Something different

Something different
Kiriman dari William



" Bagaimana Hans kau sudah mengirimkannya kan?" Tanya William pada anak buahnya sepulangnya dari bertemu dengan Bram.


" Ya tuan, tugas yang anda berikan sudah saya kerjakan semua."


" Kau tidak salah kan meletakkan tepat di depan pintu kamarnya?"


" Tidak tuan, anda jangan khawatir."


" Baik, terimakasih kalau begitu."


" Sama sama tuan ", kemudian anak buah William segera pergi dari hadapannya.


" Hahaha aku yakin saat ini dia semakin ketakutan dan meringkuk di sudut kamarnya. Itulah akibatnya karena telah berani menolak seorang William." Gumamnya sambil tersenyum girang.


Sementara itu sepulangnya Dhea dari tempat kerjanya dia sangat kelabakan, karena tiba-tiba mendapat kiriman paket di depan kamar flatnya. Sebuah buket bunga cantik amat besar berbentuk love dan boneka beruang warna pink, dan juga dua buah kantong besar.


" Dari siapa ini? Jangan-jangan dari William lagi." Tanya Dhea dalam hati, dia amat penasaran.


Dhea segera membawa masuk ke kamarnya,


dan memeriksa semua benda yang dikirimkan padanya itu, namun tidak ada satupun yang bisa menjelaskan siapa sebenarnya pengirim misterius tersebut.


Akhirnya mata Dhea menuju dua buah bungkusan besar itu, dibukalah bungkusan tersebut. Ternyata kesemuanya berisi makanan. Bungkusan tersebut dituang semua isinya ke lantai, diperiksa satu persatu siapa tahu ada sesuatu yang bisa membuatnya mengetahui siapa pengirim makanan itu, tetap tidak ada satupun yang bisa menunjukkan identitas pengirim.


Tiba-tiba saja telfonnya berdering, ternyata itu adalah William, Dhea sudah menyimpan nomornya kemarin.


" Ada apa kamu menelfonku malam-malam?"


" Ckckck semalam ini kau masih saja galak denganku Dhe."


" Sudah jangan basa basi, apa perlumu menelfonku?"


" Aku hanya ingin memastikan bahwa kirimanku telah kau terima dengan baik Dhe."


" Hhhhh sudah kuduga, kau pasti pelakunya, dengar ya aku tidak akan sudi menerima pemberianmu!!"


" Hahaha aku tau, beberapa hari yang lalupun pemberianku kau serahkan pada pengemis di depan tokomu bukan? Makanya sekarang aku mengirimimu lebih banyak lagi."


" Kau sudah gila ya? Buat apa kau buang-buang uang percuma seperti itu?"


" Hei siapa bilang percuma? Kau bisa menghabiskan semua pemberianku, cukup bukan untuk persediaan satu minggu?"


" Siapa bilang? Jangankan untuk memakannya, untuk menyentuhnya saja aku tidak sudi, jangan kira aku senang ya dengan pemberianmu semua, aku bisa membelinya sendiri dengan uang hasil kerjaku."


" Dhea Dhea, ini baru perempuan yang aku cari, kau beda dengan wanita lainnya Dhe. Dengar ya, aku tidak akan pernah melepaskanmu sayang ", kemudian William menutup telfonnya.


" Arrrrgggggg....Willliammmm aku benci kamuuuuu!!" Teriak Dhea di dalam kamarnya.


" Aku tak akan sudi berurusan dengan pria hidung belang seperti kamu!!" Teriak Dhea lagi.


Dhea menatap semua pemberian William yang berserakan di lantai. Akhirnya dimasukannya semua makanan itu ke dalam lemari tanpa mengambilnya sedikitpun. Tak ketinggalan boneka beruang dan buket bunga itu juga. Sebenarnya boneka beruang tersebut merupakan kesukaan Dhea sejak kecil, bahkan dia memiliki banyak sekali boneka beruang dari yang kecil hingga besar di rumahnya sana, dan dia tidak pernah memiliki sebesar dan selucu itu. Namun saat dia tau pengirimnya, dia jadi begitu ragu untuk menyentuh boneka tersebut.


Dia bergidik ngeri membayangkan seorang pria yang selalu bermain-main dengan banyak wanita, pria yang kemudian dengan mudah mencampakkan wanita setelah puas menidurinya.


" Ahhh aku amat menyesal bisa bertemu dengan pria brengsek itu."


" Lalu apa yang akan kulakukan dengan boneka ini?" Tanya Dhea dalam hati.


Kemudian Dhea mengangkat boneka itu, bulu boneka itu sangat halus.


" Pasti sangat nyaman tidur sembari mendekap boneka ini, andai saja bukan William yang memberinya padaku?" Gumam Dhea. Dia memeluk boneka itu sebentar, lalu menyimpannya di sudut ruangan bersama buket bunga tersebut, dan ditutupinya dengan sebuah sprei hingga rapat.


" Aku tidak akan menyentuh pemberian laki-laki itu, karena jika terjadi apa-apa aku bisa mengembalikan semua barang ini padanya tanpa bisa menuntut apa-apa padaku ", begitu bathin Dhea.


Dhea langsung mengambil telfon seluler dari dalam tasnya, dia berniat menelfon Bram saat ini juga. Sudah terdengar nada sambung disana, namun segera diurungkannya. Dhea merasa tak enak hati, terlalu merepotkan Bram terus menerus. Tiba-tiba saja Bram menelfonnya balik.


" Hallo Dhe, ada apa telfonmu hanya berdering satu kali, lalu langsung kamu matikan?"


" Ehm tidak Bram, maaf aku mengganggu tidurmu."


" Tidak Dhe, aku belum tidur, ada apa Dhe?"


" Hmm maaf tadi aku mungkin salah menekan nomormu."


" Ayolah Dhe, jangan sungkan padaku, bicaralah, apakah tentang William lagi?"


Selidik Bram penasaran.


" Iya Bram ", jawab Dhea singkat.


" Kegilaan apa lagi yang dilakukannya?"


" Dia mengirimiku banyak makanan, dan juga boneka serta buket bunga di depan kamarku Bram."


" William William kenapa kau semakin parah saja, padahal aku tadi baru saja bertemu dengannya Dhe, dan sudah mengajaknya bicara baik-baik, bukannya berhenti tapi justru menjadi jadi."


" Iya Bram, aku jadi semakin takut dengannya."


" Dhe, maafkan aku ya karena sudah mengenalkan kamu dengannya."


" Hei jangan seperti itu Bram, ini bukan salahmu, memang dia saja yang kurang waras berbuat seperti itu padaku."


" Dhe, sepertinya aku memang tidak bisa membantumu banyak, semua tergantung kamu. Aku ingatkan saja, jika kamu tidak ingin dipermainkannya jangan pernah jatuh cinta dengan William, itu saja pesanku."


" Iya Bram aku tau, mungkin aku memang tidak akan bisa melarang semua yang dilakukannya padaku, tapi aku bisa menghindarinya, terimakasih ya Bram sudah sejauh ini membantuku?"


" Iya Dhe sama-sama, kamu jangan takut dengannya, bertahanlah semampu kamu bisa Dhe."


" Iya Bram ", kemudian Dhea menutup telfonnya.


Bram menarik nafas panjang


" William seandainya saja laki-laki yang mengganggu Dhea itu bukan kamu, pasti sudah kuhabisi dia."