha William...jangan sebut aku Paula jika tidak bisa mendapatkanmu. Salahmu sendiri berani menghinaku, kau pikir aku wanita yang bisa kau hina seenak perutmu ", gumam Paula sambil memandang wajahnya di cermin, sembari memperhatikan perutnya yang sudah mulai terlihat sedikit berlemak.
Paula segera mengganti pakaiannya dan berhias sebentar, lalu diapun segera keluar dari apartemennya dan naik taksi yang telah dipesannya sedari tadi.
Taksi yang dinaiki Paula berhenti di depan kantor William. Lalu dia segera membayar sejumlah uang pada pengemudi taksi, kemudian masuk ke dalam kantor William. Dengan angkuhnya dia berjalan santai di dalam kantor tersebut, beberapa pasang mata memandangnya heran. Paula sangat percaya diri dan terus berjalan tanpa memperdulikan mereka semua.
" Selamat siang nona ".
" Selamat siang, bilang bosmu calon istrinya datang ya ". Kata Paula dengan sombongnya.
Dia merasa bahwa sebentar lagi akan menjadi Nyonya William, dan itu berarti semua pegawai yang ada di kator ini adalah pegawainya juga.
" Baik nona tunggu sebentar ", jawab sekretaris William.
Dia segera beranjak dari tempat duduknya, hatinya merasa dongkol melihat sikap Paula barusan.
" Hhhhh tuan William bisa bisanya dia akan menikahi wanita sombong dan angkuh seperti dia ". Gerutu sekretaris William dalam hati.
" Maaf tuan, ada calon istri anda ingin bertemu, apakah boleh masuk ?"
" Calon istri ?"
" Ya tuan dia berkata seperti itu ".
" Dasar wanita gila ", gerutu William.
" Ya suruh dia masuk ".
" Baik tuan ", kemudian sekretaris itu keluar dan kembali menemui Paula.
" Silahkan nona, tuan menyuruh anda masuk ke dalam ruangannya ".
" Oke terimakasih ", jawab Paula sambil tetap berjalan dengan angkuhnya..
Sekretaris William hanya memperhatikan Paula dari jauh dan geleng geleng kepala.
" Selamat siang sayang ?" Kata Paula saat sudah berada di dalam ruangan kantor William.
" Siang, duduklah dulu, setelah selesai pekerjaanku kita pergi ", jawab William sambil melirik arloji di tangannya dan tidak melihat Paula sedikitpun.
Padahal William hanya pura pura sibuk saja dan mengulur waktu hingga puku 11.30, karena rencananya dia ingin melewati depan kampus Dhea, dan bertepatan dengan jadwal kepulangan Dhea.
Paula menunggu William yang sedang menyelesaikan pekerjaannya, dia sangat bosan karena William tidak mengajaknya berbicara sama sekali.
" Ayo kita pergi ajak William sambil meraih jas yang ada di belakang kursinya ".
William berjalan duluan dan tidak memperdulikan Paula yang sedang merapihkan bajunya.
Saat di dalam lift Paula hendak menggandeng tangan William, tapi William buru buru menepisnya.
" Kau harus menjaga sikap !! Ini kantor dan bukan tempat rekreasi. Kau harus menjaga nama baikku di sini !!"
" Aku hanya ingin menggandeng tanganmu Will tidak lebih, apakah itu tidak pantas ?"
" Sangat tidak pantas !!" Kata William singkat, tanpa berbicara apa apa lagi.
Saat keluar dari lift dia segera berjalan cepat menuju keluar, Paula terlihat susah payah mengimbangi langkah kaki William, apalagi saat ini dia mengenakan rok mini dan juga sepatu berhak tinggi.
" Will kau bisa tidak memperlambat langkahmu ".
" Tidak bisa !!" Jawab William ketus.
" Hhhh brengsek kau Will ", gumam Paula.
" Saat berada di dalam mobil william tidak sedikitpun membuka mulutnya, seolah olah tidak ada seorangpun di sekitarnya, bahkan dia memacu kendaraannya begitu kencang, sehingga Paula berpegangan erat pada kursi duduknya ".
Saat melewati kampus Dhea, dia memperlambat laju kendaraannya, William mencari cari sosok Dhea di sekitar halte tempat biasa dia menunggu bus. Dan benar saja Dhea terlihat sedang berdiri bersama beberapa orang, wajahnya terlihat bersih dan cerah saat mengenakan jilbab berwarna kuning.
" Hhhmmmm pantas saja kau begitu tertegun memandangnya, ternyata wanita penjaga kasir itu lagi ", kata Paula tanpa basi basi.
" Kau diamlah !! ini bukan urusanmu !!"
" Ini urusanku !!! kau mau jadi suamiku, aku tidak rela kau terus mengingat wanita itu dan tidak bisa melupakannya ".
" Aku tidak akan pernah melupakannya Paula, dan justru kaulah yang akan segera kulupakan ".
" Hhhh...terima saja kenyataan Will, kau itu akan menikahiku dan bukan dia !! Jadi dia yang harus kau lupakan bukannya aku !!" Bentak Paula, kesabarannya telah habis.
" Diammm.....kau bisa menutup mulutmu tidak ? atau akan kuturunkan kau di sini ??"
" Dasar laki laki egois ", gerutu Paula.
Dia benar benar membenci Dhea, gara gara wanita itu William jadi berpaling darinya. William segera memacu kendaraanya, hatinya begitu dongkol dengan perkataan Paula barusan. Dia merasa hidupnya sangat sial, karena telah bertemu wanita seperti Paula.
Tak lama kemudian William telah tiba di rumah papanya. Dia mengajak masuk Paula. Paula dibuat takjub oleh isi rumah orang tua William.
" Wooww tempat tinggal yang benar benar berkelas ", gumam Paula tanpa malu malu.
" Tutup mulutmu, jangan kau tampakkan sifat materialistikmu di depan papaku ", kata William ketus.
" Kau ini menghina sekali !!"
" Hhhhh tapi memang benar kan ? kau pikir aku tidak tau niatmu memaksaku untuk menikahimu ".
" Laki laki ini ternyata cerdas juga, dia bisa membaca apa yang ada di dalam pikiranku, tapi biarlah aku tidak perduli, yang penting anak di dalam kandunganku ini akan aku jadikan senjata untuk menguasainya ", kata Paula dalam hati.
" Pah...papah...", panggil William sambil berjalan masuk lebih dalam ke rumah itu.
Ternyata papa William ada di ruang tengah sambil menikmati siaran televisi.
" William kau datang ?"
" Iya ini aku, aku membawa wanita yang ingin kunikahi ke hadapanmu ".
Papa William langsung menengok, dia memperhatikan Paula yang berdiri di sampingnya. Mulai dari bawah hingga ke atas. Paula hanya tersenyum saja melihat orang tua di depannya itu.
" Hhhhmm dari tampilannya aku tau wanita seperti apa dia ", kata papa William dalam hati.
" Ayo ikut aku ", ajak papa William.
Mereka berdua mengikuti langkahnya masuk ke dalam ruang kerjanya, dan kemudian duduk di hadapan papa William.
" Siapa namamu ?" Tanya papa William.
" Saya Paula tuan ".
" Paula....aku harus jujur, kau bukan gadis pilihan anakku, dia bahkan tidak mencintaimu sama sekali. Dia mau menikahimu karena kau mengancamnya, betul begitu ?"
" Ya aku memang mengancamnya ". Jawab Paula tanpa ragu.
" Anakku sudah menawarkan untuk membiayai semua kehamilanmu dan kehidupan anakmu kelak, kenapa kau tidak bersedia ? bukankah itu sudah bentuk tanggung jawab ?"
" Tidak tuan !! aku tidak mau, dia bisa saja ingkar dengan janjinya, dan tiba tiba lepas dari tanggung jawab ".
" Aku yang menjaminnya nona !!" Jawab papa Paula sedikit keras.
" Hhhh anda menjamin dengan apa ? dengan diri anda? aku bahkan tidak tau berapa lama lagi umur anda bisa bertahan di dunia ini ".
" Paula jaga mulutmu !!! Kau sangat kurang ajar sekali ".
" Sssttt stop William biarkan dia bicara, sepertinya mulutnya memang sudah sangat terlatih sekali ", jawab papa William.
Paula diam saja, dia merasa kedua orang ini sedang mengintimidasinya.
" Hhhhh Paula, aku tau sekarang kenapa anakku merasa begitu hancur hidupnya saat kau memintanya untuk menikahimu, ternyata tebakanku tentang dirimu itu sangat tepat. Aku tau yang engkau inginkan dibalik ini semua. Tapi ingat !! kau tidak akan bisa mendapatkan apa apa dari dia, karena aku yang akan menghentikkannya sendiri jika itu terjadi ".
Paula semakin merasa benci dengan laki laki tua di hadapannya itu, ternyata mulutnya tidak jauh lebih baik daripada William.
" Hmm baiklah pernikahan akan diadakan 2 minggu lagi, tapi tidak ada pesta dan tidak ada kemeriahan. Pernikahanmu nanti akan diadakan di sebuah gereja kecil di luar kota, dan hanya dihadiri oleh beberapa orang saksi ".
" Tapi tuan ak.....".
" Tidak ada protes, ini sudah menjadi kesepakatan kami semua nak, bukankah begitu William ?"
" Iya pah, itu kesepakatan kita bersama ", jawab William, dalam hati dia tertawa melihat wajah Paula yang begitu kecewa.
Padahal Paula berharap pesta pernikahannya begitu megah, dihadiri oleh beberapa pejabat di negeri ini, mengingat keluarga William adalah keluarga yang sangat terpandang di kota ini.