
Di suatu Malam William berkunjung ke rumah orang tuanya. Papa William tinggal sendirian di rumahnya yang amat besar itu, dan hanya ditemani oleh beberapa orang asisten rumah tangganya. Sedangkan Ibunya sudah lama meninggal saat usianya masih remaja.
William memarkirkan mobilnya di depan rumah mewah bergaya modern itu. Seorang asisten rumah tangga mempersilahkan masuk saat tau William yang datang.
" Silahkan masuk tuan William, papa anda ada di ruangan santai."
" Terimakasih John," jawab William tanpa basi-basi.
Orang yang disebut John hanya mengangguk memberi hormat saat William melewatinya, kemudian menutup pintu berukuran besar itu kembali.
William terus masuk ke dalam. Suara detak sepatunya seolah memecahkan suasana sunyi di rumah yang cukup besar itu.
Saat sudah mendekati ruangan santai, terdengar samar-samar suara papanya sedang mengobrol dengan seseorang. William terus melangkahkan kakinya.
Benar saja, ternyata ada Mike di situ bersama istrinya. Mike adalah adik William satu-satunya. Mereka hanya terpaut usia 1tahun saja. Mike tidak jauh berbeda dengan William, wajahnya juga tampan, hanya saja Mike pembawaannya lebih santai dan tidak play boy seperti William. Mike sudah memiliki istri yang sangat cantik bernama Jessy.
" Hai Will...tumben malam minggu begini kau kemari? apakah wanita cantik di kota ini sudah habis semua kau kencani, sehingga sekarang ada di sini?" tanya ayahnya.
William hanya tersenyum, dan segera memeluk papanya, juga Mike.
" Sudah lamakah kau di sini Mike?"
" Tidak Will, mungkin baru setengah jam yang lalu."
" Ohhh," jawab William singkat.
" Hei...kenapa kau tidak menyapa adik iparmu Jessy? bukankah kau sudah tidak memiliki masalah dengannya Will? karena papa dengar kau semakin liar saja, tidak ada satupun wanita cantik yang luput dari pelukanmu hahaha," William tidak mendengarkan sedikitpun perkataan papanya, jangankan untuk menegur Jessy, melirikpun dia enggan. William menganggap bahwa wanita itu tidak pernah ada.
Jessy hanya tersenyum saja menanggapi papa mertuanya, walaupun sebenarnya wanita itu merasa rindu dengan pelukan tubuh kekar William, dan matanya tak bisa berpaling dari dada bidangnya itu, walaupun sudah ada Mike di sampingnya.
William menyeruput kopi yang baru saja disediakan oleh asisten rumah tangga.
" Bagaimana bisnismu Will? tanya Mike.
" Semuanya lancar," jawab William.
" Aku sedang membangun perusahaan baru untuk mengembangkan bisnisku."
" Kau itu sungguh gila kerja Will," kata Mike lagi.
" Ya, selagi masih ada kesempatan, aku tidak mau di usia tuaku nanti jatuh miskin, karena wanita itu hanya perduli dengan kekayaan kita, jika usia kita sudah tua tapi masih kaya, aku jamin ada ribuan wanita yang mengantri di depan kita," kata William sambil melirik Jessy.
Jessy sedikit sebal karena merasa William sedang menyindirnya.
" Hahaha kau benar Will, seperti papa sekarang, lihatlah di usia papa yang sudah mencapai 60 tahun, tapi masih banyak wanita yang mau ayah ajak kencan."
Mike hanya tersenyum melihat papanya. Mike tidak seide dengan mereka berdua. Dia memang tidak sepandai William dalam dunia percintaan. Mike tipe laki-laki yang hanya setia dengan 1 orang wanita saja, bahkan dia tidak pernah tau bahwa Jessy adalah salah satu wanita yang sudah sangat berpengalaman.
" Lalu kapan kau akan menikah Will? lihat adikmu, dia sudah hampir 3 tahun ini berumah tangga, kapan kau akan segera menyusul? apa kau masih belum puas bergonta ganti wanita terus?" tanya papanya.
" Tenang saja pah, aku akan mencarikan menantu yang baik buat papa, menantu yang tulus mencintaiku, bukan seorang menantu yang menikah karena hanya dilandasi sebuah harta," kata William tiba-tiba sambil menatap ke arah Jessy.
Rasanya kesabaran Jessy sudah habis.
" Will kenapa kau terus menyindirku? apakah kau masih menyimpan dendam karena kutinggalkan dulu?" kata Jessy sambil emosi.
" Hei...kenapa kau terlalu percaya diri? aku bahkan sudah lupa dengan rasamu Jes, aku tidak dendam denganmu, hanya saja sepertinya kau ingin mempermainkan adikku juga."
" Stop Will!! kamu tidak berhak menghinanya, dia sekarang adalah istriku!!"
" Ya aku tau dia istrimu, tetapi seharusnya kau sadar, dia dulu pernah menghianatiku setelah puas menghabiskan uangku, apa kau tidak takut suatu hari nanti dia juga akan meninggalkanmu demi laki-laki lain?"
" Stop Will!! jaga mulutmu, kau sudah sangat keterlaluan menghinaku!!" teriak Jessi.
" Hahaha kau memang wanita hina Jes, coba aku tebak ya? sudah 3 tahun kalian menikah, tapi aku belum lihat tanda-tanda kehamilan padamu, apakah kau memang sengaja memperdaya adikku untuk menunda kehamilanmu? ooohhh ya, aku tau jangan-jangan itu memang taktikmu agar setelah kau meninggalkan Mike, tidak ada yang membebanimu, benar begitu Jessy?"
" Stop stop hentikan!!! apa apan kalian ini? William tidak seharusnya kau menghina istri adikmu sendiri seperti itu!!" kata papa William.
" Ya pah, tidak seharusnya aku menghina istri adikku, tapi jika istrinya itu bukan wanita ini!!"
Kata William.
" Aku permisi!! kata William tiba-tiba, sambil meninggalkan mereka.
" Will tunggu!! masih ada yang ingin ayah bicarakan denganmu!!" teriak papanya.
" Lain waktu saja pah, jika tidak ada perempuan itu di sini!!" jawab William sambil terus berjalan meninggalkan ruangan itu.
William merasa kesal sekali harus bertemu Jessi di sini. Dulu dia dan Jessi menjalin hubungan cukup lama sekitar 5 tahun. Tapi kemudian Jessi meninggalkannya tanpa alasan. Yang William tau kemudian dia melihat Jessi sudah menggandeng laki-laki lain yang usianya jauh di atas dia, hingga kemudian William paham, ternyata pria itu amat royal dengan Jessi. Itu yang menyebabkan William sekarang menjadi berubah. Dia jadi suka bergonta-ganti wanita. Tidak ada satupun wanita yang lepas dari genggamannya jika dia sudah menginginkannya, dia tidak lagi percaya dengan yang namanya cinta.
Yang lebih mengejutkan lagi ternyata Mike justru menikahi Jessi. Mike bertemu Jessi di sebuah restoran. Saat itu Jessi menemani teman prianya makan, namun saat sedang ke toilet Jessi tak sengaja menabrak Mike, sehingga kemudian mereka berkenalan. Jessi baru tau bahwa Mike adalah seorang pengusaha kaya raya. Tapi tidak pernah mengira bahwa Mike adalah adik kandung dari mantan kekasih yang pernah dikhianatinya.
" Dasar wanita sialan!! kenapa aku tadi bertemu dengannya di sana!!" kata William sambil berteriak sendiri di dalam mobilnya.
Dia terus mempercepat laju mobilnya. Hatinya benar-benar kesal saat itu. Kemudian dia segera menghentikan mobilnya di sebuah bar. Dia masuk ke dalam bar tersebut, dan memesan beberapa minuman. Dia menenggaknya tanpa pikir panjang.
Entah sudah habis berapa botol, sehingga tubuhnya jadi sempoyongan. William berjalan keluar, tubuhnya serasa limbung. Dia sudah lupa dengan mobil yang dibawanya tadi.
Setelah keluar dari toko dia segera berjalan. Diliriknya sudah pukul 11.30. Sedangkan bus terakhir adalah pukul 11. Itu artinya Dhea harus mencari taksi.
Kemudian Dhea berdiri di pinggir jalan. Tak lama kemudian taksi yang ditunggunyapun datang, Dhea segera naik. Jalur yang dilewati taksi berbeda dengan bus yang biasa dinaikinya, karena jika naik bus pasti akan jalan memutar lebih dulu melewati halte-halte untuk menaik-turunkan penumpang.
Dhea memperhatikan kanan kiri jalan. Tiba-tiba dia melihat sesosok pria yang sedang berjalan sempoyongan di trotoar. Tampangnya acak-acakan. Dhea terus memperhatikan pria itu, hingga kepalanya memutar.
" Stop Sir!! tolong mundurkan mobilmu!!" teriak Dhea tiba-tiba.
" Baik nona."
Pengemudi itu memundurkan mobilnya. Dhea semakin jelas dengan wajah pria itu.
" William? bukankah dia William? kenapa tampangnya acak-acakkan? apakah dia mabuk?" bisik Dhea.
Tubuh William ambruk di trotoar, sepertinya dia sudah tidak kuat untuk berjalan lagi. Dhea langsung keluar dari taksi. Setelah membayar sejumlah uang, kemudian supir taksi itupun pergi.
Entah kenapa tiba-tiba dia merasa kasihan dengan pria itu, padahal sebelumnya dia sangat membecinya, tapi tidak tega membiarkan dia terkapar sendirian di trotoar dalam keadaan seperti itu. Dhea segera menghampiri William.
" Heiii Will bangun!! ayo bangun Will?"
Panggil Dhea sambil menggerak-gerakkan tubuh William. William hanya sedikit merespon dan mengucapkan kalimat yang tidak jelas.
" Ahhh apa yang harus kulakukan untuk membantu laki-laki bodoh ini?" tanya Dhea dalam hati.
" Bram? ya aku harus menelfon Bram."
Kemudian Dhea mengambil hpnya dan menelfon Bram. Ada nada sambungnya tapi tidak diangkat-angkat. Setelah beberapa kali menelfon, Bram baru mengangkatnya.
" Hallo Bram?"
" Ya...Ada apa malam-malam menelfon?"
Tiba-tiba ada suara wanita yang sepertinya sedang mendesah di seberang sana, amat jelas di telinga Dhea. Dhea merasa ingin muntah mendengarnya, dan menjauhkan telfon itu dari telinganya.
" Hallo? hallo? hei kamu masih di sana kan?"
" Iya iya Bram kamu sedang bersama Alice ya?"
" Iya kenapa?"
" Hmmm pantas saja ada suara menjijikkan tadi," bathin Dhea, dan Bram tidak berani menyebut namanya sedari tadi.
" Ada apa ya?"
" Ini aku sedang bersama William di pinggir jalan, dia sepertinya mabuk berat, tolonglah dia, aku tidak tau harus menghubungi siapa."
" Ohh baiklah aku segera kesana, jawab Bram."
Kemudian Dhea segera menutup telfonnya.
" Sayang kita hentikan dulu permainan kita ya, ada yang butuh bantuanku," kata Bram sambil mengecup bibir Alice.
" Bramm...masak kau tega membiarkanku sendiri dengan keadaan seperti ini?"
" Pleas sayang, aku benar-benar harus kesana ok."
Bram segera menyingkirkan tubuh Alice yang berada di atasnya, dan segera mengambil bajunya yang berserakan di lantai, kemudian meraih kontak mobilnya. Sedangkan Alice menggerutu tidak jelas, karena jengkel ditinggalkan kekasihnya begitu saja.
Sementara itu Dhea sedang menunggui William yang sedari tadi berbicara tidak karuan, seperti orang sedang mengomel
" Hhhhh kasihan...seharusnya kamu itu tidur saja di rumah, bukan mabuk seperti ini, menyiksa diri sendiri saja, kamu sekarang lebih mirip gelandangan daripada seorang konglomerat." Kata Dhea.
Tak lama Brampun telah tiba.
" Hei Dhe, bagaimana keadaannya?"
" Lihatlah sendiri," kata Dhea sambil menunjuk William yang sedang terkapar di sampingnya.
" Ayo kita bawa dia ke mobil!"
" Ahhh kamu saja Bram, aku tak mau menyentuh dia," jawab Dhea sambil menjauh dari tubuh William.
" Baiklah," kata Bram. Kemudian menarik tubuh besar William dan memapahnya ke dalam mobil.
" Aku antar kamu pulang dulu ya Dhe?"
" Iya Bram."
Kemudian Bram segera menjalankan mobilnya menuju tempat tinggal Dhea.
" Terimakasih Bram, kamu urus dia, bila perlu siram dengan air dingin biar cepat sadar," kata Dhea sambil tersenyum.
" Ok Dhe siap, aku permisi dulu ya."
Dhea mengangguk sambil melambaikan tangannya.