Something different

Something different
Telfon dari Deasy



Setelah rapih William segera keluar kamar. Sembari menanti istrinya berias, dia menyibukkan diri dengan mengotak-atik laptopnya, memeriksa setiap detail laporan yang nanti akan ditanyakan pada bawahannya di kantor. Matanya terlihat serius menatap layar layar di hadapannya. Menelusuri setiap angka-angka dan barisan kata yang tersusun rapi membentuk sebuah paragraf dan alenia. Mulutnya sebentar komat-kamit membaca setiap kalimat. Sesaat kemudian dahinya terlihat mengkerut mencoba menelaah maksud kalimat tersebut. Namun perlahan kemudian kerutan itu hilang, dan terlihat normal kembali, lalu menekan tanda next untuk menuju halaman selanjutnya, pertanda tidak ada sesuatu yang janggal pada laporan itu.


Sementara Dhea yang sedang berada di dalam kamarnya, terlihat sedang memilih baju yang hendak dipakai untuk mendampingi suaminya ke kantor. Pakaian yang pantas untuk seorang pengusaha sekelas William. Pakaian yang menutupi tubuhnya, sekaligus menjaga harga diri dan nama baik suami di depan para pegawainya. Pakaian yang tentunya tidak menjatuhnya harkat dan martabatnya sebagai seorang wanita, sekaligus sebagai seorang istri dari laki-laki yang telah menjadi suaminya.


Diambilnya sebuah gamis panjang warna abu-abu. Suaminya sangat suka jika dia menggunakan gamis. Katanya lebih terlihat anggun dan mempesona. Padahal dia lebih suka menggunakan celana, apalagi dulu saat kuliah. Lebih simple dan tidak ribet. Apalagi jika harus bepergian menggunakan kendaraan umum. Pasti akan susah sekali jika menggunakan gamis seperti itu. Namun, karena suaminya lebih suka cara berpenampilan yang seperti sekarang ini, maka dia harus merelakan style dan gaya berpakaiannya dulu. Karena dia itu berhias untuk dipandang oleh suami, dan bukan untuk orang lain. Jika suaminya tidak suka, tidak ada alasan khusus untuk tidak meninggalkannya. Terlebih seperti sekarang ini, kemana-mana dia selalu menggunakan kendaraan pribadi. Hanya sesekali saja, jika hendak berpergian jauh, seperti saat ke London kemarin, baru dia akan mengobrak abrik pakaian lamanya, dan mengambil celana kesayangannya. Itupun setelah mendapatkan ijin dari suami tercintanya. Ribet bukan? memang ribet jika tak ingin ribet dan tak ingin hidup dengan aturan, hidup saja di hutan bersama tarzan, begitu Dhea menghibur dirinya sendiri.


Setelah mengenakan pakaian dan jilbabnya, dia segera berputar di depan cermin, sambil tersenyum sendiri. Dia sudah tau apa yang nanti akan dikatakan suaminya setiap dia selesai berhias, dan kalimat itu tak pernah absen di telinganya, " Kau cantik sekali sayang dengan pakaian itu." Selalu itu kalimat yang diucapkan William padanya. Padahal pagi dan sore dia selalu mengganti pakaiannya, tapi kalimat suaminya tak bernah berubah untuk memujinya. Dan jika dia mencoba protes, suaminya selalu saja punya jawaban yang langsung membungkam bibirnya, dan yang tersisa adalah rona merah di wajahnya. Yah suaminya tak pernah kehabisan kata untuk membuatnya serasa seperti putri raja yang selalu dielu-elukan oleh semua orang yang memandangnya.


" Hemmmm....tinggal memoleskan bedak dan lipstik sedikit." Gumam Dhea sembari mengambil bedak padat di depannya, kemudian memoleskan lipstik di bibirnya. Dipatutnya kembali wajahnya di cermin. Wajah yang begitu sempurna diciptakan oleh Allah untuknya. Dengan panca indra yang lengkap dan tanpa cacat. Dia kembali tersenyum sendiri, mengingat suaminya akan kembali memujinya. Diliriknya arloji di tangannya, arloji merk pabrik jam tangan terkenal di dunia, yang harganya bisa puluhan kali lipat uang sakunya saat berada di London. Arloji yang bentuknya sama dengan yang dimiliki oleh suaminya, karena memang Williamlah yang sengaja membelikan benda mahal yang melingkar di tangannya itu.


Dhea meraih tas di atas kasur yang sedari tadi sudah disiapkannya, namun baru saja hendak melangkah keluar, tiba-tiba saja handphone yang ada di dalam tasnya berbunyi nyaring. Dhea buru-buru mencari benda segiempat itu, dan mengaduk-aduk isi tasnya.


Setelah ketemu, dilihatnya siapakah gerangan orang yang sedang menelfonnya itu.


" Deasy??? tumben dia menelfonku? semenjak kepulanganku dari London itu, belum pernah sekalipun dia menanyai kabarku. Bahkan saat tiba di Indonesiapun, dia tidak ada basa-basinya sedikitpun padaku untuk menanyai apakah aku sudah tiba dengan selamat atau belum. Hanya papa dan Mike saja yang perduli padaku dan suamiku." Kata Dhea dalam hati.


" Ahhh....kenapa aku jadi berpikiran buruk seperti ini??? aku harus segera mengangkatnya, siapa tau ini memang penting." Gumam Dhea lagi. Lalu dia segera mengangkat telfon yang telah dipegangnya sedari tadi.


" Hallo Deasy, apa kabarmu..???" sapa Dhea mencoba ramah pada saudara iparnya itu, sambil berjalan lalu duduk di atas ranjangnya.


" Hai Dhe, aku baik-baik saja. Bagaimana kau dan suamimu?"


" Oh kami berdua baik Deasy."


" Tuhhh kan...aku ini terlalu bersuudzon padanya. Buktinya dia perduli dengan keadaanku dan suamiku." Kata Dhea dalam hati.


" Heii...tumben menelfonku Deas?"


" Aduuhhhh....kenapa aku bertanya seperti ini? Bodohnya....!!! ini kan sama saja sedang menyindirnya secara halus." Kata Dhea lagi dalam hati.


" Ehhh bukan Deas...!! Maksudku kau menelfon pasti ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan denganku kan?" Kata Dhea lagi mencoba merevisi kalimatnya yang tadi.


" Hahaha...kenapa kau terlihat tidak enak seperti itu Dhe? Kau tidak perlu memperbaiki pertanyaanmu yang awal. Karena memang kenyataannya aku tidak pernah menelfonmu, bahkan terlihat tidak perduli. Iya kan?"


" Eh...bukan begitu Deas. Maksudku...!!"


" Ahhh sudahlah...karena memang kata-katamu itu sepenuhnya benar, karena aku rasa tidak terlalu penting juga jika sering menelfonmu. Bukankah jika ada berita yang tidak mengenakkan tentangmu, sudah pasti seisi rumah langsung heboh? dan aku pasti akan langsung mengetahuinya tanpa harus menelfonmu dulu. Benar begitu kan?"


" Bukan begitu begitu Deas, maksudku itu cu....!!"


" Aku sengaja menelfonmu untuk mengabarimu sesuatu hal Dhe." Memotong kalimat Dhea yang belum selesai.


" Kabar apa itu Deas?"


" Sudah kuduga, kau pasti belum mengetahuinya. Padahal kabar ini sudah diketahui oleh semua keluarga besar Anderson. Bahkan seluruh pegawai di rumahpun tau. Namun ternyata kau belum mengetahuinya. Hehhhh...beda sekali ya jika itu menyangkut dirimu. Kemarin saja saat kau akan datang ke London, seisi rumah langsung antusias, semua penghuni rumah membicarakanmu, padahal kedatanganmu baru akan tiba satu minggu lagi, tapi persiapannya bak menyambut seorang putri raja." Gerutu Deasy lagi sengaja membesarkan suaranya, agar terdengar oleh Dhea. Nada kalimat Deasy yang berbau rasa iri dan cemburu itu, sedikit meronta di telinga Dhea.


" Kenapa kau berkata seperti itu Deas? aku dan kamu itu posisinya sama di mata keluarga besar Anderson. Ada apa sebenarnya? berita tentang apa sehingga aku belum mengetahuinya?"


" Its ok, lupakanlah masalah status dan posisi kita berdua. Sebelumnya aku minta maaf Dhe, jika setelah mendengar berita ini, kau pasti akan kecewa." Dhea mengernyitkan dahinya.


" Kecewa??? apa maksud kalimat Deasy??? kurasa setelah aku kecewa kehilangan bayiku, hanya ada satu hal lagi yang pasti membuatku kecewa, yaitu jika suamiku menduakanku hehehe...!!" Dhea malah bercanda dengan dirinya sendiri, mencoba menetralisir perasaannya yang campur aduk karena sedari pertama telfon, Deasy terus-terusan menyudutkannya.


" Ada apa Deas sebenarnya? kenapa aku harus kecewa?"


" Hemmmm...bagaimana ya aku menjelaskannya??? karena sebenarnya berita ini adalah berita bahagia yang ditunggu-tunggu oleh keluarga besar Anderson, terutama oleh papa. Tapi aku yakin berita ini akan menjadi berita yang menyedihkan buatmu."


" Sebenarnya aku tidak enak Dhe mengatakannya padamu. Tapi bagaimana lagi? masak kabar gembira harus ditutup-tutupi demi hanya untuk menjaga perasaan satu orang saja, padahal semua orang suka cita mendengarnya."


" Apa sih maksud perempuan ini? Bicaranya berputar-putar sedari tadi." Gerutu Dhea dalam hati.


" Hallo Dhe???" panggil Deasy mengejutkan Dhea.


" Kau melamun ya?"


" Eh tidak. Ehm tadi kau ingin mengatakan berita apa Deas?"


" Aduhhh maaf ya Dhe...kau pasti sedang menebak-nebak berita yang aku maksud, sehingga kau jadi melamun seperti itu?"


" Aku jadi tidak enak hati. Kau pasti sudah bisa menduganya ya Dhe?"


" Ihhhh apa sih maunya perempuan ini? sepertinya niat dia memberitahuku tentang beritanya itu bukan untuk membagikan kebahagiaannya, tapi untuk menyudutkanku kembali. Perasaanku pasti tidak salah."


" Dhe, aku tau mungkin ini menyakitkan untukmu. Yaaahhh bagaimana ya, namanya seorang wanita, pasti ingin merasakan ini. Walaupun kau pernah merasakannya tapi kemudian kau gagal, lalu kau mengecewakan semua orang, terutama suami dan mertuamu. La.....!!!"


" Stop Deasy. Aku tau apa maksud kalimatmu. Kau hamil kan????" Potong Dhea, karena merasa jengah dengan kalimat saudara iparnya itu, dan berhasil mengambil inti pembicaraan yang hendak disampaikan Deasy.


" Aduhhhh Dhe, maaf yaaa....sebenarnya aku tidak niat untuk membuatmu tersinggung dengan kehamilanku ini."


" Hehhhh...dasar nenek lampir...!!! aku itu tidak tersinggung dengan kehamilanmu, karena itu adalah anugerah dari Allah, tapi aku itu hanya menyayangkan saja, kenapa di saat kau diberi kepercayaan sebesar itu, kau terus memelihara sifat dendam dan cemburumu padaku, kau tidak takut bisa mempengaruhi psikologis janinmu nanti? hehhh...semoga anakmu nanti tidak memiliki sifat jutek ibunya." Kata Dhea dalam hati.


" Dhe??? hallo Dhe??? kau masih di situ?"


" Oh eh iya Deas, aku masih di sini."


" Dhe...maaf ya sayang...aku sepertinya akan mendahuluimu untuk memberikan cucu pada papa. Dan sepertinya sebentar lagi semua perhatian keluarga besar Anderson akan terpusat padaku. Kasihan kau ya Dhe? kau harus menunggu lama lagi untuk hamil kembali, karena aku rasa luka bekas operasimu melarangmu untuk segera hamil. Dan saat kau hamil, euforia kebahagiaan menyambut anakmu tidak akan segempita saat menyambut kelahiran anakku."


Wajah Dhea seketika memerah, kesabarannya sepertinya sudah berada di ambang batas.


" Stop Deasy!!!" Kata Dhea sedikit berteriak. Deasy terkejut mendengar kalimat Dhea barusan. Karena dia pikir Dhea adalah sosok orang yang lembut dan tidak akan mungkin berani melawannya.


" Heiiii...kenapa kau berteriak seperti itu Dhe???" kata Deasy kemudian.


" Karena kau sudah keterlaluan padaku."


" Keterlaluan bagaimana?aku hanya mengabarimu tentang kehamilanku. Kenapa kau jadi marah?"


" Jangan berpura-pura tidak tau Deasy. Sedari pertama kau menelfonku itu, kau terus-terusan memojokkanku. Kau pikir aku tidak tau bahwa sebenarnya kau menyimpan kebencian padaku???"


" Ya ampunnn Dhea??? kau jangan tersinggung seperti itu. Aku tau kau pasti merasa sakit ya mendengar beritaku ini?"


" Aku tidak pernah merasa sakit mendengar berita kehamilanmu itu. Bahkan aku tidak iri sedikitpun."


" Lalu kenapa kau jadi marah seperti ini?"


" Karena kau memang memiliki niat untuk terus-terusan menerorku. Iya kan???"


" Hahaha....aku pikir kau benar-benar wanita yang lembut, ternyata William salah memilihmu???"


Ketika hendak menjawab kalimat Deasy, tiba-tiba saja telfon yang sedang dipegang oleh Dhea direbut dari belakang, Dhea terkejut, karena ternyata yang merebutnya adalah William.


" Sayang....apa yang kau lakukan???" kata Dhea sambil berusaha mengambil telfon itu kembali, nsmun William menghindar dan justru langsung menempelkan telfon itu di telinganya.


" Ya...ya..ya...sunggguh bodoh...bisa-bisanya William jatuh cinta dengan wanita sepertimu Dhe!!" William masih mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Deasy.


" Kau yang bodoh Deasy...!!! istriku itu 100 kali bahkan 1000 kali lebih baik daripada kau. Kau tidak ada hak untuk mendikteku, dan mendikte keluargaku. Kau berkacalah!! kau itu seperti wanita tak beretika saja. Percuma saja jika kau dulu mengaku berpendidikan tinggi, tapi perilakumu bahkan lebih rendah daripada orang di jalanan sana!!! Belajarlah untuk bersikap jika masih ingin bertahan di tengah keluarga Anderson!!!"


Deasy terkejut bukan main saat mendengar William begitu marah, dan kalimatnya itu sungguh menusuk hatinya, dan seketika itu dia langsung mematikan handphonennya.


Maaf ya readers baru muncul lagi, author baru sembuh dari sakit nih....jadi baru bisa lanjutin episodenya. Semoga nggak bete nungguinnya. Keep smile ya n selamat membaca🙏🙏