
William naik mobil bersama supirnya saja, sedangkan Feri bersama sang direktur.
" Pak, saya yakin anda tidak bersalah, karena saya sangat mengenal anda, tapi ingat! saya tidak ingin anda mempersulit teman saya, dia sudah bersedia dan mau mengorbankan diri menjadi jaminan atas keselamatan anda."
" Iya Pak Feri, anda bisa mempercayai saya. Kemarin saya memang lalai dalam mengawasan tamu dan tidak meminta data setiap tamu yang masuk."
" Ya itu untuk pelajaran anda, dan jangan sekali-kali melanggar amanah yang telah teman saya beri untuk anda."
" Ya Pak Feri saya tau itu. Saya menyesal bisa seceroboh itu."
Kendaraan William masuk duluan ke lokasi hotel, sambil baru kemudian disusul dengan kendaraan Feri di belakangnya. Lalu mereka segera turun dan masuk ke dalam hotel secara bersamaan. Para pegawai hotel yang mengetahui bos tertinggi mereka datang, segera berdiri sambil menganggukan kepalanya memberi hormat. Sebenarnya William tidak butuh penghormatan itu. Yang dia butuhkan adalah loyalitas mereka terhadap pekerjaan yang mereka emban sekarang. Tanpa loyalitas sebuah pekerjaan tidak akan memiliki hasil yang maksimal, karena hanya bertujuan pada materi semata.
Langkah William yang lebar karena tinggi badannya yang menjulang, membuat sang direktur yang bertubuh pendek sedikit berlari untuk mengimbanginya, sedangkan Feri tetap masih bisa menyesuaikan langkah kaki William.
" Will, pelankan langkahmu sedikit." Bisik Feri karena melihat sang direktur sedikit kepayahan.
" Kenapa Fer? bukankah aku berjalan santai?" Jawabnya masih sambil terus berjalan.
" Itu menurutmu, karena kakimu panjang. Lihatlah direktur itu, kau tidak kasihan padanya hingga setengah berlari karena mengimbangi langkahmu."
William lalu menengok ke arah kanannya, dimana direktur itu sedang berjalan di sampingnya. Benar saja, wajah direktur itu terlihat berkeringat karena kelelahan. William tersenyum dalam hati, dan merasa kasihan terhadap direktur tersebut.
" Hehhhh...pasti dia tidak pernah berolahraga, baru berjalan sedikit cepat saja, nafasnya sudah tersengal-sengal seperti itu." Gerutu William dalam hati, sambil kemudian memperlambat langkah kakinya.
Dia ingat sekali dengan Dhea saat masih pacaran, dulu istrinya itu sering sekali protes saat merasa tidak bisa mengimbangi cara berjalannya, bahkan pernah dia dilempar kerikil karena ternyata Dhea tertinggal di belakang. William tersenyum sendiri mengingat moment itu. Tiba-tiba dia rindu istrinya. Saat ditinggal tadi, dia sedang tertidur pulas di kasurnya. Diliriknya arloji di tangannya.
" Hemmm sudah pukul 12.30, apakah dia sudah bangun?" Tanyanya dalam hati.Lalu dia menghentikan langkahnya.
" Kenapa berhenti Will?" tanya Feri.
" Aku ingin menelfon istriku dulu." Kata William.
" Tolong anda persiapkan semuanya dulu, pukul 13.30 nanti baru rapat akan dimulai. Saya dan Feri ingin sholat dan makan siang dulu sebentar." Kata William pada direktur tersebut.
" Baik tuan, kalau begitu saya duluan. Oh iya anda ingin saya meminta pegawai untuk menyiapkan makan siangnya tidak?"
" Tidak usah, biar saya dan Feri makan di restoran langsung." Kata William.
" Baik tuan. Kalau begitu saya ke atas dulu."
" Silahkan." Jawab William singkat.
Sepeninggal direktur tersebut, William segera mengambil handphone di saku celananya.
" Sebentar ya Fer, aku ingin menelfon istriku dulu. Tidak mendengar suaranya sebentar saja aku sudah rindu." Kata William.
" Kau seperti orang yang punya istri sendiri saja, aku juga punya istri, tapi tidak berlebihan sepertimu itu. Kau bahkan lebih pantas jika disebut sebagi pengantin baru, sedikit-sedikit rindu!"
" Biar saja, aku kan rindu istriku sendiri, dan bukan rindu istrimu. Kenapa kau yang marah? Kau pasti iri ya, tidak bisa seromantis aku?"
" Hahhhh kurang kerjaan sekali aku iri padamu. Memang tidak ada hal lain yang menyenangkan dibanding harus iri denganmu?"
" Hahaha...lihatlah Fer, ternyata yang rindu itu bukan cuma aku, istrikupun merindukanku. Baru saja aku hendak menelfonnya, dia sudah menelfonku terlebih dahulu. Aahhh ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan."
" Bertepuk sebelah tangan bagaimana? kalian kan sudah menikah? dasar dodol!!"
" Ssssssttt diam ya, dua sejoli ingin saling melepas rindu." Kata William sambil tertawa dan meletakkan telfon genggam itu di telinganya.
Feri hanya garuk-garuk kepsla dengan sikap aneh sahabatnya itu.
" Assalamualakum istriku."
" Wa'alaikum salam."
" Sayang kau dimana? kenapa kau tadi tidak mengatakan padaku jika ingin pergi?" tanya Dhea dengan nadanya yang manja.
" Heiiii.. kau baru bangun ya? jangan membuatku semakin rindu padamu mendengar suara manjamu itu sayang!! aku saat sedang bersama Feri, nih dia ada di sebelahku." kata William sambil melirik Feri yang berdiri di sebelahnya, Feri menunjukkan reaksi seperti orang hendak muntah mendengar sahabatnya saling bermesra-mesraan di telfon.
" Iya tadi bibi yang membangunkanku, lalu mengatakan kau pergi."
" Iya sayang, maaf ya tidak memberitahumu terlebih dahulu. Aku tidak tega mengganggu tidurmu. Tadi Feri menelfonku ada sedikit urusan yang membutuhkan kehadiranku."
" Kau sudah makan sayang?" tanya William lagi.
" Belum. Aku makan denganmu saja setelah kau pulang ya?"
" Jangan sayang, sepertinya aku masih lama. Aku makan di hotel bersama Feri. Kau makan sendirian dulu ya?"
" Ya sudah kalau begitu."
" Oh iya, pulangnya nanti ingin kubelikan apa sayang?"
" Hemmmmm...tolong belikan aku ayam goreng xxxx ya, Pak Halim tau tempatnya."
" Oke, nanti aku suruh Pak Halim mengantarkannya. Ya sudah ya sayang. Aku mau sholat dulu."
" Iya sayang. I love you."
" Love you too." Lalu William segera menutup telfonnya.
" Ohhhh Dewa Cinta...begitu indah anugerah yang kau berikan pada dua insan yang sedang dilanda kasmaran ini. Jika aku boleh memohon, pindahkan mereka berdua ke planet yupiter, agar tidak ada yang bisa mengganggu keharmonisan mereka lagi. Karena seandainya kau tau dewa, aku sedari tadi berdiri di sini, seperti seonggok batu yang dipikirnya tidak punya hati dan perasaan, sehingga dengan lancarnya mulutnya mengucapkan kalimat mesra di hadapanku. Ooohhh dewa cinta andai kau tau, aku sakiiiiitttttt....dewa." Tiba-tiba William terbengong mendengar Feri yang sedang berpuitis ria, dan setelah Feri berhenti berbicara barulah William terbahak.
" Hahaha...apa-apaan sih kau ini?" Kata William.
" Untung tidak ada karyawan lain yang melihatmu seperti tadi, jika tidak, dianggapnya kita sedang saling merayu lagi hahaha."
" Eiitttssss...enak saja. Memang aku ini laki-laki apaan??? ayo cyiiinnnn kita come on." Kata Feri sambil dengan gaya kemayunya.
" Hahaha....naudzubillahimindzalik....awas keterusan Fer!!!" kata William terbahak sambil mengikuti Feri di belakangnya.