Something different

Something different
Sandiwara yang terbongkar



Pagi ini Dhea ingin sekali menikmati sarapan di dalam restoran itu. Kebetulan restoran tersebut memang sudah buka dari pagi. Diliriknya arloji di tangannya, sudah pukul 8 pagi.


" Hemmm...mungkin William langsung ke kantornya, jika memang dia ingin mampir ke sini, pasti dari pukul 7 pagi tadi dia sudah datang." Gumam Dhea.


Maka Dhea segera keluar dari kamarnya menuju restoran itu sambil membawa laptopnya. Dia ingin menikmati sarapan sambil mengerjakan tesisnya sembari mencari suasana beda. Rasanya bosan mengerjakan tugasnya itu terus terusan di dalam kamar.


Sementara itu Paula terlihat sedang mengawasi gerak gerik Dhea dari kejauhan, wanita itu sampai rela duduk seharian di dalam mobil demi menunggu Dhea makan di restoran tersebut dan kemudian melancarkan aksinya lagi. Dan semuanya hanya untuk melampiskan rasa dendam pada wanita yang dianggap telah merebut kekasihnya itu.


" Ahhh...itu dia, aku harus segera menelfon Dave." Gumam Paula.


Lalu tanpa menunggu lama dia segera menelfon Dave.


" Hallo Dave." Sapa Paula.


" Iya nyonya, ada apa?"


" Jika kau ingin separuh uangmu lagi cepatlah kemari di depat restoran kemarin! Kau harus menyelesaikan tugasmu!"


" Ok siap nyonya, aku akan segera meluncur ke situ." Jawab Dave.


Tanpa menunggu waktu lama, sebuah motor sport besar sudah tiba di depan mobil Paula. Dave segera turun dan menghampiri Paula.


" Selamat pagi nyonya, demi anda aku memacu kendaraanku hingga tidak terkendali." Kata Dave saat baru saja masuk ke dalam mobil Paula.


" Demi aku atau demi uangmu?" Tanya Paula menegaskan.


" Hahaha...mungkin lebih tepatnya yang kedua nyonya." Jawab Dave sambil tersenyum.


" Kau sudah tau tugasmu belum?"


" Hehhh anda kan belum mengatakan padaku."


Kemudian Paula terlihat serius memberi arahan pada laki-laki itu.


" Kau sudah paham kan maksudku?" Kata Paula lagi.


" Ya aku paham sekali."


" Oke aktifkan terus handphonemu, kau siapkan dulu propertinya, dan aku sekarang akan menelfon William. Setelah dia datang kau baru beraksi ok?"


" Ok nyonya siapp!!"


" Kalau begitu pergilah." Usir Paula.


Dave segera keluar dari mobil Paula, dan berjalan menuju restoran dimana Dhea sedang duduk santai di dalamnya.


Dave hanya memesan segelas kopi panas, dan sengaja duduk tidak jauh dari Dhea.


Sementara itu Paula terlihat sedang menelfon William.


" Hallo siapa ini?" Sapa William.


" Ohhh kau ternyata sudah menghapus nomor telfonku William? Hemmm ternyata kau memang sudah benar-benar menyingkirkan aku dalam hidupmu ya?"


" Ahhh jangan banyak bicara, apa maumu sebenarnya menelfonku?"


" Kau waktu itu ingin bukti kan seperti apa kekasihmu itu sebenarnya? Sekarang kau pergilah ke restoran yang ada di samping apartemen kekasihmu."


" Apa maksudmu?"


" Pergilah saja, kau nanti akan bisa melihat dengan mata kepalamu sendiri bahwa ucapanku ini bukan sembarangan."


" Oke aku akan kesana sekarang!" Kata William lalu segera menutup telfonnya, dia penasaran sekali dengan apa yang dikatakan Paula barusan di telfon.


William segera memacu kendaraannya menuju restoran yang telah diberitahukan oleh Paula. Dia terus menambah kecepatan kendaraannya itu.


Tak berapa lama dia telah tiba di restoran tersebut. Perlahan dia turun dan segera masuk ke dalam restoran itu.


Paula melihat kedatangan William dari tempatnya. Dia segera menelfon Dave.


" Hallo." Kata Dave pelan.


" Ok kau segera berdiri! Sebentar lagi dia akan masuk ke restoran itu." Perintah Paula pada Dave.


" Ok jawab Dave."


Tanpa membuang waktu lagi dia segera berdiri, namun sebelumnya dia sudah siap dengan idenya dengan membuka tali sepatunya terlebih dulu. Setelah itu dia berjalan sambil membawa gelas kopinya yang masih penuh.


" Pelayan tolong ini kopi saya beri sedikit gula!!" Teriaknya.


Namun saat berada di dekat Dhea dia pura-pura tersandung tali sepatunya, sehingga kopi itu tumpah di baju dan tangan Dhea semua.


" Aw..aww..aw panas...!!" Teriak Dhea begitu panik


" Ohhh maaf..maaf saya tidak sengaja nona!!" Kata Dave seolah panik. Dia segera meraih tangan Dhea dan membersihkan kopi yang masih bersisa di tangannya. Karena kepanasan Dhea sudah tidak bisa berpikir jernih lagi sehingga membiarkan laki-laki itu memegang tangannya.


" Dhea...!!" Teriaknya.


" William???" Dhea segera tersadar saat mendengar teriakan William dan segera menarik tangannya dari laki-laki itu.


" Kenapa kau menarik tanganmu? Sini bukankah masih sakit?" Kata laki-laki itu sok mesra sambil berusaha memegang tangan Dhea kembali.


" Cukup tuan aku tidak apa-apa!! Kata Dhea berusaha menolak.


Dhea begitu panik saat melihat William datang, wajahnya terlihat marah, apalagi saat tau laki-laki itu sedang memegang tangan Dhea.


" Ya Alloh pasti William salah sangka padaku." Gumam Dhea.


Setelah berada di dekat Dhea tanpa basa basi William segera menonjok wajah laki-laki itu.


" Dasar laki-laki brengsek, berani beraninya kamu mengganggu kekasihku!!" Bentak William.


Dave ambruk seketika karena tidak siap menghadapi serangan dari William.


" Hei apa apaan kau?" Kata Dave pura-pura tidak tau.


" Will..stop kamu jangan salah sangka dulu!!" Teriak Dhea.


" Kau diam dulu Dhe! Aku akan menyelesaikan urusanku dengan dia. Dhea langsung beringsut mundur, dia tidak pernah tau William bisa semarah itu.


William segera mendekati Dave dan menarik kerah bajunya.


" Kau tau tidak sekarang sedang berhadapan dengan siapa? Aku William Sean Anderson, apakah pimpinanmu tidak pernah memberitahukan orang yang berpengaruh di wilayah ini padamu? Kau pikir bisa dengan mudah mempermainkanku hah?" Ancam William.


" Ohhh ma...maaf tuan, aku tidak tau bahwa ternyata anda Tuan William Sean Anderson." Jawab Dave sambil bergidik ngeri.


" Hehhhh aku bisa saja mengerahkan orang-orangku untuk menyelidikimu dan mengobrak abrik kawasanmu."


" Mana wanita itu? Antarkan aku padanya!!" Bentak William lagi.


" Iya..iya tuan saya akan memberahu anda."


" Will...kau mau kemana?"


" Tenang Dhe, aku akan menyelesaikan masalah ini dulu." Kata William.


Kemudian William segera menyuruh Dave berjalan di sampingnya dan mengantarkan pada Paula.


" Ingat jika kau berani lari, kau tidak akan bisa keluar dengan selamat dari wilayah ini." Ancam William.


" Iya tuan." Jawab Dave takut-takut.


Perlahan mereka berdua berjalan beriringan. Dhea mengikutinya dari belakang, setelah sebelumnya membereskan laptopnya. Paula melihat kedatangan mereka bertiga.


" Hemmmm...sepertinya William ingin mengucapkan terimakasih padaku. Hahaha ternyata bisa segampang itu kau kutipu Will...Kau memang wanita cerdas Paula." Kemudian Paula segera keluar dari kendaraannya, dia berdiri santai di samping mobilnya sambil bersedekap.


" Haiii...William bagaimana? Benar kan yang aku ucapkan padamu? Kau lihat sendiri bagaimana mereka berdua bermesra meraan di belakangmu."


" Dhea segera membelalakkan matanya."


" Hei apa maksudmu? Kau sedang memfitnahku? Will ini tidak seperti yang kau pikirkan!!" Kata Dhea berusaha meyakinkan Dhea.


" Tenang Dhe, biar aku yang menyelesaikan ini semua." Kata William.


" Hehhh...Paula...Paula...sepertinya kau tidak lelah ya untuk menipuku? Sayangnya aku bukan laki-laki bodoh."


" Apa maksudmu Will? Aku tidak menipumu. Kau lihat sendiri kan mereka berduaan?"


" Sudahlah, lebih baik sekarang kau pergi dari hadapanku. Jangan pernah kau menampakkan batang hidungmu lagi di depanku!!"


" Dan kau!! Jika mengambil pekerjaan lihat-lihat dulu sasaranmu, jika tidak, bisa mengancam keselamatanmu sendiri." Kata William pada Dave.


Kemudian William segera menggandeng tangan Dhea.


" Ayo sayang kita pergi! Biarkan mereka berdua menyelesaikan urusannya sendiri."


Dhea hanya bengong saja, terkejut dengan sikap William yang di luar perkiraannya.


" Shit....kau bodoh sekali kenapa kau bisa ketahuan? Pasti kau tidak melakukan aktingmu dengan baik kan?" Kata Paula.


" Aku sudah melakukannya dengan baik tapi ternyata dia tidak percaya. Dan kau! Kenapa kau tidak bilang bahwa dia William Sean Anderson?"


" Kenapa memangnya?"


" Sialan kau! Dia itu bukan pria sembarangan, untung saja dia tidak memperpanjang masalahnya, jika tidak aku pasti bisa dicincang oleh pimpinanku."


" Ahhhhhh......brengsekkkk...!!!" Teriak Paula.