
" Selamat pagi Dhea, selamat pagi William." Sapa papanya saat mereka baru saja tiba di depan meja makan. Ternyata benar papanya sudah menunggu di sana bersama Daniel.
" Pagi pah, pagi Daniel." Jawab Dhea dan William hampir bersamaan.
William kemudian menarik kursi kosong yang ada di sebelah papanya, dan tak ketinggalan menarik kursi di sebelahnya untuk sang istri.
" Duduklah di sini sayang!!"
" Terimakasih sayang." Sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi yang telah disediakan oleh William.
Menu spesial telah siap semua di meja. Dan tentu saja sesuai dengan kriteria makanan yang boleh dimakan oleh Dhea dan William.
Tak lama Deasypun menyusul mereka berdua.
" Wooowww..lagi-lagi menu spesial untuk menyambut kedatangan tamu yang spesial juga." Baru saja duduk Deasy sudah nyinyir kembali.
" Pagi nak! kok sendirian? mana suamimu?" Tanya mertuanya menyambut kedatangan Deasy.
" Ohhhh suamiku masih mengganti pakaiannya di kamar pah, dia menyuruhku duluan agar papa tidak menunggu terlalu lama." Sambil melirik William dan Dhea, karena mereka berdua sudah tau apa yang sedang terjadi antara dirinya dan Mike.
" Kenapa kau tidak menungguinya saja Deasy? papa pasti lebih suka kau kemari bersama suamimu dibandingkan datang sendirian, karena takut papa menunggumu. Lihatlah kami berdua, Tadi istriku sabar menungguku, padahal dia telah selesai dari tadi. Ohhhh apakah karena suamimu sulit dibangunkan, sehingga membuatmu lama menunggu? tapi kalau tidur bersama sih wajar saja, jika yang bangun terlebih dahulu menunggu pasangannya yang belum bangun." Sindir William sambil kemudian menyeruput teh manis di gelasnya.
" Hiiihhhh...apa-apaan sih kau sayang, kenapa kau jadi ikutan nyinyir seperti dia." Bathin Dhea sambil mencubit pinggang William.
" Awwww..." William langsung berteriak dan suaranya sengaja dibesarkan. Dhea spontan melotot.
" Heiii...kenapa Will?" tanya papanya keheranan.
" Ehhhh...ini pah, istriku mencubit pinggangku. Entah akhir-akhir sepertinya dia sedikit genit." Sambil melirik Deasy, seperti ingin semakin memanas-manasinya.
" Sayanggg...apa-apaan sih? jangan buat aku malu dong di depan papa." Sedikit berbisik.
" Hahaha...tidak usah malu nak, papa justru bahagia sekali melihat kemesraan kalian ini." Saat mendengar kalimat Dhea.
" Ya....Will...aku juga bahagia jika melihat orang yang kusayang bahagia, karena aku normal, kecuali orang yang tidak normal." Sok cuek sembari mengambil setangkup roti lalu mengoleskan selai coklat di atasnya.
"Maksudmu?" William seolah tau umpan pembicaraan yang dilemparkan oleh Daniel, dan tanpa basa basi dia segera menangkapnya.
" Jika kau bahagia, akupun bahagia, jika kau bersedih akupun akan ikut merasakan kesedihan itu. Padahal aku orang lain Will, tapi sudah menganggapmu seperti saudara sendiri, apalagi kau ya Deas, yang merupakan saudara ipar mereka, kau pasti ikut bahagia juga kan melihat mereka berdua?" Pertanyaan tiba-tiba dari Daniel yang ditunjukkan pada Deasy, membuat roman muka Deasy merah padam. Dia sangat terkejut Daniel menanyakan seperti itu.
" Eh ehmmm iya..." Jawabnya gugub.
Dhea langsung menginjak kaki William. Dan yang diinjak hanya meringis sebentar, namun malah bermain mata dengan istrinya. Dan lagi-lagi Dhea hanya bisa melotot.
" Sialan...!!! kenapa sekarang jadi aku yang terpojok seperti ini? Sepertinya Daniel ini memiliki hubungan keterikatan yang kuat dengan keluarga Anderson, terlebih dengan William dan Dhea. Pantas dia ikut-ikutan memojokkanku, dasar parasit!! kau ini hanya menumpang hidup dengan kesuksesan William. Tapi bukan berarti kau bisa ikut andil untuk menjadi musuhku!!" Deasy mengumpat dalam hati.
Deasy yang terus memelihara kebencian dalam hatinya, mulai muak dengan keberadaan orang-orang yang ada di hadapannya sekarang ini. Padahal seandainya dia tidak menyebarkan virus kebencian, mereka semua adalah orang-orang yang hangat dan menyambut kehadiran dia di tengah-tengah keluarga dengan amat suka-cita.
Terlihat Mike berjalan menuju mereka. Bunyi alas kakinya yang beradu dengan lantai, terdengar nyaring di telinga.
" Nak, itu suamimu." Memberitahukan Deasy yang posisi duduknya membelakangi arah kedatangan Mike.
" Iya pah, aku mendengarnya. Aku hafal hanya dari suara alas kakinya saja."
" Hemmmm...luar biasa kau Deasy, biasanya seorang pasangan itu hafal dari bau tubuhnya, nah ini hanya dari bunyi alas kakinya saja sudah kau pahami, hemmmm....jangan-jangan dulu di tempat kerjamu kau juga dilatih menjadi seorang detektif profesional dan mempelajari semua gerakan-gerakan serta irama tubuh ya." Sambil sok santai sembari mengunyah roti yang ada di tangannya.
Deasy hanya melirik tajam pada Daniel. Lagi-lagi pria itu memukulnya telak. Dia pasti tau jika yang datang itu suaminya, karena jumlah anggota keluarga yang belum datang di meja makan ini hanyalah suaminya, namun jawaban Deasy kan hanya basa-basi, namun kenapa itu harus dimanfaatkan Daniel juga untuk menjatuhkannya.
" Hehhhh...ternyata mulutmu itu tidak jauh berbeda dari bosmu Daniel, dan kurasa justru lebih beracun." Umpat Deasy dalam hati.
" Selamat pagi semuanya...!!" Sapa Mike sambil menarik kursi kosong yang ada di samping Deasy.
" Pagi Mike." Jawab mereka serempak.
" Haiii...sayang, kau cantik sekali! pasti tidurmu sangat nyenyak malam tadi." Sapa Mike pada istrinya. Yang ditegur hanya tersenyum tipis. Sapaan Mike yang menurutnya tidak penting dan hanya menutup-nutupi kebohongannya, karena semalam mereka tidur terpisah.
" Hahaha....kau ini terlalu basa basi Mike, bukankah semalam kau tidur bersamanya? kenapa harus bertanya tidurnya nyenyak atau tidak? atau
jangan-jangan kau yang terlalu nyenyak sehingga tidak tau istrimu tidur atau tidak hahaha." Daniel melihat ekspresi wajah Mike yang menyapa Deasy dengan setengah hati, namun berusaha dibuat seramah mungkin.
" Benar begitu Deasy? semalam kau tidur bersamanya kan?"
" Aduuuhhhh...apakah di rumah ini banyak mata-mata? dan apakah Daniel juga tau kami tidur terpisah sehingga bertanya seperti itu." Padahal hanya William yang tau hal itu, namun Daniel memang seorang yang sedikit cerdas, sehingga bisa membaca ketidakberesan antara Mike dan Deasy.
Lagi-lagi William terbahak sendiri sambil ditahan.
" Orang ini, kalau tidak suka dengan seseorang, bisa saja caranya untuk terus menyudutkannya. Hehhhh....dia pasti sebal juga dengan sikap Deasy terhadap istriku." Kata William dalam hati sambil tersenyum sendiri. Daniel sahabatnya memang selalu memiliki senjata handal untuk menjatuhkan musuhnya.
" Sudah-sudah bercandanya, ayo kita makan!!" ajak papa William yang menganggap mereka bercanda, padahal semuanya sedang saling menjatuhkan.