Something different

Something different
Menemui William



Taksi yang dinaiki Dhea terus melaju membelah jalanan di keremangan malam. Hujan turun semakin deras, sederas air mata Dhea yang sangat kecewa dengan sikap William yang tidak mau menemuinya. Rindunya pada laki-laki itu sekejap sirna berganti rasa benci yang mulai tumbuh di hatinya.


" Ternyata hanya sebatas ini rasa cintamu padaku. Dulu kau bilang tidak bisa hidup denganku, tidak bisa jauh denganku, namun hanya dalam tempo satu tahun kau sudah lupa semuanya. Hebat, ternyata cinta bisa membuatku begitu luar biasa menyayangi seorang, namun bisa juga membuatku jadi berubah 180° membencinya, seperti apa yang kurasakan saat ini padamu Will." Gumam Dhea sambil terus menangis sembari menatap titik-titik air hujan yang membasahi jendela kaca di samping tempat duduknya.


Dhea terus menangis sembari memandang bangunan gedung di samping kanan kirinya, jalan-jalan yang dulu pernah dilewati bersama William, lelaki yang pernah begitu amat dibenci, namun kemudian justru amat dicintainya.


Namun tiba-tiba saja handphonennya berdering, dilihatnya Bram memanggilnya.


" Bram? Ya ampun kenapa aku bisa melupakannya? Padahal dari kemarin aku di hotel sendirian." Gumam Dhea. Kemudian Dhea segera mengangkat handphonennya.


" Hallo Dhe?"


" Hallo Bram."


" Kau sedang ada di mana?"


" Aku di bandara Bram dan hendak kembali ke negaraku."


" Jadi kau sudah ada di sini?"


" Iya Bram."


" Tunggu aku ya? Aku akan ke situ." Kata Bram, dia kemudian segera memacu kendaraannya menuju bandara.


Taksi yang dikendarai Dhea telah sampai di tempat parkir bandara, setelah membayar sejumlah uang Dhea segera menurunkan kopernya dan berjalan masuk ke dalam bandara tersebut. Dia berhenti sejenak sambil memandang sekelilingnya, seolah sedang merekam semua pemandangan di sekitar bandara itu di otaknya.


" Aku harap ini bukan terakhir kali datang ke kota ini, semoga di lain waktu bisa kesini lagi namun dengan kondisi yang berbeda dan tidak sehancur sekarang." Gumam Dhea.


Kemudian dia segera membalikan badannya lagi, dan melangkah dengan yakin untuk meninggalkan kota itu, lalu masuk ke dalam bandara.


Bram terus menambah kecepatannya agar bisa segera bertemu Dhea. Saat sudah tiba di parkiran bandara, Bram segera berlari keluar dan menemui Dhe. Dhea menunggu Bram, sambil sesekali melihat arloji di tangannya.


" Dhe!!" Panggil Bram saat melihat sosok Dhea yang tak jauh dari dirinya. Kemudian dia berlari mendekati Dhea.


" Dhe maaf aku terlambat menemuimu." Kata Bram, nafasnya ngos-ngosan.


" Tidak Bram seharusnya aku yang minta maaf karena lupa menghubungimu.


" Mana William Dhe?"


Dhea menundukkan wajahnya, Bram melihat ada segurat kesedihan di wajah Dhea.


" Dia tidak datang Bram."


" Benarkah Dhe?"


" Iya Bram, aku sudah menunggunya 1 jam lebih, tapi dia tidak menampakkan batang hidungnya."


" Mustahil jika dia tidak datang Dhe, bukankah dia sangat mencintaimu?"


" Itu dulu Bram, dan tidak sekarang. Buktinya dia tidak menemuiku."


" Sebenarnya apa yang dipikirkannya sehingga membiarkan kau datang ke sini, sedangkan dia tidak mau menjumpaimu?"


" Entahlah Bram mungkin dia sudah mendapatkan wanita yang lebih segalanya dari aku."


" Iya Bram, doakan aku agar segera mendapatkan penggantinya."


" Jika kau belum dapat juga, kabari aku, karena aku akan segera menjemputmu untuk menjadikan kau istriku." Jawab Bram sambil tertawa.


" Hehhh candaanmu tidak lucu sama sekali." Jawab Dhea sambil berusaha berdamai dengan hatinya.


" Ya sudah aku pergi dulu ya, aku tidak mau ketinggalan pesawat, karena sama saja aku melewatkan kesempatan untuk segera tiba di rumahku lebih cepat."


" Apakah itu artinya kau sudah tidak betah berlama-lama di sini?"


" Ya sepertinya aku lebih nyaman berada di negaraku."


" Apakah karena tidak ada laki-laki seperti William di sana?" Tanya Dhea sambil sedikit memperolok Dhea.


" Ahhh kau ini menyebalkan sekali."


" Ya sudah Dhe semoga kau selamat hingga tiba di negaramu sana. Lupakan kesedihanmu, karena masih ada masa depan yang lebih indah untuk kau jemput di sana."


" Iya Bram, semoga saja."


Kemudian Dhea segera menarik kopernya ke dalam meninggalkan Bram yang terus memandangi tubuhnya hingga hilang.


Seperti biasanya Dhea selalu memilih tempat duduk di dekat jendela, tempat yang sangat disukainya saat berada di dalam pesawat. Satu persatu penumpang segera memenuhi pesawat yang berkapasitas 300an orang itu. Suasana semakin ramai dari suara orang-orang yang sedang bercengkerama antara satu dengan yang lainnya. Namun entah mengapa justru Dhea merasa sepi, dan dia lebih suka berdiam diri sambil menatap suasana di luar jendela sampingnya.


Diliriknya arloji di tangannya, pesawat terlambat terbang setengah jam, entah kenapa? Biasanya juga pesawat yang dia tumpangi selalu tepat waktu.


Tak lama kemudian terdengar suara petugas dari speaker menerangkan bahwa pesawat sebentar lagi akan take off.


Air mata Dhea semakin deras membasahi pipinya.


" Selamat tinggal London, selamat tinggal William, kita akan benar-benar berpisah, dan mulai saat ini aku akan membiasakan diri tanpamu walaupun itu sangat menyakitkan".


" Terimakasih kau telah memberiku cinta, namun ternyata aku tidak bisa memilikimu seuntuhnya, walaupun hari ini saat terakhir perpisahan kitapun kau tak menampakkan batang hidungmu, bahkan sekedar telfonpun tidak."


" Terimakasih semuanya, mungkin sebatas ini arti diriku buatmu".


Suara pramugari mulai terdengar menyapa semua penumpang sebagai tanda pesawat hendak take off.


" Para penumpang yang terhormat, selamat datang di penerbangan Garuda Air line dengan tujuan Jakarta. Penerbangan ke Jakarta akan kita tempuh dalam waktu kurang lebih 15 jam dan 40 menit. Perlu kami sampaikan bahwa penerbangan Garuda Air line ini adalah tanpa asap rokok, sebelum lepas landas kami persilahkan kepada Anda untuk menegakan sandaran kursi, menutup dan mengunci meja-meja kecil yang masih terbuka dihadapan Anda, mengencangkan sabuk pengaman, dan membuka penutup jendela. Atas nama seluruh awak pesawat yang bertugas mengucapkan selamat menikmati penerbangan ini, dan terima kasih atas pilihan anda untuk terbang bersama kami."


Dhea berusaha memejamkan matanya dan sekuat tenaga ingin melupakan semuanya, walaupun sebenarnya dia begitu sakit.


Pesawat terbang mulai tenang, Dhea melihat ke layar monitor, dan pesawat sudah jauh berada di atas ketinggian.


Baru saja kira kira 20 menit pesawat terbang, terdengar suara petugas dari microphone.


" Perhatian-perhatian kepada seluruh penumpang, maaf mengganggu istirahat anda semua."


" Hari ini hadir di sampingku seorang pria yang ingin mengatakan sesuatu kepada kekasihnya yang ada di pesawat ini, kami harap anda semua tidak terganggu, terimakasih."


Dhea diam saja, tidak memperdulikan suara petugas itu, dia terus melamun dan bermain main dengan imajinasinya, sementara itu semua penumpang lain ribut berbicara pada penumpang lain seolah tidak sabar dan ingin tau siapa penumpang yang disebut oleh pramugari itu.


Cie...cie...penasaran lohhh...besok aja ya lanjutannya, nggak asyik kalau dibablasin. Menurut kalian cerita ini diperpanjang atau nggak ya? Author takut pada bosan semua, jadi jika ada masukan author bisa memikirkan kelanjutan episode selanjutnya lanjut or end. Ditunggu masukkannya ya...makasihhh...🙏🙏🙏