
William terus memacu kendaraannya menuju rumah Mike. Mike sendiri terus mengikuti William.
Tak lama kemudian Williampun telah tiba di rumah Mike. William mencari cari sosok adiknya itu hingga di ruang belakang namun tidak diketemukannya, yang ada hanyalah asisten rumah tangga di tempat Mike, William keluar lagi. Saat sudah di ruang tengah Mikepun muncul dari arah depan.
" Kau darimana Mike, kucari dari tadi tidak ada ?"
" Oh aku baru saja keluar sebentar, ada sesuatu yang ingin kubeli. Bagaimana Dhea ? dia tidak melawanmu saat tau bukan aku yang menjemputnya ?" Tanya Mike pura pura tidak tau.
" Awalnya dia marah besar Mike, tapi seperti biasa aku harus selalu memaksanya sebentar agar mau menurut padaku ".
Kata William, sambil melemparkan tubuhnya di atas sofa empuk yang ada di dalam rumah Mike.
" Kau ini selalu saja begitu, menakutinya terus menerus. Kau apa tidak kasihan padanya Will ?"
" Aku itu bukan kamu Mike, aku tidak bisa berbasa basi untuk mendekati seorang wanita, dan itu juga yang kulakukan pada Dhea. Aku ingin jadi diri sendiri, dan aku memang seperti ini tidak biasa berpura pura. Aku hanya ingin dia tau karakterku yang seungguhnya ".
" Ya...Tapi kau membuat hidupnya semakin tersiksa ".
William mendongakkan kepalanya, matanya terpejam, dan manarik nafas panjang seperti ingin melepaskan penat di hatinya.
" Mike apakah kau akan terus mendekatinya ?" tanya William masih terus dengan mata terpejam.
" Ya Will, aku akan terus berusaha ".
" Walaupun aku akan menghalanginya ?"
" Ya, walaupun kau akan menghslsnginya ".
" Hhhhhhh aku tidak akan pernah melepaskan gadis itu Mike, sepertinya aku tidak akan bisa melupakannya ".
" Walaupun kau akan menikah ?"
" Yah walaupun aku akan menikah !!" Kata William sambil membuka matanya dan kemudian menatap Mike.
" Kau egois Will, kenapa kau tidak membiarkan dia mencari kebahagiaan bersama orang lain ?"
" Orang lain itu maksudnya kamu ? Tidak Mike walaupun kau adikku, aku tetap tidak akan melepaskannya ".
" Tapi aku juga tetap tidak akan mundur Will ".
" Terserah kau, itu berarti kau akan berhadapan denganku ", kata William sembari pergi meninggalkan rumah Mike dan kembali ke rumahnya sendiri.
Sementara itu Daniel di rumahnya sedang memutar otak untuk mencari cara bagaimana bisa menggagalkan pernikahan antara Paula dan William.
" Besok pagi jam 10an William harus menikah dengan Paula, tapi sampai detik inipun aku belum mempunyai cara untuk mencegah pernikahan itu terjadi. Hehhhhh bodohnya aku, biasanya banyak stok ide gila di otakku ini, terlebih jika menyangkut masalah wanita. Tapi mengapa otakku sekarang terasa buntu ?"
William terussaja mondar mandir di dalam kamarnya.
" Haaaaaaa.....aku tau !!!" Teriak Daniel tiba tiba.
" Aaahhh kenapa itu tidak terpikirkan olehku ? bodoh bodoh bodoh !!" Teriak Daniel sambil menepuk dahinya berkali kali.
" Aku harus menelfon William sekarang juga, karena info itu kubutuhkan sekarang !!" Kata Daniel antusias.
" Hallo Dan ", jawab William saat mengangkat telfon dari Daniel.
" Hallo Will, bagaimana kau sudah menemukan ide yang bagus ?"
" Tenang saja Will, semoga kali ini berhasil ".
" Apa Dan idemu ? coba kau ceritakan padaku ".
" Tidak Will, aku tidak akan menceritakan dahulu padamu, jika ini benar benar berhasil, baru aku akan memberi kabar padamu. Tapi ingat kau harus memberiku bonus besar ya ?"
" Hahaha tenang saja, jika idemu berhasil dan imbalannya hanya sejumlah uang, kau tinggal tulis nominalnya, dan akan aku akan transfer di rekeneningmu. Tapi jika tidak berhasil....???"
" Jika tidak berhasil apa Will ?"
" Jika tidak berhasil...pangkatmu akan aku turunkan jadi OB Dan ".
" Sialan kau Will...tega sekali denganku ".
" Lalu selanjutnya bagaimana ? apa yang harus aku lakukan ?"
" Kau tidak perlu melakukan apa apa Will ".
" Lalu ?"
" Aku hanya perlu beberapa info darimu, dan semoga kau mengetahui info yang kubutuhkan ".
" Info apa itu Dan ?"
Kemudian Daniel menanyakan sesuatu kepada William, dan Williampun menjawabnya dengan sangat lengkap.
" Ok Wiil aku rasa cukup jelas ".
" Bagaimana Dan, kau bisa mencarinya ?"
" Hahaha jika hanya mencari alamat itu perkara gampang Will, serahkan saja padaku. Hanya slamat hati Dhea saja yang tak bisa kucarikan untukmu hahaha ".
" Sialan kau Dan.. Ok semoga berhasil, dan aku bisa bernafas dengan lega lagi ".
" Ya doakan saja Will, setelah itu kamu tinggal pergi ke atm, dan uang di rekeningmu akan berpindah padaku hahaha ".
" Hahhh kau ini, jangan khawatirkan itu, aku akan pegang janjiku ", jawab William girang.
Ada sedikit harapan di wajahnya, dan semoga kabar yang dibawa Daniel besok pagi bisa membuat semuanya jelas.
William terus mondar mandir di dalam kamarnya. Matanya sama sekali tidak bisa terpejam. Esok hari adalah tanggal pernikahannya, dan berarti mulai besok dia akan hidup berdampingan dengan Paula, wanita yang sama sekali tidak pernah dicintainya dan justru sangat dibencinya. William keluar kamar dan menuju balkon dimana dia biasa menyendiri dan menikmati suasana malam di depan kamarnya.
William menyulut sebuah rokok yang tadi dibelinya sembari pulang dari rumah Mike. Dihisapnya rokok itu dalam dalam dan dilepaskannya perlahan. Asap mengepul dari sela sela bibirnya. Namun baru saja satu hisapan, tiba tiba dadanya sesak dan mulai terbatuk batuk.
" Hhhh...sialan...dari dulu aku tidak pernah bisa merasakan nikmatnya rokok ", gerutu William, sambil membuang puntung rokok itu jauh jauh dari tangannya
William adalah salah satu tipe pria yang menyukai segala jenis minuman keras, menyukai party, menyukai wanita sexy, tapi sangat anti dengan yang namanya rokok. Entah kenapa tubuhnya tidak pernah mau bersahabat dengan benda satu itu. Padahal saat sedang berada di bar bersama teman temannya, dia begitu iri melihat mereka asyik bermain main dengan asap yang sepertinya begitu nikmat itu.
Akhirnya William hanya bisa duduk termenung sendirian, sambil ditemani desiran angin malam yang mulai meresap ke dalam lapisan kulit arinya.
Tiba tiba handphonennya berdering. Dia segera masuk ke kamar, dan mengambilnya di atas kasur. Dilihatnya Paula yang menelfonnya.
" Kenapa lagi dia ? malam malam begini menelfonku ? sepertinya dia tidak pernah berhenti mengganggu ketenanganku ", gerutu William.
" Hallo ", kata William singkat.
" Hallo sayangku, bagaimana suasana hatimu malam ini ? kau merasa berdebar tidak menghadapi pernikahan kita esok hari ?" Tanya Paula menggoda.
" Kau jangan basa basi menanyakan suasana hatiku. Apa perlumu menelfonku ?"
" Hei kenapa kau seperti tidak senang menerima telfonku, apakah aku mengganggumu ?"
" Ya bahkan sangat menggangguku ". Jawab William ketus.
" Kenapa rupanya ? bukankah besok kau akan melepas masa lajangmu ? seharusnya kau berbahagia malam ini, sepertiku. Aku malam ini sedang bersenang senang bersama teman temanku di dalam apartemen ini".
" Bahagia ? menikah denganmu ? Hahaha bahkan aku baru saja berpikir bahwa sebentar lagi pasti hidupku akan dipenuhi dengan penderitaan, karena mendapatkan istri sepertimu ".
" Ohhh William jangan berkata seperti itu, harusnya kau bersyukur bisa mendapatkan wanita cantik sepertiku ".
" Hhhhhh cantik ? kamu tau ? seorang buruk rupapun jika aku mau, bisa saja merubahnya menjadi 10 kali lipat lebih cantik darimu, jadi kau jangan bangga dengan yang kau miliki sekarang. Karena bisa jadi 30 tahun atau 40 tahun nanti, wajahmu itu aku rasa akan berubah menjadi keriput dan jelek ".
" Tanang saja sayang...karena aku tidak akan membiarkan itu terjadi, akan kulakukan apa saja untuk tetap mepertahankan kecantikanku ini dan tetap bisa membuat membuatmu tergila gila padaku honey ".
" Tetap saja Paula, usiamu tidak akan mungkin bisa berbohong, kau nanti tetap akan dipanggil nenek hahaha ".
" Its ok....nenek cantik dari seorang kakek tampan seperti kau William hahaha ", kata Paula tak kalah ketus membalas ejekan William terhadapnya.
Kemudian Paulapun menutup telfonnya.
" Sialan wanita itu bener benar membuatku meradang. Bisa bisanya dulu aku mengejar ngejarnya. Sungguh memalukan !!" Gerutu William.