
Pagi ini saat berada di kampus, Bram menghampiri Dhea yang sedang duduk sendirian sembari menunggu dosennya masuk.
" Hei Dhe..."
" Hei Bram, sudah datang juga kau rupanya ?"
" Bagaimana pagi ini ? apakah Mike masih menjemputmu ?"
" Tentu masih Bram, dia bersedia mengantarku kemanpun aku pergi ".
" Kenapa kau tidak menyuruhku saja ?"
" Hahaha kau mau Alice marah marah padaku ? Aku itu bahkan sudah didatangi 2 orang wanita sebelumnya, dan aku tidak mau kekasihmu juga ikut mendatangiku dan meluapkan semua amarahnya ".
" Hahaha kasihan sekali kamu, pasti 2 wanita itu merasa tersaingi olehmu ".
" Aku tidak merasa menyaingi mereka, bukankah aku tidak ada hubungannya dengan William dan Mike, Pertama Paula, dan kemarin yang kedua Jessy. Benar benar wanita yang bodoh, seperti tidak ada laki laki lain saja ".
" Laki laki lain memang banyak Dhe, tapi yang muda, tampan dan kaya raya seperti mereka itu yang jarang ada, makanya mereka iri padamu hahaha ".
" Hhhhmmm mungkin saja Will ".
" Kau hati hatilah Dhe, sepertinya Mike juga menyukaimu ".
" Aku tau Bram, bahkan dia sendiri yang mengatakannya padaku ".
" Lalu kenapa kau tidak menghindarinya seperti William ?"
" Pertama, aku butuh orang yang bisa melindungiku, dan yang kedua, Mike itu bukan William yang suka bertindak di luar batas dan bisa membahayakanku ".
" Tapi kau tidak menyukainya kan Dhe ?"
" Hahaha tidak Bram, kau ini...aku lepas dari William kenapa harus berpindah ke Mike pula, itu artinya jatuh ke lubang yang sama Bram, hanya beda sifat dan karakternya ".
" Hahaha benar, yah semoga saja ke depannya akan baik baik saja Dhe ".
" Iya Bram akupun berharap demikian ".
" Lalu hari Sabtu besok kau mau menghadiri pernikahan William tidak Dhe ?"
" Tidak Bram, tidak mungkin aku ke sana ".
" Kenapa ?"
" Aku tidak mau membuat kekacauan dan masalah di sana ".
" Maksudmu, kau takut bersedih melihat William menikah begitu ?" Tanya Bram menggoda.
" Hhhh enak saja, justru aku takut di sana nanti aku bisa tertawa terbahak bahak karena telah merdeka dan lepas dari William, dan aku takut dia mengetahuinya, dipikirnya aku tertawa di atas penderitaan dia Bram hahaha ".
" Kau ini Dhe, tega sekali dengannya ".
" Biar saja, salah sendiri sudah mengganggu kehidupanku ".
Tak lama kemudian dosenpun masuk, sehingga mereka berdua menghentikan obrolannya.
Sementara itu William terlihat sedang berbincang dengan sekretarisnya di dalam kantor.
" Jadi kau atur semuanya ya, batalkan jadwal pertemuanku dengan bebarapa orang itu di hari sabtu nanti ".
" Baik tuan ".
" Gantikan dengan hari lain, dan jangan lupa letakkan semua laporan yang kubutuhkan besok pagi ya ".
" Baik tuan...".
" Hmmm....apakah Sabtu besok tuan jadi menikah dengan wanita yang tempo hari datang kesini itu ?"
" Ya benar, memangnya ada apa ?"
" Hmmm maaf tuan, aku hanya sedang berfikir bahwa calon istrimu sedikit angkuh dan tidak cocok berdampingan dengan anda, maaf kalau aku salah bicara, aku hanya ingin mengingatkan anda saja ".
" Ya aku tau niatmu baik, dan aku mengakui itu semua, tapi aku tetap harus menikahinya karena dia mengaku hamil, padahal aku tidak mencintai wanita itu sedikitpun ".
" Hamil tuan ? anda yaki ? anda sudah memeriksakannya ? "
" Sudah, Kemarin aku baru mengantarnya ke dokter kandungan ".
" Kau tidak ingin mengetahui melalui tes DNA itu benar darah daging anda atau bukan tuan ?"
" Tes DNA apakah bisa ? bukankah bayi itu belum lahir ?"
" Bisa tuan, coba anda konsulatasikan dulu ke dokter ahlinya ".
" Ya benar sekali !!! terimakasih atas saranmu ya ?aku akan mencari informasi dokter terbaik di kota ini yang bisa melakukan tes DNA itu".
" Iya tuan semoga anda berhasil ".
Kemudian sekretaris William kembali ke ruangannya, sedangkan William langsung menelfon Daniel ".
" Dan, coba kau cari informasi dokter terbaik di kota ini yang bisa melakukan tes DNA ". Kata William tanpa basa basi.
" Tes DNA Will ?"
" Ya...aku ingin mengetahui apakah anak yang dikandung Paula itu anakku atau bukan ".
" Hei idemu bagus juga !! kenapa aku tidak terpikiran itu sebelumnya ?"
" Hhhh karena otakmu itu hanya dipenuhi pikiran tentang wanita saja ".
" Hahaha jangan begitu bos, wanita itu sudah menjadi kebutuhanku ".
" Aahhh sudah cepatlah, aku butuh informasi sesegera mungkin ".
" Ok siap, aku akan mencarinya sekarang ".
" Aku tunggu informasimu ya ".
" Ok ", kemudian telfonpun ditutup.
William terlihat harap harap cemas menunggu kabar yang diberikan oleh Daniel. Dia terus mondar mandir di dalam ruangannya, sambil sesekali meliha layar handphonnya.
" Semoga saja Daniel bisa dengan cepat menemukannya, dan aku bisa langsung konsultasi dengan dokter tersebut ", gumam William.
Setengah jam kemudian Danielpun menelfon kembali. Tanpa waktu lama William langsung mengangkatnya.
" Eitsss baru saja bunyi sekali, langsung kau angkat telfon, pasti sedari tadi kau pegang haandphonenmu kan ?"
" Ahhh...sudah cepat jangan banyak bicara, bagaimana kau mendapatkannya ?"
" Ya Will aku mendapatkannya, aku telah menelfonnya tadi. Siang ini kau di tunggu olehnya ".
" Oke kau jemput aku sekarang, kita pergi bersama kesana ya ?"
Tak lama kemudian Daniel telah tiba di kantor William, lalu mereka pergi ke tempat dokter yang telah ditelfon oleh Daniel tadi ".
" Kau yakin dokter ini ahli di bidangnya ?"
" Aku yakin Will, aku tadi dapat informasi dari salah satu temanku yang juga seorang dokter. Dia ini seorang dokter senior, dan track recordnya sudah tidak diragukan lagi ".
" Semoga dia bisa menyelesaikan kasusku ya ?"
" Semoga saja Will ".
Tak lama kemudian mobil William sudah memasuki halaman rumah sakit dimana dokter itu bekerja.
Setelah beberapa kali menanyakan pada petugas, tak berapa lama mereka sudah tiba di depan ruangan dokter tersebut. William membaca nama yang tertera di pintu ruangannya. Di belakang nama dokter tersebut terdapat beberapa title yang William sendiri sedikit asing dengan singkatannya.
Kemudian William mengetuk pintu ruangan dokter tersebut, dan kemudian mereka dipersilahkan masuk. Kebetulan pasien siang sepi, sehingga tidak perlu menunggu lama untuk bertemu dokter tersebut.
" Selamat siang dok ", tegur William dan Daniel hampir berbarengan.
" Selamat siang, silahkan duduk ", jawab dokter itu.
" Apa yang bisa saya bantu ?"
" Begini dok, tadi saya yang menelfon dokter dan ingin menanyakan tentang tes DNA, teman saya inilah yang memiliki persoalan tersebut ".
" Oh iya anda, silahkan ceritakan masalahmu siapa tau saya bisa membantu ", kata dokter tersebut ramah sambil menatap ke arah William.
" Begini dok, saya sebentar lagi akan menikahi seorang wanita karena dia mengaku telah hamil oleh saya ".
" Hhhmmm lalu ?"
" Saya ragu, apakah benar anak yang dikandungnya itu darah daging saya atau bukan, apakah saya bisa mengetahuinya dok sedangkan janin itu masih dalam kandungan ?"
" Ya ya ya bisa saja, tapi sebelumnya saya ingin tau dulu berapa usia kandungan kekasih anda ?"
" Mungkin kurang lebih satu bulanan dok ".
" Hmmm sayang sekali, usia kandungan satu bulan itu belum bisa diketahui gen yang melekat pada bayi tersebut tuan. Minimal saat usia kandungan kekasih anda 10 minggu atau kurang lebih 3 bulanan, baru bisa kami ambil cairan amnion atau ketubannya, dan kemudian kami samakan dengan darah milik anda, baru diuji di laboratorium dan bisa diketahui itu anak anda atau bukan ".
" Jadi saat ini tidak bisa dilakukan ya dok ?"
" Tidak bisa tuan, anda sepertinya harus bersabar untuk menunggu beberapa minggu lagi agar bisa melakukan tes DNA ".
" Apakah tidak ada cara lain lagi dok ?"
" Tidak ada tuan itu satu satunya cara yang bisa kami lakukan untuk membantu anda ".
" Baiklah dok, terimakasih kalau begitu ".
" Iya sama sama ".
Kemudian William dan Daniel sama sama keluar dari ruangan dokter tersebut, wajah William begitu kecewa, dia yang tadinya begitu semangat tiba tiba kembali lemah.