
" Ahhhh....rumah ini dulu amat kubenci, jangankan masuk ke dalamnya, baru melewati jalan menuju ke sini saja, aku seperti sedang menghadapi seribu pasukan perang yang mengarahkan senapannya kepadaku." Kata Dhea sambil menyandarkan tubuhnya di atas sofa empuk di dalam ruang santai rumah besar itu.
" Hahaha separah itukah traumamu terhadap rumah ini sayang."
" Ya rumahmu yang sempat membuatku dihantui ketakutan akan kelamnya masa depanku, terlebih masa depan pernikahan dengan laki-laki yang akan menjadi suamiku nanti." Jawab Dhea sambil matanya berkeliling menyusuri setiap ornamen yang di dalam ruangan tersebut, sembari mengingat-ingat kejadian buruk yang pernah dilakukan William padanya.
" Hemmmm.....sepertinya aku tidak suka dengan kata-kata rumahku."
" Lalu kenapa? ada yang salah?" tanya Dhea.
" Ya, sangat salah. Sekarang ini juga adalah rumahmu, harta suamimu adalah juga hartamu. Jadi kau juga berkewajiban menjaganya."
" Hanya menjaganya sajakah???" Kata Dhea.
William mengernyitkan dahinya dan memicingkan kedua matanya, mencoba menelaah kata-kata istrinya barusan.
" Hahaha.....!!!" Tiba-tiba Dhea tertawa lebar.
" Aku hanya bercanda sayang. Bukan hanya hartamu yang kujaga, tapi juga cintamu, di sini." Kata Dhea sambil menunjuk dadanya.
" Kau ini." Kata William sambil memeluk istrinya.
" Ohhh iya, tadi kau bilang apa? masa depan pernikahan dengan laki-laki yang akan menjadi suamimu nanti??? jadi dulu kau bahkan tidak menginginkan aku menjadi suamimu ya?" kata Wiiam sambil melepaskan pelukkannya, dan memegang kedua pundak Dhea sembari menatap kedua mata istrinya tajam.
" Hahaha...sekarang coba kau pikir. Aku itu dulu seorang wanita yang baru sekali berpacaran. Teman laki-lakikupun disini hanya satu, yaitu Bram. Baground keluargaku juga kau sudah tau sendiri, bagaimana orang tuaku mendidikku. Lalu kemudian tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang bisa aku bilang sangat brengsek, maniak, pemuja wanita, dan juga hal-hal yang begitu kubenci. Apakah wajar jika aku membayangkan mau menikah denganmu?"
" Hahaha...tapi kemudian kau mau kan?"
" Ya itu karena ada campur tangan Allah, dan kaupun tidak pernah menyerah untuk merayuku, jika tidak mana mungkin semuanya terjadi?"
" Ya ya ya....Aku bisa menerima penjelasanmu." Kata William sambil memeluk tubuh Dhea.
" Hei nak, kau belum cukup umur, jadi jangan mendengar pembicaraan orang tuamu ya? gunakan telingamu untuk mendengar yang baik-baik saja oke?" kata William sambil mendekatkan mulutnya ke perut Dhea. Dhea hanya tertawa mendengar kalimat suaminya yang sedang mengobrol dengan calon anak mereka yang belum genap berusia 6 minggu itu, sambil membelai rambut suaminya itu.
" Maaf Tuan, Nyonya. Makanan sudah siap semua, apakah anda ingin makan sekarang?" Salah seorang pegawai menghampiri mereka sambil menundukkan kepanya.
William segera beranjak bangun.
" Sayang, kau mau makan sekarang?" Tanya William.
" Kau sendiri sudah lapar belum?" tanya Dhea bertanya balik.
" Aku sih belum, tapi kalau kau ingin makan sekarang, aku akan menemanimu." Jawab William.
" Nanti saja sayang, aku ingin mandi dulu saja."
" Kami makan nanti saja." Kata William menjawab pertanyaan pegawainya.
" Ayo ke kamar sayang." Kata William sambil mengajak Dhea memasuki kamarnya.
" Lewat sini ya." Katanya mengintruksi istrinya untuk mengikuti jalannya.
" Aahhh...kau ini, kau lupa bahwa dulu pernah mengurungku di dalam kamar itu? aku bahkan masih ingat sekali jumlah anak tangga untuk naik ke dalam kamarmu." Kata Dhea sedikit menggerutu.
" Hahaha...kenapa iseng sekali kau menghitungnya? padahal baru sekali kau melewatinya. Aku saja yang sudah lama tinggal di sini tidak pernah tau jumlahnya." Jawab William sambil meraih tangan Dhea, lalu menggandengnya.
" Itu artinya, moment waktu itu sangat berkesaaaaaannn....sekali di pikiranku Tuan William." Kata Dhea dengan ekspresi wajahnya yang sangat bertolak belakang dengan kalimatnya.
" Moment yang sangat indah bukan sayang???" Jawab William lagi.
" Hehhhh...moment yang sangat menyebalkan!!!" Kata Dhea sambil cemberut sebal.
" Hahaha jika tidak begitu, mungkin saat ini aku masih jadi jomblo sejati ya." Kata William sambil memeluk pundak Dhea.
" Besok kamar di rumah kita, pindah ke bawah saja ya sayang." Kata William.
" Kenapa? bukankah kamar di bawah ukurannya lebih kecil dari kamar di atas?" protes Dhea sidikit tidak setuju.
" Untuk sementara waktu saja, karena kamu kan sedang hamil. Aku tidak mau membahayakan dirimu dan calon anak kita ini, jika setiap hari kau naik turun tangga. Bukankah itu melelahkan?"
" Ohhh...ya...tak apa jika hanya untuk sementara waktu, yang penting bukan aku saja yang pindah ke bawah, tapi kau juga." Kata Dhea sambil melingkarkan tangannya ke pinggang William.
" Hahaha...bisa-bisa aku begadang setiap hari jika kita tidur terpisah sayang." Jawab William yang merasa tidak bisa jauh-jauh dari istrinya itu, dan merasa bahwa kehadiran Dhea di sisinya seperti sebuah pil tidur yang kehadirannya di dalam kamar gampang sekali membuatnya terlelap. Apalagi jika istrinya itu sudah menyelinap di dalam ketiaknya, seperti kebiasaannya sehari-sehari di atas ranjang, rasanya begitu nyaman dan tenang.
Pintu kamar terbuka lebar, William dan Dhea melangkahkan kaki menuju ruangan yang menjadi salah satu tempat favorit William menyendiri khususnya di balkon depan kamarnya.
" Hehhhh...ternyata susunannya masih seperti yang dulu." Kata Dhea dalam hati, sambil menatap sekeliling ruangan yang dulu sempat menggoreskan luka yang cukup dalam bagi Dhea.
" Heiii...kapan kau memasang foto kita berdua sayang?" tanya Dhea, saat pandangannya berhenti di salah satu titik dimana foto pernikahan mereka terpampang besar di salah satu dinding, menjadi satu-satunya hiasan yang dipajang di dalam kamar itu. Tidak jauh berbeda dengan kamar suaminya yang ada di rumah papa mertuanya, ternyata William lebih senang membiarkan dinding di rumahnya ini terlihat polos, dibanding harus menempelnya dengan berbagai macam hiasan ataupun lukisan. Dan itu juga bisa menunjukkan karakter si empunya yang tidak terlalu suka berbasa-basi, dan lebih cenderung berterus terang.
" Aku mencetaknya saat beberapa waktu lalu pulang sendirian ke sini sayang, dan menggantungnya sendiri di dinding itu." Jawab William.
" Hemmm....aku pikir saat kau marah kemudian pulang kemarin, kau melupakanku." Gumam Dhea.
" Heiii...kau pikir aku pergi kesini itu hatiku tidak tertinggal di sana? aku bahkan bingung bagaimana caranya untuk menahan diri tidak menelfonmu." Gerutu William.
" Ihhhh...kau manis sekali sih kalau sedang begitu." Kata Dhea sambil mencubit hidung suaminya, merupakan salah satu anggota tubuh William yang sangat disukainya. Jika melihat hidung suaminya itu, dia ingat perosotan di sekolahnya dulu yang sering dia mainkan bersama teman-temannya.
" Kenapa kau selalu memilih hidungku untuk kau tarik sih??? apakah tidak ada anggota tubuhku yang lebih menarik perhatianmu dibanding hidungku ini sayang???" kata William sambil mengerling nakal pada Dhea.
" Ihhhhh...wajahmu seperti om-om senang jika seperti itu hahaha." Kata Dhea sambil mengusap wajah suaminya.
" Memangnya kau tau wajah om yang tidak senang ya?" kata William sambil terbahak.