
" Selamat pagi suamiku....." Sapa Dhea sambil membuka hordeng kamarnya.
" Selamat pagi cintaku!!" Jawab William sambil memicingkan matanya karena silau terkena cahaya matahari yang baru masuk melalui jendela kaca kamarnya.
" Ayooo bangun!! Tidak baik tidur lagi setelah sholat subuh." Kata Dhea sambil menghampiri suaminya kemudian mencium pipinya.
" Ahhhhh tapi mataku masih mengantuk sekali sayang." Jawab William malas-malasan.
" Salah sendiri kau tidur terlalu malam." Kata Dhea sambil mengusap-usap pipi suaminya. William meraih tangan Dhea dan mengecupnya.
" Yaaa...gara-gara bermain catur dengan ayahmu aku jadi lupa waktu." Gerutu William.
" Ayahku kau lawan, sampai pagipun dia pasti betah sayang." Jawab Dhea.
" Kau sudah cantik sekali pagi ini? Memangnya kau mau pergi kemana?" Tanya William.
" Wajib hukumnya untuk berpenampilan cantik di depan suami, aku tidak mau terlihat buruk saat kau memandangku, atau nanti kau akan membuang padanganmu ke gadis lain di luaran sana." Kata Dhea sambil menatap William mesra.
" Hehhh...tidak mungkin aku berpaling darimu sayang, karena aku merasa beruntung sekali memiliki istri sepertimu."
" Ahhhhhh tidak ada yang tidak mungkin, apalagi di luaran sana banyak wanita yang menginginkanmu."
" Kalau dulu iya, tapi sekarang aku takut dosa." Jawab William lagi.
" Syukurlah jika kau ingat dosa, berarti aku juga wanita yang beruntung bisa memiliki suami sepertimu." Balas Dhea.
" Di sini saja bersamaku ya kita bermanja-maja dulu bagaimana?" Kata William dan secara tiba-tiba menarik tubuh Dhea lalu merengkuh dalam pelukannya.
" Ihhhhh...tidak mau!! Tubuhmu bau sekali, ayo mandi dulu sana!!!" Perintah Dhea.
" Kau ini, biasanya kau sangat suka bau tubuhku, bahkan kau juga sering menenggelamkan wajahmu dalam ketiakku kan saat tidur?" Kata William sambil menyorongkan ketiaknya ke wajah Dhea.
" Iya tapi bukan saat kau baru bangun tidur begini, kau jorok sekali!!"
" Hehhh...sama saja, nikmati saja sayang pasti lama-lama kau akan terbiasa." Kata William sambil terus menggoda Dhea.
" Nikmati bagaimana? Keringatmu bau asam...Ayo bangun pemalas!!!" Kata Dhea sambil melepaskan pelukan suaminya kemudian beranjak bangun dan duduk di samping suaminya.
" Hahaha...memangnya kau pernah mencicipi keringatku." Goda William lagi.
" Dari baunya sudah ketahuan jadi tidak perlu kucicipi Tuan William." Sambil menarik hidung suaminya.
" Hehhhh...gara-gara melawan ayahmu semalam aku jadi tidur terlalu larut." Gerutu William sambil menyorongkan kepalanya tidur di pangkuan Dhea.
" Ya hingga aku sampai ketiduran menunggumu penasaran melawan ayahku." Kata Dhea sembari membelai rambut suaminya.
" Jadi siapa yang menang semalam?" Tanya Dhea lagi.
" Hahaha posisi seri sayang, ayahmu benar-benar hebat, hingga aku lupa waktu."
" Lalu ayah langsung pulang?"
" Iya, aku minta tidur di sini saja tidak mau."
" Bagaimana kau mengatakannya? Bukankah ayahku tidak tau bahasamu?"
" Dengan isyarat tangan dong."
" Hahaha pasti kalian berdua terlihat lucu sekali."
" Ya aku merasa seperti orang bodoh saja." Gerutu William.
" Kau harus segera melatihku menggunakan bahasamu sayang." Kata William.
" Ya harus pelan-pelan, pasti nanti kau bisa."
" Aku hanya sedang berpikir, jangan-jangan nasibku nanti sama seperti ibuku." Gerutu Dhea.
" Sama bagaimana?" Tanya William penasaran.
" Sama-sama diacuhkan saat sedang asyik bermain catur."
" Tentu tidak sayang, tapi kecuali aku menemukan lawan setangguh ayahmu." Kata William sambil menengadahkan kepalanya dan mengusap pipi istrinya.
" Hehhhhh....itu artinya tidak ada bedanya suamiku...!!!"
" Ayooo bangun!! Malah mengobrol terus, makan pagi kita sudah siap, bukankah kau berjanji ingin mengajakku ke rumah ibu?" Kata Dhea lagi.
" Ini sudah jam 8.00 Tuan Williammmmm....!!"
" Baiklah aku bangun." Kata William sambil mengangkat tubuhnya, namun kemudian dia meraih kepala Dhea dan mencium bibir istrinya begitu lama
" Mmmmmmmuuuuaaaaccchhhh...........!!!!" Lalu William segera berlari menuju toilet.
" Sayaaaaangggg....kau jorok sekali." Kata Dhea sambil berusaha mengejar suaminya, namun William sudah buru-buru menutup pintu toiletnya. Dhea hanya sedikit jengkel, namun kemudian tersenyum mengingat itu semua salah satu bentuk keromantisan suaminya padanya.
" Sayang kau mau sarapan apa?" Tanya Dhea saat sudah berada di depan meja makan.
" Roti saja sayang." Kata William.
Kemudian Dhea segera mengambilkan satu tangkup roti dan mengoleskan selai coklat, lalu memberikan pada William.
" Terimakasih sayang, ternyata kau tau kegemaranku." Kata William sambil mencium pipi istrinya.
" Sssttt...ada bibik, kau tidak malu menciumku di depannya?" Kata Dhea.
" Kenapa harus malu? Bukankah mencium istri sendiri itu tidak ada yang melarang?"
" Maaf ya bik, resiko punya suami bule ya seperti ini, kadang tidak ingat tempat." Kata Dhea sambil meminta maaf pada asisten rumah tangganya yang sedang menaruh makanan matang di depannya.
" Iya nyonya, tidak apa-apa jangan sungkan begitu." Jawab asisten rumah tangga Dhea malu-malu.
Dhea hanya belum terbiasa saja dengan hal itu, dan menganggapnya masih tabu, jadi dia merasa sedikit risih jika suaminya melakukan itu di depan umum.
" Sayang kau betah tidak tinggal di Indonesia?"
" Kenapa kau tanya begitu?"
" Ya aku takut kau tidak bisa menyesuaikan diri tinggal di lingkungan yang sangat berbeda dengan negaramu sana."
" Maksudmu?"
" Ya kan di sana kau bisa menyibukkan diri dengan pekerjaanmu, bisa leluasa bergaul dengan teman-temanmu, bisa pergi ke tempat-tempat yang kau sukai kemanapun kau mau."
" Sayang saat ini kita sudah menikah, dan itu artinya aku harus siap dengan semua kebiasaan baru yang harus aku terima, tidak bisa seenaknya sendiri saat aku sebelum menikah dulu."
" Jika hanya menyibukkan diri dengan bekerja, itu tetap bisa aku lakukan. Namun aku memang sengaja membuat usaha di sini yang tidak terlalu menyita waktuku, karena aku ingin setelah menikah denganmu nanti, aku tidak menelantarkan kau dan anak-anak kita nanti karena menghabiskan waktu untuk bekerja.. Dan jika hanya bergaul dengan teman-teman itu juga masih bisa aku lakukan, namun tidak seenaknya sendiri pergi begitu saja, karena aku harus memikirkan keberadaanmu di sampingku. Sayang me time itu penting, tapi bukan berarti harus mengesampingkan pasangan, saat kita sudah berkeluarga pasangan kita itu adalah partner yang paling tepat untuk berkeluh kesah, jadi kau jangan mengkhawatirkanku ya? Aku hanya butuh kau untuk jadi tempat berlabuhku." Kata William sambil menggenggam tangan istrinya.
" Kenapa kau secepat itu belajar sayang? Padahal aku sendiri terkadang masih sulit mengendalikan egoku." Kata Dhea.
" Kuncinya adalah mengingat kembali tujuan pertama kita untuk menikah. Pernikahan itu adalah sebuah awal yang nyata kita mengarungi kehidupan sebenarnya. Ibaratnya kita sedang mengendalikan sebuah perahu, aku nahkodanya dan kau navigatornya. Perjalanan hidup setelah pernikahan ibarat berlayar di laut lepas untuk pertama kalinya. Aku dan kamu tidak akan pernah tau jalur yang akan kita lintasi nanti apakah bergelombang ataukah tenang, entah hujan berpetir atau cerah, karena bahasa awan dan angin tak pernah bisa kita mengerti. Jadi sayang, aku sebagai nahkoda harus bisa bekerjasama denganmu dengan baik sehingga bisa mengendalikan kapal itu bisa selamat hingga di daratan nanti." Kata William panjang lebar.
" Ya sayang, doakan aku agar bisa diberi kesabaran lebih untuk bisa selalu mendampingimu sampai kapanpun."
" Dan jangan pernah lelah untuk saling mengingatkan ya sayang?" Jawab William.
" Aamiin." Kata Dhea.
Kemudian William dan Dhea segera menghabiskan makan pagi mereka, dan segera bersiap pergi ke rumah orang tua Dhea.
" Sayang, kulihat kau dengan ibumu itu jika sedang berbicara berdua betah sekali? Kau sepertinya sangat sabar mendengarkan cerita-cerita ibumu?" Tanya William saat di dalam perjalanan menuju rumah orang tua Dhea.
" Sayang, orang tua itu tidak pernah menuntut apa-apa pada anaknya, tidak meminta uangmu, tidak akan menginginkan sesuatu yang berlebihan. Permintaan mereka itu sangat sederhana sekali, kau duduklah tenang dan cukup mendengarkan ceritanya saja mereka pasti sudah sangat senang."
" Benarkah?"
" Ya sayang, seperti kau saat ibumu masih hidup dulu. Bukankah saat kau sering datang menemaninya dan pasti dia akan selalu menceritakan hal-hal yang sebenarnya tidak penting?"
" Ya benar, bahkan saat anjing tetangga melahirkanpun beliau ceritakan padaku, kadang aku sebal sekali, namun aku tahan karena tidak tega untuk memutus ceritanya."
" Itulah orang tua, mereka akan merasa sangat dihargai jika kita mau meluangkan waktu untuk sekedar mendengarkan ceritanya walaupun terkadang itu berulang-ulang dan sangat membosankan." Kata Dhea lagi.
" Berarti orang tuamu sangat beruntung memiliki menantu aku sayang." Kata William.
" Kenapa kau percaya diri sekali?"
" Karena aku pasti akan selalu mendengarkan apapun yang mereka ceritakan dan tidak bisa membuka mulutku sedikitpun."
" Hahaha itu karena kau tidak tau artinya kan makanya kau diam saja." Kata Dhea seraya terbahak.
" Ya sial sekali aku, seperti orang bodoh saja, padahal IQku di atas rata-rata hehhhhh." Gerutu William sambil menggaruk kepalanya.
Yang pengen lihat visual Dhea maaaaaaffff banget ya, sebenarnya udah dari kemarin author melampirkan gambarnya, tapi entah kenapa setiap author melampirkan gbr tsb episodenya terus review, sampai author tunggu sehari semalam belum tayang juga, jadi terpaksa gambar author hapus and jreeeenggggg langsung tayang. Daripada nungguin tokoh visual tp episode ga tayang2 mending gbr author hapus aja ya n kalian berimajinasi sendiri tentang tokoh Dhea n William. Maaf sekali lagi ya.🙏🙏🙏🙏🙏🙏