
" Anda ingin apa nona? biar saya ambilkan." Tanya Arthur saat Dhea baru bangun dari tempat tidurnya.
" Tolong ambilkan aku minum saja, tenggorokanku rasanya kering." Jawab Dhea.
" Baik nona." Jawab Arthur sambil beranjak dari tempat duduknya.
" Silahkan nona." Kata Arthur sambil memberikan gelas yang sudah berisi air putih pada Dhea. Dhea menghabiskan semua minuman yang diambilkan oleh Arthur hingga gelas itu kosong.
" Terimakasih Arthur." Kata Dhea sambil memberikan gelas itu kembali pada Arthur.
" Sama-sama nona." Jawab Arthur sambil berjalan dan meletakkan gelas itu kembali di atas meja.
" Nona bagaimana kondisi anda? Apakah sudah baikan?"
" Lumayan Arthur, kepalaku tidak sesakit tadi."
" Seandainya tadi pagi sebelum ke kampus nona mau saya antarkan ke dokter, mungkin nona tidak akan pingsan seperti ini."
" Aku tidak mau dosen pembimbingku nanti menungguku lama Arthur, aku tidak enak padanya." Jawab Dhea masih dengan suara yang lemah.
" Ya sudah kalau begitu anda istirahat saja dulu nona, biar saya tunggu anda di sini. Jika anda perlu apa-apa jangan sungkan mengatakannya padaku."
" Ya Arthur terimakasih banyak ya? Maaf sudah merepotkanmu."
" Tidak nona, anda tidak merepotkanku, jadi anda jangan merasa tidak enak." Jawab Arthur lagi.
" Ya Arthur." Jawab Dhea.
Kemudian Dhea memejamkan matanya. Biasanya jika William tau Dhea sedang sakit? laki-laki itu pasti akan sibuk sekali kesana kemari untuk mencari kebutuhan Dhea juga makanan kegemaran Dhea. Namun kali ini jangankan sibuk, sekedar untuk menelfonpun tidak. Tidak mungkin laki-laki itu tak mengetahui bahwa dia sedang sakit, karena pasti Arthur sudah mengabarinya, begitu tebakan Dhea.
Tak lama kemudian pintu kamarnya diketuk dari luar. Kemudian Arthur beranjak dari duduknya untuk membuka pintu tersebut. Ternyata yang datang Nyonya Christy.
" Masuklah." Kata Arthur.
" Terimakasih." Jawab Nyonya Christy singkat.
Lalu Nyonya Christy mendekati Dhea yang sedang terbaring di ranjang.
" Sayang, bagaimana keadaanmu?" Tanya Nyonya Christy sambil membelai kepalanya.
" Nyonya anda di sini?" Kata Dhea terkejut saat tau Nyonya Christy yang ada di hadapannya.
" Iya sayang, aku di sini untuk menemanimu. Ini tadi aku ambilkan pakaian yang ada di kamarmu."
" Kau bisa masuk apartemenku?"
" Tentu saja Dhea, pemilik apartemen itu kan Tuan William." Jawab Nyonya Christy.
" Hehhh benar tebakanku, ternyata dia memang sudah mengetahuinya, tapi kenapa dia tidak kemari dan menengokku sebentar? Apakah dia pikir aku akan kembali meratapinya seperti beberapa hari yang lalu?" Kata Dhea dalam hati. Perasaannya sedikit marah.
" Apakah laki-laki itu yang menyuruh anda ke sini Nyonya?"
" Ya sayang, Tuan William yang memintaku untuk menemanimu."
" Kenapa bukan dia sendiri yang menengokku? Apakah dia takut aku akan melarangnya pergi lagi dari hadapanku?" Tanya Dhea, nadanya sedikit ketus dan terlihat tidak senang dengan sikap William yang seolah menghindarinya.
" Kamu jangan salah paham Dhea. Tuan William sangat percaya bahwa kau mampu menghadapi ini semua."
" Tapi kenapa dia selalu menghindariku? Bahkan menonaktifkan nomor handphonennya."
" Karena dialah yang tidak sanggup untuk bertemu denganmu nona, dia takut untuk tidak bisa berpisah dengan anda, sedangkan dia sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak menemui anda dulu sebelum waktu yang telah disepakati."
" Hehhh...alasan klasik." Gerutu Dhea.
" Aku justru curiga dia memang membuat skenario ini untuk sengaja menghindariku." Kata Dhea lagi dengan nada yang masih menyimpan rasa tidak sukanya.
" Dhea...Apakah kau mulai tidak percaya padanya? Bukankah ini semua dilakukan hanya untukmu? Bahkan Tuan William rela tersiksa jauh darimu."
" Tapi nyonya, kenapa harus dengan cara seperti ini? Jika memang dia ingin aku bisa menjalani hariku dengan normal kembali, kenapa dia tidak membiarkan aku menghabiskan waktu di sini dengan kesendirianku? Bukannya terus membebaniku dengan semua fasilitasnya."
" Jadi semua yang Tuan William berikan padamu ini, kamu anggap beban sayang? Padahal dia sangat mengkhawatirkanmu, bahkan dia memintaku mulai sekarang harus menemanimu dan tinggal bersamamu."
" Kenapa sayang?"
" Nyonya, seandainya dia memang tidak mau bertemu denganku, seharusnya dia menyingkirkan segala hal yang bisa mengingatkanku padanya."
" Sayang, Tuan William itu sangat mencintaimu, mungkin dia tidak rela kau begitu saja melupakannya."
" Berarti dia egois nyonya, dia tidak mau aku melupakannya, tapi dia sendiri ingin melupakanku!!"
" Dhea...Tuan William cerita banyak padaku. Betapa hancurnya dia saat harus mengambil keputusan itu, tapi ini demi kebaikan kalian berdua."
" Nyonya, aku tau apa yang seharusnya kulakukan. Katakan padanya jangan lagi mengkhawatirkanku. Aku bisa berdiri sendiri dengan kedua kakiku. Mungkin saat ini aku belum bisa melupakannya, tapi percayalah aku bisa melewati ini semua, walaupun itu tanpa dia. Katakan juga, tetap jadi William yang kukenal. Aku janji satu tahun lagi akan menemuinya di tempat yang telah kami sepakati." Kata Dhea.
" Ya sayang aku percaya padamu, aku sangat mengenalmu. Kau gadis yang sangat mandiri dan pekerja keras. Aku yakin suatu hari nanti kau akan menemukan kebahagiaanmu."
" Terimakasih nyonya." Kata Dhea.
Tiba-tiba telfon Nyonya Christy berdering.
" Sebentar ya sayang, ada telfon masuk."
" Silahkan nyonya." Jawab Dhea.
Kemudian Nyonya Christy keluar dari kamar Dhea, dia tidak ingin Dhea mendengar pembicaraannya, karena yang menelfonnya adalah William.
" Hallo Chrisy ."
" Iya hallo Tuan."
" Bagaimana keadaannya?"
" Sepertinya kondisi nona Dhea sudah agak membaik, Tuan."
" Bagus, kau temani terus dia. Kau sudah mengambil baju di apartemennya tadi kan?"
" Sudah Tuan, ini sudah saya bawakan untuk dia."
" Lalu bagaimana reaksinya saat tau kau kesana?"
" Dia sedikit marah tuan."
" Hehhh...sudah kutebak." Bisik William.
" Anda menebak apa Tuan?"
" Aku sangat hafal sifatnya Christy, dia pasti akan marah dengan semua perhatianku ini, sedangkan aku tidak ingin bertemu dengannya."
" Ya Tuan benar kata anda, bahkan dia tidak mau aku menemaninya tinggal di apartemennya."
" Benarkah Christy?"
" Ya tuan, begitu kata Nona Dhea."
" Pasti dia berkata bahwa dia mampu menjalaninya sendiri kan?"
" Anda tau darimana Tuan?"
" Aku tau segalanya tentang dia Christy, dia gadis yang memiliki kemauan keras, tidak mau dianggap lemah, padahal aku paham dia sangat rapuh."
" Ya tuan, Dhea memang seperti itu."
" Ya sudah biarkan saja jika dia tidak mau kau menemaninya. Yang penting tolong rawatlah selama dia sakit. Dan yang harus kau ingat, carikan makanan di luar rumah sakit, karena dia tidak bisa makan sembarangan."
" Baik tuan anda jangan khawatir, anda bisa mempercayakannya semua pada saya."
" Terimakasih Christy."
" Sama-sama Tuan."
Lalu William segera menutup telfonnya.