
Para penumpang semakin ribut, mengeluarkan masing-masing asumsinya tentang apa yang akan dikatakan orang di dalam microphone itu pada kekasihnya. Dhea tetap tidak perduli dengan keributan itu, toh itu bukan urusannya begitu kata hatinya.
Tiba-tiba saja suara seorang pria menggema memenuhi seluruh ruangan di dalam pesawat itu.
" Selamat malam semuanya, maaf sebelumnya telah mengganggu istirahat anda semua. Malam ini aku ingin mengatakan kepada kekasihku yang berada di dalam pesawat ini. Selama satu tahun kami telah berpisah, dan selama satu tahun itu pula aku tau, ternyata aku tidak bisa hidup tanpanya. Dia adalah nafasku, dan dia adalah tulang rusukku yang baru saja kutemukan. Namanya Dhea, seorang gadis yang sangat istimewa yang membuat hidupku berubah 180Β°. Membuatku tau arti mencintai dan dicintai. Mengerti bahwa cinta itu tidak hanya sekedar kata-kata tapi juga tindakan juga pengorbanan. Sayangku Dhea, aku harap kau tidak akan marah, karena hari ini aku telah membohongimu untuk yang kesekian kalinya, padahal aku telah berjanji tidak akan membiarkan air matamu jatuh lagi."
" Sayang aku tidak ingin melihat kau bersedih lagi, aku tidak ingin membiarkan kau sendiri lagi, aku ingin terus dan terus menemanimu, mendampingimu, dan aku ingin selalu bersamamu hingga kita menua bersama, menjalani sisa hidupku denganmu. Dhea aku mencintaimu amat mencintaimu, bahkan melebihi apapun yang kumiliki."
Dhea langsung tersentak dari lamunannya, saat mendengar suara William pertama kali.
" William???" Teriak Dhea tiba-tiba. Dia segera beranjak dari tempat duduknya.
" Dimana dia? Apakah ini hanya khayalanku saja?" Kata Dhea sambil menepuk-nepuk pipinya.
" Tidak, ini benar-benar nyata, itu suara William!!" Bisik Dhea lagi.
" Sayang dimana kamu?" Teriak Dhea spontan sambil matanya mencari-cari sosok William di sekelililing pesawat. Air matanya kembali jatuh, mendengar suara pria yang dirindukan selama satu tahun terakhir ini. Dia tidak sadar bahwa kemudian semua mata penumpang sedang menatapnya, seorang pria di depan Dhea tersenyum.
" Anda wanita yang sangat beruntung nona, mendapatkan seorang pria yang benar-benar mencintaimu." Kata pria itu.
Dhea tidak bisa menjawab sepatah katapun, bibirnya terasa kaku, dia hanya sibuk menghapus air mata yang membanjiri pipinya.
Tiba tiba pintu terbuka, dan William muncul dari ruang kokpit pesawat. William terlihat begitu tampan, menggunakan kemeja biru dan celana hitam yang melekat di tubuhnya. Kemudian dia berjalan mendekati Dhea yang tak kuasa lagi membendung air matanya yang mengalir semakin deras.
" Ya Alloh dia ada di sini?" Dhea tidak bisa menahan rindunya, seandainya tidak banyak orang pasti dia akan langsung berlari ke pelukan laki-laki itu.
" Sayang apa kabarmu? Kau terlihat kurus sekali, pasti satu tahun terakhir ini kau sering memikirkanku sehingga lupa jadwal makanmu." Kata William sambil tersenyum sembari memegang kedua tangan Dhea.
" Will kau jahat sekali." Kata Dhea sambil tersenyum di antara tangisannya.
" Sayang kau tau tidak? Aku bekerja keras satu tahun ini untuk berusaha menjadi suami yang ideal untukmu. Aku malu jika nantinya tidak bisa menjadi imam yang baik dan calon ayah yang sempurna untuk anak-anak kita nanti."
" Padahal aku baru saja belajar untuk membencimu agar bisa dengan cepat melupakanmu." Jawab Dhea.
" Tidak sayang, aku tidak akan membiarkan kau membenciku. Karena kau tau? Demi untuk mendapatkanmu aku harus belajar cara melafazkan Al fatihah yang benar dengan ayahmu hingga berkali-kali."
" Ayahku?" Tanya Dhea terkejut.
" Ya ayahmu sayang calon mertuaku, karena hari ini di hadapan semua orang aku ingin mengatakan padamu....Dhea Galuh Anjani maukah kau menjadi istriku??" Kata William sambil berjongkok dan menyodorkan sebuah cincin indah bermata berlian.
Dhea kembali menangis tersedu sedu.
" Ya Alloh Will, apakah aku tidak bermimpi?"
" Tidak sayang, kau tidak bermimpi. Di tempat ketinggian ini aku melamarmu, sebagai simbol begitu tingginya cintaku padamu, sehingga aku begitu sulit untuk meraihnya, dan pada hari ini semuanya kubuktikan, bahwa aku tidak pernah mengingkari janjiku. Menikahlah denganku sayang!"
Dhea seakan tak percaya dengan kejadian yang sedang dia alami. Dia tidak pernah membayangkan akan semulia ini dilamar seorang laki-laki di dalam pesawat yang belum tentu semua orang bisa melakukannya, karena pasti akan sulit sekali memiliki ijin masuk ke dalam ruang kokpit pesawat jika bukan benar-benar orang yang berpengaruh. Dhea tidak dapat mengucapkan kata-kata, hanya mampu menganggukkan kepalanya di hadapan kekasihnya itu.
Semua penumpang berdiri dan bertepuk tangan menyaksikan William menyematkan cincin di jari manis Dhea. Dan Dheapun bisa tersenyum bahagia, walaupun belum bisa menghentikan air matanya.
" Cium cium cium cium ", tiba-tiba semua penumpang serentak meneriakan kata-kata itu.
" Maaf semuanya, bukannya saya tidak ingin mencium calon istri saya ini, tapi saya sudah berjanji dengan orang tuanya, akan menjaganya, dan tidak ingin melakukannya lagi kecuali setelah kami sah menjadi suami istri. Terlalu banyak dosa yang telah saya lakukan, dan saya ingin saat menjadi suaminya saya sudah meninggalkan masa lalu saya yang kelam, dan memperbaiki hidup saya bersamanya." Kata William sambil menatap Dhea mesra.
" Kau benar-benar pria yang luar biasa tuan ", terdengar suara seseorang mengatakan kalimat itu.
" Terimakasih kepada anda semua yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk melamar kekasih saya ini, sekali lagi maaf telah mengganggu istirahat kalian, dan selamat menempuh perjalanan kembali." Kata William lagi. Kemudian dia segera duduk di samping Dhea.
Dan Dhea baru sadar ternyata kursi di sampingnya yang sedari tadi kosong, memang khusus dipesan William untuknya, padahal semua kursi di dalam pesawat terlihat penuh semua. Entah bagaimana caranya laki-laki itu bisa merencanakan semua sedetail ini.
" Sayaang kau bahagia?" Tanya William sambil terus menggenggam jemari Dhea.
" Ya aku bahagia sayang ". Jawab Dhea sambil bersandar di pundak calon suaminya itu.
" Kenapa kau tadi tidak muncul di taman? Bahkan tidak mau menelfonku? Kau tau aku sampai rela kehujanan di tempat itu untuk terus menantimu datang?"
" Kau pasti saat itu sangat berharap ya? Walaupun sebenarnya kau harus segera ke bandara tapi tetap menungguku di sana kan?"
" Kau tau darimana?"
" Sayang...aku itu tau semua semenjak kedatanganmu kesini, kau menginap di hotel mana, kau makan dimana aku selalu mengikutimu. Dan satu hal yang tidak bisa kau rahasiakan padaku."
" Apa itu sayang?"
" Kau tau darimana dia mendatangiku lagi?"
" Hahaha apa aku harus menyebutkan lagi, bahwa hari inipun aku tau kau tadi pagi baru kedatangan tamu bulananmu kan?" Canda William.
" Hei kau sedetail itu memata-mataiku awas kau ya!!" Kata Dhea sambil memukuli pundak William.
" Hahaha lihatlah sebegitunya aku mencintaimu sayang, sehingga tau setiap detik gerak gerikmu walaupun kau tidak berada di sampingku."
" Maafkan aku ya Will, tapi percayalah padaku, aku tidak pernah berkhianat padamu."
" Iya aku percaya, jika aku tidak percaya mana mungkin hari ini aku memintamu menjadi istriku?" Sambil menatap Dhea mesra.
" Jadi sejak kapan kau mempersiapkan ini semua?" Tanya Dhea.
" Sudah lama, sejak satu tahun yang lalu."
" Lalu kenapa jika kau sudah yakin ingin menikahiku, aku harus menunggu selama ini?"
" Bagaimana tidak? Ayahmu memintaku menghafalkan juz amma dulu jika ingin menikahimu!" Jawab William sambil cemberut.
" Dan sekarang kau sudah siap untuk menyetorkan hafalan itu pada ayahku?"
" Insyaalloh Dhe, jika perlu besok saat tiba di rumahmu aku akan langsung membuktikan pada ayahmu bahwa aku ini penghafal yang baik, jadi tidak lama-lama lagi untuk menikahimu sayang!!" Kata William sambil mengerling nakal.
" Aku baru tau jika kedua orang tuaku berada di belakang ini semua. Tapi Will kau mualaf bukan karena aku kan?"
" Bukan Dhe, sebenarnya sudah lama sekali aku merasakan kegusaran dan ketidaktenangan yang sangat luar biasa. Diam-diam aku sering memperhatikan kau saat beribadah, lalu mendengarkan sedikit-sedikit tentang ajaran agamamu yang kau ceritakan padaku. Satu hal yang paling membuatku yakin adalah, damainya hatiku saat mendengarkan suara adzan yang terus menggema setiap hari ketika aku berada di rumahmu itu, juga mendengarkan suara ayat suci yang setiap malam kau baca saat kita berada di Indonesia.""
" Jadi kau memang sudah lama mengikuti keyakinanku?"
" Ya, saat aku menemui ayah dan ibumu setelah 1 bulan kita putus, dan aku langsung mengucapkan dua kalimat sahadat disaksikan kedua orang tuamu di masjid tempat biasa ayahmu berjamaah."
" Maafkan aku sayang, aku sangat sibuk mempersiapkan ini semua, aku tidak ingin menjadi suami yang gagal mendidik istrinya, sehingga selama satu tahun terakhir ini aku terkesan tidak perduli padamu."
" Sungguh?" Tanya Dhea.
" Iya sayang, aku mengorbankan semuanya untukmu, aku tidak mau kehilanganmu."
" Dan ada satu rahasia lagi yang masih kusimpan."
" Apa itu Will?"
" Waktu aku pergi lama selama kurang lebih satu bulan itu kau tau aku kemana?"
Dhea menggeleng.
" Aku pergi ke negaramu, di kota kelahiranmu. Aku mendirikan perusahaan disana, karena aku tidak mau jadi seorang pengangguran saat jadi suamimu nanti."
" Benarkah Will? Bahkan saat kita belum berpacaranpun kau dengan percaya diri sudah membangun usaha di sana?"
" Ya aku memang terlalu percaya diri, karena aku yakin aku akan menikahimu bagaimanapun caranya."
" Jika aku tidak mau?"
" Buktinya sekarang kau mau hehehe."
" Ihhhh kau ini dasar laki-laki pembohong, suka memaksa lagi." Kata Dhea sambil cemberut.
" Hahaha maaf sayang, aku hanya ingin memberikan kejutan untukmu. Dan kau tau wanita yang pernah kau cemburui di telfon itu adalah istri temanku, dialah yang membantuku menyelesaikan semuanya, juga membantuku berbicara dengan ayahmu."
" Kau ini ya, habis aku kau bohongi terus."
" Sayang bantu aku dan bimbing aku agar bisa menjadi imammu yang baik, aku yakin kita akan bahagia."
" William benarkah? Kau tidak akan menyesal nanti?"
" Tidak sayang, denganmu aku akan memulai semua dari awal. Melupakan semua masa laluku yang buruk dan hidup bersamamu hingga ajal memisahkan kita nanti."
Dhea menangis entah untuk yang keberapa kalinya, dia tidak bisa lagi mengungkapkan kata-kata. Ternyata Tuhan amat baik padanya, menghadirkan laki-laki yang begitu menyayanginya, walaupun dia baru akan belajar menjadi suami yang sesuai dengan kriteria sempurna untuk Dhea. Allah memang selalu mengadirkan sesuatu di waktu dan saat yang tepat untuk kita. Walaupun terkadang kita seperti tidak mampu untuk menjalani cobaannya, namun yakinlah ada rahasia besar dan sangat indah yang sedang Dia rencanakan untuk umatnya. Dan hari ini Dhea merasakan itu semua, buah dari pengorbanannya selama satu tahun terakhir ini yang membuat hatinya sangat tersiksa dengan ketidakpastian.
Doooooorrrr.........Hayoooo....kalau baper nangis bareng bareng yuks biar rame hahaha...makasih ya udah setia baca novelku. Maaf baru up cos lg ngumpulin kekuatan dulu biar hasilnya nggak mengecewakan kalian. Tetap ambil sisi positif dari cerita ini, yang jelas sosok William mungkin hanya ada di cerita saya, kalo di kisah nyata ada mungkin udah author ambil duluan hahaha. Moga kalian sehat selalu dan masih bisa share tulisan saya ini. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari novel ini, maaf kalau masih banyak kekurangannya, maklum masih amatiran. Tetep ikutin terus ya, kira2 mereka sampai ke pelaminan atau tidak? Hanya Author dan Tuhan aja yang tau heheheπ€π€π€π€π€ππππππ