
Teriakan Daniel mengejutkan seluruh orang yang ada di dalam gereja tersebut, tidak terkecuali juga Willliam. William saat itu benar benar merasa Daniel seperti sosok dewa penyelamat yang datang menolongnya di saat yang tepat. Ada sedikit harapan dalam hatinya, semoga kedatangannya kali membawa kabar baik untuknya. Semua mata menatap Daniel penuh rasa penasaran dengan apa yang baru saja dilakukan olehnya, sehingga berani menghentikan upacara pernikahan yang baru saja akan di laksanakan.
Paula menatapnya penuh kebencian, karena kedatangannya yang tiba tiba itu mengacaukan semuanya, rasa dendam menyelimuti hatinya. Dia bahkan menyumpah serapah Daniel akan segera mengambil tindakan memecatnya setelah acara ini selesai dan dia resmi menjadi istri William.
" Dasar orang tak tau diri, sebentar lagi aku akan meminta William untuk melemparkan kau keluar dari perusahaannya karena sudah berani bertindak kurang ajar seperti ini ", kata Paula dalam hati.
Matanya menatap geram terhadap sosok tubuh Daniel. Perlahan lahan Daniel berjalan pelan menuju depan, dimana Paula dan William terlihat sedang berdiri di hadapan seorang pendeta. Semua mulut yang hadir terkunci, seolah segera ingin tau apa yang akan dilakukan Daniel.
Hentakan sepatu Daniel memenahkan kesunyian di dalam gereja itu. Dia bak seorang model yang sedang memperagakan bajunya, sehingga tidak ada satupun tatapan yang lepas dari sosoknya. Daniel terus melenggang berjalan di tengah tengah gereja, dimana di kiri kanannya orang orang berdiri mengikuti setiap senti langkahnya.
Daniel terus berjalan, kemudian mendekati William, sembari menyerahkan sebuah benda yang dipegangnya sedari tadi sambil membisikkan sesuatu di telinga William. William mengangguk angguk tanda mengerti. Perlahan Daniel berjalan kembali menuju keluarga William. Dia berdiri diantara Mike dan papanya.
" Kau gila ya ? apa yang baru saja kau lakukan ? kedatanganmu yang tiba tiba tadi hampir mengacaukan acara ini ", bisik Mike di telinga Daniel.
" Aku hanya ingin memberikan shock therapy saja. Jangan terlalu seriuslah dengan acara seperti ini, santai saja. Kita lihat apakah William nanti akan lancar mengucapkan janji nikah itu atau tidak ?" Jawab Daniel.
" Kau tidak berbuat macam macam untuk menggagalkan acara ini kan ?"
" Kalaupun memang gagal, bukan aku penyebab utamanya. Mungkin Tuhan ingin menunjukkan kebenarannya melalui aku Mike ",
" Kau jangan main main ya ? Kau ingin membantu William kan untuk menggagalkan pernikahan ini ?"
" Bukan karena dia saja aku melakukannya, tapi lebih kepada membela harga diriku sendiri pada wanita itu Mike ".
" Kau mempunyai masalah pribadi dengannya ?"
" Hhhhh kau belum tau wanita seperti apa calon kakak iparmu itu sebenarnya ".
" Seperti apapun itu, William tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya Dan ".
" Ya dia akan bertanggung jawab jika anak yang dikandungnya itu benar benar darah daging William ".
" Maksudmu ?"
" Kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi ", jawab Daniel sambil tersenyum.
" Hhhh kau pasti sudah berbuat licik ", gumam Mike.
" Hai kau jangan menuduhku sembarangan Mike, aku sudah memiliki bukti yang cukup kuat. Hhmm sepertinya kau tidak suka jika kakakmu gagal menikah ? Ada apa rupanya ?" Selidik Daniel penuh curiga.
" Tidak...aku tidak ada kepentingan apapun dengan pernikahannya ", jawab Mike mengelak.
" Hanya kau sendiri yang tau teman apa yang sekarang ada di dalam pikiranmu ", jawab Daniel.
Sementara itu kedua orang tua Paula terlihat sedang kasak kusuk mencoba mencari tau siapa sebenarnya laki laki yang baru datang tadi, dan sempat membuat acara pernikahan anaknya tertunda. Dia berbisik pada salah seorang kerabat di sampingnya.
" Siapa laki laki itu ? Kenapa tiba tiba dia datang dan seenaknya saja menghentikan acara ini ?"
" Saya juga tidak tau George, mungkin dia salah satu kerabat calon menantumu atau bisa juga temannya ".
" Ya, sikapmya barusan sangat sangat tidak sopan. Dan sepertinya dia baru saja memberikan sesuatu pada William. Lihat apa yang dipegang William di tangannya itu ?"
" Ya benar sungguh aneh, sepenting apa benda itu sehingga harus dibawanya saat dia berdiri di depan situ ?"
" Tenang saja George, semoga pernikahan anakmu lancar dan tidak ada apa apa yang terjadi hingga acara selesai nanti ".
" Ya, akupun berharap demikian. Aku tidak ingin laki laki itu mempermalukan Paulabdi sini, dan melepaskan tanggung jawabnya begitu saja ".
" Yah...berdoa sajalah kau semoga itu tidak benar ".
Semua mulut para hadirin yang ada di dalam gereja itu seolah terkunci, hanya deru nafas yang terdengar dari masing masing telinga mereka. Semua menanti dengan berdebar debar upacara yang sebentar lagi akan dimulai kembali.
Sementara itu Pendeta mengulangi upacara yang tadi sempat tertunda karena kedatangan Daniel.
" Baiklah saudara semua, bisa saya lanjutkan upacara pernikahan ini ?"
Terdengar jawaban serempak dari para hadirin yang ada di gereja tersebut.
" Bagaimana Tuan William anda sudah siap untuk mengucapkan janji nikah ?"
" Iya saya siap ", jawab William yakin dan mantap, tidak seperti pertama tadi sebelum Daniel datang ".
" Apakah benda yang kau pegang itu bisa kau letakkan terlebih dahulu ? sepertinya itu bukan bagian properti untuk acara pernikahan anda ?"
" Maaf saya akan terus memegangnya, karena benda ini harapan saya satu satunya untuk mendapatkan keadilan ".
" Maksud anda ?"
" Nanti semua akan tau sendiri, silahkan anda mulai saja upacara pernikahannya ". Jawab William singkat.
Entah apa yang sedang dipikirkannya, sehingga tidak langsung saja membongkar semuanya di hadapan para hadirin yang berada di situ.
Paula bertanya tanya dalam hati tentang rencana apa yang akan dibuat laki laki calon suaminya ini, dan dia berharap semoga saja Daniel tidak membuat masalah dengannya. Paula sangat membenci Daniel, karena dia seolah olah ikut campur urusan dia dan William.
" Hhhh Daniel awas kau jika membuat masalah denganku, aku tidak membiarkanmu menghirup udara dengan nyaman, kau belum tau siapa aku sebenarnya. Aku bisa dengan cara apa saja untuk menyingkirkanmu ", kata Paula dalam hati.
Akhirnya pendeta tidak bisa berbuat apa apa, dia tidak bisa memaksa William meletakkan benda yang dipegang olehnya.
Kemudian terdengar lagi suaranya yang lantang memecah kesunyian di dalam tuangan gereja yang tidak terlalu besar itu.
" Tuan William, apakah anda melaksanakan pernikahan ini dengan ikhlas hati ?" Mengulangi pertanyaannya yang sama saat sebelum Daniel datang tadi.
" Ya saya bersedia ", jawab William lantang dan penuh keyakinan. Dia seperti baru saja mendapatkan sebuah tenaga baru yang tiba tiba membuatnya begitu bersemangat.
" Mempelai berdua yang berbahagia, setelah mengadakan penyelidikan seperlunya, dan dikuatkan oleh pernyataan para saksi, saya selaku pejabat Gereja meluluskan permintaan saudara. Akan tetapi sebelum perkawinan saudara diresmikan, saya minta saudara menyatakan kesungguhan hati saudara di hadapan umum. Apakah anda berdua bersedia ?".
" Kami bersedia ", jawab William dan Paula bersemangat ".
Kemudian Paula dan William kembali berhadapan. Pengucapan janji yang sebentar akan dilakukan William tinggal beberapa menit lagi. Semua mata memandang mereka dan menunggu dengan jantung berdebar.
Mata William menatap Paula dengan tajam, ada senyum tersungging di bibirnya seolah menunggu moment yang amat dinantikannya ini.
" Hhhh Paula kau tidak akan mungkin bisa tertawa gembira lagi setelah ini, kau akan segera kulempar jauh dalam hidupku ", kata William dalam hati.
" Kenapa William tersenyum ? namun senyuman itu bukan senyuman gembira, namun seperti senyuman licik. Apa yang dia rencanakan sebenarnya. Aku janji benar benar akan menghancurkan jika membatalkan pernikahan ini, dan aku tidak akan main main dengan ancamanku ", kata Paula dalam hati.