
" Dhe ?" Panggil Bram saat baru saja masuk ke dalam kelas.
" Iya Bram ?"
" Aku lihat sepertinya antara kau dan William semakin hari semakin akrab saja ".
" Benarkah ?"
" Ya, dan tidak lagi kulihat wajahmu sesuram dulu jika sehabis diantar ataupun dijemput William. Jangan bilang kau sedang jatuh cinta padanya Dhe ?"
" Jangan khawatir Bram, aku tau batasanku dengannya. Kau paham kan aku sangat memegang prinsipku ? aku hanya merasa bahwa dia sedikit berubah, dan memperlakukanku lebih baik daripada dulu. Bukankah kau pernah bilang, jangan pernah melawannya karena itu justru akan membuat dia semakin menjadi ?"
" Ya Dhe aku percaya padamu, aku hanya tidak ingin sifat bosannya tiba tiba kambuh lagi ".
" Dan dia mencampakkanku begitu ?"
" Bisa jadi ".
" Tenang saja Bram, jika dia mencampakkanku justru aku bersyukur sekali, karena aku tidak rugi apa apa karenanya, iya kan? terimakasih atas perhatianmu, aku akan selalu jaga diriku dengan baik jangan khawatirkan aku ya ?"
" Iya Dhe, semoga kamu tidak bertekuk lutut dengannya saja ".
" Hahaha...mungkin wajah tampannya bisa saja menggodaku, tapi akalku masih cukup waras untuk mempertimbangkannya Bram ".
Brampun hanya tertawa mendengar jawaban Dhea.
Tak lama kemudian dosenpun datang, sehingga Bram dan Dhea menghentikan obrolannya dan mulai serius memperhatikan dosen yang mulai membuka mata kuliahnya.
" Bram aku duluan ya ?" Kata Dhea saat semua mata kuliah hari ini telah selesai.
" Apakah William telah menjemputmu ?"
" Ya Bram, dia selalu tiba di sana duluan sebelum aku menunggunya ".
" Hati hati ya Dhe ".
" Ok Bram ".
Kemudian Dhea meninggalkan Bram. Dan benar saja William telah menunggunya sedari tadi di tempat biasa.
" Hai Dhe ".
" Kau sudah dari tadi menungguku ?" kata Dhea.
" Lumayanlah, mungkin setengah jam yang lalu ".
" Kasihaannn...kenapa kau tidak pulang saja ?"
" Hahaha...menurutmu aku akan membiarkan kau diantar Bram ?"
" Memang itu harapanku !!"
" Sudah ah ayo kita pergi, buang buang waktu saja membahas hal yang tidak penting ". Ajak Dhea.
" Ok siap nona Dhea, aku akan mengantarmu selamat hingga tiba di rumahmu ", jawab William sambil tersenyum. Dhea tidak menggubrisnya sedikitpun.
Hubungan Dhea dan William sudah tidak seperti sebelumnya, sedikit membaik. Hanya saja sikap ketus Dhea tidak juga berubah, kepercayaan Dhea terhadap William belum tumbuh sepenuhnya, masih ada sedikit rasa was was saat berada di samping William, namun tidak terlalu menentang keinginannya seperti dulu lagi.
William segera naik ke dalam mobilnya, kemudian menjalankannya. Sementara itu Bram hanya memperhatikan Dhea dari jauh saat masuk ke dalam mobil William.
" Semoga kau baik baik saja Dhe, dan tidak akan menjadi korban William selanjutnya ", Gumam Bram, lalu berjalan menuju ke belakang kampus untuk mengambil kendaraannya.
" Kita makan dulu seperti biasa ya Dhe ?" Kata William sambil tetap berkonsentrasi mengemudikan kendaraannya.
" Kau ini setiap menjemputku selalu mengajakku makan, padahal aku nanti bisa membelinya sendiri, bukankah aku juga memiliki uang ?"
" Aku hanya ingikln kau ikut menemaniku makan saja, rasanya tidak nikmat jika makan sendiri ".
" "Menemanimu ? berarti aku tidak harus ikut makan denganmu kan ? bukankah kau hanya butuh kutemani ?" Jawab Dhea.
" Kau ini memang selalu pintar berkelit Dhe, tapi sayangnya kamu juga harus ikut makan bersamaku, ok sayang ??" Kata William sambil tersenyum.
" Terserah kaulah ".
" Nah begitu baru benar ".
Setelah tiba di dalam restoran, William masuk ke dalamnya dan memesan makanan, William mulai membuka pembicaraan.
" Dhe, aku lihat sifat kasarmu mulai berubah padaku kenapa ?"
" Karena kaupun juga tidak pernah lagi kasar padaku Will ".
" Hahaha itu karena dulu kau harus selalu kuancam agar mau menurutiku ".
" Kau ini pria aneh, mau maunya tiap hari bersusah payah menjemputku, mengikutiku, padahal aku sedikitpun tidak menaruh rasa padamu, bahkan berharap bisa jauh darimu ".
" Tapi aku tetap tidak akan menyerah Dhe, aku yakin tidak ada pekerjaan yang sia sia ".
" Kau itu jangan terlalu percaya diri Will, aku memiliki batasan untukmu, juga perbedaan prinsip yang sangat besar di antara kita, sia sia jika kau melakukan itu semua, kau tidak lelah ?"
" Tidak Dhe, aku akan terus berusaha, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika kita berusaha ".
" William..William...kalaupun seandainya nanti aku itu memiliki rasa buatmu, aku tidak akan pernah mau mengorbankan akidahku untuk seorang laki laki sepertimu, aku lebih memilih Tuhanku daripada kamu Tuan Willam ".
" Ya....kita lihat saja nanti Dhe, benarkah kau bisa sekuat itu untuk menolak pesonaku ", kata William sambil menatap Dhea dengan bola matanya yang kebiruan. Dhea diam saja.
" Hhhmmm memang benar pesona laki laki ini begitu besar, makanya dia begitu percaya diri mampu menaklukanku. Hahaha jangan kau pikir aku wanita yang gampang tergoda laki laki sepertimu, masih banyak pria lain dan lebih tampan serta seiman denganku ", kata Dhea dalam hati.
Setelah selesai makan William dan Dhea segera keluar dari restoran tersebut, dan langsung pulang.
" Sampai nanti sore ya Dhe, jangan sampai kau ketiduran agar tidak bangun telat nanti ".
" Siap tuan William, hamba pasti selalu ingat perintah anda ". kata Dhea.
William hanya tersenyum, dan melihat Dhea turun dari kendaraannya, kemudian tubuhnya hilang di dalam bangunan bertingkat di depannya itu.
Sementara itu seorang wanita sedang mengawasi mereka berdua dari kejauhan di dalam mobilnya.
" Hhhmmm rupanya gadis itu yang telah menarik perhatianmu selama ini William....hahaha sebentar lagi kau tidak akan lagi bisa mengantarnya sayang, karena akulah yang akan menggantikan posisinya di hatimu hahaha ".
#############
Malam harinya setelah Dhea keluar dari toko, William sudah menunggunya di depan.
" Dhe kita duduk duduk dulu di taman sebentar ya, sebelum pulang ke rumahmu ?" Ajak William saat di dalam mobil.
" Asal jangan kemalaman ya ?"
" Iya, tenang saja ".
Kemudian William menambah kecepatan laju mobilnya, dan kemudian berhenti di sebuah taman kota. Lalu William dan Dhea turun dan berjalan memasuki area taman tersebut.
" Duduk situ yuk Dhe ", ajak William, sambil menunjuk pada sebuah bangku panjang kosong tak jauh dari tempat mereka berdiri. Dhea mengikuti ajakan William.
" Tumben kau mengajakku ke tempat seperti ini ?"
" Sekali kali Dhe, aku kan belum pernah mengajakmu menikmati suasana malam di sini ".
" Hahaha dulu juga tiap hari aku selalu menikmati suasana malam Will, sembari pulang dari tempat kerjaku, sebelum seorang laki laki aneh tiba tiba hadir dan tanpa aku minta ingin menjadi supir pribadiku ".
" Apa ?? kau anggap aku supir pribadimu ???"
" Hahaha lalu apa ? tidak ada bedanya kau itu dengan seorang supir pribadi, bukankah tiap hari kau mengantar jemputku Tuan William ?"
" Itu beda Dhe, tidak ada seorang supir pribadi yang duduk di samping majikannya, apalagi majikannya semuda dan secantik dirimu. Kau itu lebih pantas jika disebut sebagai kekasihku sayaaanggg hahaha ".
" Hhhhhh siapa juga yang sudi ", gerutu Dhea ketus.
" Lalu kenapa kau ingin mengajakku kemari, bukankah kau tidak suka pemandangan seperti ini ?"
" Kau tau darimana aku tidak suka ?"
" Hanya menebak saja, karena sepengetahuanku kau itu sukanya ke bar, diskotik, restoran mahal, dan hal hal yang berbau maksiat, iya kan ?"
" Hahaha itu hanya kegiatan sampingan ".
" Kau melakukannya hampir setiap hari dan kau bilang itu kegiatan sampingan ? Dasar gila, aku pikir itu justru kebutuhan utamamu ".
" Kau salah Dhe, dari dulu aku menyukai alam, bahkan aku sering menyendiri di atas balkon depan kamarku, sembari memperhatikan suasana malam, apalagi setelah seharian bekerja, rasanya begitu tenang ".
" Hmmm orang segarang kamu suka menyendiri ? apa tidak salah ? pasti kau sembari berpikir jorok ya ?" Goda Dhea.
" Kau ini selalu tidak mempercayaiku ".
" Bagaimana bisa percaya, selama ini kau memang seperti itu, bahkan aku pernah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri ".
" Kau ini Dhe terserah jika kau tidak percaya ".
" Memang biasanya apa yang kau renungkan saat sendirian ?"
" Tentang banyak hal Dhe, dan tidak mungkin aku sebutkan satu persatu ".
" Jangan jangan tentang nasibmu yang tragis itu ya ? Hahaha ".
" Bisa tidak kau berhenti memperolokku ?"
" Rasanya sulit Tuan William, karena itu terlalu menyenangkan ", jawab Dhea singkat.
" Lalu kau sendiri, kenapa tidak pernah menceritakan tentang kehidupanmu di negaramu sana ?"
" Kehidupanku ? hahaha tidak ada yang menarik untuk kuceritakan Will ".
" Kenapa ?"
" Karena dulu waktuku hanya kuisi dengan belajar, belajar dan belajar, jarang sekali aku bermain bersama kawan kawanku ".
" Benarkah ?"
" Ya, dari dulu aku itu ingin sekali bisa melanjutkan pendidikan di sini, tapi jika mengharapkan gaji orang tuaku itu tidak akan mungkin, maka aku harus berusaha sendiri dengan otakku, dan inilah hasilnya sekarang, makanya aku ingin menyelesaikan studiku dengan lancar di sini, tapi tiba tiba hidupku berubah berantakkan setelah kamu hadir ".
" Hei tapi aku kan tidak pernah mengganggu studimu ?"
" Ya benar tapi menggangguku, terlebih konsentrasiku, dan itu berarti juga telah mengganggu studiku, kau paham tuan ??"
" Ya itu karena kau terlalu memikirkannya, seandainya saja kau anggap semua ini bukan beban, pasti akan baik baik saja ".
" Hahhh baik baik saja dari Hongkong ? Kau setiap hari menguntitku, setiap hari memaksaku untuk ikut denganmu, mengirim orang orangmu untuk mengawasiku, kau bilang bukan beban. Kau tau ?dulu aku sampai seperti seorang maling, tiap hari selalu sembunyi sembunyi menghindarimu, aku selalu was was jika bertemu dengamu ".
" Itu dulu kan ? dan sekarang sudah tidak bukan ?"
" Kata siapa tidak ? aku hanya berusaha menyadari saja, bahwa orang yang mengejar ngejarku selama ini mungkin adalah salah satu mantan pasien rumah sakit jiwa, sehingga aku perlu sabar untuk menghadapinya ".
" Hahaha kau lucu sekali Dhe ".
" Dan kau sangat menyebalkan sekali ", kata Dhea ketus.