Something different

Something different
Di apartemen Dhea



Malam ini Dhea sedang sibuk dengan tesisnya, dan terlihat serius dengan laptop di depannya. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk, dan Dhea sudah tau pasti bahwa yang datang adalah William. Dhea segera berdiri membukakan pintu untuk William.


" Masuk Will," suruh Dhea. Kemudian dia buru-buru kembali lagi di depan laptopnya.


William mengikutinya dari belakang dan duduk di atas sofa, sambil memperhatikan Dhea yang langsung serius dengan tugasnya itu, sembari duduk di lantai tepat di depannya.


" Sayang....kau serius sekali."


Kata William.


" Iya Will, aku sedang mengetik tesisku, mumpung ide-ideku masih banyak." Kata Dhea sambil terus memperhatikan laptop tanpa melirik sedikitpun pada William.


William tidak mau mengganggu Dhea, dia lalu bermain handphone sendiri sembari menemani Dhea yang sedang mengetik. Setengah jam kemudian William merasa bosan, karena sedari tadi kekasihnya itu sama sekali tidak mengajaknya ngobrol.


" Sayaaaaang....temani aku dong, masak sedari tadi aku kau diamkan seperti ini." Kata William merajuk.


" Nanti pasti aku temani Will, tapi tunggu dulu ya?"


" Hehhhh....", kata William sambil menggerutu. Lalu kembali mengotak atik handphonennya.


Satu jam kemudian dia kembali memanggil Dhea.


" Sayaaanggg...ayo dong kapan selesainya? Aku ingin kamu menemaniku ngobrol. Atau begini saja, kamu buat tulisanmu itu di kertas dulu, biar nanti aku suruh orang mengetikkannya untukmu, bagaimana?"


" Tidak Will!! aku ingin tugas akhirku ini murni hasil kerjaku sendiri dan tidak ada campur tangan orang lain."


" Tapi sayangg...!"


" Pleas Will, diamlah dulu! Aku tidak bisa berkonsentrasi jika kau ajak bicara terus." Kata Dhea.


" Hehhhh...ya sudahlah..." Kata William. Lalu dia merebahkan tubuhnya di sofa panjang. Hingga tak terasa matanyapun terpejam.


Sedangkan Dhea masih saja asyik di depan laptopnya, hingga dia lupa bahwa ada William yang sedang tertidur di belakangnya.


" Ahhhh....." Gumam Dhea sambil merentangkan kedua tangannya untuk mengendorkan syaraf-syarafnya yang kaku, karena sedari tadi duduk dengan posisi yang sama. Diliriknya jam di layar laptopnya sudah pukul 11 malam.


Dhea lalu berdiri hendak mengambil air minum, namun alangkah terkejutnya karena William masih berada di belakangnya, dan sedang tertidur pulas.


" Ya ampun William!! Ahhh kenapa aku bisa melupakannya." Gumam Dhea.


Dia tersenyum sendiri mengamati wajah polos William yang sedang tertidur. Dhea lalu mendekati kekasihnya itu. Dia memperhatikan setiap inci wajah pria yang sudah membuatnya jatuh cinta itu. Wajah yang begitu bersih dengan kulit putihnya, serta bulu-bulu halus di sekitar dagunya, yang sepertinya belum sempat dicukur oleh si empunyanya. Dhea mengusap pipi William dengan lembut.


" Sayang....kenapa aku harus jatuh cinta denganmu? Padahal sebelumnya aku selalu menolak setiap sosok laki-laki yang mendekatiku, namun kenapa tidak terhadapmu? Aku bahkan lupa bahwa kau itu terlarang untukku. Sayang...bagaimana aku bisa melupakanmu? Sedangkan setiap hari aku begitu takut jika saatnya nanti aku akan kehilanganmu."


Dhea menarik nafas panjang, lalu beralih ke jemari William. Diraihnya jemari itu lalu dikecupnya, dan diletakkan di pipinya. Dipejamkannya matanya, seolah sedang merasakankan begitu damainya berada di samping laki-laki itu.


Perlahan mata William terbuka, karena merasa ada seseorang sedang menyentuhnya. Dilihatnya Dhea sedang duduk di bawahnya dan memegang jemarinya, dengan matanya yang terpejam.


" Sayang.....?" Panggil William.


" Oohh ehhhmm kau sudah bangun? Maaf aku sudah mengganggu tidurmu." Kata Dhea gugub sambil mengerjap ngerjapkan matanya, seolah sedang berusaha menyingkirkan air matanya yang hendak jatuh.


William tau bahwa kekasihnya itu pasti sedang bersedih, matanya sedikit memerah.


" Tidak sayang, aku hanya ingin bertanya apakah kau sudah selesai mengagumi ketampananku ini?" Kata William berusaha menghibur Dhea dengan candaannya.


" Ihhh kau ini percaya diri sekali ya? Memangnya kau tau aku memperhatikanmu" Kata Dhea.


" Hemmm aku kan dari tadi pura-pura tidur sayang, karena tidak mau mengganggu keasyikanmu." Kata William berbohong, dan dia tau kekasihnya itu sedang menahan malu karena wajahnya berubah memerah.


" Ihhh kau ini, menyebalkan."


William tertawa. Entah kenapa dia tidak pernah merasa bosan berada di samping Dhea, apalagi sikap Dhea yang selalu membuatnya gemas.


" Sayang, kenapa kau harus malu mengakuinya? Bukankah aku ini sudah jadi kekasihmu? Harusnya kau tidak perlu segan untuk memujiku, seperti saat aku sedang memujimu." Kata Wiliam lagi sambil beranjak bangun dari tidurnya, kemudian ikut duduk di samping Dhea.


" Hehhhh...cuma sebagai kekasihmu saja Will tidak lebih!!" Gerutu Dhea sambil mengubah posisinya membelakangi William, dan menyandarkan tubuhnya pada sofa di belakangnya.


" Bagaimana sayang, sudah selesai mengetiknya?" Tanya William mengalihkan pembicaraan agar kesedihan Dhea tidak berlarut-larut.


" Kamu itu boleh mengerjakan tesis, tapi harus ingat kesehatanmu sayang, jangan terlalu diforsir!!" Kata William sambil membelai kepala Dhea yang tertutup oleh jilbabnya.


" Kalau tidak kuforsir, tidak akan selesai-selesai Will." Gumam Dhea.


" Kenapa? Kau sudah tidak betah ya tinggal di sini?"


" Hemmm...menurutmu?" Kata Dhea sambil menengadahkan wajahnya menatap kosong langit-langit ruangannya.


" Menurutku pasti kau sangat betah tinggal di sini, apalagi setiap hari ditemani seorang kekasih setampan aku, ya kan, ya kan?" Kata William menggoda Dhea sambil memainkan ekspresi wajahnya yang sok manis di depan Dhea.


" Ihhh....sana-sana siapa yang juga yang bilang kamu tampan? Bukan aku kan?"


" Memang kamu tidak pernah mengatakannya padaku sayang, cuma ekspresi wajahmu itu tidak bisa menipuku, benar kan? Hayooo...kau mau membohongiku yaaa?"


" Ya ya ya...", jawab Dhea kemudian.


" Aku akui Will kau memang tampan, bahkan sangat tampan. Dan aku yakin jika aku bisa bersanding denganmu, pasti seluruh wanita di negeri ini akan merasa iri padaku, karena mendapatkan seorang pria yang begitu sempurna sepertimu. Namun jika aku hanya tertarik akan ketampananmu saja, mungkin sudah kuterima cintamu sejak awal saat kau mendekatiku. Namun itu bukan alasan utamaku mau bersamamu."


" Lalu apa Dhe?"


Dhe menarik nafas panjang, kemudian menatap William.


" Karena caramu mencintaiku yang membuatku percaya bahwa kau benar sayang denganku." Jawab Dhea pelan.


" Ya Dhe, aku dari dulu tidak pernah mempermainkanmu, namun takdir yang sepertinya sedang mempermainkanku." Kata William sambil membalas tatapan mata Dhea.


" Kau tidak boleh berkata seperti itu Will. Kita hanya sedang diuji, walaupun sebenarnya aku juga tidak mampu menghadapi ini, namun aku yakin kita akan bahagia."


" Ya Dhe, dan aku tidak ingin kehilangan senyum di wajahmu, karena kebahagiaanmu adalah kekuatanku. Sampai kapanpun aku akan terus mencintaimu dengan caraku, walau nanti akan berakhir buruk sekalipun."


Dhea hanya diam saja, dan cuma bisa menarik nafasnya pelan.


" Will sudah malam, aku ngantuk." Kata Dhea kemudian.


" Benarkah kau sudah mengantuk? Atau kau pura-pura mengantuk untuk menghindari obrolan kita sayang?"


" Ihhh kau ini, aku benar-benar mengantuk William, pulanglah atau kau mau ditangkap oleh penjaga apartemen ini?"


" Hahaha...kau pikir ini di negaramu sayang? Di sini orang tinggal serumah tanpa ikatan pernikahan tidak akan ada yang melarang. Lalu mana mungkin juga ada seorang pegawai berani menangkap bosnya?"


" Aaahhh intinya, kau harus pulang sekarang ayo berdiri!!" Kata Dhea sambil menarik tangan William.


" Hahaha kenapa? Kau takut khilaf ya? Bukankah tidak akan ada yang tau kita sedang berduaan di sini, seandainya taupun mereka tidak akan ambil pusing sayang?"


" Tapi kau lupa Will, Tuhan tau kau ada di sini."


" Hehhhh...aku jadi takut sayang kau berbicara seperti itu."


" Makanya pulanglah!!"


" Ya sudah aku pulang dulu ya? Besok kau ke kampus tidak?"


" Tidak Will, kan materiku sudah habis?"


" Oh iya. Ya sudah besok aku ke sini lagi ya?"


" Ya datanglah."


" Kalau begitu aku pulang dulu ya?"


" Iya Will, hati-hati ya?"


" Iya sayang, i love you."


" Love you to." Jawab Dhea. Lalu William segera meninggalkan kamar Dhea.