Something different

Something different
Mike menelfon papanya



Mike sengaja tidak mengabari papanya terlebih dahulu, dia ingin papanya datang saat dia sudah berada di rumah. Hari itu dokter sudah mempersilahkan Deasy kembali ke rumah. Dan ketika hendak pulang, diawali dengan perdebatan lagi, karena Deasy benar-benar tidak mau menggendong buah hatinya itu.


" Aku tidak mau menggendongnya Mike, aku sudah bilang padamu bukan? aku hanya mau menyusuinya saja, tapi setelah itu jauhkan dia dariku."


" Kau ini Deasy, keterlaluan sekali!!! dimana hati nuranimu sebagai seorang ibu?"


" Hati nuraniku tidak kemana-mana Mike, masih di sini." Sambil menunjuk dadanya.


" Tapi bukan untuk anak seperti dia." Sambil menatap bayi mungilnya yang tertidur di ranjang bayi yang letaknya sedikit jauh darinya.


Mike hanya menarik nafas panjang. Dia tidak mau ribut lagi dengan Deasy di dalam rumah sakit. Akhirnya dia menelfon salah satu pegawainya untuk segera mengirimkan baby sitter untuk bayinya.


" Ya, cepat aku tunggu ya."


Mike yang memiliki banyak relasi, dengan mudah mendapatkan semua yang dia butuhkan hanya dengan menelfon saja. Dia tidak perlu keluar rumah demi untuk mencari babyi sitter saja. Orang-orangnyalah yang akan bekerja mencarikan untuknya.


Benar saja, tanpa harus menunggu lama, telfonnya kembali berdering.


" Bagaimana? oh ya bagus, langsung bawa dia kemari ya. Kerjanya di mulai hari ini. Terimakasih banyak atas bantuanmu." Kata Mike. Kemudian dia menutup telfonnya.


" Aku sudah mencarikan baby sitter untuk anak kita. Biar dia yang mengurusnya, jika kau memang tidak mau untuk mengurus anak kita."


" Terserah kau." Kata Deasy sambil memalingkan mukanya.


Tak lama setelah selesai menelfon, Mike keluar kamar. Dia berjalan-jalan di sekitar rumah sakit, hanya untuk sekedar menghilangkan penat di kepalanya.


" Oh iya aku lupa, aku belum memberitahukan papa. Yah....aku harus menelfonnya, dan menceritakan kondisi anakku." Katanya tiba-tiba.


Mike lalu mengambil handphone di saku celananya, orang pertama yang ditelfonnya adalah papanya.


" Hallo nak." Suara papa Mike terdengar di seberang sana.


" Hallo pah."


" Kau dimana? sudah dua hari kau tidak kemari." Tanya papa Mike. Mike memang selalu rutin mengunjungi papanya. Jika sedang tidak menginap, dia selalu menyempatkan diri berkunjung kesana.


" Ohhh maaf pah, baru menelfon papa. Aku sekarang ada di rumah sakit pah."


" Di rumah sakit nak? ada apa? kalian baik-baik saja kan?" tanya papanya terkejut.


" Tenang pah, kami baik-baik saja. Deasy melahirkan pah."


" Apa melahirkan? bagaimana dia? bayinya sehat kan?"


" Dia dan bayinya sehat pah. Cucu papa laki-laki."


" Benarkah??? Ya Tuhaaannn...akhirnya aku memiliki penerus keluarga Anderson..!!"


" Kau di rumah sakit mana? biar papa kesana." Kata papanya antusias.


" Tidak usah pah, hari ini Deasy sudah diperbolehkan pulang. Aku sedang menunggu baby sitter. Setelah dia datang, kami langsung pulang."


" Kalau begitu papa akan siap-siap dulu, papa akan berangkat sekarang ke rumahmu. Papa tidak sabar melihat cucu papa. Papa bahagia sekali Mike." Suara papa Mike terdengar girang luar biasa. Mendengar hal itu, perasaan Mike begitu teriris. Papanya belum tau bagaimana keadaan cucunya itu. Dia pasti akan sangat shock jika melihat kenyataan tersebut.


" Ya sudah Mike, matikan telfonmu, papa akan langsung kesana."


" Pa, tunggu dulu!!"


" Ada apa lagi Mike? papa sudah tidak sabar ingin melihat cucu papa, papa akan mengambil gambarnya dan mengirimkan pada kolega-kolega papa. Mereka pasti akan ikut senang mendengar berita ini."


" Ada apa nak??? kenapa kau tidak bersemangat menyambut ini semua??"


Mike merasa tidak tega membuat papanya kecewa, sedang orang tua itu baru saja bereforia dengan kabar yang baru saja dibawanya.


" Mike??? kau tidak apa-apa??" nalurinya sebagai orang tua mulai membaca ketidakberesan yang sedang dialami anaknya.


" Mike, ceritakan pada papa, ada apa?"


" Pah, Mike takut papa akan kecewa."


" Hal apa yang membuat papa kecewa, sehingga kau begitu mengkhawatirkannya???"


" Pah. Keadaan bayiku tidak seperti yang papa bayangkan."


" Maksudmu apa Mike?"


" Pah, maafkan aku. Aku yakin papa akan benar-benar kecewa jika sudah melihatnya."


" Mike. Papa itu sudah sering diterpa masalah, dan hingga hari ini papa tetap kuat. Katakan pada papa, kau tidak usah takut."


Mike diam sesaat, lalu menarik nafasnya panjang. Mengumpulkan kekuatan untuk bisa membuka mulutnya, menyampaikan kabar yang pastinya membuat orang tuanya bersedih.


" Pah. Anakku lahir tanpa bisa melihat." Kata Mike pelan.


" Apa Mike??? ulangi kalimatmu!!" Kata papanya. Sebenarnya walaupun pelan, namun suara Mike cukup jelas, dan bisa terdengar tanpa harus mengulanginya lagi. Namun papa Mike seakan tidak percaya dengan apa yang diucapkan Mike, sehingga dia meminta untuk mengulanginya.


" Pah, anakku buta, dia tidak bisa melihat. Dan dokter memvonis tidak ada satupun cara untuk membantunya bisa melihat dunia ini." Kata Mike berapi-api. Dan setelah itu dia tertunduk lesu, seolah baru saja melepaskan beban berat yang diembannya.


" Mike, benarkah semua itu??"


" Ya pah benar. Maafkan aku pah, papa pasti kecewa. Seharusnya cucu papa bisa menjadi kebanggaan keluarga Anderson, tapi!!!"


Papa Mike sangat terkejut. Rasanya dadanya seperti dihantam ribuan batu. Dia terdiam sesaat, sedikit shock dengan kenyataan yang dialaminya. Namun kemudian dia langsung sadar. Benar dia kecewa, namun Mike pasti lebih kecewa dan sangat sedih melihat buah hatinya seperti itu. Akal sehatnya mulai bermain, perannya sebagai seorang papa sedang dibutuhkan putranya.


" Nak, tenanglah. Ada papa di sampingmu yang akan terus mensuportmu. Besarkan dia. Berikan dia kasih sayang layaknya anak normal lainnya. Kau tidak usah memikirkan bagaimana perasaan papa. Mungkin papa kecewa. Tapi papa tetap bersyukur di usia papa yang mulai senja, papa masih bisa mendengar cucu papa memanggil papa opa."


Mike terkejut dengan jawaban bijak papanya, dia tidak menyangka orang tua yang selama ini begitu mendambakan kehadiran seorang cucu, bisa begitu berbesar hati dengan kondisi cucunya yang cacat.


" Pah, benarkah papa tidak malu memiliki cucu seperti dia?"


" Malu??? hahaha ada hal yang lebih penting dipikirkan, dibandingkan hanya untuk sekedar menyimpan rasa malu, karena sebuah hal yang sebenarnya tidak pantas untuk disebut malu."


" Ayo tutuplah telfonmu. Papa akan bersiap-siap menuju rumahmu. Papa tunggu kalian di sana ya."


" Terimakasih ya pah. Aku benar-benar bersyukur memiliki orang tua seperti anda."


" Aaahhh...sudah, jangan sok berbasa basi. Papa tidak sabar melihatnya. Papa yakin, dia pasti mewarisi wajah tampan papa saat muda hahaha..."


Mike tersenyum getir mendengar kalimat orang tua itu. Anugerah yang sangat besar bisa memiliki orang tua yang begitu bijak seperti papanya.


Selama perjalanan pulang ke rumah sakit, wajah Deasy tidak nampak bahagia sedikitpun, dia terus cemberut dan membuang pandangannya keluar jendela. Hatinya sangat sakit menerima kenyataan yang baru saja dihadapinya. Harapannya tiba-tiba musnah.


" Hehhhh...padahal aku memiliki rencana indah terhadap anakku. Dan Dhea, pasti akan tertawa melihat semua ini. Siall.....!!! Dia pasti akan bersorak-sorak gembira dan siap membalas sikapku selama ini." Katanya dalam hati.


Deasy benar-benar sudah keterlaluan. Yang ada di dalam pikirannya adalah, bagaimana bisa membalas rasa sakit hatinya pada Dhea, melalui anak itu. Namun ternyata Allah berkehendak lain, dan sekarang dia sangat bingung. Giginya gemeretak menahan amarah.


Hati nuraninya sudah hilang. Bukannya memikirkan menyusun masa depan untuk anaknya itu, tapi justru memikirkan bagaimana strategi selanjutnya menghadapi sang kakak ipar, padahal apa yang dia pikirkan terhadap Dhea belum tentu terjadi terhadapnya.