
William segera masuk ke dalam kendaraannya. Simon menantinya dengan setia di dalam kendaraan pribadinya sedari tadi.
" Kita langsung ke bandara Tuan?" tanya Simon.
" Ya, langsung saja." Jawab William singkat.
Tanpa banyak bicara, Simon segera menekan gas mobil mewah itu. Mobil berjalan santai sesuai dengan interuksi tuannya. William duduk sambil menyilangkan kakinya. Beberapa pesan khusus dikirimkan kepada orang-orang kepercayaannya, termasuk Daniel sahabatnya. Setelah itu "bleb" handphone dimatikannya. Sepertinya hari itu dia memang tidak ingin diganggu oleh siapapun, ataupun telfon dari manapun.
Tak lama kendaraannya telah masuk ke dalam halaman bandara.
" Kau pulanglah sekarang Simon!" Perintah William saat Simon selesai mengantarkannya hingga ke depan bandara, sambil membantu membawakan kopernya.
" Baik tuan. Semoga anda selamat tiba di tempat tujuan." Jawab Simon sambil membungkuk hormat.
" Ya Simon terimakasih." Kata William.
Seorang awak pesawat menghampirinya, lalu membawakan kopernya. Tiket first class yang dia pesan, membuat dia mendapatkan segala kemudahan dalam segala hal, mulai dari urusan chek in, prioritas pertama masuk ke dalam pesawat, hingga ruangan pribadi khusus di dalam kabin yang disediakan untuknya.
Pesawat mulai terbang tenang. William menurunkan sedikit sandaran kursinya. Ruang kabin first class begitu nyaman untuk perjalanan yang lumayan jauh itu. Dia tidak perlu melayani beribu pertanyaan atau bermacam tingkah dari penumpang lain di sebelahnya, yang terkadang karakternya berbeda-beda. Ada yang kepo dan banyak bicara, ada yang cuek dan tidak perduli bahkan sepanjang perjalanannya hanya bermain game, dan ada juga type penumpang yang baru saja duduk langsung minum obat tidur, lalu beberapa menit kemudian terdengar dengkurannya seperti deru pesawat tempur yang sedang memberondongkan senapannya. Dan type penumpang beginilah yang pasti membuat orang di sebelahnya ingin melempar mereka keluar dari pintu darurat.
Perjalan panjang berakhir. William berjalan keluar dari bandara. Ternyata Feri dan istrinya sudah menantinya di ruang penjemputan. Beberapa pasang mata menatapnya kagum. Maklum, walaupun di kota besar seperti Semarang banyak bule bersebaran, namun mana ada yang mau melewatkan indahnya ciptaan tuhan yang begitu sempurna melewati retina mereka. Kapan lagi bisa lihat Bang Willi yang ganteng sedunia itu lewat, biasanya juga yang wira-wiri di depan mereka adalah Bang Su'ep, jika tidak Bang Jainal yang sambil dengan pedenya dan sok kerennya berteriak " Ciiiiilok nengggg...!!!" ahhh....dia anggap suaranya merdu kali ya👊👊
" Hai Will..!" sapa mereka berdua.
" Hai!!" sapa William sambil membuka kacamata hitamnya, lalu memeluk Feri dan kemudian hanya mengganggukan kepala pada istrinya itu, karena dia tau temannya tersebut sudah benar-benar mendalami agamanya.
" Bagaimana perjalananmu Will?" Tanya Mariyam, istri Feri.
" Sangat nyaman Mar, bahkan aku tidak merasa jika sudah menempuhnya selama 14 lebih." Jawab William sambil melangkah keluar bandara di samping Feri.
" Kita langsung ke rumah saja ya?" kata Feri.
Mereka bertiga berjalan beriringan menuju kendaraan Feri yang terparkir di depan, tawaan kecil terdengar beberapa kali dari bibir mereka.
" Kau benar-benar sudah mantap dengan keputusanmu itu Will?" tanya Feri yang duduk di sebelahnya sambil mengemudikan mobil. Sedangkan Mariyam cukup tau diri untuk mempersilahkan tamunya duduk di depan, di tempat biasanya dia bersebelahan dengan suaminya.
" Insyaallah Fer, aku sangat mantap." Jawab William.
" Luar biasa, bahkan kau sudah mengucapkan insyaallah walaupun belum resmi memeluk islam Will." Jawab Mariyam dari kursi belakang.
" Bukankah harus seperti itu Mar? walaupun lisanku belum mengucap secara resmi mengimaniNya, namun hatiku sudah yakin untuk menyembahnya." Jawab William penuh percaya diri.
" Selamat datang saudaraku. Semoga kau istiqomah dengan agama barumu nanti. Mulailah dari sini untuk memperbaiki semuanya. Jadilah sebaik-baiknya umat yang taat dan hanya takut kepadaNya."
" Harus itu Fer, setelah ini sepertinya aku akan selalu merepotkan kalian berdua, karena banyak hal yang masih harus kupelajari."
" Pintu rumah kami terbuka lebar untukmu Will. Ya tidak umi?" Tanya Feri pada istrinya.
" Tentu saja bi." Jawab Mariyam sambil tersenyum.
" Kekasihmu bagaimana kabarnya? apakah kau tetap memantaunya setelah berpisah darinya?" Tanya Feri lagi.
" Pasti Fer. Aku tidak ingin lengah sedikitpun untuk menjaganya. Walaupun untuk sementara waktu ini aku hanya bisa mengirimkan orang-orangku untuk mengawasinya 24 jam sehari."
" Memangnya menurut kalian aku sudah berlebihan ya??"
Feri dan Mariyam tertawa bersama.
" Sah-sah saja untuk orang kaya sepertimu yang sedang jatuh cinta, membuang uang hanya untuk menjaga seorang gadis yang kau puja, agar kulit arinya tidak tergores sedikitpun."
" Seorang raja Babilonia saja rela mengeluarkan biaya besar untuk membuat taman gantung untuk istri tercintanya yang bernama Amytis, maka kaupun jangan kalah dengannya, secara kau juga kan seorang raja, raja di hati kekasihmu Dhea, hahaha." Seloroh Feri disusul tertawa istrinya.
" Ahhh...kalian ini seperti tidak pernah muda saja." Gerutu William.
" Hei...kau pikir kami ini sudah tua? bahkan kami masih pantas disebut sebagai sepasang pengantin baru. Benar kan mi?" kata Feri pada istrinya.
" Ya bi, apapun kata-kata abi pasti selalu benar." Jawab Mariyam.
" Hahaha...suka-suka kalian sajalah." Jawab William lagi.
Jarak perjalanan rumah Feri dan bandara sebenarnya tidak terlalu jauh, namun padatnya jalanan kota Semarang hari itu, sepertinya tidak mengijinkan kendaraan yang mereka tumpangi untuk berjalan di atas kecepatan 40km/jam. Ibarat seekor siput, perjalanan mereka lebih tepat disebut merayap, begitu pelan dan lambat.
" Beginilah semarang Will, bahkan kota ini masuk dalam salah satu daftar kota termacet di Indonesia." Jawab Feri.
" Itu sudah biasa Fer. Kota besar itu selalu identik dengan kemacetannya."
Tak lama kemudian, akhirnya mereka bisa bernafas lega, karena kendaraan mereka sudah keluar dari titik kemacetan. Feri sedikit menambah kecepatan mobilnya. Lalu membelokkannya ke area komplek rumahnya.
" Ahhhh...akhirnya kita sampai juga." Gumam Mariyam, ketika kendaraan yang dikemudikan suaminya telah tiba di depan halaman rumahnya.
" Ayo Will masuk." Ajak Feri.
" Terimakasih." Jawab William.
Beberapa bulan yang lalu dia sempat menginap di rumah sahabatnya dengan tujuan untuk membangun usaha di kota ini. Dan sekarang dia tidak menyangka rencananya berjalan begitu lancar, niatnya untuk melamar gadis pujaannya tinggal selangkah lagi. Semoga Tuhan melancarkan semuanya amiin.
" Ahhhh.....nyamannya." Gumam William sambil meluruskan kaki duduk di atas sofa rumah sahabatnya itu.
" Kau mau minum apa Will, biar aku buatkan?" tanya Mariyam.
" Teh hangat saja Mar." jawab William.
" Abi juga teh seperti biasa kan?"
" Iya mi, terimakasih ya?"
" Sama-sama bi." jawab Mariyam lalu segera menuju ke dapur.
" Kalian ini harmonis sekali ya, aku iri melihatnya."
" Hahaha, kau juga nanti harus seperti itu memperlakukan istrimu. Agar rumahmu selalu dipenuhi cinta, dan aku yakin kau tidak akan bisa berhenti untuk tidak ingin mengajak dia selalu berduaan denganmu." Kata Feri setengah berbisik.
" Hahaha...." tiba-tiba dua laki-laki itu tertawa bersama. Entah apa yang lucu dengan kalimat Feri sehingga mereka terlihat begitu senang. Pasti mereka mengartikannya versi majalah dewasa. Biarkan saja ya, yang penting mereka telah berusia 17 tahun ke atas.