
Malam ini William sedang berada di taman kota bersama Dhea, mereka berdua duduk berdampingan. dan keduanya terlihat tegang.
" Will, kau tadi mendengar sendiri bukan kalimat ayahku di telfon. Kau harus segera mengambil keputusan. Lanjut atau cukup kita akhiri sampai di sini saja." Kata Dhea sembari meletakkan handphonennya di dalam tasnya
" Iya Dhe, aku tau itu."
" Lalu keputusanmu bagaimana? Ini adalah batas waktu yang sudah ditentukan orang tuaku"
" Maaf Dhe sampai saat ini aku belum bisa un..."
" Belum bisa atau tidak bisa Will? Kau harus bedakan itu!" Kata Dhea memotong pembicaraan William.
" Iya Dhe maksudku...!!"
" Kau tidak usah menjelaskan panjang lebar lagi Will, jawab saja iya atau tidak? Itu saja cukup!!" Kata Dhea mulai emosi dan berdiri dari duduknya.
William hanya menundukkan wajahnya seperti seorang pesakitan.
" Jadi selama ini hubungan kita itu apa Will? Kau bilang kau mencintaiku? Kau bilang mau melakukan apa saja untukku? Namun sampai hari inipun kau tidak bisa menjelaskan bagaimana kelanjutan hubungan kita Will!!"
" Aku yang salah Will, aku yang salah, seharusnya aku tidak boleh menjalin hubungan denganmu padahal aku tau kita tidak mungkin bersatu."
" Aku terlalu bodoh berharap yang tak mungkin. Seharusnya aku dulu tidak menerima cintamu jika harus berakhir seperti ini." Kata Dhea, air matanya mulai jatuh.
" Sayang...pleas jangan bicara seperti itu." Kata William sambil ikut berdiri dan menenangkan Dhea.
" Lalu aku harus bicara seperti apa Will? Kau bisa ajari aku tentang kalimat yang seharusnya kukatakan padamu? Lihatlah! Bahkan kau sendiri saja tidak mampu untuk membuka mulutmu! Lalu aku harus bagaimana Will? Rasanya kita selama ini hanya buang-buang waktu yang tidak penting."
" Dhe, sebenarnya aku sudah punya jawabannya."
" Lalu kenapa kau tidak mau mengatakannya padaku? Kau takut kau akan menyakitiku?"
" Ya Dhe." Kata William pelan.
" Aku sudah siap apapun keputusanmu, aku sudah terbiasa bertanggung jawab dengan semua resiko keputusan yang kuambil."
" Dhe." Kata William sambil memegang tangan Dhea.
Dhea membalas tatapan mata William, dadanya berdebar-debar menunggu kalimat William selanjutnya.
William menatap Dhea terus tanpa bisa berkata-kata. Hanya jantungnya saja yang semakin berdetak tak karuan, menunggu reaksi Dhea jika tau jawaban yang hendak dia berikan pada wanita yang dicintainya itu.
" Kenapa kau diam Will, ayo bicaralah!!" Kata Dhea lagi.
" Dhe maafkan aku, sepertinya kita memang harus berpisah." Kata William lirih dan hampir tidak terdengar.
" Apa Wil?" Seolah tidak percaya dengan jawaban yang diberikan oleh kekasihnya itu.
" Will bisa kau ulangi kalimatmu sekali lagi?" Kata Dhea.
" Maafkan aku Dhe, inilah keputusanku" Kata William sambil menunduk.
Dhea perlahan melepaskan genggaman tangan William, dan matanya menatap tajam pada laki-laki yang amat dicintainya itu.
" Sudah kuduga." Jawab Dhea pelan.
Perlahan tubuh Dhea lunglai dan terduduk di kursi yang ada di belakangnya, seolah tubuhnya seperti tak bertulang. Saat itu juga tangisnya pecah. Dhea menutup wajah dengan kedua tangannya.
" Sayang maafkan aku." Kata William sambil berlutut di depan Dhea.
" Tidak Will, tidak ada yang perlu dimaafkan."
" Silahkan kau pergi dan tinggalkan aku di sini!! Aku janji besok pagi akan meninggalkan apartemenmu dan kembali ke tempat tinggalku yang lama." Kata Dhea sambil terisak.
" Tidak Dhe, kau tidak boleh pergi dari sana!! Kau harus tetap tinggal di apartemenku!!"
" Kau tidak bisa melarangku lagi!! Aku dan kamu sudah berakhir, dan itu berarti aku bebas menentukan hidupku Will." Teriak Dhea, air matanya terus bercucuran membasahi pipinya.
" Sayanggg...aku mencintaimu...aku sangat mencintaimu." Kata William, tiba-tiba dia memeluk Dhea, dan entah kenapa Dhea tidak bisa menolak pelukan kekasihnya itu seperti biasa. Justru dia semakin keras menangis di dada William.
" Will....aku tau sekarang rasanya sebuah kehilangan, mungkin ini dulu yang kau rasakan saat bersama Jessy. Dan sekarang akulah yang berada di posisi itu. Ternyata sakit Will." Kata Dhea sambil menangis.
" Sayang...maafkan aku, maafkan aku." Kata William. Hanya itu kalimat yang bisa diucapkannya. Pelukannya semakin erat seolah tidak ingin melepaskan Dhea.
" Sayang dengar aku." Kata William sambil melepaskan pelukannya lalu memegang kedua bahu Dhea.
" Aku saat ini harus melepaskanmu karena aku sudah berjanji dengan kedua orang tuamu. Aku tidak mau dibilang laki-laki yang tidak bisa memegang kata-kata. Selesaikan studimu. Mulai besok aku tidak akan menemuimu lagi, tapi aku minta satu hal padamu, jangan pernah mengisi hatimu dengan laki-laki lain dulu, satu tahun lagi tepat di tanggal dan bulan yang sama aku ingin kau datang lagi ke sini. Jika aku datang berarti kau harus menikah denganku." Kata William.
William menarik nafas, lalu melepaskannya perlahan.
" Berarti aku tidak bisa jadi calon suami yang baik seperti yang kamu inginkan, dan kamu boleh menikah dengan orang lain Dhe." Kata William lirih.
" Haruskah selama itu Will?"
" Ini sudah keputusanku Dhe, percayalah aku sangat mencintaimu, dan aku ingin jadi yang terbaik untukmu."
" Will, masih bisakah aku berharap padamu?"
" Berdoalah pada Tuhanmu sayang, dia maha pembolak balik hati manusia kan?"
" Kau tau istilah itu?"
" Ya...bersabarlah, seperti yang kau bilang jika Tuhan menjodohkan kita, pasti Dia akan menyatukan kita berdua bagaimanapun caranya." Bisik William pelan.
" Will...benarkah aku akan kembali sendirian seperti dulu? Bisakah aku membiasakan diri tanpamu lagi?" Kata Dhea masih dengan terisak.
" Sayang, aku yakin kamu mampu. Kau wanita kuat, percayalah pada dirimu sendiri."
" Will aku sangat mencintaimu." Kata Dhea sambil menunduk. William kembali memeluk Dhea yang kemudian menangis di dadanya. Dengan sekuat tenaga William berusaha terlihat tegar, karena dia tidak mau memperlihatkan kerapuhannya di depan kekasihnya itu.
" Sayang...tetaplah tinggal di sana. Jangan pernah keluar dari apartemen itu. Kecuali kau telah menyelesaikan studimu. Jalani hari-harimu seperti biasanya, dan aku tidak ingin konsentrasimu terganggu karena masalah ini ya?"
Dhea hanya mengangguk lemah.
" Ya sudah aku antarkan kau pulang ya."
Kemudian William menggandeng tangan Dhea, lalu masuk ke dalam mobilnya. Selama di perjalanan mereka berdua tidak mengeluarkan sepatah katapun. Dhea hanya melamun sambil menatap ribuan lampu jalan melalui jendela samping tempat duduknya. Sedangkan William terus berkonsentrasi menatap jalanan, padahal pikirannya melayang pergi entah kemana.
" Will maukah kau menemaniku hingga tertidur?" Kata Dhea. Saat sudah berada di apartemennya.
" Aku tidak ingin melihatmu pergi meninggalkan ruangan ini." Kata Dhea lagi.
" Ya sayang tidurlah di sini." Kata William sambil menawarkan kedua kakinya sebagai alas kepala Dhea. Lalu Dhea merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang itu.
" Will, setelah ini rencanamu apa?"
" Aku belum tau Dhe, mungkin saja akan semakin gila kerja."
" Will, seandainya studiku sudah selesai dan aku pulang ke Indonesia, kau akan mengisi apartemen ini untuk siapa?"
" Aku akan membiarkannya kosong Dhe, karena aku tidak mau bau tubuhmu hilang di setiap sudut kamar ini."
" Kau tidak sedang menggombal kan Will." Kata Dhea kalimatnya mulai melemah.
" Tidak sayang." Kata William sambil terus membelai kepala gadis itu yang mulai terlelap di pangkuannya.
" Ya Tuhan semoga saja keputusanku ini benar." Gumam William.
Dia terus membiarkan Dhea benar-benar tertidur nyenyak. Perlahan William meletakkan kepala Dhea pelan, dan kemudian dia berdiri, lalu menggotong tubuh Dhea ke dalam kamarnya, menidurkannya di atas kasur, dan menyelimuti tubuhnya.
William menatap Dhea begitu lama. Diciumnya jemari gadis itu.
" Sayang...semoga kau baik-baik saja walau tanpa diriku, tunggu aku di tempat yang telah aku janjikan. Semoga aku bisa menemukan keimananku yang sebenarnya." Bisik William pelan.
" Selamat tinggal sayang." Kata William lagi. Kemudian dia mengecup dahi Dhea sedikit lama. Setelah itu dia keluar dan menutup pelan pintu kamar Dhea, lalu meninggalkan Dhea sendirian menjalani sisa waktunya di negara asing itu.
Sepeninggal William, ada setitik air mata jatuh dari balik kelopak mata Dhea.
Maaf ya pembaca semuanya, beberapa hari yang lalu sempat tertunda satu hari up episodenya, karena author sedang ada kesibukan. Tapi hari ini dibayar full 4 episode. Dan episode yang satu ini dijamin bikin mewekππππ Cos jangan nggak percaya, authorpun ikutan baper ampe nggak kerasa kok ada asin-asin di bibir eh ga taunya air mata ikutan jatuh hikhihik lebaiii ihhh...Seandainya ada laki-laki seperti itu satuuuu aja di di dunia ini, mau dong buat author semua π€π€π€.
Ok terus ikutin kelanjutannya yah, yang jelas jangan baper n jangan ikutan ngayal tar kebablasan. Biar author sendiri aja yang ngayalnya kebablasan n kamu bagian pembacanya aja hehehe
Jangan lupa tetep.
* Like
* Komen
* Follow akunku
* dan jangan lupa share ya, aku menyenangkan kalian dengan novelku, dan kalian menyenangkan dengan share novelku ini, biar makin banyak yang terhibur.
Ok...makasih....ππππππππππππ