
Selesai makan siang William dan Daniel masih saja duduk di restoran itu sambil mengobrol. William lalu melirik arlojinya.
" Hemmm pukul dua siang. Dua..Tiga..empat...lima...!" Gumam William sambil menghitung dengan jemarinya.
" Hei kau menghitung apa Will? Menghitung nomor undian?"
" Haahh kau ini, aku sedang menghitung waktu."
" Waktu Dhea untuk kembali ke sini? Hahaha masih lama teman, jangan kau hitung hitung. Atau kau butuh kalkulator? Aku bisa meminjamkannya padamu." Kata Daniel menggoda William.
" Bukan itu Dan, sok tau! Aku itu sedang menghitung selisih waktu antara di sini dengan di Indonesia. Jika di sini sekarang pukul 2 siang, berarti di negara Dhea itu pukul 9 malam. Aku akan menelfonnya, karena aku takut nanti dia sudah tidur." Kata William sambil buru-buru mengambil handphonennya.
" Ckckck....William...William, baru tau aku jika kau sedang jatuh cinta bisa seperti itu." Gumam Daniel sambil geleng-geleng kepala.
" Tuttt...tuuutt...tuuuttt...!!"
Hingga berkali kali William menelfon, tapi Dhea tidak mengangkatnya.
" Tidak diangkat Will?"
" Tidak Dan."
" Mungkin dia sudah tidur?"
" Aahh tidak mungkin, biasanya dia sering tidur malam-malam."
" Kau ini tau sekali kebiasaannya."
" Karena aku itu sering bersamanya Daniel. Aku coba saja sekali lagi."
" Tuutt...tuuuttt..."
Baru dua kali berbunyi, Dhea langsung mengangkatnya.
" Diangkat Dan!" Bisik William pada Daniel.
" Hallo Will." Sapa Dhea.
" Hallo sayang, kau sudah tidur?"
" Belum, tadi aku baru dari kamar mandi, maaf ya."
" Iya tidak apa-apa, aku pikir kau sudah tidur."
" Kau sedang apa Dhe?"
" Aku sedang menerima telfon dari kekasihku, yang tampan, yang perhatian, dan yang cemburuan."
" Kenapa yang terakhir itu harus kau ikutkan sayang?"
" Itu bonus tuan, bukankah kau senang jika mendapatkan bonus dariku."
" Hahaha kau ini."
" Kamu masih di kantor Will?"
" Tidak, aku sedang makan di luar bersama Daniel."
" Daniel???"
" Ya Daniel, kenapa sayang?"
" Oh tidak apa-apa." Jawab Dhea, sebenarnya dia kurang suka jika William keluar bersama Daniel, karena dia khawatir Daniel akan mengajaknya ke bar lagi seperti dulu.
" Hemmm aku tau, kau pasti takut dia akan mempengaruhiku lagi kan??? Tenanglah sayang, aku tau batasanku sekarang. Tidak ada satupun orang yang bisa merubahku kecuali kamu."
" Benarkah Will?"
" Ya Dhe, aku selalu jaga kepercayaanmu."
Daniel hanya senyum-senyum sendiri melihat keromantisan temannya itu pada Dhea.
" Lalu kau sedang makan apa sekarang?"
" Aku sedang makan seafood sayang, kegemaranmu saat makan bersamaku."
" Hemmm pasti nikmat ya?"
" Tapi tidak senikmat saat sedang makan bersamamu sayaang...!!"
" Ehem ehemm..ehemmmmm...!!" Terdengar Daniel terbatuk batuk tapi terlihat seperti dibuat buat karena sangat berlebihan.
" Sssttt diamlah, jika kau makan kepiting kulitnya jangan kau makan, lihat sampai batukmu seperti itu...!" Kata William pada Daniel.
Daniel tertawa terbahak bahak sambil menutup mulutnya.
" Ya dia memang seperti itu. Dia memang tidak memiliki jiwa romantis, sehingga tertawa melihat kita berdua begitu mesra sayang."
" Ohhh...tolong kau beri minum dulu dia, takutnya nanti sendoknya tertelan pula."
" Hahaha bisa jadi Dhe." Jawab William.
" Setelah ini kau kembali ke kantormu lagi?" Tanya Dhea.
" Mungkin aku langsung pulang saja Dhe."
" Kenapa? Apakah tidak ada pekerjaan yang harus kau selesaikan?"
" Sebenarnya ada Dhe, tapi bukankah kita yang harus bisa mengatur pekerjaan itu? Dan bukan kita yang diatur oleh pekerjaan sayang? Jika aku terus memikirkan pekerjaan, bisa-bisa aku tua di kantor Dhe."
" Hahaha kau pintar juga Will. Yaa memang benar, jangan pernah mau diperbudak oleh pekerjaan, hidup ini sangat indah, dan sayang jika kita melewatkan setiap momentnya jika hanya untuk sekedar memikirkan pekerjaan yang tidak pernah ada habisnya."
" Benar sekali Dhe, terkadang manusia itu bisa lupa segalanya, bahkan melupakan keluarganya karena selalu dikejar deadline. Seperti aku dulu."
" Hahaha kau merasa juga." Ejek Dhea.
" Ya, itu kan dulu, tapi sekarang kan tidak."
" Dan sekarang kau bingung kan uangmu kau gunakan untuk apa?"
" Hahaha benar itu sayang."
" Semua itu harus ada porsinya Will, kadang manusia itu memang tidak pernah merasa cukup, makanya itulah terkadang yang membuat kita jadi terkesan serakah, semua ingin dimiliki. Padahal jika kita selalu ingin memenuhi keinginan itu tidak pernah ada habisnya."
" Tapi aku ada habisnya Dhe."
" Maksudmu??"
" Keinginanku saat ini untuk memiliki kamu seutuhnya, dan jika itu sudah terkabul pasti aku tidak menginginkan yang lainnya, hanya tinggal menghabiskan hari tuaku denganmu dan rumah tangga kita nanti."
" Ehemmmmmmm.... ehemmmm...!!" Terdengar Daniel batuk-batuk lagu.
" Sayanggg....lihatlah dulu!! Jangan-jangan temanmu itu sekarang menelan piringnya." Kata Dhea saat mendengar Daniel sedang menggodanya.
" Hahaha...tenang saja Dhe, nanti dia akan kubawa ke spesialis penyakit dalam, jangan-jangan dia sedang terserang TBC sehingga terbatuk batuk terus."
Daniel mengarahkan kepalan tangannya ke arah William sambil tertawa.
" Sudah dulu ya sayang, pasti di sana sudah malam kan? Istirahatlah, aku juga sudah mau pulang ini."
" Iya hati-hati ya di jalan, dan ingat jangan mampir ke tempat-tempat yang aku tidak suka ya?"
" Iya sayang aku pasti ingat pesanmu."
" I love you sayang."
" Love you to." Jawab Dhea, lalu William menutup telfonnya.
" Kau ini mengganggu saja, sepertinya tidak senang melihatku bahagia." Gerutu William.
" Hahaha aku senang sekali melihatmu bahagia Will, hanya saja aku baru tau kau bisa seromantis itu dengan kekasihmu, apa kau salah minum obat?"
" Sialan kau....Kau pikir selama ini aku bukan pria romantis? Masak kau tidak tau bagaimana dulu aku bisa dengan mudah mendapatkan wanita wanita yang kuinginkan dengan rayuanku?"
" Yaaa aku percaya sekali, tapi tidak pernah tau jika sampai sedahsyat ini. Aku yakin kekasihmu pasti saat ini sedang terbang melayang-layang ke langit ke tujuh karena merasa terbuai oleh rayuanmu."
" Hahaha Dhea itu bukan wanita yang gampang dirayu Dan, dia itu selalu menggunakan logikanya untuk berpikir dibanding perasaannya, makanya susah jika ingin memperdayanya."
" Tapi itu kau baru saja merayunya."
" Ya tapi bukan berarti dia langsung jadi lupa diri, buktinya sampai sekarang aku belum bisa meruntuhkan prinsipnya, ya walaupun dia pernah sedikit terlena."
" Terlena bagaimana? Sudah kau apakan dia?"
" Heiii kau berpikir apa? Jangan beranggapan buruk tentangnya ya??"
" Ahhh kau ini sensitif sekali jika itu menyangkut kekasihmu."
" Ayo kita pulang!" Ajak William.
" Kau tidak ingin mengajakku ke tempat kita biasa nongkrong Will?"
" Tidak!! Aku tadi sudah berjanji pada Dhea akan langsung pulang ke rumah."
" Hemmmm Dhea lagi, aku iri sekali padanya, sepertinya kata katanya selalu kau turuti."
" Ahhhh sudahlah tidak usah dibahas, ayo buruan!! Atau kau mau menginap di sini?" Kata William sambil berjalan meninggalkan Daniel.
" Heii tunggu Will....!" Kejar Daniel sambil berdiri mengejar William.