Something different

Something different
Kunjungan tak terduga



Pagi ini William berangkat ke kantor seperti biasanya, dan mulai serius menekuni pekerjaannya di depan mejanya. Seorang wanita terlihat mendatangi ruangannya, dan sedang berbicara pada sekretaris William.


" Nona, apakahmu bosmu ada di dalam?" Tanya wanita itu.


" Maaf kalau boleh saya tau, anda ada keperluan apa nyonya?"


" Katakan padanya aku ingin menemuinya, dan ini sangat penting menyangkut tentang rahasia kekasihnya yang bernama Dhea." Kata wanita itu.


" Oh baik nyonya, aku akan memberitahukan pada Tuan William dulu, silahkan anda tunggu sebentar!" Kata sekretaris itu.


Kemudian dia segera masuk ke dalam, sebentar kemudian sekretaris itu sudah keluar lagi.


" Silahkan nyonya, Tuan William menunggu anda di dalam."


" Baik terimakasih." Kata wanita itu sambil melenggang ke dalam.


Saat dia baru saja masuk, dilihatnya William sedang duduk di kursi kerjanya sambil mengotak atik laptop.


" Selamat pagi Tuan William." Sapa wanita itu.


William setengah tak percaya, suara wanita itu seperti tidak asing di telinganya.


" Benarkah dia.....???" Bathin William.


Perlahan William mengangkat kepalanya. Ternyata benar dugaannya.


" Paula???" Kata William nadanya sedikit terkejut.


" Ya, kenapa? Kau kaget? Aku pikir setelah mendapatkan kekasih baru kau lupa padaku Will."


" Ada apa kau kemari? Bukankah kita sudah tidak ada urusan lagi?" Tanya William, nada bicaranya terlihat ketus.


" Santai saja Will, apakah kau tidak ingin berbasa basi denganku dulu? Tanya kabar misalnya?" Kata Paula sambil berjalan pelan mendekati William.


" Stop...kau duduklah saja di situ!! Pasti kau tau caranya bersikap sopan bertamu di ruanganku!"


" Hemmmm....sepertinya kau mulai bisa membatasi diri Will?"


" Ya, terlebih dengan wanita sepertimu!"


" Kandunganmu sudah terlihat besar, apakah kau sudah menemukan ayah biologis anakmu itu? Atau jangan-jangan kau sedang menyusun rencana untuk menjebakku kembali Paula?"


" Hahhh....bagiku anak ini memiliki ayah atau tidak, sudah tidak penting lagi. Yang lebih penting itu adalah kau harus tau siapa sebenarnya kekasih yang selama ini kau gila gilai itu Will, jangan sampai kau tertipu dengan wajah polosnya!!" Kata Paula mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Maksudmu apa?"


" Hahaha William, William....Aku pikir setelah kau mengata ngataiku kau bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku, ternyata kau malah jatuh ke pelukan wanita yang sama brengseknya denganku!!" Kata Paula sambil tersenyum mengejek.


" Heii...jaga mulutmu!! Kau jangan sembarangan mengatai kekasihku!!"


" Nih...!!" Kata Paula sambil melempar amplop coklat di hadapan William.


" Apa ini?"


" Buka saja Will, nanti juga kau akan paham maksudku."


Lalu pelan-pelan William mengambil amplop tersebut dan mengeluarkan isinya. Dilihatnya ada beberapa foto yang menunjukkan Dhea sedang dipeluk oleh seorang pria. Posisi pria itu membelakangi kamera.


" Hehhh....kau pikir kekasihmu itu selama ini wanita suci kan? Sekarang kau tau siapa dia."


" Lalu kau dapatkan ini semua darimana?"


" Hahaha bodohnya kamu Will!! Kau pikir selama ini setiap kau tidak menemani kekasihmu itu, dia akan mengeram diri terus di apartemennya? Apakah kira-kira dia tidak bosan?"


William diam saja tidak menjawab.


" Aku itu sering mengikuti kalian berdua."


" Lalu apa maksudmu terus mengikuti kami?"


" Karena aku sangat sakit hati sejak kau tidak jadi menikahiku. Aku hanya tau seperti apa wanita yang kau kejar-kejar itu, sehingga begitu gigih pengorbananmu padanya. Ternyata hahaha...dia bahkan tidak lebih dari seorang wanita penghianat!!"


" Hentikan Paula!!! Kau tidak berhak mengatakan seperyi itu padanya!!" Bentak William.


"Oke, jika kau tidak percaya aku akan membuktikannya padamu, dan setelah kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri, aku yakin kau tidak akan mungkin membelanya lagi."


" Ok, silahkan tunjukkan bukti itu padaku!!" Tantang William.


" Ya, tunggu saja, dan aku jamin kau akan patah hati dibuatnya, selamat pagi sayang....!!" Kata Paula sambil membalikkan badannya, lalu meninggalkan ruangan William.


Sepeninggal Paula, William terlihat murung sambil menatap foto yang ada di hadapannya. Hatinya begitu cemburu. Namun tiba-tiba ada senyum tersungging di bibirnya, entah apa yang dipikirkannya, sehingga kemarahannya perlahan sirna.


" William aku sangat kenal watakmu. Kau adalah pria yang posesif dan pencemburu, aku yakin setelahmelihat sendiri, dia akan segera melempar wanita itu keluar dari hidupnya. Dhea....gantian aku yang akan melihat hidupmu hancur karena ditinggalkan oleh William, gara-gara kamu dia tidak jadi menikahiku. Lihat saja, sebentar lagi kau akan tau siapa itu Paula hahaha." Kata Paula terbahak sambil menstarter mobilnya, kemudian meninggalkan halaman kantor William.


Sementara itu Dhea masih sibuk di dalam kamarnya mengerjakan tesisnya, saat tiba-tiba ibunya menelfon.


Dhea menarik nafas panjang. Dia merasa bahwa telah membuat beban pikiran orang tuanya dengan menjalin hubungan bersama William. Orang tuanya tidak pernah absen menelfon dirinya, entah itu pagi, siang ataupun malam. Namun hal itu sangat wajar, mengingat mereka berdua sangat khawatir anak semata wayangnya itu bisa lupa diri karena cinta, apalagi cinta beda agama.


" Assalamualaikum bu!" Sapa Dhea.


" Wa'alaikum salam Dhe. Kamu sedang dimana nak?"


" Dhea ada di kamar bu, sedang mengerjakan tesis."


" Kamu sendirian nak?" Tanya ibunya penuh selidik.


Dhea diam sebentar, sebenarnya dia tidak terlalu menyukai kedua orang tuanya terus mengawasinya seolah tidak percaya. Namun apa boleh buat, itu sudah menjadi konsekuensinya. Seandainya dulu dia menolak kedatangan William ke Indonesia, pasti orang tuanya tidak akan segencar ini memantau keberadaannya di London. Sebenarnya Dhea bisa saja merahasiakan hubungannya itu, tapi alangkah baiknya mencoba jujur walaupun terkadang itu menyakitkan, daripada berbohong yang akibatnya bisa lebih fatal.


" Iya bu Dhea sendirian." Jawab Dhea kemudian.


" Lalu William? "


" William sedang di kantornya bu."


" Ohhh...." Jawab ibunya singkat.


" Oh ya sudah nak, jaga kesehatanmu dan jangan lupa sholat ya?"


" Iya bu."


Setelah Dhea mengucap salam telfonpun ditutup. Hanya sesingkat itu telfon orang tuanya setiap hari, sekedar tanya kabar, tanya sedang ada dimana, tanya sudah sholat atau belum. Hal-hal yang seharusnya tidak perlu ditanyakan dan diingatkan berkali-kali, namun Dhea tetap maklum adanya.