
Dhea dan Bram mengobrol begitu lama, hingga tidak terasa jadwal keberangkatan pesawat William telah tiba. Suara deru mesin terdengar hingga di area parkir. Dhea melirik arlojinya.
" Hemmmm....sepertinya pesawat yang dinaiki William sudah akan berangkat." Bathinnya.
Benar saja, tak lama kemudian sebuah pesawat terlihat sudah mulai beranjak naik ke atas. Warnanya yang khas, sudah tidak asing di mata Dhea.
" Pak, itu sepertinya pesawat yang dinaiki suamiku ya." Kata pada supirnya sambil menunjuk pesawat yang baru saja terbang bebas mengudara.
" Sepertinya iya bu, itu seperti pesawat milik maskapai XX yang dinaiki Tuan William."
" Lho jadi kau masih berada di bandara sekarang Dhe?" Bram yang mendengar Dhea mengobrol dengan seseorang langsung berkomentar.
" Iya Bram, aku hanya ingin memastikan bahwa pesawat suamiku sudah berangkat, tapi itu sepertinya pesawat yang dinaiki suamiku baru saja terbang." Kata Dhea.
" Hahaha...Dhea... Dhea...apa yang bisa kau lakukan pada pesawat yang sudah terbang di angkasa? kau kurang kerjaan sekali menunggu lama di situ."
" Ahhhh....biar saja. Di rumahpun aku tidak ada kegiatan apa-apa, mending aku menunggu keberangkatan suamiku saja." Bela Dhea.
" Yaaaa...terserah kau saja, semoga saat berada di ketinggian, William bisa melihat keberadaanmu melalu jendela pesawat." Kata Bram sembari terbahak.
" Kau ini.teruslah menggodaku." Gerutu Dhea.
" Hahaha....aku hanya bercanda Dhe."
" Pak kita pulang sekarang ya." Ajak Dhea pada supirnya.
" Baik nyonya."
" Ahhh...pasti sepi sekali jika tidak ada dia dirumah, Bram." Kata Dhea sambil tetap memandang pesawat tadi yang terbang semakin tinggi di depannya melalui kaca di sampingnya.
" Cie...cie...jadi iri nih. Tidak sia-sia dulu William mati-matian mendapatkanmu, jika akhirnya bisa benar-benar memenangkan hatimu Dhe."
" Issshhh...kau ini...dia kan suamiku, wajar saja jika aku cinta dengannya."
Supir Dhea berusaha memutar balik kendaraannya keluar dari area parkiran yang penuh dengan kendaraan lainnya itu. Sedikit sulit untuk mengeluarkan kendaraan itu, karena jarak dengan kendaraan lain sedikit sempit.
Dhea terus melanjutkan ngobrol dengan Bram.
" Padahal aku sudah membayangkan, jika kau hadir di pesta pernikahan Mike, aku ingin mengobrol denganmu Dhe."
Mata Dhea tetap memperhatikan pesawat suaminya yang semakin menjauh itu, hingga bentuknya semakin kecil.
Namun sedang asyik-asyiknya mengobrol, bahkan mobilnya masih baru hendak keluar dari bandara, tiba-tiba ada suara menggelegar di atas langit.
" Duarrrrrrrrr........!!!!" seketika dari kejauhan terlihat kepulan asap hitam membumbung tinggi di angkasa.
" Innalillahi wa innailaihi rojiun." Seketika berteriak. Supir pribadinyapun ikut terkejut dan spontan menginjak rem mobilnya.
Dhea langsung melempar handphone yang ada di genggamannya, dan spontan membuka pintu di sampingnya lalu melangkah keluar. Supirnya segera mematikan mesin kendaraannya, dan ikutan keluar.
" Dhea...!!! Dhe....!!! Dhea.....!!!" Teriak Bram di seberang sana yang ikut kaget dengan teriakan Dhea. Handphone yang terlempar di lantai mobil dan masih dalam kondisi hidup, membuat Bram ikutan panik.
" Dhe...!! ada apa??? kenapa kau berteriak begitu??? kau tidak apa-apa kan??? Dhe...??? ayo jawab telfonku...!!!" Bram terus berteriak memanggil Dhea. Padahal yang dipanggil sudah tidak ada di tempatnya.
" Nyonya itu pesawat yang baru terbang tadi yang meledak....!!!" Teriak supirnya.
Dhea tidak perduli teriakan supir, dan langsung berlari ke arah bandara, mencoba mencari tahu tentang kebenaran bahwa itu pesawat yang ditumpangi suaminya. Dhea tidak perduli lagi dengan operasinya. Yang dia pikirkan, semoga itu bukan pesawat yang dinaiki William, walaupun saat awal pesawat tadi naik, Dhea tau benar bahwa itu milik maskapai yang dinaiki William, dan jadwal keberangkatannyapun sesuai dengan jadwal keberangkatan suaminya ke London.
Dhea terus berlari diantara hiruk pikuk orang-orang yang ikut berlarian ke dalam. Supirnya terus mengikutinya dari belakang. Jerit pilu terdengar dimana-mana saat dia sudah ada di dalam. Ruang informasi yang penuh sesak dengan orang-orang yang ingin tau juga tentang kebenaran berita seperti Dhea, sangat sulit untuk diterobos. Tapi Dhea tetap berusaha mendekati petugas tersebut. Jilbab dan bajunya, yang ditarik kesana kemari oleh orang-orang yang juga memiliki kepentingan yang samapun sudah tidak beraturan lagi bentuknya, dan Dhea tidak perduli itu. Akhirnya dengan susah payah, Dhea berhasil menerobos kerumunan itu.
" Mbak, mbak...!!! tolong beritahu saya, pesawat yang meledak tadi tujuannya kemana?" Teriaknya. Entah kenapa petugas itu terlihat ikutan panik juga, dan bukannya menginformasikan melalu microphonennya, malah sibuk menjawab pertanyaan dari orang-orang yang mengerumuninya.
" Itu pesawat milik maskapai XX mbak, dengan tujuan pernebangan ke London." Jawabnya.
" Duarrrrr....." tiba-tiba saja kepala Dhea serasa pecah, pandangannya spontan berkunang-kunang, dan tanpa sadar dia meneriakan nama suaminya.
" Williaaaaaaaammmm.............!!!!"
Lalu pandangannya terada gelap, dan langsung tidak sadarkan diri. Mungkin jeritannya itu adalah jeritan dari sekian banyak orang seperti Dhea yang sama-sama juga kehilangan sanak keluarganya, sehingga saat dia pingsan yang membantu hanya supir pribadinya dan seorang pria paruh baya di sebelahnya, karena ternyata banyak juga yang histeris melihat kejadian ini, dan tidak memikirkan kondisinya sendiri.
Dhea padahal belum mengetahui, apakah suaminya benar-benar tidak selamat dalam insiden itu, namun secara nalar sudah bisa dipredikisi, tidak mungkin ada satu penumpangpun yang selamat dalam ledakan itu, kalaupun saat pesawat hendak meledak, penumpang tersebut berhasil terjun bebas, namun apakah masuk akal jika manusia biasa masih bisa bernafas, jatuh dari atas ketinggian seperti itu? kecuali memang Allah benar-benar memberinya keajaiban.
Suara tangisan dan jeritan terdengar di mana-mana. Bukan hanya mereka yang kehilangan keluarganya saja, namun juga orang lain yang ikut melihat pemandangan itu terlihat meneteskan air mata. Apalagi kecelakaan tersebut terjadi di depan mata, dan banyak yang menyaksikan sendiri insiden tersebut sehingga sudah dipastikan menyisakan trauma yang mendalam bagi mereka. Hanya sepersekian menit setelah mereka melepas kepergian orang tercintanya, tiba-tiba maut menjemputnya. Seperti juga Dhea, yang saat pergi tadi berharap suaminya bisa kembali lagi dengan selamat, namun belum saja tiba di tempat tujuan, nyawanya sudah melayang bersama orang-orang yang berada di pesawat bersamanya.
Supir Dhea terlihat kebingungan menunggui majikan wanitanya itu yang terlihat terbaring lemah di sebuah kursi panjang yang ada di bandara. Hatinya sendiripun terasa sedih, dan tidak berhenti-berhenti meneteskan air mata. Tuannya yang begitu baik, dan selalu perhatian pada pegawainya begitu cepat dipanggil yang kuasa dan masih berusia sangat muda. Supir Dhea saat ini tidak tau harus melakukan apa, dia hanya terus menunggui Dhea dan tidak berani beranjak kemana-kemana. Untuk meminta bantuan yang lainpun tidak mungkin, karena banyak orang yang panik dan berlarian kesana kemari.