Something different

Something different
Pertengkaran



Sudah hampir tiga bulan William dan Dhea menjadi pasangan suami istri. Hampir setiap hari Dhea disibukkan oleh aktivitasnya di kampus, sedangkan William justru lebih santai karena usahanya tidak terlalu membutuhkan kehadirannya, hanya sekali-sekali William mengecek pembukuan yang berkaitan dengan usahanya itu.


Hari ini pukul 06.30 pagi Dhea sudah bersiap-siap pergi ke kampusnya.


" Sayang kenapa sepagi ini kau sudah pergi ke kampus? Bukankah baru jam 08.00 nanti kau absen?" Kata William memprotes istrinya.


" Hari ini aku ada seminar sayang, jadi harus berangkat lebih awal." Kata Dhea sambil meraih tasnya di dalam lemari.


" Tapi sayang, aku ingin kau menemaniku sarapan." Kata William sambil berbaring di kasur dan memperhatikan Dhea yang sedang membenahi riasannya.


" Hehhhh...kau ini manja sekali. Semua kan sudah tersedia di meja makan sayang, aku sudah membuatkan nasi goreng pesananmu semalam, dan tidak setiap hari aku berangkat sepagi ini kan?"


" Tapi hampir setiap hari aku kau tinggalkan sendirian di rumah."


" Kau kan bisa pergi ke tempat kerjamu sayang agar tidak bosan di rumah." Kata Dhea sambil mengusap pipi suaminya.


" Kau kan tau pekerjaanku sudah kuatur sedemikian rupa agar tidak bergantung padaku."


" Ayolah temani aku, aku ingin berduaan denganmu." Kata William sambil menarik tubuh istrinya ke dalam pelukkannya.


" Heii....jangan begitu sayang, aku sudah rapih nanti riasannya rusak lagi."


" Biar saja, aku tidak perduli, pokoknya aku mau kau menemaniku di sini."


" Sayang jangan begitu, kau tidak mau aku dipecat kan???"


" Tidak, justru aku sangat suka jika kau dipecat."


" Kenapa kau berbicara seperti itu? Sebelum kita menikah kan kau sudah tau profesiku?" Kata Dhea dia mulai tersinggung dengan kata-kata William, dan melepaskan pelukan suaminya.


" Ya benar, tapi sekarang kau adalah istriku dan aku hari ini melarangmu pergi sayang."


" Hehhhhh...aku tidak suka dengan sikapmu itu." Kata Dhea sambil berdiri.


" Dheaaaa....aku hanya ingin menjaga keharmonisan rumah tangga kita, jika setiap hari kau sibuk seperti ini, dan kau biarkan aku sendirian di rumah, bagaimana kita bisa membangun rumah tangga yang ideal? Aku sekarang yang bertanggung jawab terhadapmu."


" Ideal itu tergantung kita bagaimana bisa mewujudkannya, bukankah aku juga tidak pernah melupakan kewajibanku sebagai istrimu" Kata Dhea tak mau kalah.


" Tapi aku butuh kamu sayang??? Aku tidak tega melihatmu sibuk seperti itu setiap hari sayang. Kau lupa, kewajibanmu bukan hanya melayaniku di atas ranjang saja, tapi juga ada di saat aku membutuhkanmu?"


" Kita kan masih bisa bertemu malam hari Will?" Dhea mulai melupakan panggilan sehari-sehari suaminya karena emosinya mulai terpicu.


" Dhe, apakah semua usaha yang kumiliki tidak bisa mencukupi kebutuhan kita sehari-hari, sehingga kau harus terus mempertahankan profesimu, sedangkan suamimu membutuhkanmu?" Kata William sambil beranjak dari tempat tidurnya.


" William!!! Kenapa kau berbicara seperti itu? Aku dulu sekolah tinggi-tinggi karena ingin memanfaatkan ilmuku dan tidak hanya diam di rumah!!! Terserah apa katamu!! Ini sudah siang nanti aku bisa terlambat!!" Kata Dhea kemudian meninggalkan suaminya seorang diri menuju ke tempat kerjanya, bahkan dia lupa untuk mencium tangan suaminya karena tersinggung oleh kata-kata William.


Dhea sedih mendengar kata-kata William, dia tidak menyangka suaminya jadi seegois itu, bahkan melarangnya lagi bekerja, padahal dulu dia mati-matian meraih impiannya itu hingga mengorbankan masa remajanya demi untuk menggapai cita-citanya.


William hanya menarik nafas panjang melihat sikap istrinya itu, tidak pernah dia melihat Dhea semarah ini. Entah kenapa setelah beberapa bulan dia berada di Indonesia dia merasa kesepian sekali, apalagi istrinya itu terlalu sering membiarkan dia sendirian di rumah saat siang hari, belum lagi jika malam hari Dhea masih disibukkan dengan tugas-tugas mahasiswanya hingga terkadang dia harus lembur untuk menyelesaikannya. William hanya ingin istrinya ada setiap saat dia membutuhkannya, itulah mengapa dari dulu dia tidak suka diatur pekerjaan sehingga lupa dengan segalanya, seperti Dhea saat ini.


" Tuan anda tidak sarapan dulu? Ini tadi nyonya sudah menyiapkan untuk anda." Kata asisten rumah tangganya sambil membuka penutup makanan dan menawarkan nasi goreng pesanan William tadi malam pada Dhea.


" Tidak bik, aku makan di kantor saja." Jawab William yang mulai bisa berbahasa Indonesia walaupun sedikit terbata-bata. Selera makannya sudah hilang semenjak pertengkaran dengan istrinya tadi.


Selama di perjalanan William tidak bisa berhenti memikirkan sikap istrinya tadi, kenapa dia bisa semarah itu mendengar kata-katanya, padahal maksudnya baik. Dia tidak tega melihat istrinya itu setiap hari berangkat pagi pulang sore, belum lagi jika malam hari harus melayani dirinya. Dia hanya ingin menikmati kebersamaan dengan istrinya tanpa dibebani oleh kebutuhan ekonomi, ataupun pekerjaan yang begitu menyita perhatian mereka.


Sampai di kantornya William hanya mengotak-atik laptopnya, namun pikirannya sama sekali tidak bisa berkonsentrasi sedikitpun. Tiba-tiba dia teringat Daniel temannya.


" Ahhhh aku telfon dia saja." Gumam William.


" Hallo bos." Sapa Daniel saat baru saja mengangkat telfon dari William.


" Hallo Dan, sedang dimana kamu?"


" Aku sedang di kantor Will. Ada apa?"


" Tidak ada apa-apa hanya ingin mengobrol saja."


" Ohhh aku pikir ada hal penting yang ingin kau bicarakan."


" Bagaimana perusahaanku? Tidak ada masalah kan?"


" Kau tidak usah khawatir Will, semuanya beres di tanganku, bahkan banyak perusahaan lain yang ingin join dengan kita."


" Bagus Dan." Kata William, kemudian dia diam begitu lama.


" Hei kenapa kau tiba-tiba diam? Kau sedang ada masalah?"


" Tidak Dan." Kata William berbohong.


" Ahhh aku sangat mengenalmu teman, dari nada suaramu saja aku tau kau sedang tidak bersemangat."


" Hehhhh...aku hanya rindu dengan rutinitasku di sana Dan." Kata William.


" Kenapa? Bukankah kau pernah mengatakan padaku bahwa kau sangat menikmati rumah tanggamu?"


" Ya, tapi akhir-akhir ini aku merasa kesepian, istriku selalu sibuk dengan pekerjaannya."


" Ya sudah ajak dia ke sini, sekalian bulan madu. Bukankah selama kalian berumah tangga belum pernah berbulan madu?" Kata Daniel.


" Oh iya Dan, usul yang bagus. Nanti aku akan mengatakan padanya, semoga dia mau, pasti dia akan senang sekali mengunjungi tempat-tempat saat kami pacaran dulu." Kata William gembira. Dia seperti mendapat sebuah semangat baru saat Daniel memberinya ide.


" Ya Will, aku yakin setelah pulang dari sini istrimu akan langsung hamil karena tidak terlalu stres memikirkan pekerjaannya lagi." Kata Daniel lagi.


" Terimakasih atas saranmu, nanti aku katakan pada Dhea saat dia sudah pulang kerja." Kata William. Kemudian dia segera menutup telfonnya.