
Dua buah koper besar sudah tersusun rapi di bagasi. Persiapan menuju ke London telah selesai. Pak supir yang sedari tadi telah siap di depan, hanya tinggal menunggu sang majikan naik.
" Sayang, ayo pergi...!!" Kata William sambil memasang arloji di tangannya.
" Sebentar sayang....!!!" kata Dhea sambil membolak-balik selimut yang ada di atas kasurnya.
" Heiii....kenapa dari tadi kau sibuk membolak-balikan selimut itu? kau sedang mencari sesuatu?"
" Iya sayang, aku mencari tasbihku."
" Tasbih?"
" Iya tasbih."
" Bukankah tasbih yang dulu kau tinggal di rumah kita di London masih ada?"
" Iya, tapi aku ingin menggunakannya saat di perjalanan." Kata Dhea sambil terus mencari kesana kemari.
" Sejak kapan kau punya kebiasaan itu?"
" Sejak sekarang." sambil berjongkok mencarinya di kolong tempat tidur.
William mengernyitkan dahinya, sesaat mimik mukanya berubah, namun kemudian normal kembali.
" Kemarilah sayang, ayo bangunlah." Sambil menarik tubuh Dhea untuk berdiri dan menghadapnya.
" Kau ketakutan untuk naik pesawat itu ya?"
" Tidak, aku hanya...."
" Sayang, serahkan semuanya pada Allah, ingatlah Dia dalam setiap hembusan nafasmu, dan jangan mengandalkan alat itu sehingga kau tidak bisa melakukan apa-apa tanpa alat tersebut."
" Tapi sayang...!!"
" Bukankah memujiNya itu tidak perlu hitungan? kau cukup melafazkannya dalam hatimu, sehingga kau akan selalu merasa dekat padaNya ya." Dhea memandang suaminya tanpa berkedip. Laki-laki yang baru saja mualaf saja bisa memaknai semua ajaran agamanya dengan sempurna, kenapa dia tidak? Ternyata ibadah itu butuh ilmu juga, sehingga kita tidak salah kaprah.
Akhirnya dengan menggandeng tangan istrinya, William mengajak Dhea keluar dari kamarnya.
" Bik, tolong jaga rumah baik-baik ya. Mungkin kami pergi sekitar satu mingguan, atau mungkin bisa juga lebih." Pada salah satu asisten rumah tangga, yang kebetulan sedang membersihkan ruang tamunya.
" Iya nyonya. Semoga nyonya dan tuan selamat sampai tujuan."
" Iya bik, terimakasih."
Kemudian mereka berdua berjalan keluar. Supir segera membuka pintu mobil, William mempersilahkan istrinya naik terlebih dahulu, baru kemudian dia menyusul naik. Mobil berjalan pelan menyusuri jalanan.
Saat tiba di bandara seperti biasa, wajah tampan William menjadi pemandangan indah bagi mata, yang memang jarang ditemui mahluk seperfek William di kota itu. Tubuh atletisnya yang dibalut dengan kemeja warna coklat muda, begitu pantas melekat di tubuhnya. Dhea yang berjalan di sebelahnya, semakin mendekatkan tubuhnya ke badan William, yang awalnya hanya saling menggenggam jemari, sekarang Dhea melingkarkan tangannya ke lengan suaminya itu.
William tersenyum. Dia amat paham dengan sikap sang istri. Pasti dia sedang ingin menunjukkan kepada orang-orang di sekitarnya, bahwa laki-laki di sebelah dia, adalah miliknya.
Akhirnya William malah melepaskan tangan Dhea, dan kemudian memeluk pinggang istrinya. Dhea menatap suaminya, dan William melemparkan senyumnya yang paling manis.
" Ssstttt...sayang, apakah aku perlu menggendongmu, agar mereka semua tau kita adalah soulmate? I am yours oke." Goda William.
" Ihhhh...kau ini." Sambil mencubit pinggang suaminya.
" Hahhhhh....kayak upil saja menempel terus." Mungkin begitu bathin mereka yang melihatnya, antara rasa iri, cemburu, sebel, campur aduk jadi satu. Ingin meraih, apa daya tangan tak sampai, ujung-ujungnya hanya bisa menggerutu dalam hati.
William dan Dhea segera masuk ke dalam bandara, setelah semua urusan administrasi selesai dan menunggu sesaat, mereka lalu masuk ke dalam pesawat. Seperti biasa, Ruangan VIP adalah yang dipilih William. Namun seharusnya ruangan tersebut bisa membuat Dhea nyaman berada di dalam pesawat, apalagi perjalanan yang ditempuhnya lumayan lama. Saat baru naik saja, wajahnya langsung tegang, dan keringat dingin langsung membasahi tubuhnya. Tidak seperti biasanya, yang selalu diisi dengan obrolan dan candaan.
" Sayang, wajahmu pucat sekali? kau masih tetap belum bisa melawan rasa takutmu?"
" Iya sayang, aku benar-benar trauma." Sambil meremas jemarinya. Keringatnya terus membasahi pipinya.
" Tenanglah, dan terus berdoa ya. Lawan semuanya sebisa mungkin, jika kau masih takut, pejamkan matamu." Sambil memegang jemari istrinya.
William sebenarnya kasihan melihat Dhea seperti itu, namun ketakutan itu tidak boleh dihindari, tetapi sebaliknya harus kita lawan.
Perjalanan kali ini merupakan perjalanan yang menurut Dhea memakan waktu paling lama. Bagi dia pesawat sepertinya terbang lambat, dan bukannya tidur, Dhea hanya terus menyebut asma Allah dalam hati. Dia masih ingat sekali, bagaimana pesawat yang tidak jadi ditumpangi suaminya itu meledak di depan mata, jika saja itu terjadi padanya, ahhhh sudah pasti semua yang ada di dalam pesawat ini nyawanya melayang.
Sedangkan William, justru dia begitu nyenyak tertidur di sebelah istrinya. Dia sepertinya begitu cepat move on dari kecelakaan yang hampir saja merenggut nyawanya itu.
" Hehhhh...kenapa nyenyak sekali tidurnya? enak sekali jadi dia, begitu gampangnya melupakan kejadian beberapa waktu yang lalu." Gerutu Dhea. Diliriknya arloji di tangannya, masih separuh perjalanan lagi yang harus ditempuhnya.
Akhirnya dengan susah payah, dan didukung dengan matanya yang sudah benar-benar tidak bisa diajak kompromi, Dhea berhasil memejamkan matanya. Pesawat terbang begitu tenang, melayang melewati gumpalan awan. Tidak ada satupun penumpang yang terjaga, mereka terlihat terlelap dibuai mimpi. Mempercayakan pada sang pilot, untuk mengantarkan mereka hingga mendarat di bumi dengan selamat.
Samar-samar terdengar suara petugas dari speaker, mengumumkan bahwa sebentar lagi pesawat yang mereka tumpangi akan segera landing. Seperti biasa, petugas memberi arahan kepada penumpang untuk segera memasang selfbelt, menaikkan sandaran kursi, juga meletakkan barang-barang di tempat yang semestinya. William terlebih dahulu bangun saat mendengar suara itu, ditengoklah istrinya yang terlihat begitu nyenyak dibuai mimpi. Dia tersenyum sesaat.
" Hehhhh...akhirnya kau bisa tidur juga sayang. Maaf ya, semalam aku memang sengaja berpura-pura tidur, agar kau tidak ada teman mengobrol, sehingga kau bisa tidur juga, walaupun dengan sangat terpaksa." Katanya dalam hati.
William melirik arlojinya, pukul 17.55. Pesawat mendarat pada jadwal yang memang sudah ditentukan.
" Sayang, ayo bangun!! sebentar lagi pesawat akan mendarat." Dhea menggeliatkan tubuhnya.
" Apakah sudah tiba sayang?" sambil mengerjab-ngerjabkan matanya.
" Ya, ayo bangunlah." Sambil membantu menaikkan sandaran kursi milik istrinya.
" Ahhhhhh....sepertinya aku baru saja tertidur." Gerutu Dhea sambil membenahi posisi duduknya.
" Hemmm....apa kau ingin pesawat ini naik kembali, dan kau lebih lama berada di atas, kemudian melanjutkan tidurmu?"
" Ohhh no...tidak, tidak...!!!
" Hahaha...ya sudah pasang selfbeltmu dulu, nanti juga di rumah kau bisa tidur kembali, bukankah di sini juga sebentar lagi malam."
" Hahhhhh...akhirnya sampai juga, aku merasa selama hidupku ini adalah perjalanan paling lama yang pernah kutempuh, sepertinya tidak sampai-sampai di tempat tujuan." Gumam Dhea, dan William hanya tersenyum saja mendengar kata-kata Dhea.
" Tapi kan akhirnya kau bisa tidur juga kan?"
" Yah, karena orang di sebelahku bukannya menemani istrinya mengobrol, tapi sudah berkelana entah kemana."
" Hehehe...jika tidak, pasti kau tidak akan mungkin tidur kan?"
" Ya, dengan sangat terpaksa sih." Sambil cemberut.
Pesawat mulai menukik tajam, dan dari goncangannya terasa bahwa roda bagian depan sudah mulai menyentuh landasan. Hingga akhirnya mendarat dengan sempurna, dan mulai berjalan pelan.
" Alhamdulillah..." Ucap Dhea dan William bersamaan.