
Hari Minggu pagi ini William sedang duduk santai di atas balkon di depan kamarnya, sambil menikmati segelas kopi hangat. Hawa sejuk menerpa kulitnya. Dia memandang lurus ke depan, pikirannya melayang-layang dengan kejadian yang baru saja dia alami. Mulai pertemuannya dengan Dhea, pertengkaran dengan Paula di toko, mengirim orang untuk mengikuti Dhea kemanapun dia pergi, hingga semalam dia menanti Dhea di depan tokonya, dan tanpa sadar Dhea telah memperdayanya, membiarkan William duduk sendirian di depan tokonya itu hingga tutup. William tersenyum sendiri, hal gila yang belum pernah ia lakukan sebelumnya hanya untuk mengejar seorang wanita. Ada apa sebenarnya dengan dirinya? Apakah dia hanya penasaran dengan sosok wanita berjilbab itu, atau yang lain? Diapun belum tau sebenarnya apa. Yang dia tau semenjak mengenal gadis itu, William hanya sibuk dengan berbagai cara untuk berusaha mendekatinya, namun belum berhasil hingga saat ini.
Tiba-tiba handphone di kamarnya berdering. William segera beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil telfon genggamnya itu. Dilihatnya nama Paula berkedip-kedip di layar hpnya.
" Hallo Paula, ada apa kau menelfonku pagi-pagi begini?"
" Hallo my sweety bagaimana kabarmu? Sudah dua minggu ini kau tidak muncul di apartemenenku, apakah kau tidak merindukanku?"
" Oohhh maaf Paula, akhir-akhir ini aku sangat sibuk, jadi belum sempat mengunjungimu."
Semenjak pertengkaran di toko malam itu bersama Dhea, William memang belum pernah lagi ke apartement Paula, dia tiba-tiba merasa jengah dengan wanita tersebut. Mungkin William sudah merasa bosan, karena sepertinya Paula sudah mulai bersikap posesif dengannya. Sifat William memang begitu, saat seorang wanita sudah bisa ditaklukannya, pasti dia mulai menjauh sedikit demi sedikit, karena tidak ada lagi rasa penasaran dalam dirinya. Dulupun saat ingin mendekati Paula, William intens sekali menelfonnya, menunggui wanita itu setiap berangkat dan pulang kerja di depan apartemennya, hingga kemudian Paula benar-benar bertekuk lutut padanya. Walaupun sebenarnya William tau Paula juga adalah wanita brengsek sama seperti dirinya, Paula mau tidur dengannya hanya karena untuk kesenangan saja tidak lebih, makanya Paula tau semua tentang borok William.
" Tuan William, kamu pikir aku ini bodoh...aku tau pasti kau sedang sibuk mengejar wanita lain kan?"
" Hahaha kau memang wanita pintar Paula, kau selalu bisa menebak isi hatiku, kau tau kan sayang sifatku? Aku tidak pernah mau terikat oleh wanita manapun, tidak terkecuali juga kau."
" Ya ya ya...aku sangat paham itu, aku juga tidak mau terikat oleh laki-laki yang hanya menginginkan tubuhku saja. Hhmmm ngomong-ngomong siapa kali ini wanita yang membuatmu penasaran? Apakah kasir di toko itu?"
" Kau tidak perlu tau sayang, itu privasiku, rasanya kau tidak perlu ikut campur urusanku kan?"
" Ok tuan William, aku hanya ingin bertanya saja, oh ya...pintu kamarku selalu terbuka lebar jika kau merindukan kehangatanku."
" Terimakasih sayang, sepertinya saat ini belum, entah nanti."
" Hhhmmm sepertinya aku sementara ini harus mencari penggantimu ya?"
" Silahkan nona, aku bahkan tidak pernah melarangmu untuk mencari laki-laki lain saat masih bersamaku."
" Ya aku tau itu, kalau begitu silahkan menikmati harimu William, selamat pagi."
" Selamat pagi Nona Paula ", kemudian William menutup telfonnya.
Wanita itu memang sungguh menggoda, namun seperti kebanyakan, terlalu mudah untuk jatuh di pelukan William, saat inipun bahkan dia juga bisa dengan cepat mencari laki-laki lainnya sebagai pengganti William.
" Hahaha dasar wanita binal, kau tidak ada bedanya dengan wanita-wanita lain sebelumnya ", bisik William sambil menyeruput kembali minuman di dalam gelasnya.
Tiba-tiba saja William tersentak.
" Ahhh jam berapa ini?" Kata dia sambil melihat arloji di tangannya.
" Mati aku!! Sudah pukul 09.00 ", Teriak William. Padahal dia janjian dengan papanya untuk menemaninya main golf hari ini.
Diambilnya kunci mobil yang ada di atas meja, kemudian segera menstarter dan menekan gasnya dengan kecepatan penuh. Dia hafal sifat papanya yang sangat disiplin masalah waktu, dan itu sudah ditanamkannya sejak dia dan adiknya masih kecil. Dan benar saja terlihat nama papanya memanggil melalui telfon genggamnya.
" Hallo Will, kau dimana? Sudah setengah jam yang lalu papa menunggumu."
" Iya tunggu pa, aku sudah di jalan, sebentar lagi tiba di sana."
" William semakin menambah kecepatannya, dan setiap kali berada di lampu merah dia mengumpat-ngumpat sendiri, karena baginya saat ini warna merah menuju hijau begitu lama, William ingin segera tiba di rumah papanya, dan amat malas jika nanti mendengar omelannya sepanjang jalan.
Saat tiba di tempat tujuan, papanya terlihat sudah siap di depan rumah lengkap dengan topi di kepalanya. Sosoknya masih terlihat sangan tampan dan menarik di usinya yang mencapai 60 tahun itu. Tanpa basa basi dia segera naik ke mobil William.
" Kau ini, kalau memang tidak ingin menemaniku seharusnya dari tadi pagi kau mengabariku, bukan seperti ini, sudah setengah jam aku menunggumu di depan rumah tapi kau belum muncul juga."
" Maaf pa, aku lupa jika ada janji dengan papa."
" Tumben kau lupa? Atau jangan-jangan sedang ada seorang wanita di sampingmu?"
" Tidak pa, aku sendirian dari kemarin."
" Hahaha benarkah? Apa kau bisa tahan tanpa wanita Will?"
" Kenapa papa tidak mempercayaiku?"
" William...William...walaupun kau tidak tinggal serumah denganku, tapi aku cukup tau sepak terjangmu, kau sungguh mewarisi bakat mudaku dulu, mana ada wanita yang tidak terpikat oleh pesonaku, dulu hanya mamamu yang bisa membuat papa bertekuk lutut padanya."
William hanya tersenyum mendengar celoteh papanya. Yah pria disampingnya ini memiliki **** appeal yang luar biasa. Bahkan di usianya sekarang ini saja masih banyak wanita yang tergila-gila dengannya.
" Kenapa papa dulu bisa terpikat dengan mama?"
" Mamamu itu wanita yang luar biasa, sangat sabar, dan sangat perhatian. Dia belum pernah sekalipun berkata kasar pada papa."
" Apakah papa tidak ingin mencari pengganti mama?"
" Mencari yang seperti mamamu itu sulit, dan hati papa tidak akan mungkin bisa menggantikan posisinya dengan orang lain , tapi jika hanya untuk bersenang-senang saja bolehlah sekedar untuk membunuh kesepian papamu ini hahaha."
William kembali tertawa. Ia masih ingat sosok mendiang mamanya yang begitu lembut. Mendidiknya dengan penuh kasih sayang. Dulu saat beliau masih ada, William betah berlama-lama menemaninya ngobrol, atau hanya sekedar tidur di pangkuannya, seraya mendengarkan cerita-cerita masa mudanya dulu. Mungkin tidak akan ada wanita selembut itu yang pernah ditemuinya selain mamanya. William dan Mike sangat dekat dengan mamanya itu. Sebenarnya beliau adalah seorang tenaga pendidik, orangnya sangat cerdas, tapi beliau justru keluar dari pekerjaannya untuk merawat kedua anaknya dan juga melayani suaminya. William tiba-tiba rindu dengan sosok wanita itu. Rindu dengan kelembutannya dan juga kesabarannya.
Maaf ya semuanya...sebenarnya aku berusaha up ceritaku setiap hari, tapi entah kenapa kok episode selanjutnya masih terus review dan belum berhasil tayang dari kemarin...sabar ya mungkin lagi adalah masalah bagian teknisinya🤭🤭🤭 tunggu aja sekalinya tayang bukan cuma 1 episode tapi lebih buat bayar rasa penasaran kalian semua ok....makasih ya yang terus nyimak ceritaku