
" Heiii suamiku yang tampan...ayo bangun!!!" kata Dhea sambil membelai pipi suaminya pelan.
William hanya menggiatkan sebentar tubuhnya namun kemudian tidur lagi.
" Ehhhh...nyenyak lagi dia." Kata Dhea.
" Sayangggg...ayo bangun!!!" kata Dhea mengulanginya lagi.
" Hemmm....jam berapa ini sayang???" tanya William tanpa membuka matanya.
" Sudah pukul 12 lebih sayang, ayo mandi dulu setelah itu sholat dhuhur!!" Kata Dhea.
" Maaf ya, setelah selesai tadi aku langsung tertidur. Benar katamu otakku langsung fresh." Jawab William sambil masih begitu malas membuka matanya.
" Heiii ayo buka matamu dulu!!" kata Dhea sambil berusaha menekan-nekan mata suaminya dengan jarinya agar terbuka.
" Heiiiii...!!! ayo bangun! kau tidak ingin membiarkan istrimu ini kelaparan karena lama menunggumu bangun kann??"
" Lho kau belum makan??? kenapa tidak makan duluan jika kau sudah lapar?" Kata William sambil membuka mata.
" Tidak!!! aku ingin ditemani olehmu. Ayooo...bangun sayang!!!" kata Dhea sambil menarik William.
Namun ternyata tenaga Dhea tidak sebanding dengan tenaga suaminya, justru tubuhnyalah yang kemudian jadi jatuh di dekat William, karena suaminya itu ganti menariknya kembali.
" Heiiii....cepatlah bangun!!! kau harus bersih-bersih dulu kan?" kata Dhea, tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak, karena kemudian William memeluknya begitu kuat.
" Hemmm...terimakasih ya sayang, tadi itu sangat menyenangkan!!" Ternyata kau pintar sekarang."
" Hemmmm...bukankah kau yang telah mengajariku?" Jawab Dhea.
" Ayolahhh...bangun sayang...!! Kau tega membiarkan anakmu ini kelaparan?" kata Dhea sambil mengusap perutnya.
" Yaaaa...aku bangun." Kata William sambil beranjak dari tempat tidurnya, mencium istrinya sebentar, lalu menuju toilet.
" Kau tidak ingin ikut denganku???" tanya William sambil membalikkan badannya sebentar sebelum membuka pintu toilet dan memasang wajah menggoda.
" Hahaha...duluan saja, nanti kujemput bersama Simon naik mobilmu." Jawab Dhea bercanda, sambil menyebut nama supir pribadi suaminya.
" Waduhhh...seperti ingin pergi jauh saja kau mengajak Simon." Kata William sambil berjalan masuk ke dalam toilet.
Dhea hanya tersenyum, sambil kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menunggu suaminya selesai mandi dan sholat.
" Sayang, nanti aku ingin mengajakmu ke suatu tempat kau mau?" Tanya William di sela makan siangnya.
" Memang kau mau mengajakku kemana sayang?"
" Kau akan tau nanti. Jika kuberitahu sekarang bukan kejutan lagi namanya."
" Hemmmm...yang penting di tempat tujuan kita nanti tidak ada insiden seperti tadi. Dan aku tidak mau bertemu wanita-wanita masa lalumu yang menyebalkan seperti pegawaimu yang marah-marah di kantor."
" Heiiii...Helen bukan wanita masa laluku sayang."
" Ya entahlan apa namanya, wanita masa lalu, atau pengagum masa lalumu, yang jelas aku tidak ingin bertemu mahluk semacam itu." Kata Dhea sambil bersungut-sungut.
Sungguh menyebalkan rasanya bertemu dengan wanita-wanita yang pernah singgah di hati suaminya. Walaupun mungkin William tidak menyimpan perasaan apapun pada wanita itu, namun rasanya sangat tidak senang jika dia kembali dekat-dekat dengan pria yang amat dicintainya itu.
" Dulu kau pasti sangat sulit sekali menahan hasratmu saat di depan Hellen kan? apalagi aku lihat cara berpakaiannya itu sangat menarik perhatian kaum laki-laki."
" Sayang....itu kan dulu. Wajar jika seorang laki-laki itu tidak bisa mengalihkan pandangan dari tubuh Hellen. Dia sendiri yang berpenampilan begitu dan ingin menarik perhatian kami kaum pria."
" Jadi kau ingin mengatakan bahwa kau itu dulu benar-benar tertarik dengan pegawai itu?"
" Jujur iya. Tapi tertarik bukan untuk menjadikannya istri, namun lebih kepada menyalurkan hasrat saja. Kau tau kan satu-satunya wanita yang ingin aku jadikan istri adalah kamu sayang. Dan tetap kamu yang selamanya ada di hatiku. I love you sayang." kata William sambil mencium pipi istrinya. Dhea langsung tersenyum maniiiiisss sekali, hilang seketika rasa sebalnya tadi.
Hehhhh...itulah wanita, kelemahan utamanya adalah telinga. Tidak bisa mendengar kalimat romantis sedikitpun. Jadi hati-hati ya buat gadis-gadis yang belum menikah, jika ada laki-laki yang merayu jangan langsung pasrah, karena jiwa petualang laki-laki itu sangat besar, jika dia sudah berhasil menaklukan wanita yang diinginkannya, bisa jadi dia akan segera pergi dan melanglang buana lagi.
Maaf ya buat para cowok bukan menyudutkan kalian, tapi hanya ingin memberikan sedikit masukan buat kaum hawa😊😊
" Kau sudah siap?" Tanya William yang melihat istrinya sudah kembali dari kamarnya dan mengganti pakaian.
" Kau tidak mengajakku pergi di luar ruangan dan membutuhkan pakaian khusus kan?"
" Tidak sayang, pakai baju itu saja sudah cukup."
" Ayo kita pergi sekarang!" Ajak William sambil menggandeng tangan istrinya. William sengaja merahasiakan tempat yang akan dia kunjungi pada Dhea, karena ingin memberikan kejutan. William yakin, jika tiba di tempat itu istrinya akan merasa gembira sekali.
" Terimakasih Simon." Jawab William sambil naik di belakang kemudi, sedang Dhea hanya menganggukan kepala sembari tersenyum.
" Kau ikuti kami dari belakang ya." Kata William pada supir pribadinya, sebelum menutup pintu kendaraannya.
" Sayang kenapa kau membawa dua mobil? sebenarnya kita akan pergi kemana?"
" Tenanglah sayang, kau pasti nanti akan tau." Kata William. Lalu segera menghidupkan mesin mobilnya dan melaju keluar dari halaman rumahnya.
" Hehhh...sebenarnya kau akan mengajakku kemana sih???? bukan ke bulan kan?"
" Hahaha...fantasimu terlalu berlebihan sayang. Tapi seandainya saja aku bisa membawamu ke bulan dengan menaiki kendaraan ini, sudah dari kemarin-kemarin aku mengajakmu. Hemmm...tapi sepertinya itu tidak perlu ya?" Kata William meralat ucapannya.
" Lho kenapa? bukankah itu romantis sekali sayang."
" Iya sih romantis. Tapi bukankah kau selalu rutin kedatangan bulan, jadi aku tidak perlu repot-repot lagi membawamu kesana." Kata William menggoda istrinya.
" Hehhh...kau tidak lucu sama sekali." Kata Dhea tanpa tersenyum sedikitpun.
" Lho harusnya kau bersyukur aku tidak bisa melucu."
" Memangnya kenapa?" tanya Dhea penasaran dengan jawaban yang diberikan oleh William.
" Coba kau ingat-ingat, di negaramu sana yang sering sekali berpoligami salah satunya yaitu komedian, walaupun tidak sedikit juga yang berprofesi lain. Nah kau tidak ingin kan kalau suamimu ini pandai melucu, lalu kemudian....."
" Stoooopppp........!!! aku tidak mau dengar kata-kata itu lagi!!!" Kata Dhea sambil menutup telinga dengan kedua tangannya.
" Hei kenapa? bukankah poligami itu tidak dilarang dalam agama? aku heran dengan para wanita, giliran ada suami yang poligami sudah ribut tidak berhenti-berhenti membicarakannya serta menghujatnya, seolah ikut menanggung perasaan istri yang dipoligami itu. Nah giliran ada suami yang hobbynya pergi ke diskotik, ke pub-pub malam, mereka tidak mau ambil pusing dan menganggap itu bukan urusannya, padahal itu jelas-jelas dilarang dalam agama." Jawab William panjang lebar.
" Tapi kan poligami itu menyakiti hati para istri, dan setiap istri pasti tidak akan rela untuk berbagi dengan wanita lain." Kata Dhea membela diri.
" Nah seorang istri yang selalu ditinggalkan suaminya ke diskotik, minum-minuman keras, memakai narkoba, apakah kau anggap tidak menyakiti hati para istri? Tapi kenapa kalian tidak berempati sama sekali, tidak seheboh saat mendengar istri dipoligami." Tanya William tidak mau kalah.
" Huuuuuuu....nggak setujuuuuuu.....!!!" begitu teriak para netizen. Tenang saja, authorpun tidak mau jika diduakan, cuma mencoba berfikir positif saja agar tidak selalu memperolok laki-laki yang berpoligami, karena terkadang ketika kita memperolok seseorang, bisa saja kejadian itu berbalik menimpa kita. Naudzubilahmindzalik.
" Lalu kami kaum istri harus bagaimana?" Tanya Dhea kemudian.
" Berdoalah untuk suamimu agar selalu setia padamu. Jangan menghujat mereka yang telah melakukan sunah itu, karena kau akan mendapatkan dosa besar dari Allah dengan menghujat orang lain."
" Kau baru sebentar jadi mualaf sudah sejauh itu pengetahuanmu. Darimana kau belajar?"
" Dari google chrome andalanku hahaha." Jawab William sambil terbahak.
" Hati-hatilah belajar sesuatu tanpa guru, kau bisa salah menafsirkannya." Kata Dhea mengingatkan.
" Tapi kau memperdalam ilmu itu bukan sebagai senjatamu untuk melakukan sunah itu kan?" Tanya Dhea lagi kemudian, merasa khawatir dengan ancaman sunah satu itu.
" Heeemmmmm.....???" kata William sambil sok berpikir keras.
" Heiiii...kau jangan pura-pura sedang berpikir ya, awas jika kau melakukan itu!!!" kata Dhea sambil mencubit pinggang suaminya.
" Awwww....hahaha tidak sayang, aku itu bukan pria yang gampang jatuh cinta, dan aku masih ingat janjiku saat menikahimu dulu. Kita akan terus berdampingan hingga menua bersama!! percayalah padaku cantik." Kata William.
" Hehhhhh....ya aku pegang kata-katamu." Jawab Dhea sambil masih merengut sebal.
" Kau ingat ini tanggal berapa sayang?" tanya William saat kendaraannya sudah semakin jauh membelah keramaian jalanan kota.
" Hemmm tanggal 10, kenapa?"
" Kau ingat sesuatu tidak?"
" Ingat sesuatu???" tanya Dhea bingung sambil mengulangi pertanyaan suaminya. Dia sedikit mengernyitkan keningnya, berusaha mengingat-ingat setiap moment di tanggal ini, namun dia sungguh lupa sama sekali.
" Sayang maafkan aku jika aku tidak bisa mengingatnya sama sekali."
" Ya sudah tidak apa-apa, daripada kau nanti jadi setres mengingat-ingatnya." Kata William yang melihat Dhea gagal mengingat moment tersebut.
" Lho ini bukankah jalan menuju panti asuhan yang sering aku kunjungi itu kan sayang???" tanya Dhea setelah sedikit tau tempat yang dituju suaminya.
" Iya sayang, kamu suka?"
" Ya Allah sayang, aku suka sekali!!! Kenapa aku melupakan mereka?? Hehhhh...ini mungkin karena aku selalu menghabiskan waktu di sini dengan bersenang-senang denganmu, jadi aku melupakan tempat ini. Terimakasih ya sayang kau sudah mengajakku kesini."
" Iya sayang sama-sama." Jawab William sambil tersenyum.