Something different

Something different
Kejang



Pagi itu saat semua orang sedang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, dan kedua orang tua Dheapun sedang menikmati minuman hangatnya di ruang santai, sambil melihat siaran televisi. Tiba-tiba William berteriak-teriak mengejutkan semua orang. Dengan tergopoh-gopoh semua berlarian menuju arah suara itu, termasuk orang tua Dhea.


" Sayaaaanggggg.....bangun sayanggggg!!!!"


Spontan ayah Dhea segera membuka pintu kamar menantunya itu. Dilihatnya disana William sedang memeluk Dhea yang terlihat pingsan. Kedua orang tua Dhea segera menerobos masuk, sedangkan beberapa pegawai yang melihat pemandangan itu tidak ikut ke dalam, dan hanya memandangnya dari depan pintu saja.


" Nak Will ada apa?" tanya mertuanya.


" Ayah tolong istriku, tiba-tiba saja tadi dia kejang dan sekarang pingsan." Kata William histeris dan setengah berteriak. Wajahnya terlihat panik sambil tidak melepaskan pelukannya.


" Ya Allah...ayo cepat bawa dia ke rumah sakit ayah!!! cepat!!!!" ibu Dhea ganti sekarang yang panik, karena dia pernah merasakan itu, dan khawatir dengan kondisi dengan anak perempuan mereka satu-satunya.


Tanpa menunggu lama, William segera menggotong istrinya itu keluar, dan supirnya tanpa disuruh sudah tau apa yang harus dilakukannya, dia telah menyiapkan mobil sedari tadi, berjaga-jaga jika tuannya membutuhkan kendaraan. Dan benar dugaannya, William terlihat membopong istrinya diikuti kedua orang tuanya dari belakang. Diiringi pandangan beberapa pegawainya yang juga terlihat khawatir melihat kondisi majikannya.


Supir William dengan sigap langsung membuka pintu mobil, dan setelah semuanya naik, dia segera menghidupkan mesin mobilnya, juga lampu darurat sebagai tanda bahwa mereka sedang terburu-buru, agar bisa diberikan jalan oleh kendaraan lainnya.


" Dokter Sherli, saya sedang menuju tempat praktik anda." Telfon William pada Dokter Sherli.


" Memangnya apa yang terjadi tuan?"


" Istri saya mengalami kejang dokter, dan sekarang dia pingsan, sekarang saya masih di jalan." Kata William nada suaranya terlihat panik.


" Ok, saya tunggu di depan UGD ya." Dokter Sherli yang baru saja tiba di rumah sakit, langsung buru-buru menuju ruangan UGD. Disana dia meminta para perawat untuk menyiapkan segala kebutuhannya, untuk menyambut pasien spesialnya.


Dhea yang tertidur di pangkuan William tidak bereaksi sama sekali, tubuhnya terlihat lemah. William terus memegang tangan istrinya. Ayahnya yang duduk di depan terus menengok ke belakang, berharap anak semata wayangnya itu bisa cepat sadarkan diri. Sedangkan ibunya yang duduk di posisi kaki Dhea lebih tegang lagi, keringat sebesar biji jagung terus keluar dari pori-pori kulitnya, menandakan betapa khawatirnya dia. Padahal ac di dalam mobilnya itu cukup dingin, yang dia harapkan hanyalah segera tiba di rumah sakit.


Saat tiba di rumah sakit, Dokter Sherli langsung menyambutnya. Sebuah ranjang dorong telah disiapkan sedari tadi. Dua orang perawat membantu William untuk meletakkan istrinya di atas ranjang itu. Dengan cekatan perawat tersebut segera membawa masuk ke dalam untuk diperiksa. William dan kedua mertuanya hanya menunggunya di depan. Tak lama kemudian Dokter Sherli sudah keluar lagi.


" Bagaimana dokter keadaan istri saya?"


" Tenang tuan, saya sudah memberinya obat. Kita tunggu saja hingga dia siuman."


" Lalu apa yang harus saya lakukan dokter?"


" Gejalanya semakin memburuk. Kita harus semakin ketat mengawasinya. Jika dia berkenan lebih baik kita segera melakukan tindakan, sebelum semakin parah tuan." Tubuh William langsung lemah lunglai, dia terduduk di kursi yang ada di dekatnya. Sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


Ayah mertuanya segera mendekatinya.


" Sabar ya nak. Ikhlaskan jika memang ini jalan yang terbaik."


" Iya ayah, aku hanya takut istriku tidak merubah keputusannya. Semalam saja dia masih protes padaku."


" Ya....anak itu memang sedikit keras. Ayah dan ibu sementara ini akan tinggal di rumahmu dulu, sambil membantu mengawasi istrimu, sembari memberinya pengertian." Kata ayah Dhea sambil memegang pundak menantunya berusaha untuk menguatkannya.


Dokter Sherli dan ibu Dhea hanya melihat dua orang lelaki dewasa itu. Ada rasa iba di dalam hati mereka.


" Ya dokter, lakukanlah yang terbaik untuk istri saya, yang penting dia selamat." Jawaban William begitu pasrah, dia menyerahkan harapan sepenuhnya pada Dokter Sherli, serta terus memohon pada Robbnya agar dimudahkan semua usahanya untuk mengobati istrinya itu.


Seorang perawat keluar dari ruangan sambil mendorong ranjang, dimana Dhea sedang terbaring tidak sadarkan diri di atasnya. Dia membawa Dhea ke ruangan rawat inap di salah satu pavilliun di rumah sakit itu. Tidak perlu dijelaskan lagi kamar kelas berapa yang dipesan William untuk ditempati istrinya selama perawatan di dalam rumah sakit tersebut. Yang jelas, jika ada satu rumah khusus yang disediakan rumah sakit dengan segala fasilitas mewahnya, mungkin William akan memesan rumah itu. Sayang yang dihuni sekarang adalah sebuah rumah sakit dan bukan sebuah villa. Setelah selesai dengan pekerjaannya, perawat itupun keluar.


" Mungkin semalam dia masih memikirkan kondisinya nak Will, sehingga semakin parah seperti ini."


" Iya bu bisa jadi. Hehhhh...kenapa sih dia tidak bisa relax sedikit saja."


" Ibu sangat tau yang dirasakannya nak Will, rasa khawatir dan rasa takutnya tidak bisa dia kalahkan sendiri, jadinya ya seperti ini." William terus menunggui istrinya sambil duduk di sebuah kursi yang sengaja diletakkan di samping ranjang. Dia tidak mau sedetik saja beranjak dari kursi tersebut, apalagi jika Dhea sadar dan dia tidak ada di sampingnya. Sedangkan kedua orang tua Dhea duduk di sebuah sofa panjang sambil memperhatikan menantunya itu. Mereka baru menyadari bahwa William memang benar-benar mencintai anak mereka, setelah menyaksikan sendiri pemandangan itu.


" Nak William duduklah di sini. Punggungmu bisa sakit jika terus duduk di kursi itu. Santailah dulu, Dhea juga belum sadar."


" Tidak ayah, justru karena dia belum sadar itu aku tidak ingin meninggalkannya." Kata William sambil mengusap pipi istrinya.


" Sayang bangunlah, kenapa kau pingsan lama sekali. Apa yang kau rasakan? jika saja bisa, aku ingin menggantikan rasa sakitmu." Kata William dalam hati, sambil terus menggenggam jemari istrinya, dan memandangi wajah Dhea yang begitu pucat.


Tak lama jemari Dhea bergerak, sepertinya kesadarannya mulai pulih. William menyadari itu, spontan dia bangun dari tempat duduknya.


" Sayang....sayang...kau sudah sadar?" panggilnya, wajahnya sedikit sumringah. Dhea tidak menjawab hanya menggerakkan kepalanya sebentar. Dia samar-samar mendengar suaminya memanggil, namun untuk membuka matanya sangat berat. Kedua orang tua Dheapun segera mendekat, dan berdiri di samping ranjangnya.


" Sayang...ini aku, ayo buka matamu sayang." Kata William lagi.


" Sayang...aku dimana?" kata Dhea lirih. Kesadarannya belum pulih benar, dan kedua matanya masih tertutup, namun dia sudah bisa mengucapkan kata-kata walaupun sangat pelan.


" Kau di rumah sakit sayang. Bukalah matamu."


" Sayang aku haus."


William buru-buru mengambilkan sebuah gelas berisi air minum. Kemudian membantu Dhea mengangkat kepalanya, sambil mendekatkan gelas minuman itu ke bibirnya.


Tenggorokan Dhea yang tadinya kering, perlahan-lahan mulai terasa dingin saat air mulai mengalir pelan, masuk ke dalam kerongkongannya. Kemudian William meletakkan kepala istrinya di atas bantal kembali pela-pelan.


" Syukurlah sayang kau telah sadar, aku sangat mengkhawatirkanmu."


" Maafkan aku ya sayang."


" Istirahatlah dulu saja nak, ada ayah dan ibu juga yang akan menemanimu di sini."


" Terimakasih ya ayah, ibu. Maaf sudah merepotkan kalian berdua."


" Tidak nak. Jangan pikirkan itu. Pikirkanlah untuk memulihkan kondisimu tubuhmu, agar kembali stabil."


" Iya bu." Jawab Dhea pelan sambil kembali memejamkan matanya. Entah kenapa tubuhnya terasa lemah dan sakit semua. Seperti ada ribuan jarum yang sedang menusuk-nusuknya.