
Tepat jam 7 malam William sudah ada di depan kamar Dhea.
" Selamat malam sayang."
" Selamat malam." Jawab Dhea sambil tersenyum ramah.
" Hmmm senyummu manis sekali Dhe."
" Kau baru tau ya?" Jawab Dhea sambil berjalan masuk.
" Hahaha sudah pasti dari dulu aku tau, dan aku tidak pernah bosan untuk melihatnya."
" Kau ini, baru datang sudah mulai merayuku saja."
" Masuklah!" Ajak Dhea.
William mengikuti Dhea di belakangnya, kemudian duduk di atas sofa yang ada di ruangan tersebut.
" Dhe perutku lapar, kita makan di luar yuk?"
" Boleh, tunggu sebentar ya aku ganti baju dulu."
" Ya silahkan." Jawab William singkat.
Tak lama kemudian Dhea telah keluar lagi.
" Ayo Will."
Kemudian William mengikuti Dhea dan turun bersama melewati tangga.
" Kau tidak pernah menggunakan lift Dhe?"
" Jarang Will, kecuali jika aku sedang malas saja melewati tangga ini."
" Kenapa?"
" Katamu dulu aku jarang berolahraga, jadi tiap hari naik turun tangga kan sama saja berolah raga Will."
" Ya ya ya, bagus juga idemu."
Kemudian mereka masuk ke dalam mobil.
William lalu memacu kendaraannya hingga jauh berjalan ke luar kota, lalu berhenti di sebuah restoran di pinggir jalan.
" Kenapa kau memilih restoran yang lokasinya jauh begini Will?"
" Karena setelah selesai makan, aku ingin mengajakmu jalan jalan ke pantai yang tidak jauh dari sini, aku rindu sekali ingin berduaan denganmu."
" Pantai yang dulu itu?"
" Bukan Dhe, itu terlalu jauh yang sekarang tempatnya berbeda. Kamu mau kan?"
" Ya, mana mungkin bisa aku menolakmu Tuan William." Jawab Dhea.
" Hahaha...kau ini. Ayo kita turun."
Kemudian mereka berdua masuk ke dalam restoran tersebut. William memesan beberapa menu makanan. Tak lama kemudian mereka terlihat sedang menikmati makanan yang telah tersedia di depan meja mereka. Selesai makan kemudian merekapun segera melanjutkan perjalanan.
" Masih jauh ya Will?" Tanya Dhea saat sudah hampir setengah jam berada di atas mobil, tapi belum juga tiba di tempat tujuan.
" Tidak Dhe, sebentar lagi kita sampai."
Benar saja yang dikatakan William, setelah 10 menit kendaraan berjalan, tak lama kemudian mereka telah tiba di sebuah pantai yang terlihat ramai.
" Ramai sekali Will pantainya? Beda dengan di pantai yang kita kunjungi waktu itu."
" Kau lupa bahwa ini weekend?"
" Oh iya aku lupa! Pantas banyak sekali yang memasang tenda di sini."
" Hahaha pasti kau kebanyakan belajar Dhe sehingga lupa hari." Goda William.
Setelah William memarkirkan kendaraannya, kemudian Dhea dan William segera turun. Mereka berjalan mendekat ke arah pantai.
" Duduk sini saja Dhe!" Ajak William. Kemudian dia duduk di atas pasir sambil memandang luasnya samudra di depan mereka, juga kerlap kerlip lampu perahu nelayan di kejauhan. Suasana malam itu membuat dua orang anak manusia tersebut begitu menikmati kebersamaan mereka.
Dhea kemudian ikut duduk di samping William.
" Will."
" Ya Dhe."
" Kenapa kau begitu gigih ingin mendapatkanku? Bukankah kau tau? Aku ini hanya perempuan biasa yang jauh dari kata sempurna, bahkan aku merasa mungkin kecantikkanku tidak sebanding dengan wanita wanitamu dulu."
William kemudian mengubah posisi duduknya.
" Sini Dhe lihat aku." Kata William sambil meminta Dhea untuk menghadapnya. Kini posisi duduk mereka berhadap hadapan.
" Dhe, aku itu sudah banyak sekali tidur dengan wanita. Sudah sering sekali menikmati hari hari bersama mereka. Namun semua yang aku rasakan tidak senyaman saat ada di dekatmu Dhe. Jika bersama mereka yang ada di pikiranku hanya seputar urusan ranjang saja, jika sudah selesai ya sudah, aku bahkan terkadang lupa satu persatu wajah mereka. Tapi saat bersamamu Dhe, tidak terbersit sedikitpun pikiran itu, bahkan terkadang aku takut untuk menyentuhmu, apalagi memiliki pikiran kotor padamu."
" Tapi malam itu Will? Bukankah sama saja?"
Dheapun menatap William tanpa berkedip, dia memperhatikan satu persatu tiap lekuk wajah laki laki di depannya itu. Nyaris sempurna.
" Hmmm dia tampan sekali. Jika ada sutradara film yang melihatnya, pasti dia akan langsung direkrut jadi pemain utama, yang berperan sebagai jagoan jagoan dalam adegan laga, yang kemudian endingnya bikin penontonnya histeris terutama perempuan." Kata Dhea dalam hati sambil tersenyum senyum sendiri.
" Dhe? Hei Dhe?" Panggil William sambil melambaikan tangannya di depan mata Dhea.
" Eh iya."
" Kau sedang menghayal ya? Kenapa kau senyum senyum sendiri?" Selidik William.
" Tidak, aku hanya memikirkan kau ini tipe orang yang boros sekali."
" Maksudmu?"
" Lihatlah lubang hidungmu sangat besar, karena hidungmu begitu mancung seperti perosotan anak anak."
" Lalu apa hubungannya?"
" Hmmm kau belum tau ya, hidung yang besar itu pasti menghirup udaranya lebih banyak daripada yang hidungnya kecil seperti punyaku."
" Jadi itu sebabnya sehingga kau mengataiku boros?"
" Hehehe iya...!" Jawab Dhea polos.
" Kau ini ya...kata William sambil menarik hidung Dhea."
" Aduh aduh...", jawab Dhea sambil tergelak.
" Aku ajak bicara serius malah bercanda." Kata William lagi.
" Hahaha aku belum siap Will jika kau ajak serius", jawah Dhea masih dengan sisa tawanya.
" Jadi kau belum siap jika aku serius ingin menikahimu?"
" Menikahiku?"
" Ya Dhe aku ingin menikahimu. Kau pikir selama ini aku cuma main main? Lalu buat apa pengorbananku selama ini? Bahkan harga diriku berani kupertaruhkan hanya untuk mendapatkanmu."
" Dhe!"
Kata William sambil meraih kedua tangan Dhea.
" Aku itu mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku tidak sanggup jauh dari kamu Dhe."
" Will!"
" Ya!"
" Aku tidak tau harus menjawab apa. Kita itu tidak mungkin bisa bersama Will."
" Bisa Dhe, kita bisa bersama."
" Walaupun kita berbeda?" Tanya Dhea.
" Yah walaupun kita berbeda."
" Tidak Will, aku tetap tidak mau. Jika kau ingin bersamaku berkorbanlah, jika tidak jangan berharap terlalu jauh. Akupun tidak menginginkan suatu hal yang tidak mungkin buatku."
" Walaupun seandainya nanti kau hamil anakku Dhe?"
" Ya, walaupun aku hamil anakmu, aku tetap tidak ingin menikah denganmu, karena aku tetap tidak bisa bersamamu."
" Dhe...apakah yang tidak mungkin itu bisa menjadi mungkin?"
" Aku tidak bisa menjawabnya Will, aku tidak mau mendahului takdir. Tapi yang jelas itu sudah menjadi keputusanku. Tidak ada kebersamaan jika masih ada perbedaan." Jawab Dhea tegas.
" Kenapa saat aku menemukan cinta sejatiku justru dinding penghalang itu begitu besar Dhe?" Kata William sambil menundukkan kepalanya.
" Will, tidak semua yang kau inginkan itu bisa dengan mudah kau dapatkan, terkadang perlu pengorbanan besar agar kita bisa memilikinya."
" Tapi kenapa Dhe?"
" Karena Tuhan ingin mengujimu, sejauh mana kau mau berusaha untuk bisa mendapatkannya."
William kembali menatap Dhea.
" Benarkah Dhe?"
" Ya Will."
" Aku janji aku akan terus berusaha mendapatkanmu, apapun resikonya Dhe!!"
" Dan janjiku, tidak akan mungkin memilihmu jika kau terus mempertahankan keyakinanmu."
" Kita lihat saja nanti Dhe."
" Yah kita lihat saja nanti Will."