
Dhea segera berjalan mendekati suaminya, memegang tangannya, dan menariknya untuk ikut duduk di sebelahnya.
" Sini sayang dengarkan aku!!"
" Kenapa? apakah keceriaan yang kutangkap tadi saat kau sedang bertemu Reihan bisa kau jelaskan secara gamblang, dengan bahasa yang mudah kupahami, sehingga bisa masuk di akalku?" Kata William masih dengan nada ketusnya. Dhea hanya tersenyum mendengar William berbicara panjang lebar dengan setengah emosi.
" Dengar ya sayang, suamiku yang amat kucintai Tuan William Sean Anderson. Aku sudah menyerahkan seluruh hidupku untukmu. Seluruh jiwa dan ragaku, seluruh cintaku juga. Kenapa kau masih saja tidak percaya bahwa aku benar-benar setia padamu, dan tidak pernah membagi hatiku pada pria manapun, tidak juga pada Reihan.
" Kau tidak usah berkelit. Lalu yang kulihat tadi apa?"
" Itu semua kulakukan untuk membalasmu."
" Membalasku?"
" Ya membalasmu."
" Membalas apa?"
" Membalas karena ternyata kau telah membohongiku."
" Membohongi apa?"
" Membohongiku yang baru saja kau akui tadi."
William sedikit mengernyitkan keningnya, lalu perlahan raut wajahnya berubah.
" Tentang undangan itu." Kata William setengah berteriak.
" Ya tentang undangan dan juga pengakuanmu yang mengatakan kau telah menemui Reihan di rumahnya."
" Ahhhh tidak, itu alasanmu saja. Kenapa hal sepele itu bisa kau jadikan kambing hitam atas sikapmu tadi?"
" Kau bilang sepele? kau telah membohongiku selama ini dan baru saja mengakuinya kau bilang sepele??"
" Nih sepele....ya...." Kata Dhea sambil mencubit pinggang suaminya.
" Heii...stooooop!!!" kata William sambil berkeliat lalu menangkap tangan Dhea, kemudian memegangnya erat.
" Itu kan memang tidak penting buat kita berdua. Untuk apa mengundang mantan segala?"
" Hei bukan masalah mengundang mantannya, tapi tentang kebohonganmu. Seandainya dulu kau mengatakan tidak usah mengundang dia, aku pasti akan menurut, dan tidak perlu berbohong seperti ini. Kau tau kan sekecil apapun yang namanya berbohong itu tetap tidak baik? untung tadi aku tidak mengatakan pada Reihan, bukankah kau telah menemuinya dan memberikan undangan langsung padanya. Itu sama saja aku mempermalukanmu di hadapannya. Beruntungnya aku sudah bisa membaca gelagat yang tidak beres tadi."
" Iya tapi kan itu hanya caraku agar kau tidak mengundangnya."
" Tetap saja tidak ada alasan!! Sekarang impas ya. Tadi aku memang sengaja membuatmu cemburu. Salah sendiri berani membohongiku."
" Ohhhhh...jadi tadi kau sengaja mengerjaiku ya?" Kata William.
" Iya. Kau masih marah?"
" Ya aku masih marah, dan sangat-sangat marah. Sekarang aku akan membalasmu, kubuat kau minta ampun padaku." Kata William sembari tangannya merajalela kemana-mana.
" Heiii...kenapa membalasnya seperti ini!!! Kau licik, itu namanya kau ingin bersenang-senang!!" Kata Dhea sambil terus berkeliat, namun sudah bisa diduga akhir dari pembalasan itu.
Dilihatnya wajah polos suaminya. Diamatinya mulai dari mata, hidung dan bibirnya. Disentuhnya hidung mancung favoritnya itu. Ibarat seperti seonggok daging, Dhea ingin sekali menggigit hidung itu. Dhea tersenyum sendiri. Laki-laki yang begitu dicintainya dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Namun hingga saat ini, Dhea belum menemukan kekurangan itu, karena semua kekurangan telah tertutup dengan semua kelebihannya. Yahhhh William begitu perfeck di matanya. Melimpahinya dengan segala kemewahan dunia, memenuhinya dengan semua cintanya. Rasanya inilah yang disebut sebagai surga dunia, memiliki sebuah rumah tangga yang harmonis, dan juga suami yang sangat pengertian.
Tiba-tiba Dhea begitu geretan melihat hidung milik suaminya yang seperti melambai-lambai memintanya untuk menghampirinya.
" Ihhhhhhhh......." Dengan gemas Dhea menggigit hidung mancung itu. Walaupun hanya pelan tapi cukup mengangetkan si empunya.
" Awwwww....." Teriak William sambil menggosok-gosok hidungnya.
" Sayang kau gigit hidungku ya??" Tanyanya pada Dhea.
" Hehehe...maaf ya, aku gemas melihatnya." Kata Dhea sambil cengar cengir."
" Ihhhhh...kau ini. Awas ya." Kata William sambil membalikkan tubuh Dhea.
" Heiiii....jangan lagi dong...ini sudah sore sayang." Kata Dhea.
" Ahhhhh kau yang memulainya, jadi kau harus bertanggung jawab ya."
" Ya...ya...ya..ampun sayang, maaf...aku tidak akan melakukannya lagi."
" Tapi tadi kau sudah melakukannya."
" Iya tadi khilaf, piss ya." Kata Dhea sambil menununjukan 2 jarinya. William segera bangun dari atas Dhea.
" Mandi yuk, sebentar lagi sholat ashar kan?"
" Mandi berdua ya?" Kata William.
" Tidak jadi mandi itu namanya."
" Hahaha...tidak apa-apa."
" Nooo......sudah sana mandi duluan. Kata Dhea seraya mendorong tubuh suaminya."
" Mmmmuaccchhhh..." William mencium kening Dhea sebentar, lalu segera mengambil celananya yang berserakan di lantai, kemudian masuk ke dalam toilet. Dhea hanya tersenyum saja melihat sikap suaminya itu.
" Ahhhhhhh...." Dhea menggeliatkan badannya sebentar, mengambil bajunya kemudian memakainya, lalu segera beranjak bangun. Dipatutnya wajahnya di cermin sebentar, mengambil jepit rambut, dan kemudian menarik rambutnya ke atas kemudian dijepitnya. Tiba-tiba saja handphone William bergetar. Tadi sebelum tidur, William memang sengaja mensilent handphonennya. Dilihatnya nama Daniel berkedip-kedip memanggil nama William, namun Dhea tidak mau mengangkatnya. Tak lama William sudah keluar dari dalam toilet.
" Sayang, tadi Daniel menelfon." Kata Dhea memberitahu.
" Kau angkat tidak sayang?" Tanya William sambil menggosok-gosok rambutnya yang basah menggunakan handuk.
" Tidak sayang, aku tidak mau, kau kan belum memberiku ijin untuk menyentuh barang pribadimu itu." Jawab Dhea.
" Heiiii...kenapa begitu? Aku kan suamimu, jadi kau berhak tau semua tentangku, segalanya, dan tidak ada yang harus aku rahasiakan padamu."
" Sayang, mulai hari ini kau boleh mengangkat telfon di handphoneku ya. Yang penting jika ada sesuatu yang urgent harus segera sampaikan padaku, jika aku tidak sempat mengangkatnya." Kata William sambil membelai rambut istrinya.
" Ya sudah mandi dulu sana." Kata William.
Dheapun pergi ke toilet untuk membersihkan dirinya.