
Sepulangnya dari kampus Dhea segera mengganti pakaiannya, setelah selesai sholat dan makan siang dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, diliriknya arloji di tangannya pukul 13.00.
" Hhmmmm cukup lumayan lama untuk tidur siang ", bathin Dhea.
Baru pukul 4 sore nanti dia berangkat kerja. Mulutnya tak berhenti menguap sedari tadi. Diambilnya handphone yang diletakan di samping tempat tidurnya, kemudian disetelnya alarm agar tidak terlambat masuk kerja nanti. Sebenarnya Bram pasti tidak akan pernah marah jika dia terlambat masuk kerja, hanya saja Dhea adalah sosok orang yang disiplin dan profesional, tidak akan mungkin dia merusak kepercayaan temannya itu begitu saja. Dalam waktu yang singkat Dhea segera terlelap dalam tidurnya.
Sore harinya Dhea bangun dengan tubuh yang segar, dia menggerak-gerakkan tubuhnya sebentar, lalu beranjak dari tempat tidurnya. Selesai mandi dan sholat ashar, Dhea segera bersiap-siap untuk masuk kerja.
Tak lama kemudian Dhea telah rapih dengan seragam kerjanya, dilangkahkan kakinya menuju halte untuk menunggu bus yang akan mengantarnya pergi.
" Haiiiii selamat sore semuanya ", Dhea menyapa teman-temannya yang sudah datang duluan di toko itu. Ada 4 orang yang bertugas jaga malam ini, termasuk Dhea.
" Pulang jam berapa semalam kamu Dhe?" tanya Edward salah satu teman kerjanya.
" Kira kira pukul 11 lebih Ed." Jawab Dhea singkat sambil membuka kunci lacinya, dan menghitung jumlah uang yang ditinggalkan kasir sebelumnya.
" Besok lagi kau berangkat lebih awal saja, bahaya buatmu pulang malam sendirian, hidupkan alarmmu agar kau tidak ketiduran lagi."
" Siap teman akan kudengarkan nasehatmu ", jawab Dhea sambil tersenyum.
Tak lama kemudian Dhea sudah sibuk menghitung jumlah belanjaan seorang pembeli.
Setelah orang itu pergi, Dhea kembali asyik dengan catatan di buku yang baru diselaikannya semalam. Dia cek ulang semuanya agar tidak ada satupun yang tertinggal. Dhea begitu asyik dengan pekerjaannya, sehingga tidak memperhatikan seorang pembeli yang sedang mendekatinya
" Tolong dihitung nona!"
Kata orang itu di depan Dhea. Dhea sedikit terkejut, namun kemudian dia segera menghitung satu persatu belanjaan yang diserahkan kepada Dhea tadi, tanpa melihat wajah orang tersebut.
Dibarkotnya semua barang yang ada di dalam keranjang belanjaan hingga tanpa tersisa. Banyak sekali makanan yang dibelinya.
" Hhhmmm mungkin dia tipe pria yang suka makan banyak." Pikir Dhea.
Dhea myebutkan total belanjaannya, lalu pembeli itu segera menyerahkan sejumlah uang. Dhea tetap memperhatikan komputer di depannya sembari menghitung jumlah uangnya.
" Pas uangnya tuan ", kata Dhea sambil menyerahkan semua belanjaannya.
" Ini buatmu ", katanya.
Dhea begitu terkejut, tiba-tiba dia menyerahkan satu kantung besar makanannya tadi untuknya.
Dhea langsung mengangkat wajahnya.
" Ooohhh Tuhan laki-laki brengsek itu lagi ", bathin Dhea.
Dia tersenyum ke arah Dhea. Sebenarnya senyumnya sangat mempesona. Hanya saja sifatnya itu yang membuat Dhea sedikit muak. Dhea menatapnya dari atas ke bawah. Kali ini dia hanya mengenakan kaus dan celana pendek saja, menampakkan lekuk tubuhnya yang atletis.
" Apakah kau sudah puas mengagumi ketampananku Dhea?"
Dhea segera tersadar bahwa sedari tadi tatapannya tidak beralih dari sosok tubuhnya, wajah Dhea memerah menahan malu, dan segera dialihkan pandangannya dari pria itu.
" Bawa saja semua barang itu, untuk apa kau memberikannya padaku ", kata Dhea ketus tanpa memandangnya lagi.
" Heiii apakah kau bisa sedikit menghargaiku, kau berbicara denganku, tapi pandanganmu tidak menghadap ke wajahku, bukankah kau seorang mahasiswi S2? Pasti lebih paham masalah sopan santun dan tidak perlu lagi kuajari." Kata William sengaja memperolok Dhea.
Dhea sedikit sebal mendengar perkataannya itu. Lalu segera dipalingkan wajahnya ke arah William lagi,
lalu diulangi kalimatnya.
" Maaf tuan William yang terhormat, tolong bawa kembali belajaanmu ini, aku tidak membutuhkannya, anda paham kan?"
" Hahaha aku paham sekali Dhe, bahkan tanpa kau memberitahupun aku sudah mengerti."
" Lalu mengapa kau tidak segera beranjak dari hadapanku dan membawa semua belanjaanmu pergi?"
" Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih padamu, karena sudah menolongku semalam?"
" Hahaha kau memang memiliki hati yang mulia Dhea, aku mau setiap hari mabuk dan selalu kau tunggui di sampingku ", kata William sambil tersenyum penuh arti.
" Hhhhh cuma orang bodoh yang mau melakukan itu, daripada uangmu kau pakai untuk mabuk-mabukan, bukankah lebih baik kau pakai untuk membeli makanan sehingga kau akan tidur dengan keadaan kenyang, bukan mabuk seperti kemarin?"
" Heiii kau begitu perduli sekali denganku?"
" Aku bukannya perduli, hanya tidak suka melihat orang yang hanya menghambur hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak bermanfaat ", kata Dhea ketus.
" Ya ya ya, benar kata Bram kau memang gadis baik-baik, dan sudah tentu akan sangat sulit untuk mendapatkanmu, bukankah begitu nona manis?"
" Kau pikir aku seperti kekasihmu kemarin? Tidak memiliki etika dan semaunya sendiri. Dan satu yang harus kau ingat, aku tidak suka kau ganggu, jadi tolong pergi dari hadapanku sekarang juga!!"
" Ok ok aku akan pergi sekarang, tapi aku tidak akan pernah berhenti, karena kau telah membuatku penasaran sayang."
Kata William segera beranjak pergi dan memakai kembali kacamata hitamnya, yang semula digantungkan di dadanya.
" Heiiiii...bawa kembali makananmu ini, aku tak sudi menerimanya!!" teriak Dhea.
" Tidak, itu untukmu sebagai ucapan terima kasihku!!!" Jawab William sambil terus berjalan.
" Aku tidak mau, bawa saja kembali!" teriak Dhea lagi.
" Terserah, jika kau tak mau berikan saja pada orang lain, atau buang saja di kotak sampah!!" Kata William kemudian tubuhnya segera hilang dibalik pintu keluar.
" Hhhhh laki laki arogan ", gerutu Dhea.
" Hei Dhe, bukankah itu pria yang bersama wanita tempo hari itu?"
" Ya benar, kau masih mengingatnya?"
" Tentu saja Dhe, aku tidak akan pernah lupa dengan wajahnya yang tampan itu, tapi sayang dia sudah memiliki kekasih ", jawab Olive sambil tersenyum.
" Dasar kau ya, matamu itu tidak pernah bisa berkedip jika melihat barang bagus di depanmu."
" Hahaha anggap saja cuci mata Dhe."
Dhea hanya tertawa kecil mendengar komentar temannya itu.
Kemudian Dhea mengambil kantong yang berisi makanan pemberian dari William tadi, dan diletakan di dalam almari di bawah kursi duduknya.
Dia kembali sibuk berkutat dengan pekerjaannya.
Tak terasa jam pulang telah tiba. Dhea segera membereskan semua peralatan kerjanya. Dimatikannya komputer di atas meja kasirnya.
Tidak lupa diambilnya makanan yang diberikan William kepadanya tadi.
" Hai aku pulang dulu ya!!" Teriak Dhea berpamitan kepada 3 orang pegawai lainnya yang sedang berkemas kemas.
" Hati-hati di jalan Dhe?"
" Ok ", jawab Dhea sambil berjalan keluar.
Ditentengnya kantong yang berisi makanan tadi. Saat sedang berjalan menuju halte, tiba-tiba Dhea melihat seorang pengemis yang tak jauh dari posisinya. Kemudian didekatinya pengemis itu, dan diserahkan semua makanan yang diberikan William tadi kepada pengemis tersebut.
" Aman, aku tak akan memiliki hutang budi dengannya ", pikir Dhea.
Dilenggangkan kakinya menuju halte tempatnya biasa menunggu kendaraan umum. Sementara di seberang sana seorang pria sedang berdiri dibalik pohon sembari tersenyum, melihat pemberiannya diserahkan pada seorang pengemis.
" Hhhhhh sudah kutebak ", kata pria itu sambil tersenyum.
" Kau tidak akan bisa lepas begitu saja Dhea ", gumam pria itu, kemudian segera menghidupkan mesin mobilnya dan mengikuti bus yang membawa Dhea ke tempat tinggalnya.