Something different

Something different
Flasback William mualaf 6



" Nih Will, nanti kau pakai saat kau sudah selesai dikhitan ya?" kata Mariyam sambil menyerahkan kain sarung pada William.


" Apa ini Mar?" tanya William sambil membentangkan kain tersebut dengan kedua tangannya.


" Itu namanya kain sarung. Di sini kain itu biasa dipakai saat seseorang selesai dikhitan. Jawab Mariyam.


" Hahhh....aku memakai ini??? apakah nanti tidak terlihat lucu?" tanya William.


" Kau pikir setelah dikhitan kau bisa langsung menggunakan celana panjangmu itu??? kau mau punyamu benar-benar berubah jadi segini???" kata Feri sambil menunjukkan kelingkingnya.


" Ehhh...iya iya, aku akan memakainya. Sialan kau Fer, menakutiku saja." Jawab William. Feri dan Mariyam tertawa bersama.


" Kami pergi dulu ya Mi." Pamit Feri sambil mencium kening istrinya, dan seperti biasa Mariyam membalasnya dengan mencium tangan suaminya.


" Iya bi, hati-hati di jalan ya. Tolong katakan pada dokternya, dibuat polos saja, tidak perlu bergerigi." Kata Mariyam sambil melirik William.


" Ahhhh...kalian berdua ini kompak sekali sih menggodaku." Gerutu William lagi, sambil naik ke dalam kendaraan, disusul Feri yang langsung duduk di belakang kemudi.


" Kau dulu dikhitan juga sepertiku Fer?" Tanya William saat kendaraan Feri sudah melaju di jalanan raya.


" Iya Will, tapi dulu saat aku masih sekolah dasar, bukan seperti kau sekarang. Bukankah di negarmu sana sebenarnya sudah banyak pria dikhitan? tapi kenapa kau sepertinya sama sekali tidak paham tentang hal ini?" tanya Feri.


" Ya memang benar, tapi kan aku tidak pernah sedetail itu mencari tau tentang proses tersebut, karena aku tidak punya kepentingan apa-apa pada hal itu."


" Dengan begini kau jadi tau kan?"


" Iya, walaupun sempat hampir membuatku parno karena kau menakutiku."


" Tenanglah tidak akan terjadi apa-apa, justru semua itu kemudian akan menyehatkanmu. Segala hal yang dianjurkan dalam agama itu pasti baik, dan jika diteliti secara medispun semuanya akan sependapat bahwa khitan itu sangat dianjurkan."


" Ya, aku tidak akan protes untuk satu hal itu. Karena jika aku sudah mengimaninya, maka tidak ada alasan aku untuk menolak satupun yang berlaku dalam agamaku nanti."


" Bagus Will, memang harus begitu. Jika kau ingin mandi maka harus basah sekalian, benar kan teman???"


" Ya kau benar sekali Fer." Jawab William singkat.


Feri mempercepat laju kendaraannya. Tadi malam dia telah menelfon dokter kenalannya yang bisa membantu proses khitan William di rumahnya, maka dia harus berangkat pagi-pagi sebelum dokter tersebut berangkat ke rumah sakit.


" Ayo Will." Ajak Feri pada William saat mereka sudah tiba di tempat tujuan.


Mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah besar milik teman Feri yang berprofesi sebagai dokter.


" Assalamualaikum." Sapa Feri saat memasuki ruang praktek dokter tersebut.


" Wa' alaikum salam." Jawab Dokter itu.


" Heiii...masuk Fer." Katanya mempersilahkan Feri dan William masuk.


Setelah bersalaman, mereka berdua duduk di hadapan dokter itu.


" Ohhh jadi temanmu ini yang mau dikhitan Fer."


" Iya dokter, karena sebentar lagi dia akan menjadi saudara kita." Jawab Feri.


" Alhamdulillah!!!" Selamat datang saudaraku, aku sangat senang bisa membantumu menuju proses itu." Kata Dokter tersebut penuh antusias, dan dengan fasihnya menggunakan bahasa yang sama dengan William.


" Terimakasih dokter atas bantuan anda." Jawab William.


" Maaf dokter sudah merepotkan anda, seharusnya anda sudah pergi ke rumah sakit pagi ini." Kata Feri.


" Tidak masalah teman, apalagi aku bisa membantunya untuk memenuhi salah satu kewajiban proses pengucapan sahadatnya nanti."


" Ayo tuan, silahkan anda naik ke atas ranjang." Kata dokter tersebut.


Lalu William segera berjalan dan tiduran di atas ranjang. Sementara dokter mempersiapkan segala peralatan perangnya.


" Awas Will, dokter akan menggunakan gergaji mesin untuk memotong punyamu." Kata Feri terus menakuti William.


" Biar saja dokter, sepertinya dia bahagia di atas penderitaanku." Jawab William, sedangkan Feri hanya tersenyum sedari tadi melihat wajah tegang William.


" Buka celana anda!!" Kata Dokter tersebut.


Williampun mengikuti interuksi sang dokter. Feri ikut mendekat untuk menjadi saksi prosesi khitan yang dilakukan William.


" Hemmm...pantas kau bangga sekali dengan benda sakti milikmu ini ya Will." Kata Feri sambil tergelak.


" Kau jangan cerita-cerita dengan istrimu ya, atau dia akan berubah berpaling padaku." Kata William percaya diri.


" Sialan kau, kau lupa aku sudah memberinya 2 orang anak, itu berarti aku tidak mengecewakannya teman." Jawab Feri membela diri.


" Hahaha...kalian ini sedang membicarakan apa sih? untung di sini tidak ada anak di bawah umur, jika tidak, mereka pasti akan terus mendesak kalian untuk menjelaskan lebih detail tentang pembicaraan kalian ini." Kata dokter tersebut sambil mulai melakukan tugasnya sembari tertawa.


" Tenang ya Tuan William, aku menggunakan cara terkini untuk mengkhitanmu. Dan cara ini tidak sesakit dibanding dengan cara yang lainnya, bahkan aku tidak perlu memberikan jahitan padamu. Tapi kau hanya perlu terus memasang klem ini untuk 3 hari hingga 6 hari ke depan, sampai lukamu benar-benar sembuh." Kata dokter tersebut sambil terus melanjutkan pekerjaannya. William hanya mengangguk sambil meringis menahan nyeri akibat jarum bius yang baru saja disuntikkan padanya.


" Hehhh aku pikir kau akan memakai cara yang sedikit ekstrim dokter, bila perlu setelah kau jahit kau obras juga miliknya, agar terlihat imut." Kata Feri sambil tertawa sambil menutup bibirnya.


" Kenapa tidak kau tambahi renda juga Fer, bukankah itu akan lebih lucu lagi?" Gumam William sambil merengut.


" Hahaha...kalian berdua ini, aku jadi tidak konsentrasi mendengar obrolan kalian, nanti kalau aku salah potong bagaimana?" Kata sang dokter.


" Waduhhh dok jangan begitu dong, itu satu-satunya senjata ampuh milikku, jangan main-main dengannya ya!! Sana Fer kamu jauh-jauh!! kalau dokter ini benar-benar salah potong bisa gawat nanti." Kata William mengusir Feri yang sedari tadi berdiri di sebelahnya.


" Aku harus pergi jauh kemana Will?" tanya Feri.


" Ke Hongkong bila perlu." Jawab William asal.


" Hahaha...." Feri dan sang dokter tertawa keras mendengar kalimat William. Akhirnya Feri berhenti menggoda William. Dan dokter bisa konsentrasi menyelesaikan tugasnya.


" Oke selesai." Jawab dokter tersebut.


" Sudah selesai dok? cepat sekali?" tanya William.


" Apa kau ingin aku berikan bonus satu potongan lagi???"


" Ehhh enak saja, jangan dong dok, bisa habis nanti." Jawab William.


" Alat yang menempel itu jangan dilepas dulu sebelum benar-benar kering ya. Kau boleh memakai celanamu kembali tuan, alat itu bisa melindunginya dari gesekan kok."


" Hahhh...ternyata mudah ya sekarang, kalau dulu aku harus memakai sarung selama satu minggu lamanya." Kata Feri.


" Ya benar Fer, sekarang tidak perlu lagi, karena teknologi sudah semakin canggih."


William kembali memakai celananya.


" Hahhh...untung aku tidak jadi memakai kain itu, jika tidak, aku yakin kau di rumah nanti tidak berhenti-berhenti mengerjaiku." Kata William.


" Hahaha...kau hanya perlu bersabar tuan, sedikit risih sih, tapi mungkin 3 sampai 6 hari luka itu sudah mengering dan anda bisa melepasnya." Jawab dokter sambil membasuh kedua tangannya.


" Oh iya berapa dok biayanya?" tanya Feri.


" Tidak usah Fer, semuanya gratis. Imbalannya aku hanya ingin meminta agar Tuan William nanti benar-benar istiqomah dengan agama barunya, itu saja."


" Apa itu istiqomah dokter?" tanya William yang belum paham benar maksud perkataan dokter.


" Artinya pendirian anda kuat dan tidak berubah lagi setelah memeluk islam."


" Oh itu, doakan saja dokter agar aku bisa terus memperbaiki diri dan menjadi muslim sejati."


" Aminn..." Jawab Feri dan sang dokter bersamaan.


" Terimakasih dokter atas bantuan anda. Kalau begitu kami pulang dulu." Pamit Feri.


Setelah bersalaman sebentar akhirnya Feri dan Williampun pergi meninggalkan halaman rumah dokter, dan kembali menuju rumah Feri.