Something different

Something different
Deasy Melahirkan



Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Deasy tetap dengan kebenciannya, dan Mike tetap tidak mampu mengatasi istrinya. Darah daging yang sedang dikandung istrinyalah yang membuatnya tidak mampu melakukan apa-apa. Semuanya seolah meruntuhkan jiwa kelelakiannya, membuatnya menjadi lemah, sehingga akhirnya hanya bisa diam dan menahan semua kemarahan terhadap istrinya.


Williampun memaklumi kenapa adiknya itu tidak bisa berbuat banyak, sehingga saat ini jika Deasy menelfon, dan William mengetahuinya, maka dia langsung merebut handphone istrinya itu, dan segera mematikannya, karena tidak mau Dhea terus-terusan mendengar umpatan dari adik iparnya.


Kandungan Deasy yang semakin besar membuat Mike semakin ekstra mengawasi istrinya. Dia semakin sering berada di rumah, hanya untuk sekedar menemani sang istri yang benar-benar off dari segala aktivitasnya. Walaupun dia sangat sebal dengan sikap Deasy, namun tetap saja dia tidak dapat berbuat apa-apa, dia hanya berharap jika anak yang dikandungnya sudah lahir, perlahan-lahan Deasy bisa melupakan semua persoalannya dengan Dhea, karena sibuk mengurus buah hati mereka.


Kehidupan Dhea dan William semakin hari semakin harmonis. William yang begitu menyayangi Dhea, selalu berusaha ada untuk istrinya. Hari-hari yang mereka lalui selalu dipenuhi canda dan tawa. Walaupun seringkali Deasy menelfonnya dan tidak jarang mengejeknya, namun Dhea sudah kebal dengan semua itu. Dia bahkan tidak pernah menggubris apa yang dikatakan Deasy padanya. Justru Williamlah yang sering meradang jika tau Deasy menelfonnya.


" Sayang??" Kata Dhea saat mereka berdua sedang berduaan di dalam kamarnya.


" Heeemmm..." Jawab William yang matanya masih belum beralih dari telefon genggamnya.


" Sayaaaanggg...!!!"


" Heemmmm....." masih terus asyik saja memencet tombol huruf pada benda segi empat itu.


" Sayaaaang......!!" ulangnya lagi.


" Heeemmmmm...." William menjawabnya singkat, namun matanya tetap belum beralih dari handphonennya.


" Hiiiiihhhhh...sayaaaanggg....!!" sambil mendekatkan wajahnya di depan William hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa senti saja, lalu mengedip-ngedipkan matanya hingga terlihat lucu. Dhea sedikit sebal karena suaminya tidak menggubris panggilannya.


William langsung mengangkat wajahnya dan terbahak.


" Hahaha...wajahmu sangat lucu sayang."


" Hehehe...apakah wajahku sudah lebih menarik dari androidmu itu sayang? sehingga kau siap mendengar kalimatku?" kata Deasy. Caranya sangat unik untuk mengalihkan perhatian suaminya, yang terkadang ketika asyik sendiri, dia sering tidak mendengar istrinya berbicara. Cara yang sangat menarik agar tidak menyinggung suaminya, dan justru membuat William terkekeh melihat ekspresi istrinya itu.


" Hahaha...kau ini. Oke kau ingin berbicara apa? sambil meletakkan androidnya lalu memperbaiki posisi duduknya sambil selonjoran di atas ranjang.


" Sayang, sepertinya ini sudah mendekati jadwal kelahiran bayi Deasy." Kata Dhea sambil menggelendot di pundak suaminya.


" Memang kau tau usia kandungan Deasy?"


" Tau donk, aku kan diam-diam ikut memantaunya juga."


" Kau ini, Deasy sudah begitu jahat padamu, tapi kau masih tetap perhatian padanya."


" Hahaha....kenapa? biar saja dia jahat, yang penting aku tidak. Aku sudah bisa membayangkan pasti anak mereka sangat lucu, Deasy kan sangat cantik, dan Mike......" Dhea tidak melanjutkan kalimatnya, karena William langsung menatapnya tajam sambil mengeluarkan suara aneh.


" Geeeerrrrrrrrrr.....!!!"


" Hahaha....kenapa kau mengeluarkan suara seperti induk kucing yang sedang marah sayang?" Sambil tersenyum.


" Kalau kau berani mengeluarkan kalimat lanjutannya habis kau...!!!"


" Hahaha...tidak jadi sayang. Aku hanya ingin mengatakan, sudah tidak sabar ingin menggendong bayi mereka." Sambil cengar cengir.


" Hemmmm....begitu ya, aku pikir kau mau berbicara apa."


" Nanti kita kesana ya."


" Ya, tentu saja, kenapa tidak?"


" Terimakasih sayang!!! aku sudah tidak sabar melihat keponakan kita." Sambil memeluk suaminya.


Sementara Dhea dan William sedang asyik bercengkrama di dalam kamarnya, Deasy yang saat itu sedang berduaan di ruang santai bersama Mike, tiba-tiba merasakan perutnya seperti diremas-remas, dia berteriak-teriak kesakitan. Spontan Mike langsung berdiri dari tempat duduknya.


" Sayang....tolong aku, perutku sakit sekali..!!" teriaknya.


" Ya Tuhaann..sepertinya kau akan segera melahirkan, sayang!!"


" Ya sayang. Aku tidak tahan...aaarrrggghhh...sakit sekali!!!"


" Ya sayang, sabar ya." Mike segera berteriak memanggil pegawainya, untuk menyiapkan kendaraan. Lalu tanpa menunggu waktu lama Mike segera memapah Deasy naik ke dalam mobil, dan membawa ke rumah sakit.


" Sayaaanggg....sakit sekali...!!!"


" Iya sayang, tenang ya, sebentar lagi kita tiba di rumah sakit."


Supir Mike menghidupkan lampu mobilnya, pertanda meminta diberikan jalan terlebih dahulu oleh kendaraan yang lain. Spontan kendaraan yang ada di depannya menyingkir, dan membiarkan mobil milik Mike meluncur cepat agar segera tiba di rumah sakit.


Tiba di rumah sakit, dua orang perawat segera membawa keranjang dorong dan menaikkan Deasy ke atasnya.


" Sayaang, aku takut...!!!"


" Jangan takut sayang, aku akan menemanimu." Jawab Mike sambil terus menggenggam tangan Deasy, untuk menguatkan istrinya. Perawat langsung memasukkan Deasy ke dalam ruang bersalin.


Teriakan Deasy menggema ke seluruh ruangan yang dicat serba putih itu. Dirinya benar-benar sedang mempertaruhkan nyawa demi untuk mengeluarkan sang buah hati dengan selamat, dan bisa melihat dunia dan seisinya. Mike yang berada di samping Deasy terus-terusan mengusap dahi istrinya yang penuh keringat. Wajahnya begitu khawatir melihat perjuangan sang istri.


Setelah bertarung dengan hidup dan mati, sebuah suara tangisan terdengar. Wajah lega terlihat dari sang dokter yang membantu persalinannya. Namun anehnya wajah sang dokter berubah pucat saat menatap bayi mungil yang ada di tangannya itu. Mike tidak mengetahui itu, karena dia sibuk memeluk istrinya.


Dokter segera menyerahkan pada perawat untuk dibersihkan, sambil berbisik-bisik pada perawat itu. Sang perawat langsung membelalakkan matanya, saat menerima bayi mungil tersebut. Perlahan air matanya menetes, sambil mengusap kepala bayi yang masih dipenuhi oleh darah.


Setelah bersih, sang perawat langsung memberikannya pada dokter kembali. Deasy dan Mike menatap dokter yang berjalan ke arah mereka, sambil mendekap bayi mungil, yamg tanpa dilapisi satu helai benangpun. Mereka berdua tidak sabar ingin melihat buah hati mereka berdua.


" Bayi kalian laki-laki, dan sangat tampan." Tapi ekspresi sang dokter bukannya bahagia, namun justru terlihat murung.


" Sayang, kau dengar? dia akan menjadi kebanggaan keluarga besar Anderson." kata Deasy pada suaminya.


" Ya...tentunya kebanggaan kita berdua sayang."


" Dokter, apakah aku boleh menggendongnya?"


" Tentu saja nyonya, dia juga harus segera kau dekap agar bisa meminum asi."


" Ini nyonya." Kata sang dokter sambil menyerahkan bayi tersebut.


Deasy begitu sukacita menerima bayi merah tersebut. Dia sudah tidak sabar melihat wajah buah hatinya bersama Mike, laki-laki yang sangat dicintainya. Namun saat menerima buah hatinya tersebut, mata Deasy langsung terbelalak, lalu spontan berteriak keras.


" Aaaahhhhh...tidaaakkkkk....!!!!"