Something different

Something different
Persiapan ke London



Pagi ini William terlihat sedang menyusun bajunya di dalam koper besar yang hendak dibawanya ke London dibantu dengan Dhea, sore nanti dia baru akan pergi ke bandara.


" Sayang, kau tidak ingin membelikan oleh-oleh dulu untuk papa dan Mike?"


" Tidak usah sayang. Mereka pasti tau kondisi kita. Aku juga sebenarnya tidak ingin pergi jika saja kau tidak memaksaku kemarin."


" Jangan begitu sayang. Kalau pergi jangan karena terpaksa dan tidak boleh ragu-ragu."


" Aku tidak ragu, hanya sedih jika terlalu lama berpisah denganmu. Aku pasti tidak akan berhenti memikirkanmu di sana."


" Ahhhh...kau ini seperti pengantin baru saja. Maunya selalu berduaan dan berdekatan." Sambil mencubit hidung suaminya.


" Heiii...aku memang selalu ingin berdekatan denganmu. Bukan saat pengantin baru saja kita mesra sayang, tapi sampai seterusnya, oke?"


" Ya ya ya oke jika itu maumu, no what what."


" Hahhh...apa?? no what what?? bahasa inggrismu aneh?"


" Hahaha..itu artinya mboten nopo-nopo alias tidak apa-apa."


" Tidak apa-apa?? no what what???" William diam sesaat sambil dahinya mengernyit. Setelah paham dia baru tertawa keras.


" Hahaha...kau ini, guru bahasa inggrismu pasti dulu pusing memberimu nilai." Kata William sambil mengacak-acak rambut Dhea, Dhea hanya terkikik saja karena berhasil membuat suaminya sedikit bingung.


Dhea sebenarnya berat juga melepas kepergian suaminya, apalagi semenjak menikah dia hampir setiap hari bersama-sama dengan William. Waktu satu minggu sebenarnya sangat singkat sekali, namun selama satu minggu tanpa William, pasti Dhea akan merasa kesepian. Membiasakan hal yang tidak biasa pasti sangat sulit. Begitu pikiran Dhea. Namun dia harus tetap terlihat ceria, dia tidak mau jika keresahan hatinya diketahui William, dan laki-laki itu akan mengurungkan niatnya pulang ke London.


" Kau sudah tau calon istri Mike sayang? seperti apa dia?"


" Aku juga belum tau, tapi kata papa sesuai dengan kriteria Mike, tentu saja berwajah cantik."


" Ahhh...itu kan sama seperti kakaknya." Kata Dhea.


" Makanya aku dulu mengejarmu hingga jungkir balik, karena kau wanita tercantikku."


" Hemmmmm.....merayu." Sambil memonyongkan bibirnya.


" Janji nikahnya kapan diadakan sayang?" Sambil memasukan sebuah kemeja suaminya yang telah dilipat rapi.


" Katanya sih hari Kamis, tapi aku akan hadir di resepsinya saja sayang." Kata William yang paham dengan kekhawatiran Dhea.


" Ohhh ya." Jawabnya Dhea sedikit lega.


" Kenapa? tenanglah aku tau yang kau pikirkan." Kata William sambil menggoyang-goyangkan sebuah sajadah kecil di depan Dhea, lalu memasukkannya ke dalam kopernya


" Kau lupa memasukkan ini ya? di rumah papa tidak tersedia benda ini kan?" Dhea memandang suaminya sedikit lama.


" Kenapa melihatku seperti itu? naksir ya? kirim surat dong..!!" sambil sok keren.


" Hemmmm...I love you my priest." Kata Dhea sambil tersenyum manissss sekali, dan William membalas senyuman itu.


" Love you too." Sambil berbisik pelan dan mencubit dagu mungil istrinya.


Satu buah koper besar telah siap berisi pakaian William.


" Hehhhh berat sekali." Kata Dhea sambil mencoba mengangkat koper besar itu.


" Heiiii...!!! kau ini jangan mengangkat yang berat-berat dulu, tidak baik untuk bekas operasimu." Kata William sambil menarik tangan istrinya.


" Ahhh...aku hanya ingin tau saja seberat apa beban koper ini."


" Yang jelas masih berat cintaku padamu sayang."


" Cieeeeeee.....kayak raja gombal saja kau sekarang."


William hanya cengar cengir saja.


" Jangan lupa ya, sepeninggalku nanti kau harus istirahat yang cukup, dan jangan malas makan ya."


" Ahhhh kalau urusan makan pasti aku tidak akan malas."


" Oh ya kau sudah mengabari papa jika akan pulang?"


" Belum sih."


" Kenapa? kau ingin membuat kejutan untuk mereka?"


" Tidak juga, lebih tepatnya aku lupa." Sambil garuk garuk kepala.


" Hehhhhh...kau ini lupa dipelihara, ayam tuh dipelihara lumayan buat digoreng."


" Hehehe....lupa kan berarti tidak ingat sayang."


" Issshhhh....kau ini, dari jaman anak bayi masih pakai popok, sampai nenek-nenek pakai tanktoppun semua tau kalau lupa berarti tidak ingat." Jawab Dhea sambil manyun. Mendengar istilah Dhea seperti itu, William langsung terbahak.


" Hahaha...nenek siapa yang pakai tanktop sayang? Kau ini aneh-aneh saja. Aku jadi malas pergi kalau kau selalu membuatku tertawa seperti ini." Kata William di sela tawanya. Dhea hanya tersenyum saja sambil kemudian meletakkan kepalanya di pangkuan William.


" Hehhhh...aku tidak bisa bayangkan seorang wanita yang karena tuntutan pekerjaan suaminya harus hidup berpisah hingga berbulan-bulan, pasti sangat berat sekali. Aku saja yang akan ditinggalkan suamiku hanya satu minggu lamanya terasa berat, apalagi mereka. Nanti setelah sama-sama sudah berusia senja dan tidak lagi bekerja, baru mereka berkumpul bersama. Dan pastinya banyak moment indah yang mereka lewati, khususnya moment membesarkan buah hatinya. Yah pastinya demi keluarga mereka terpaksa melakukan itu semua, tidak ada pasangan yang ingin hidup berjauhan." Kata Dhea dalam hati.


Seharian itu sebelum menjelang keberangkatan suaminya ke London, Dhea seperti tidak ingin jauh-jauh dari William. Bahkan mereka cuma menghabiskan waktu berduaan sembari mengobrol di dalam kamar, seperti dua orang sahabat karib yang lama tidak bertemu dan hendak berpisah lagi. Mereka juga melewatkan tidur siangnya hanya untuk saling bermanja-manja saja.


" Sayang, jangan merias diri terlalu tampan dong, kau kan pergi sendiri dan tanpa ada aku di sampingmu." Sambil memperhatikan William yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin, saat menjelang keberangkatannya ke bandara sore itu.


" Hahaha...!!! terlalu tampan bagaimana? aku hanya sedang menyisir rambutku saja, bahkan aku tidak mencukur bulu-bulu di wajahku seperti kebiasaanku jika ada di dekatmu."


" Tapi kau terlihat tampan hari ini." Sambil manyun.


" Heiiii...kau cemburu ya? suamimu memang sudah ditakdirkan tampan sejak lahir. Ahhhh kenapa tampan ini sering menyiksaku." Bergaya sok cool.


" Huuuu...kau ini sombong ya...!!!" sambil memonyongkan bibir.


" Hahaha...kau takut aku tergoda wanita lain karena tidak ada kau kan?"


" Yaaa...sedikiiitttt....!!"


" Hahaha..tenanglah, yang bisa menggodaku hanya engkau, tidak ada wanita lain. Tapi jika wanita itu yang tergoda karena melihatku, apa boleh buat? mungkin ini sudah takdir, yang namanya rejeki tidak boleh ditolak kan???" Sambil mengerling.


" Haaaaaahhhh...kau ini jangan begitu...!!!! awas ya kalau macam-macam...!!!" Sambil mengepalkan tangan ke arah suaminya.


" Sini..sini.." sambil mendekati Dhea, lalu mememeluk istrinya.


" Tenanglah, dan percayalah padaku, hatiku, tubuhku, cintaku, semua milikmu...oke my sweety?"


" Hemmmm....kau memang pandai merayu." Seperti kebiasaannya, sambil mencubit hidung William.


" Sayang aku ikut mengantarmu ke bandara ya?" Kata Dhea lagi.


" Kenapa? tidak usah sayang, aku kan bisa diantar dengan supir. Kau harus jaga kesehatanmu lho."


" Sayang pleas, aku kan hanya duduk diam di dalam mobil saja, dan tidak akan turun, aku janji." Sambil mengacungkan jari tengah dan telunjuknya.


" Boleh yaaa....??? aku ingin berlama-lama ada di dekatmu sebelum kau pergi." sambil merajuk manja.


" Hehhhhh...jika kau sudah manja seperti ini, pasti aku tidak bisa menolak."


" Oke kau boleh ikut. Tapi tidak usah turun dari mobil ya."


" Yeeeeee...siap bos." Sambil memberi hormat pada suaminya. Kemudian berlari kecil ke toilet, mencuci muka sebentar dan mengganti pakaiannya.


" Heiiii...jangan lari begitu...!!!" Dhea hanya mengacungkan ibu jarinya, tapi tetap tidak menghentikan gerakkannya.


William hanya geleng-geleng kepala melihat istrinya yang merupakan paket lengkap itu. Sewaktu-waktu bisa tampil manja seperti anak kecil, bisa dewasa seperti sahabat sendiri, dan yang paling penting bisa menyenangkan seorang suami sesuai kewajiban dia sebagai seorang istri.


William memperhatikan istrinya yang sudah selesai memakai jilbab di depan cermin.


" Ayo sayang, kita come on....!!!" Kata Dhea sambil mengulurkan tangannya.


" Hahaha....ayo...!!!" meraih tangan Dhea dan menggenggamnya, sambil sekali lagi tertawa mendengar kalimat asing yang diucapkan istrinya itu.