
" Biarkan aku masuk!! kau jangan mencoba menghalangiku ya!!" kata Hellen sambil terus mendorong tubuh sekretaris itu.
" Maaf nona Hellen, ada apa anda semarah ini dan ingin memaksa masuk ke dalam ruangan Tuan Daniel? Apakah sebelumnya kau sudah ijin dulu padanya?"
" Kau jangan ikut campur!!! ini urusanku dengan Daniel."
" Anda tidak sopan sekali memanggil Tuan Daniel hanya namanya saja, bukankah anda bawahannya?"
" Kemarin aku memang bawahannya, dan sekarang tidak lagi!! menyingkirlah kau dari hadapanku!!"
" Maaf Nona Hellen, tugasku di sini memang untuk menanyakan kesediaan Tuan Daniel menerima setiap tamu yang ingin menemuinya. Jadi sebaiknya anda tunggu di sini dulu, aku tanya Tuan Daniel apakah dia mau menemuimu atau tidak."
" Aahhhh...kau ini banyak omong!!" kata Hellen, sambil mendorong keras tubuh sekretaris tersebut yang ukuran badannya lebih kecil dibandingkan dirinya, sehingga sekretaris itu otomatis langsung terdorong ke belakang, dan tidak bisa menghalangi Hellen yang tiba-tiba saja meringsek masuk ke dalam ruangan Daniel.
Daniel yang sedang asyik dengan laptopnya amat terkejut dengan kedatangan Hellen yang begitu tiba-tiba, dan spontan segera berdiri.
" Heiii..ada apa ini? kenapa kau tiba-tiba masuk ke ruangan ini sayang?" tanya Daniel keheranan, dia tidak menyadari ada sekretarisnya yang mengikuti Hellen di belakangnya, sehingga kalimat Daniel yang menyebutkan kata sayang begitu jelas terdengar di telinganya.
" Ohhh jadi benar ternyata jika mereka berdua ada hubungan, pantas Hellen dikeluarkan. Pasti Tuan William sudah mendengar berita ini. Bukankah Tuan William sudah membuat aturan, bahwa dilarang untuk berhubungan dengan sesama karyawan di kantor ini. Pasti Hellen sudah melanggarnya." Kata sekretaris tersebut dalam hati, menjawab rasa penasarannya? karena bos besarnya jarang sekali mengeluarkan seorang karyawan, kecuali kesalahannya itu benar-benar fatal, biasanya bosnya tersebut hanya sekedar menurunkan jabatannya saja.
" Heiii...kenapa kau bengong di situ? keluarlah!!" kata Daniel mengusir sekretarisnya.
" Ohhh maaf tuan, saya hendak meminta Nona Hellen keluar dari ruangan anda, karena dia memaksa masuk tadi."
" Sudah biarkan saja! tinggalkan kami berdua di sini!!"
" Baik tuan, saya permisi dulu kalau begitu."
Lalu sekretaris itu segera pergi dan tidak lupa menutup ruangan Daniel kembali.
" Duduklah dulu sayang! kenapa kau marah-marah dan emosi seperti ini? kita bisa bicarakan baik-baik bukan?"
" Kau tidak usah memanggilku sayang lagi. Tidak ada yang perlu dibicarakan! kau bahkan tidak bisa menyelamatkan posisiku di perusahaan ini. Lalu apa untungnya aku berhubungan denganmu kalau ternyata justru itu membuatku dikeluarkan dari perusahaan ini???"
" Tenanglah sayang....ini semua diluar wewenangku. Bos besar yang telah memerintahku untuk membuatksn surat resign untukmu. Tapi kau jangan khawatir, aku akan mengenalkanmu pada temanku. Dia akan memberikan pekerjaan yang lebih baik daripada di sini."
" Lebih baik apanya? Aku bekerja di perusahaan ini semenjak pertamakali bosmu itu merintis usahanya dari awal. Dan hanya begini balasan dia padaku? Lalu mana ada perusahaan yang bisa menggajiku besar seperti di sini? apalagi aku pegawai baru!! kau pikir aku perempuan bodoh!!"
" Heeiii.....kau meragukanku?"
" Aku bukan meragukanmu. Tapi otakku masih waras dan bisa berfikir normal. Aku tau kau ini hanya ingin memanfaatkan kecantikanku untuk kesenanganmu kan? sehingga mau melakukan itu untukku. Heehhh.....benar yang aku bilang, Tuan William jauh lebih baik dan lebih masuk akal dibanding caramu merayuku."
" Hahhh...memang William pernah merayumu?"
" Dia tidak pernah merayuku. Tapi aku tau cara dia mendekati wanita itu lebih elegan dibanding caramu yang murahan dan menjanjikan sesuatu yang tidak masuk di akal."
" Mana bos besarmu? panggil dia kemari! aku ingin menuntut hakku selama bekerja di sini. Dia boleh saja seenaknya mengeluarkan aku, tapi bukan berarti dia tidak memberikan hak-hakku. Dia pikir selama ini aku hanya kerja bakti di sini, sehingga hanya memberikan pesangon sejumlah ini. Ini bahkan tidak cukup untuk hidupku satu bulan."
" Hei apa maksudmu?? uang sebesar itu kau bilang tidak cukup untuk hidupmu sebulan? memangnya apa yang kau makan setiap hari, sehingga uang sebesar itu tidak cukup untukmu?"
" Hahaha...Daniel...Daniel....kau pikir biaya hidup itu murah? lalu kau mengira aku ini memakai bedak dengan tepung gandum? kau kira juga aku memakai lotion di tubuhku ini dengan minyak goreng. Hitung uang di amplop itu!! jika kau merasa itu cukup, berarti hidupmu sangat mengenaskan!! dan kau harus berfikir kembali untuk menjalin hubungan dengan wanita berkelas seperti aku."
Belum sempat menghitung uang yang ada di amplop tersebut, tiba-tiba Dhea dan juga William masuk ke dalam ruangan itu. Dari luar suara teriakan Hellen terdengar samar-samar. Dan tanpa basa-basi William segera membuka pintu tersebut, serta tidak menyapa sekretaris yang memberikan hormat padanya, hanya Dhea yang memberikan senyum serta menganggukan kepalanya. William ingin tau, ada kejadian apa antara Daniel dengan wanita yang bersamanya di dalam sana.
" Hei ada apa ini??" Tanya William yang melihat posisi Hellen sedang berdiri sambil berkacak pinggang, sedangkan Daniel berada di depannya.
" Sayang kau duduk di sofa itu dulu." Kata William sambil menunjuk sofa yang ada di dalam ruangan kantornya.
" Iya sayang." Jawab Dhea menuruti kata-kata suaminya. Dia juga sangat penasaran dengan apa yang terjadi di dalam sini, terlebih tadi juga dia mendengar teriakan wanita yang saat ini ada di hadapan suaminya dan juga Daniel.
" Ooww...rupanya bos besar perusahaan ini datang. Kebetulan sekali aku ingin berbicara dengan anda."
" Ada apa Hellen? kenapa aku dengar tadi kau berteriak-teriak di dalam sini?"
" Hehhh...sungguh akting yang sangat bagus Tuan William, seolah-olah anda tidak tau duduk perkara permasalahan ini?"
" Hei apa maksudmu???"
" Anda kan yang sudah menyuruh laki-laki ini untuk memberhentikanku??"
" Ya benar, memang aku yang menyuruhnya!" jawab William tegas.
" Lalu apa salahku sehingga kau memecatku?"
" Karena kau sudah berani menjalin hubungan dengan Daniel. Kau tau kan salah satu peraturan di perusahaan ini? bahwa dilarang menjalin hubungan dengan sesama karyawan. Kau bisa merusak profesionalisme kerja Daniel dan juga dirimu sendiri."
" Hehhh ribet sekali aturan di kantor ini.....Kau bahkan sudah melupakan jasa-jasaku dan tidak memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku."
" Aku dulu sudah sering memberimu kesempatan saat aku masih duduk di kursi ini. Bahkan sudah mewanti-wantimu untuk tidak menggunakan pakaian seksi itu kembali. Tapi sekarang kau menggunakannya lagi, dan dengan sengaja ingin selalu merayu orang yang duduk di belakang meja ini kan?"
" Ohhh begitu ya?? hemmmm....atau jangan-jangan kau merasa cemburu karena sebenarnya kau juga tertarik padaku? tapi karena aturan pekerjaan yang telah kau buat sendiri, kau jadi memendam perasaan itu kan?"
" Hei tutup mulutmu!! ada istriku di sini." Teriak William mulai emosi, karena Hellen sudah berbicara tidak sopan padanya.
Dhea hanya bengung menyaksikan perselisihan tiga orang yang ada di depannya, bahkan dia terkejut saat nama suaminya disebut-sebut oleh perempuan seksi ktu.
" Hahaha...jangan pura-pura Tuan William, aku itu tau dulu kau bahkan sering menelan ludahmu saat aku masuk ke ruangan ini kan?"
" Nyonya, anda jangan tertipu dengan tampang suamimu ini, dia itu sebenarnya penjahat wanita, sudah banyak korbannya, mungkin jika aku ini bukan pegawainya, pasti akan dia makan juga." Kata Hellen sambil pandangannya beralih ke Dhea.
Dhea tidak bisa menjawab apa-apa, dia sudah bisa meraba permasalahan yang sebenarnya terjadi di dalam ruangan kantor suaminya. Kalimat yang baru saja diucapkan wanita itu, tidak digubrisnya, karena sebenarnya Dheapun sudah sangat tau dengan masa lalu suaminya, jadi itu tidak membuatnya terkejut sama sekali.