Something different

Something different
Di rumah papa William 3



Saat sedang asyik mengobrol berdua, Mike adik William tiba-tiba datang. Dengan senyum yang mengembang di wajahnya, dia segera menghampiri orang tua juga kakak laki-lakinya.


" Hai pah." Kata Mike sembari memeluknya.


" Hai Mike." Sambil membalas pelukan Mike, lalu menepuk-nepuk punggungnya, mengisyaratkan betapa senangnya orang tua itu atas kehadiran putra keduanya.


Dengan perlahan Mike melepaskan pelukkannya, pandangannya beralih ke wajah William yang sedari tadi sudah berdiri dari duduknya dan bersiap menyambut kedatangan adik satu-satunya itu.


" Haiii....brother!!!" Kata Mike sambil kembali membentangkan kedua tangannya. Kedua kakak beradik itu berpelukan, melepaskan rasa rindu karena sudah lama tak bersua.


" Kau ini, kepulanganmu terakhir kemarin kau tidak mengabariku sama sekali! kau sungguh keterlaluan." Gerutu Mike.


" Maaf Mike, kepulanganku yang lalu di luar rencanaku, dan kepulangan yang menurutku tidak tepat waktu dan situasinya, jadi aku tidak mengabarimu." Jawab William sambil tersenyum.


" Oh ya. Tak apalah, yang penting sekarang kau memberitahuku." Jawab Mike, sambil menarik kursi untuk kemudian mendudukinya. Mike tidak pernah tau bahwa saat William pulang tanpa ditemani Dhea itu, sebenarnya mereka sedang bertengkar, dan papa Williampun tidak menceritakan sedikitpun masalah William pada Mike, dan menganggap itu sebagai privacy anak tertuanya.


" Heiii...mana kakak iparku? kenapa dia tidak ikut mengobrol di sini?" Tanya Mike, sambil meletakkan bawaannya di kursi kosong sebelahnya.


" Dia sedang istirahat di kamar Mike." Jawab William.


" Hahhh...meja ini penuh sekali." Gumam Mike sembari menatap meja di depannya.


" Kau tau papa kan? mana mau membiarkan meja ini tanpa ada makanan sedangkan dia tau kita akan datang?" Kata William.


" Ya, tak apalah, pasti papa ingin membuat perut kedua anaknya ini buncit." Kata Mike sambil menepuk-nepuk perutnya.


" Hahaha...kau ini." Sambut papanya.


" Lalu apa itu yang kau bawa lagi? makanan juga?" Tanya papanya sambil melihat kotak yang dibawa Mike tadi.


" Iya pah, persiapan untuk begadang kita nanti malam. Agar dia tidak perlu mengaduk-aduk isi lemari pendingin untuk mengganjal perutnya seperti dulu lagi. Ya tidak Will?" Kata Mike sambil meminta persetujuan kakaknya, mengenang saat mereka masih muda dulu, sering begadang untuk mengobrol dan membicarakan banyak hal, lalu ketika merasa kelaparan pasti mereka akan membuat keributan di dapur.


" Hahaha kau masih ingat saja kebiasaan kita dulu Mike."


" Ya, kebiasaan kita dulu saat kau belum terjebak dalam dunia yang penuh kegelapan dan penuh kepalsuan, dan membuatmu lupa bahwa kau masih punya satu adik dan satu orang tua yang butuh kau ajak bercerita."


" Ya....gara-gara satu wanita membuat hidup kita hampir berantakan, dan untungnya kau lebih bisa menerima takdirmu dibanding aku."


" Hahaha hidup ini sangat indah kakakku, dibanding untuk terus meratapi kepergian seorang wanita tak tau diri seperti Jessy itu."


" Ahhh sudahlah, jangan menyumpahi dia terus. Semoga saja dia segera mengambil hikmah dari ini semua dan merubah hidupnya lebih baik lagi." Sambung William lagi.


" Ahhh kalian ini, sepertinya umurku akan bertahan lebih lama lagi melihat kedua anakku seakrab ini." Gumam papanya, sambil tersenyum lebar.


" Pasti itu pah, karena kau juga harus ikut merasakan melihat tumbuh kembang cucumu nanti." Jawab William.


Seorang asisten rumah tangga masuk, dan menawari Mike segelas minuman.


" Tolong buakan saya teh panas saja." Jawab Mike singkat.


" Baik tuan." Sambil mengganggukkan kepalanya, lalu beringsut mundur kembali ke dapur untuk membuatkan minuman yang baru saja dipesan oleh Mike.


" Ingat ya Will, kau nanti habiskan makanan yang kubawa ini." Kata Mike.


" Ahhh kalian berdua ini buang-buang uang saja." Kata papa William menggerutu.


" Biar saja pah, tadi dia yang menawariku dan aku memang mengiyakannya, agar dia itu terbiasa perhatian dengan saudara-saudaranya dan mau memberi sedikit rezeki pada orang lain, jika papa atau aku menolaknya, dia tidak akan berlatih untuk berbagi, maka akan sangat membahayakan. Iya tidak Mike." Kata William sambil mengarahkan tatapannya pada adiknya itu.


" Hehhh...memangnya selama ini aku orang yang pelit." Gerutu Mike.


" Hahaha tidak juga sih, tapi kan tidak ada salahnya untuk mengingatkan saja."


" Ya ya ya tenang saja, aku akan selalu ingat kata-katamu." Jawab Mike.


Tak lama pelayan yang membawa minuman Mike telah datang, kemudian sambil hati-hati dia meletakkannya di atas meja.


" Silahkan tuan." Katanya sambil membungkuk.


William melihat arloji di tangannya. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, baru saja sebentar mengobrol dengan adiknya, jam sudah menunjukkan pukul 15.45 itu artinya sudah sedari tadi memasuki waktu sholat ashar, William benar-benar tidak menyadarinya.


" Maaf ya, aku ke kamar dulu untuk membangunkan istriku, karena kami harus menjalankan sholat." Katanya sembari beranjak dari duduknya dan meminta ijin pada papanya dan Mike.


" Ok silahkan Will." Kata mereka bersamaan.


William segera masuk ke dalam, lalu menaiki anak tangga untuk membangunkan Dhea yang sedang tertidur di lantai dua rumah besar itu.


Pelan-pelan William membuka pintu kamar agar tidak mengagetkan istrinya yang sedang tertidur.


William tersenyum sekilas, melihat Dhea begitu pulas sembari memeluk guling. Dihampirinya tubuh istrinya. Ditepuknya pelan pipi Dhea, sembari memanggilnya.


" Heiii...sayang bangun!" Dhea tidak bergeming sedikitpun, mungkin memang tubuhnya benar-benar letih sehingga dia tidak mendengar sedikitpun panggilan dari suaminya.


" Heii...sayang, ayo bangun!! katanya lagi, hingga ketiga kalinya Dhea baru menggerakkan tubuhnya.


" Sayang, kau membangunkanku?" gumamnya masih dengan kondisi mata yang belum sepenuhnya terbuka, namun sudah bisa menangkap sosok William yang sedang menatapnya di sampingnya.


" Iya sayang, ayo bangun! sudah waktunya sholat ashar.


" Ahhhhh......!!!" Dhea menggeliatkan tubuhnya, kemudian perlahan membuka penuh kedua matanya. Lalu mengulurkan tangannya, meminta bantuan William untuk beranjak bangun.


" Uppps.....!! hehhhh...manja sekali istriku ini." Katanya.


" Biar saja, nanti juga jika anak ini sudah lahir, pasti kau akan ganti memanjakannya, jadi selama dia belum ada akulah yang harus kau manjakan sayang." Katanya sambil membenahi rambutnya yang acak-acakan.


" Nyenyak sekali tidurmu? kubangunkan berkali-kali baru kau mendengarnya."


" Iya, mungkin karena lelah."


" Huuu...untung saja tadi aku menolak untuk mengantarmu ke pantai, jika tidak aku yakin sepulangnya dari sana aku harus membangunkanmu dengan menghidupkan petasan di sini."


" Issshhh...enak saja, tidak harus sehiperbola itu juga sayang." Kata Dhea sambil menarik hidung suaminya.


" Awwww..." Teriak William.


Dan Dhea hanya tertawa saja, sambil turun dari tempat tidur lalu menuju toilet. Kemudian mengambil air wudhu dan berjamaah bersama suaminya.


" Sayang ada Mike di bawah, kau ingin langsung menemuinya atau ingin mandi dulu?" Tanya William setelah mereka berdua selesai melaksanakan sholat.


" Aku akan menemuinya dulu sayang, sepertinya aku juga perlu mengisi perutku ini dengan sedikit makanan." Kata Dhea sambil menepuk perutnya.


" Ya sudah pakailah jilbab dulu, nanti kusuruh pegawai untuk membuatkanmu susu. Kau mau kan?"


" Ya boleh sayang." Kata Dhea sambil mencari jilbab instannya di dalam koper, yang telah diantarkan terlebih dahulu oleh seorang pegawai sebelum mereka masuk ke kamar itu.


" Ayo sayang!" Ajak Dhea yang telah rapih menggunakan jilbabnya. Wajahnya kembali segar setelah tersiram oleh air wudhu tadi.


" Sebentar." Kata William sambil mendekati Dhea, lalu membenahi jilbabnya.


" Lihatlah rambutmu terlihat sayang. Kau tidak ingin memasukanku ke neraka gara-gara sehelei rambutmu dilihat oleh adikku yang bukan mahrammu kan?" Kata William sambil menyelipkan rambut Dhea yang mencuat keluar dan memasukkannya ke dalam.


" Maaf sayang, aku tidak tau." Kata Dhea.


William hanya tersenyum sambil menatap istrinya itu, lalu mencium keningnya.


" Kau tidak perlu meminta maaf untuk kesalahan yang tidak sengaja kau perbuat, ada sejuta maaf yang aku siapkan untuk istri sholehahku, asal jangan kau ulangi lagi ya." Kata William.


" Terimakasih sayang." Jawab Dhea sambil memeluk suaminya.


" Ayo, jangan biarkan papa dan Mike menunggu kita begitu lama!" kata William.


Dhea hanya mengangguk, lalu kemudian berjalan di sisi suaminya, yang telah menggenggam erat jemarinya itu.