
" Sayang kau sudah sholat belum tadi?" Tanya Dhea sambil menatap William yang sedari tadi duduk di sebelahnya.
" Sudah sayang, tadi aku mampir sebentar di sebuah masjid di pinggir jalan. Kau sendiri pasti belum kan? karena sedari tadi menemani adikku di bawah." Tanya William balik.
" Hehehe iya sayang, payah seharusnya aku tadi mendahulukan ibadahku padahal aku bisa ijin sebentar ke atas, tapi aku malas naik turunnya lagi sayang." Rajuk Dhea manja.
" Itulah, kalahkan rasa malasmu. Gara-gara hal itu kau jadi lalai dalam ibadahmu."
" Hehehe kalau begitu aku sholat dulu ya sayang." Kata Dhea sambil berjalan masuk mengambil air wudhu." Kemudian William ikut masuk ke kamar dan mengganti pakaiannya, kemudian membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Dhea yang telah selesai wudhu langsung mengerjakan sholat 4 rakaat.
" Sayang kau tidak makan siang dulu?" Tanya Dhea setelah selesai sholat.
" Tidak sayang, tadi saat di kantor Daniel memesankan makanan untukku. Kenapa kau lapar lagi?" Tanya William.
" Hahhh...kau pikir perutku ini terbuat dari karet? makanan tadi mungkin belum hancur semua di dalam lambungku." Jawab Dhea sambil ikut membaringkan tubuhnya di samping William.
" Sayang nanti malam makan di luar yuk? sekalian mengundang Bram makan bersama kita, aku ingin sekali bertemu dengannya, bolehkan sayang?" Tanya Dhea.
" Tentu sayang, mana mungkin aku melarang teman yang sudah mengenalkan aku pada istriku ini."
" Iya sayang, aku banyak sekali berhutang budi padanya, dia dulu selalu membantuku saat masih berada di sini. Entah bagaimana caranya aku bisa membalas kebaikannya itu." Kata Dhea.
" Sayang kebaikan orang lain terhadap kita itu tidak harus dibalas setimpal, jika kau mampu membalasnya maka balaslah, namun jika tidak kau cukup mendoakannya agar orang yang memberikan kebaikan kepadamu itu dibalas oleh Allah." Jawab William.
" Ya tapi ada pepatah mengatakan hutang uang dibalas uang, hutang budi dibawa mati, akupun pasti tidak akan mungkin melupakan begitu saja kebaikan-kebaikan Bram padaku."
" Iya itu tidak salah. Itulah mengapa gunanya ikhlas, seseorang yang ingin memberi bantuan pada orang lain hendaknya harus memiliki niat yang tulus untuk memberikan bantuan itu, jadi ketika orang yang dibantunya tidak membalas setimpal dengan apa yang telah diperbuatnya maka dia tidak akan mungkin kecewa."
" Jadi dulu saat kau memberikan fasilitasmu semua itu, kau tidak memiliki niat tulus dan ikhlas untuk membantuku ya?"
" Siapa bilang aku tidak memiliki niat tulus? aku itu sangat tulus memiliki niat untuk mendekatimu dan menjadikan kamu istriku."
" Hahhhhhh....berarti kau memiliki pamrih dibalik semua yang lakukan itu?"
" Aku membantumu memang berniat untuk mendapatkanmu sayang, jadi aku tidak salah kaan?" Bela William.
" Hehhhh dasar." Gerutu Dhea.
" Jadi aku berarti tidak perlu memikirkan caranya untuk membalas budi pada Bram ya?" Kata Dhea lagi melanjutkan pertanyaannya tadi.
" Bukannya tidak perlu, tapi tidak harus. Kau tau setangkai bunga? Dia mendapatkan cahaya dari matahari, dia mendapatkan makanan dari tanah, dia mendapatkan air dari hujan, tapi dia tidak pernah gelisah memikirkan cara membalas yang setimpal dengan pemberian yang telah dia terima dari matahari, tanah dan juga hujan. Namun apa yang dia lakukan? dia berusaha tumbuh subur menjadi tumbuhan yang benar-benar memberi manfaat pada sekitarnya, menghasilkan madu untuk kumbang, dan memberikan pesona yang indah pada bunganya. Begitupun kamu, jangan pernah bingung memikirkan tentang balas budimu pada Bram, jadikan kebaikan dia sebagai ladang ibadahnya pada Alloh. Dan satu lagi, tanpa kau melupakan dia dan tidak memutus silaturahmi dengannya, itu sudah bentuk balas budimu padanya."
" Hehhhh...ya sayang, semoga kebaikan dia padaku bisa dibalas Allah dengan seribu kebaikan dan keberkahan dalam hidupnya." Kata Dhea.
" Aamiin....!" Jawab William sambil membelai rambut istrinya.
" Oh ya, kau tidak mengabari Bram? telfonlah Bram!! Katakan nanti malam kita akan mengajaknya makan." Kata William lagi.
" Kau saja yang menelfonnya sayang, bukankah kau itu juga temannya, aku tidak mau dia nanti salah paham karena hanya aku yang mengundangnya dan bukan kau, bukankah sekarang aku sudah punya suami yang bertanggung jawab sepenuhnya padaku?"
" Ooohhh iya aku lupa, oke sayang tunggu sebentar ya." Kata William sambil beranjak bangun dan mengambil handphonennya di depan. Lalu masuk ke kamar kembali dan duduk di atas ranjang tidur, dia menggulirkan tombol mencari nama Bram.
Setelah ditemukan, William segera menelfonnya. Nada panggil terdengar di seberang sana. Tak lama kemudian Bram mengangkatnya.
" Hallo teman!! Tumben kau menelfonku? aku pikir setelah menetap di Indonesia kau mulai lupa denganku." Kata Bram panjang lebar.
" Hahaha...tidak mungkin aku lupa tempat kelahiranku dan juga orang-orang yang memiliki peranan besar dalam hidupku, seperti kau Bram."
" Ahhhh kau jangan terlalu berlebihan, aku bukanlah salah satu orang yang memiliki jasa besar padamu." Jawab Bram.
" Siapa bilang? Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua sudah ada yang mengaturnya, dan melalui perantaramulah aku bisa mengenal seorang wanita yang saat ini menjadi pendamping hidupku." Kata William sambil membelai rambut istrinya, yang saat ini tidur di atas pangkuannya sambil mendengar pembicaraan dua orang sahabat itu.
" Tapi kau jangan lupa, tanpa jembatan aku tidak mungkin sampai di seberang teman."
" Ya..ya..ya aku memang tidak pernah bisa menang jika bersilat lidah denganmu teman." Jawab Bram sambil tertawa.
" Oh ya bagaimana kabar istrimu? Apakah kau sukses membuatnya bahagia?"
" Alhamdulillah Bram, kami berdua bahagia. Bukan hanya dia tapi juga aku."
" Syukurlah, kalau begitu aku ikut senang mendengarnya. Oh ya ada apa kau menelfonku? Aku jadi lupa menanyakannya karena terlalu asyik mengobrol denganmu."
" Aku ingin mengajakmu makan nanti malam Bram." Jawab William singkat.
" Makan malam? jadi sekarang kau ada di sini?" Tanya Bram.
" Bukan cuma aku Bram, tapi juga belahan hatiku."
" Hahaha istrimu maksudmu?"
" Begitulah teman." Jawab William sambil tersenyum.
" Ahhhh kau ini membuatku iri saja, bisa aku bayangkan pasti kau tidak pernah bisa jauh dari dia sedikitpun kan di sana?"
" Hahaha...kau tau aku kan Bram? bagaimana jika aku sudah menyayangi seseorang?"
" Ya...sifat posesifmu itu memang tidak pernah berubah dari kecil, tapi ingat!! Kau harus belajar untuk tidak mencintai sesuatu berlebihan di dunia ini, karena itu bisa membuatmu patah hati lagi hahaha."
" Ya Bram, aku juga sedang berusaha belajar ilmu ikhlas, aku masih terlalu jauh dari kata sempurna sebagai manusia, memandang hidup ini begitu mudah kujalani dengan caraku tanpa perduli dengan omongan orang, padahal mungkin banyak orang yang merasa kurugikan saat itu."
" Hehhhh....hebat sekali kau ini, sedikit sekali ada orang yang mau mengakui kekurangannya dan belajar dari pengalaman pahit masa lalunya. Karena kebanyakan mereka hanya mencari-cari kesalahan orang lain dan tidak mau intropeksi terhadap kesalahan sendiri."
" Hahaha.....entah kenapa hari ini ketika aku bertemu 3 orang yang pernah tau masa laluku, mereka semua mengatakan bahwa aku hebat karena perubahanku, hehhhhh....berarti aku dulu itu sangat kacau sekali ya Bram."
" Bukan hanya kacau teman, tapi juga berantakan hahaha."
" Hehhh aku jadi malu sekali, seandainya aku bisa menatap masa laluku dari sebuah cermin, mungkin aku sudah menutup kedua mataku ini karena tidak sanggup melihatnya."
" Tenanglah teman, tidak ada gading yang tak retak dan tidak ada orang yang tanpa dosa. Seburuk-buruknya manusia, adalah masih lebih buruk mereka yang tidak pernah menganggap bahwa dia itu buruk. Dan kau sudah ada di posisi yang benar, mengakui bahwa hidupmu dulu salah, perbaikilah selama masih ada waktu."
" Lalu kau sendiri bagaimana?" Jawab William.
" Hahaha....kalau aku saat ini sebagai penasehat dulu, kau tau kan dokter? Dokter itu bisa mengobati pasiennya, tapi dia belum tentu bisa mengobati dirinya sendiri. Sama denganku aku bisa menasehatimu tapi belum tentu aku bisa menasehati diriku sendiri. Tapi minimal kan aku bisa memberi masukan positif padamu."
" Ahhh kau ini selalu saja bisa berkelit. Manusia itu memang begitu, bisanya hanya berbicara saja." Jawab William.
" Hahaha...tenang teman, akupun sedang dalam masa memperbaiki diri. Namun memang harus pelan-pelan."
" Bagus Bram, jangan pernah lelah ya?"
" Pasti itu Will, malu dengan umur hahaha."
" Ya sudah Bram, sepertinya istriku sudah mulai terlelap." Kata William sambil melihat Dhea yang sudah terpejam di atas pangkuannya.
" Aku tunggu jam 8 nanti malam ya, tempatnya nanti aku smskan padamu."
" Ok teman sampai nanti malam." Jawab Bram sambil kemudian mematikan handphonennya.
William kemudian memindahkan istrinya pelan-pelan di kasur, sembari meletakkan sebuah bantal di kepalanya. Dibelainya rambut istrinya dan memandangi wajah polos Dhea yang sedang tertidur pulas.
" Hehhhh.....kau begitu manis jika sedang tertidur sayang." Kata William sambil membelai rambut istrinya.