
William ngobrol dengan Daniel hingga malam hari, namun tiba tiba handphone William berdering. William segera mengambil handponennya dan melihat Dhea sedang memanggilnya.
" Siapa Will ?" Tanya Daniel.
" Dhea Dan. "
" Cepat angkat, siapa tau penting !" Kata Daniel lagi.
" Sebentar ya Dan. "
" Ok. "
Lalu William mengangkat telfonnya.
" Hallo Dhe. "
" Will, kau dimana ?"
" Aku sedang di rumah. Ada apa ?"
" Will, aku bosan sekali di sini. "
" Kau ingin aku temani ?"
" Hmmm...iya atau tidak ya ???"
" Hahaha....jangan banyak basa basi begitu, tunggu ya ? sebentar lagi aku datang ke apartemenmu."
Kemudian William menutup telfonnya.
Dengan tersenyum dia menatap Daniel.
" Hmmm sepertinya kabar baik ya ?" Tanya Daniel sambil tersenyum penuh arti.
" Ya teman dia mulai membutuhkanku ", jawab William girang.
" Hahaha...bagus...perlahan tapi pasti Tuan William. "
" Yaaa....kita lihat saja perkembangan selanjutnya. "
" Kau pulanglah sekarang cepat ! Dia sedang menungguku. "
" Kau tidak ingin kutemani ?" Tanya Daniel menggoda.
" Sepertinya aku berani pergi sendiri Daniel, dan aku tidak butuh seorang teman untuk mengawalku berduaan dengannya. "
" Hahaha....", merekapun tertawa bersama.
Lalu Daniel dan William berjalan keluar bersama. Danel pulang ke rumahnya, sedangkan William langsung menuju apartemen Dhea.
Sementara itu Dhea terlihat sedang tidur tiduran saja di atas kasurnya sambil bermain android. Malam itu dia merasa jenuh sekali, tidak tau apa yang harus dikerjakannya.
Tak lama kemudian pintu apartemennya ada yang mengetuk. Dhea segara beranjak dari tempat tidurnya dan meraih jilbab yang sedari tadi teronggok di sampingnya.
Saat membuka pintu terlihat William sedang berdiri di depan kamarnya.
" Hai sayang ", sapa William.
" Masuklah !" kata Dhea singkat.
Kemudian William masuk dan tak lupa dia membuka pintu kamar Dhea lebar lebar, Dhea hanya meliriknya sebentar kemudian tersenyum karena William tidak lupa kebiasaannya itu.
" Kenapa ? Kau sedang jenuh ya ?"
" Iya Will, aku bingung. Coba apa yang bisa aku kerjakan sekarang ? Kau memintaku keluar dari swalayan Bram, sekarang lihatlah ! Dari tadi aku hanya tidur tiduran di sini ", kata Dhea sambil cemberut.
" Hahaha...itu karena kamu belum terbiasa Dhe. Bagaimana kalau kita keluar saja ? menikmati suasana malam. "
" Hmmm....bolehlah. Tunggu sebentar ya ! Aku mengganti bajuku dulu ".
" Ya, silahkan. Aku tunggu di sini ".
Kemudian Dhea segera beranjak menuju kamarnya. Tak lama kemudian dia telah keluar lagi.
" Kau sudah makan belum Dhe ?" Tanya William saat berjalan keluar dari apartemen Dhea.
" Sudah tadi di kamar, pesan dengan pegawaimu ".
" Kalau begitu kita duduk di taman kota bagaimana ?"
" Terserah kau saja, yang penting aku tidak mengeram di kamar ini saja ", jawab Dhea.
Tak lama kemudian kendaraan William telah tiba di tempat tujuan. Setelah menepikan mobilnya, mereka berdua langsung berjalan menuju taman yang ada di tengah tengah kota itu.
" Duduk sana saja Dhe !" Ajak William sambil menunjuk sebuah kursi kosong yang baru saja ditinggalkan oleh sepasang muda mudi.
Kemudian Dhea dan Williampun menuju kursi kosong tersebut.
" Bagaimana kau masih jenuh tidak ?"
Tanya William.
" Ya kalau sekarang sudah tidak Will, entah nanti kalau sudah di kamar lagi ".
" Kalau kau memang butuh pekerjaan agar tidak jenuh di rumah terus, aku bisa mempekerjakanmu di kantorku Dhe ".
" Tapi kan di kantormu itu jam kerjanya siang hari, lalu kuliahku bagaimana ?"
" Sebenarnya kalau kamu ingin bekerja malampun aku bisa menempatkanmu di tempat usahaku yang beroperasinya malam hari. Tapi aku tidak mau Dhe, tubuhmu itu butuh istirahat, tidak baik jika kau terus pulang larut malam seperti dulu lagi ".
" Iya, tapi lama kelamaan kamu akan terbiasa Dhe ".
Tiba tiba seorang anak kecil penjual bunga lewat di depan mereka. William memanggil anak tersebut.
" Tolong berikan aku bunga mawar merah itu !"
Kata William kepada anak tersebut.
" Ini Tuan ", sambil menyerahkan mawar tersebut pada William.
Setelah memberikan beberapa lembar uang anak itu segera pergi.
" Nih Dhe buatmu !" Kata William sambil menyerahkan mawar merah itu kepada Dhea.
" Buatku ?"
" Ya buatmu ", kata William meyakinkan
" Hahaha kau ini sok romantis, Will. Terimakasih ya ?" Kata Dhea sambil mengambil mawar merah itu dari tangan William.
" Sama sama Dhe. Aku tuh memang romantis Dhe, tapi kamu kan selalu menolakku ". Kata William sambil tersenyum.
" Will ".
" Ya ", jawab William.
" Aku waktu itu bertemu adikmu, kemudian mengobrol pertamakali dengannya di taman ini Will ". Kata Dhea kembali membuka obrolan.
" Oh ya ?" William hanya menjawabnya singkat dan tidak terlalu antusias.
" Adikmu itu luar biasa ya ?"
" Kenapa Dhe ?"
" Dia bisa setegar itu setelah bercerai dengan istrinya, padahal mereka sudah lama hidup bersama ". Kata Dhea sambil memperhatikan kendaraan yang lalu lalang di depan mereka.
" Aku salut dengan dia Wil !" Kata Dhea sambil melirik William.
" Hmmm ", jawab William singkat, dia terlihat tidak senang Dhea membicarakan adiknya.
" Seandainya saja aku itu jadi Mike, hhuuuu pasti sudah aku acak acak tuh si Jessy. Ya nggak Will ?"
" Hemmm...", jawab William lagi.
Dhea mirik William lagi. Dia tau sekali bahwa William pasti cemburu karena sedari tadi dia membicarakan tentang Mike, tapi Dhea memang sengaja membuat William sebal.
" Will !" Panggil Dhea.
" Iya ?"
" Mike itu sabar sekali ya orangnya ? Kenapa berbeda sekali denganmu ?"
" Kau tau Dhe, anak kembar identik saja tidak sama sifatnya, apalagi aku dan Mike ", jawab William sedikit ketus.
" Iya Mike itu orang ceria, lalu seru, la......".
" Stop Dhe !! Ayo kita pulang saja !!" Kata William sambil berdiri dan kemudian berjalan meninggalkan Dhea.
" Hei....Kenapa pulang ? Aku jenuh di kamar !!" Teriak Dhea.
William kemudian menghentikan langkahnya, lalu menengok ke arah Dhea.
" Tapi sekarang aku yang jenuh mendengarmu membicarakan Mike terus !! Ada tidak yang lebih menarik daripada membicarakan dia ?" Kata William sedikit emosi.
" Hihihihi.....", Dhea tertawa cekikikan.
" Hei kenapa kamu tertawa ???" Tanya William.
" Kau cemburu ya padanya...???" Tanya Dhea meledek William yang wajahnya mulai memerah menahan marah.
" Hhhmmm kau sedang menggodaku ya ???" Kata William sambil mendekati Dhea.
" Hahaha lihatlah wajahmu jelek sekali jika cemberut seperti itu Tuan William !!"
" Kamu ya....sudah mulai pintar mengerjaiku ya...", kata William sambil mendekati Dhea seraya meraih kepala Dhea dan mengacak acaknya dengan telapak tangannya.
" Aduhhh...jilbabku rusak nih nanti aku tidak cantik lagi Will ".
William hanya tertawa melihat reaksi Dhea.
" Dhe....terimakasih ya ?"
" Terimakasih untuk apa Will ?" Tanya Dhea sambil berdiri berhadapan. Tingginya badan William membuatnya harus mendongakkan kepalanya.
" Terimakasih untuk kebersamaan malam ini. Aku tidak pernah merasakan kebahagian seperti ini sebelumnya. Aku begitu nyaman ada di dekatmu. Pleas jangan tinggalkan aku Dhe, atau aku tidak tau bagaimana cara bisa melanjutkan hidupku nanti tanpamu ", kata William sambil menatap Dhea dengan kedua bola matanya yang tajam.
Dhea tidak bisa berkata kata, entah kenapa malam ini dirinya bisa berdamai dengan pria di depannya sekarang. Tidak seperti biasanya yang hanya selalu diisi dengan perselisihan. Wajah William terlihat lebih mempesona di bawah sinar lampu kota yang berada tepat di bawah mereka, Dhea seperti terhipnotis menatap William tanpa berkedip begitu lama.
" Sayang ?" Kata William pelan.
" Ehh ehm iya ", jawab Dhea seolah tersadar.
" Apakah kau sudah selesai mengagumi ketampananku ini ?"
" Huuuu....kau ini percaya diri sekali ", kata Dhea sambil menonjok perut William.
" Aduh...badanmu kecil tapi tenagamu kuat juga ya ", kata William seraya memegangi perutnya kemudian tertawa.