
Tiga hari setelah kabar berita yang diterima oleh Dhea, akhirnya mereka berdua pulang ke London. Kedatangan William dan Dhea disambut sukacita oleh papanya, begitu juga para pegawai yang berada di rumah papanya itu. Sambutan hangat dari mereka semua, membuat Dhea dan William merasa selalu rindu untuk kembali ke kota itu.
Setelah satu hari menginap di rumah sang mertua, Dhea, William dan juga papanya bersama-sama pergi ke rumah Mike.
" Pah, aku sudah tidak sabar ingin memeluk bayi mereka, siapa pah nama anak Deasy?" Tanya Deasy saat berada di dalam kendaraan.
" Devian, sayang." Jawab William menggantikan papanya.
" Ohhh...iya aku lupa hihihi...!! maklum aku hanya memikirkan wajahnya, sampai lupa mengingat namanya." Papa William hanya tersenyum melihat antusiasme menantunya itu. Walaupun dalam hati kecilnya sangat sedih, membayangkan reaksi mereka berdua saat tau bagaimana keadaan keponakan mereka itu.
Selama perjalanan menuju rumah Deasy, Dhea tidak henti-hentinya bercerita pada sang mertua, bagaimana tidak sabarnya dia menunggu kelahiran anak adik iparnya itu, bahkan jauh-jauh hari dia mengatakan pada William, ingin sekali datang ke London jika Deasy sudah melahirkan.
" Ya ampun sayang, bahagia sekali kau menyambut keponakan barumu, padahal sudah jelas sekali Deasy amat membencimu, dan aku yakin dia pasti akan menggunakan bayi itu untuk terus menyudutkanmu. Tapi hatimu begitu mulia, kau bahkan tidak berpikiran ingin membalas perbuatan Deasy sedikitpun padamu. Yah semoga saja kehadiran anak itu bisa mengakrabkan hubungan kalian berdua, dan semoga saja setelah ini kita akan memiliki bayi sendiri." Kata William dalam hati, sambil matanya tidak beralih pada sosok istrinya yang duduk di sebelahnya.
Mike yang sudah tau akan kedatangan William, segera menginterupsi pegawainya untuk mempersiapkan semua, demi menyambut kedatangan saudaranya itu. Segala menu makanan telah tersedia di meja. Deasy baru mengetahui kesibukan di rumahnya, saat iseng-iseng dia masuk ke dalam dapurnya. Ruangan yang hampir tidak pernah dimasukinya. Namun entah mengapa, pagi itu dia ingin sekali masuk ke ruangan tersebut. Dilihatnya menu yang berbeda dari yang biasa dia makan, sedang diolah oleh sang asisten rumah tangga. Perasaannya sudah tidak enak, hanya ada satu orang spesial yang menyantap hidangan tersebut, karena semua itupun dia lihat di meja makan mertuanya, saat kehadiran orang tersebut. Siapa lagi kalau bukan Dhea. Dan tanpa harus bertanya pada para pegawainya yang sedang sibuk, dia langsung memutar tubuhnya 180°, dan berjalan cepat untuk menemui Mike.
" Luar biasa sekali kau menyambut kedatangan Dhea sayang!!!"
" Kau tau darimana jika mereka berdua akan datang?"
" Memang ada ya satu lagi wanita keturunan Indonesia di keluarga Anderson, yang menyantap hidangan spesial yang sedang dikerjakan asisten kita di dapur?"
" Mereka ingin melihat Devian." Jawab Mike singkat, sambil matanya tetap fokus pada handphone yang berada di tangannya.
" Siapa yang mengijinkan mereka melihat Devian?"
" Aku!! Aku kan papanya, dan aku mempersilahkan siapa saja orang yang ingin melihat Devian."
" Tapi kau tidak memberitahuku!!!"
" Kau??? aku harus memberitahumu??? kau siapa??"
" Aku adalah ibu Devian!! Dan aku punya hak untuk melarang orang mengunjungi anakku!!!" Jawab Deasy sedikit emosi.
" Hahaha....hakmu sebagai ibu Devian sudah hilang sejak kau tidak mau mengurusnya, dan hendak membuangnya dari hidup kita....!!!"
" Tapi aku yang menyusuinya, dan kau tidak bisa memungkiri itu."
" Yahhh...memang benar. Tapi tetap saja, itu semua kau lakukan karena keterpaksaan, bukan kemauanmu sendiri. Jika kau memang benar-benar merasa ibu Devian, aku tidak perlu memaksamu untuk memberikan dia air susumu. Dan aku yakin, niatmu melarang orang-orang melihat anak kita, bukan karena kau menyayanginya, tapi kau malu mereka semua tau kondisi sebenarnya anak kita, termasuk Dhea kan??? Kau takut perbuatanmu selama ini dibalas oleh Dhea melalui anak kita. Benar kan tebakanku???"
" Aaahhh...kau tidak perlu bertanya tentang alasanku..!! Yang jelas aku tidak suka mereka kemari, titik!!!"
" Jika kau tidak suka ya sudah, kau di dalam kamar saja!! Jika butuh apa-apa, tinggal menelfon asisten rumah tangga kita. Beres kan??"
" Kau keterlauan sekali Mike!! Kau tidak perduli lagi padaku. Aku istrimu!!! tapi kau justru mendahulukan kepentingan orang lain dibandingkan kepentinganku!!"
" Terserah sekarang apa yang akan kau lakukan. Aku tidak perduli lagi. Sifat aslimu sudah terlihat semua sekarang, aku benar-benar kecewa padamu!!!"
Kesabaran Mike benar-benar sudah habis. Kegagalan berumah tangga untuk yang kedua kalinya, sudah terbayang di pelupuk mata. Keinginan untuk membangun keluarga yang bahagia bersama Deasy telah pupus, akibat sifat istrinya yang ternyata tidak jauh berbeda dengan mantan istrinya yang dulu. Entah dengan cara apa lagi dia memberi pengertian pada Deasy. Ternyata sifat Deasy yang bebal dan tidak mau mendengar saran orang lain, membuat Mike menjadi ragu untuk melanjutkan rumah tangganya bersama istrinya itu. Apalagi kondisi buah hatinya yang tidak normal, dan menurut Deasy merupakan hal yang memalukan, semakin membuat Mike marah pada istrinya.
" Mike, kenapa kau sekarang berubah? kau tidak lagi perduli padaku, bahkan tidak pernah lagi mengajakku berbicara. Kau selalu membiarkan aku seorang diri. Kau tidak lagi mencintaiku?"
" Deasy. Kaulah yang membuat semuanya berubah. Sifatmu yang membuat semua perasaanku berubah padamu. Aku seringkali memberitahumu, tapi kau tidak pernah mendengarku. Mulai dari sifat cemburu butamu pada Dhea, hingga niatmu untuk membuang anak kita. Sifatmu itu tidak bisa kutolelir lagi. Kau egois, bahkan tidak lagi menghargaiku sebagai suamimu."
" Dhea lagi, Dhea lagi!!! Kenapa dia itu selalu mengusik kehidupanmu."
" Percuma kita membahas ini, karena kau pasti tidak mau mendengar penjelasku sedikitpun. Aku malas berdebat denganmu, sebentar lagi mereka datang, ada hal yang lebih penting untuk kupersiapkan untuk menyambut mereka, dibandingka melayanimu!!" sambil ngeloyor pergi.
" Mike, tunggu!!! aku ingin menyelesaikan semuanya!!!"
" Tidak ada yang perlu diselesaikan!! Karena masalah kita ini kau yang membuatnya, dan itu masalahmu, jadi kau sendiri yang bisa menyelesaikannya!!!" Sembari terus berjalan pergi.
" Arrrggghhhhh......kau selalu saja begitu!!!" teriak Deasy sambil meremas jemarinya, menahan kemarahannya yang sudah meledak.
Mike berjalan terus menuju ruang makan. Dia turun langsung mengecek semua makanan yang nantinya akan dihidangkan untuk papa dan juga kakaknya. Dia memanggil pegawainya dan bercakap-cakap sebentar memberikan sebuah perintah, pegawai tersebut mengangguk-angguk tanda mengerti apa yang dimaksud oleh majikannya. Lalu pegawai itu masuk ke dapur lagi, sedangkan Mike kembali lagi ke dalam ruang utamanya, duduk lalu mengotak atik androidnya, sembari menunggu papa dan saudara laki-lakinya datang. Dia tidak memikirkan lagi pertengkarannya bersama Deasy tadi.
Tak lama kemudian yang ditunggupun tiba. Mike menyambut ketiga orang yang disayanginya itu dengan suka cita.
" Heiiii....saudaraku. Aku sudah menunggumu sedari tadi, bagaimana kabarmu?" sembari memeluk William.
" Aku sehat Mike, bagaimana denganmu?"
" Kau lihatlah sendiri. Aura ketampananku semakin keluar setelah menjadi seorang papa hahaha." Disambut tawa oleh Dhea dan juga papanya.
" Mike mana Deasy? apakah dia belum tau kedatangan kami, sehingga tidak ikut menyambut??"
" Oh dia masih di kamarnya pah, mungkin sedang bersiap-siap." Kata Mike berbohong. Padahal saat ini Deasy sedang menahan amarahnya sambil melempar barang-barang di dalam kamarnya. Dia sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi.
" Mike, aku sudah tidak sabar ingin melihat keponakanku, dimana dia?" Tanya Deasy sambil celingak celinguk mencari letak kamar bayi.
" Hemmm apa tidak sebaiknya kita makan dulu, aku sudah mempersiapkan menu khusus untuk menyambut kalian berdua lho."
" Hahaha....istriku pasti belum mau Mike, sebelum dia melihat anakmu. Kau tidak tau sih, selama di kendaraan dia tidak henti-hentinya mengatakan sudah tidak sabar untuk menggendong anakmu."
" ohhh begitu ya. Ok mari ikut aku!!!" kata Mike sambil mengajak William dan Dhea menuju kamar anaknya.
Mereka berempat berjalan beriringan. Namun ketika sudah tiba di depan pintu, Mike menghentikan langkahnya dan membalik badan menghadap pada William dan Dhea yang ada di belakangnya.