
" Ohhh iya jadi rencana kalian berdua setelah kehilangan bayi kalian apa?" Tanya Deasy memulai kembali membahas masalah yang tadi. Dia seolah tidak puas untuk menyudutkan Dhea.
Dhea hanya memandang William, seolah meminta bantuan suaminya untuk menjawabnya.
" Aku ingin istriku sembuh benar, dan setelah itu terserah kata Tuhan, kami tidak pernah menundanya, apapun yang Dia beri pada kami, pasti itu merupakan hal terbaik buat kita berdua. Aku juga tidak menyalahkan istriku. Aku sangat mencintainya. Kemarin dia juga sudah bersikeras untuk mempertahankan anak kami, tapi akulah yang memaksanya. Mungkin itu belum menjadi rejeki kami." William seolah tau bahasa tubuh Dhea yang meminta pendapatnya.
" Hemmmmm...jadi butuh waktu lama lagi ya. Apakah kau tidak ingin segera menjadi seorang papa Will? soalnya Mike sudah tidak sabar aku segera hamil ya kan sayang?" sembari memandang suaminya.
" Dan kami berdua sudah memeriksakan diri kondisi rahimku semuanya baik-baik saja, dan tidak memiliki masalah sedikitpun." Katanya bangga.
" Deasy....hentikanlah..!!! kasihan Dhea. Dhea kemari kan ingin berlibur dan melupakan kejadian kemarin, jangan malah terus kau ingatkan dengan kejadian lalu."
" Iya nak, kasihan kakak iparmu. Sebagai seorang ibu pasti dia merasa terpukul sekali dengan keadaan itu."
" Hemmm...iya pasti aku juga bisa merasakannya. Apalagi kau sudah membuat kecewa keluarga besar ini ya, terutama papa yang selama ini aku tau sangat mendambakan seorang cucu. Tapi kau sangat beruntung Dhe, orang-orang di sini semua menyayangimu dan mencintaimu..!!" Sambil memberikan tekanan pada dua kalimat terakhir itu. Dia semakin tidak suka semua orang membela Dhea, dan menyudutkannya.
" Deasy....kita tidak tau apa yang menjadi takdir kita. Boleh jadi saat ini kita bahagia, namun belum tentu kebahagiaan itu kita rasakan besok. Jadi jangan senang dulu dengan apa yang kita alami sekarang. Saat ini aku sudah sangat bersyukur masih bisa menghirup udara, aku yakin Tuhan akan memberikan kepercayaan kepadaku suatu hari nanti." Kata Dhea sengaja memilih kalimat itu untuk membalas kata-kata Deasy yang sedikit sombong.
" Hiisss...sialan dia membalasku." Gerutu Deasy.
" Hemmmmm....aku bisa merasakan ada aura negatif di dalam rumah ini. Sepertinya iblis sedang menebar virus kebencian." Gumam Daniel tanpa mengalihkan perhatian dari makanan yang ada di piringnya.
" Kau ini makan saja Dan, kau tidak ingin konsentrasimu terganggu bukan?"
" Aku hanya sedang mengungkapkan apa yang kurasakan Deasy."
" Huusss....berhentilah bicara Dan, jika tidak penting." Kata William.
" Ya ya ya, sekarang sih tidak penting, tapi aku yakin suatu hari akan menjadi penting Wil hehehe. Kau tau kan insting sahabatmu ini sangat sensitif?"
" Simpan dulu instingmu teman, untuk saat ini belum kubutuhkan." Sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
" Sudah cepat habiskan makanan kalian, setelah ini kita lanjutkan mengobrolnya di tempat lain." Sambung papa William.
Akhirnya suasana sedikit tenang. Hanya suara denting sendok dan garpu, yang beradu dengan piring cristal sebagai alas makan mereka.
Dhea yang sedari tadi merasa Deasy sangat tidak bersahabat merasa tidak nyaman. Dia bahkan tidak tau, kenapa saudara iparnya yang baru saja dikenalnya beberapa jam itu, seperti menaruh perasaan tidak suka padanya. Padahal yang dia bayangkan sebelumnya, saat mereka bertemu akan menjadi dua saudara yang saling menyayangi, terlebih Dhea adalah anak semata wayang, seru rasanya jika memiliki saudara yang umurnya tidak jauh darinya. Pasti akan sangat mengasyikan jika mereka bisa bercengkerama bersama, membicarakan banyak hal. Namun apa yang dirasakannya sungguh jauh berbeda, Deasy justru seperti menyimpan perasaan tidak suka terhadapnya. Padahal mereka tidak pernah bertemu sebelumnya.
Deasy sendiripun sebenarnya tidak bisa menyalahkan sepenuhnya, jika suaminya dulu memperebutkan Dhea. Toh dia juga belum mengenal Mike. Dan itu hanya masa lalu Mike sebelum mencintai dirinya. Namun perasaan seorang wanita yang merasa ingin menjadi nomor satu di hati suaminya, menumbuhkan rasa benci kepada Dhea. Dia merasa cemburu melihat wanita itu begitu dikagumi 2 orang kakak beradik yang salah satunya kini menjadi suaminya. Dia merasa Dhea adalah ancaman. Dia tidak mau cinta suaminya itu kembali terpupuk jika Dhea hadir di rumah ini.